Pahlawan Ganteng

737 Kata

November 2013   “Kamu itu dari dulu kok cerobohnya ndak hilang-hilang sih, Nduk? Sekarang malah makin parah cerobohnya dan memba-hayakan orang.”   Ningsih ngomel melalui telepon saat Alika menceritakan kejadian semburan panci panas yang mengenai punggung Ardi. Perkataan Ningsih membuat hati Alika semakin merasa bersalah pada Ardi.   “Kalau Alika bisa mengulang waktu, Alika rela kok Buk, biar Alika aja yang terkena semburan panci panas itu,” sesak Alika. Malam itu Alika hanya seorang diri menjaga Ardi di IGD rumah sakit milik universitas mereka. Dia menelepon sang ibu karena tak kuasa menahan sedih sendiri, siapa sangka setelah telepon Ningsih duka Alika justru semakin parah. “Ibu jadi ndak sabar untuk ketemu lelaki yang rela lindungin kamu itu, Nduk. Kok dia mau lindungin anak Ibuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN