“Tok, tok, tok, permisi,” izin Ardi saat hendak masuk ke kamar pengantinnya. “Siapa?” Alika yang duduk cantik di depan meja rias, menimpali sekenanya. “Saya Dilan.” “Dilan?”Alika mengulang dengan alis terangkat. Dia menoleh ke arah lelaki yang tadi pagi sah menghalalkannya dengan satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat. “DILAN-tarkan oleh takdir, Pak?” “Bukan, Buk. Tapi DILAN-da kecemasan akibat menggigit anak orang. Saya harus bertanggung jawab dan akhirnya terje-rumus ke kamar ini.” Begitulah Ardi, dia selalu lucu meski terkesan kaku. Romantisnya mematikan meski recehannya segaring keripik tempe Malang. Dan itu semua selalu sukses membuat Alika terpingkal. “Hahaha, jadi Bapak Ardiansya Paradirga menyesal menikahiku?” Ardi berjalan menghampiri istrinya.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


