Pesawat sudah akan berangkat. Tovic pamit kepada Aya. Tovic memeluk Aya dan mencium kening Aya dengan penuh kasih sayang. "Kamu hati -hati ya ..." titah Tovic menasehati. "Iya mas. Mas juga hati -hati," jelas Aya lagi. "Iya sayang. Nanti sampai sana, aku langsung berkabar sama kamu. Aku pasti rindu sama kamu," jelas Tovic pada Aya. Aya mengangguk kecil dan melepas kepergian Tovic. Sekilas, Aya melihat tatapan Siska yang sinis dan penuh arti. Aya sama seklai tidak peduli. Ia hanya percaya dan pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Tovic dan Siska sudah masuk ke dalam pesawat. Aya pun berbalik dan meninggalkan lobi bandara menuju parkiran mobil. Brak! "Maafkan saya. Saya buru -buru ..." jelas seorang laki -laki yang sedang menggeret koper dan terjatuh. Aya pun mengangkat wajahnya dan berusa

