Mengisap air s**u

1155 Kata
"Budiman apaan, baikin lampu aja meledak terus, baikin kursi aja patah terus, nyiram bunga aja layu terus, nyuci botol s**u aja nggak pernah bersih, budiman dari mananya." - Pokeng_PHL - PAGI-PAGI buta smartphone Pokeng menyemburkan notifikasi Line beruntun. Dipaksanya membuka mata. Dia meraba-raba ponsel genggamnya yang diletakkannya tak jauh di samping bantal. Dibacanya dengan perasaan malas seperti ibu-ibu yang melihat daftar tagihan utang kepada penjual sayur keliling. Ternyata dari Ayap. Ayap_PMK Pokeng lo dimana? Kalau lo di kamar n masih malas-malasan bangun, cepat bangun! Pokeng_PHL Ini masih subuh, Ayap. Lo ada perlu apa, sih, sama gue malam-malam begini? Gue tadi malam begadang nonton wayang golek. Ayap_PMK Apa bagusnya, sih, wayang golek? Masih jelekan muka lo. Udah, jangan banyak cincong, gue tunggu di sekolah. Bawa kuas kecil sama cat putih. Awas kalo lo nggak datang! Pokeng langsung terduduk membaca perintah Ayap barusan itu. Baginya ini sungguh tak masuk akal. Pokeng_PHL Ini hari Minggu, Ayap, buat apa ke sekolah? Lo udah lupa hari libur, ya?! Lo kebanyakan minum s**u basi kali tadi malam. Lagian buat apa juga gue ke sana pake acara bawa-bawa kuas sama cat putih segala. Ayap_PMK Lo ini bekeras aja kalo dikasih tau orang tua. Kalo gue bilang bawa, ya, bawa. Gue nggak mau tahu, bawa, pokoknya bawa, titik. Pokeng_PHL Gue nggak ada uang, Ayap, buat beli. Lo, sih, enak orang kaya. Lah, gue apaan! Beli celana dalam aja tujuh Muharram sekali. Ayap_PMK Lo cari cara gimana kek, gimana kek, gitu. Nanti sampe sini gue ganti uang lo. Takut banget, sih, lo jadi orang. Buruan ke sini! Lo harus bantuin gue ngerjain sesuatu. Pokeng_PHL Ok, ok, tapi awas, ya, kalo lo nggak gantiin. Terpaksa gue pake dulu uang arisan kompe* Mama gue. ---------------- *Kompe adalah nama lain dari plastik keresek. Orang kampung gue, sih, nyebutnya gitu. Nggak tahu, deh, kalau di daerah kalian apa. Ayap_PMK Iya, buruan. Tenang aja nanti gue gantiin. Gue kasih juga kompe hitam besar bekas mungut tikus mati nanti buat Mama lo. Kalo lo sampe nggak datang, Kakek gue bakal ngasih hukuman yang setimpal buat lo. Pokeng bergumam, "Bangke banget pangeran s**u basi satu ini. Masa' cuma karna nggak datang bawa cat sama kuas aja gue sampe dihukum sama pimpinan yayasan." Pokeng_PHL Iya, iya, gue mandi dulu. Udah dua hari gue nggak mandi. Eh, dua hari atau tiga hari, ya?! Ayap_PMK Bodoooooo! POKENG PONTANG-PANTING berlari memasuki gerbang sekolahnya yang sangat sepi. Tak ada orang di dalam, kecuali Ayap yang sudah menunggu dari kejauhan di pinggir taman buatan dan penjaga sekolah yang sedang asyik menyapu lapangan. Tangan kanannya fokus memegang gagang kaleng cat putih, sedangkan tangan kirinya memegang dua buah kuas kecil. Sampai saat ini dia masih bingung apa tujuan Ayap menyuruhnya membawa peralatan ini. Apakah Ayap akan beralih profesi dari seorang siswa cucu pemilik yayasan menjadi tukang cat? Atau jangan-jangan dia sudah bosan menjadi orang kaya? Pokeng kemudian membatin, gue dengan senang hati, Yap, gantiin lo jadi anak orang kaya dan lo juga pasti bahagia masuk ke dalam hidup penuh penderitaan di keluarga miskin gue. "Buruan!" Teriak Ayap dari kejauhan. Dia tampak sangat geram. "Lambat banget, sih, lo larinya. Gue udah nunggu sejam di sini, Sapi. Gue jambak juga nggak lama rambut lo." Sambil berlari dan mengatur napas, Pokeng menyahut, "Iya, iya. Sori lama. Tadi gue kena siraman rohani dulu dari Mama gue gara-gara minjem uang arisan kompenya." "Udah, sini, sini!" Ayap langsung menyambar kaleng cat dan kuas-kuas itu setelah Pokeng tiba tepat di hadapannya. "Lo kebanyakan bacot, Kengai. Yang bakal kita lakuin ini penting tahu." "Emangnya kita mau ngapain, sih, Yap?" Tanya Pokeng yang ngos-ngosan. "Kenapa lo cuma bawa dua kuas aja, sih? Tadi, 'kan, gue bilang bawa tiga. Kita di sekolah bertiga. Lo mau suruh pake apa Pak Wapata buat ngecat? Pake liur?" "Uang gue nggak cukup, Ayap. Mohon pengertian lo. Mama gue bisa ngamuk keluarin jurus tendangan ayam kalo gue sampe minta tambahan uang lagi. Lo pahamin keadaan gue, dong, Yap. Gue ini orang susah. Nggak kayak lo." Ayap geram. "Sekali lagi lo bilang begitu, bilang kalau gue lebih kaya dari lo, gue lepak* memang pala lo sampe cepak, Keng." ------------- *Memukul pinggiran kepala dengan keras "Maaf, maaf. Kan memang kenyataan, Yap, kecuali kalau lo mau tukeran hidup sama gue, lo jadi miskin, gue jadi kaya." Ayap semakin kesal. "Bangke memang anak ayam kecap ini. Sudah, sekarang juga lo sama Pak Wapata ikut gue! Nggak usah banyak cakap." "Lo serius mau Pak Wapata ikut bantuin kita?" "Emangnya kenapa? Dia, 'kan, penjaga sekolah yang budiman." "Budiman apaan, baikin lampu aja meledak terus, baikin kursi aja patah terus, nyiram bunga aja layu terus, nyuci botol s**u aja nggak pernah bersih, budiman dari mananya. Salah-salah nanti kalau dia bantuin kita ngecat, bukan dinding yang dicatnya, tapi muka kita." Ayap tak memedulikan perkataan Pokeng barusan. Dia malah berteriak ke arah Pak Wapata, sang penjaga sekolah yang hau-hau* itu. ------------- *Kurang waras "Pak Wapata!" Teriak Ayap. Dia melambaikan tangan. "Iya, Den." "Sini! Ada kerjaan buat Bapak. Jadi berhenti dulu nyapuin lapangan yang sudah bersih itu." Pokeng membatin, dari tadi gue juga heran, sih, sama tu orang tua kumis ungu. Lapangan sudah bersih, kok, masih aja disapuin. Pak Wapata cepat-cepat meletakkan sapu ke pinggiran pos satpam lalu menghampiri Ayap. Dia tak berani macam-macam karena takut dipecat oleh kakeknya Ayap. Dalam perjalanan menuju Ayap, Wapata sempat terkenang akan hukuman mengerikan itu, hukuman yang ia dapat karena pernah membangkang perintah Ayap. Saat itu, kakeknya Ayap menyuruhnya mengisap air s**u dari botol s**u yang sudah sebulan tak dicuci. Dia jera. "Pak, bantuin kita ngecat plank nama." "Oh, iya, Den Ayap, saya siap!" "Tapi kita cuma punya dua kuas, Pak, gimana?" "Gini aja, Den, Den Ayap memantau aja. Biar saya sama Nak Pokeng yang kerjain." "Oh, ide yang bagus, Pak. Ok kalau gitu, Pak, nanti kalian kuinstruksikan apa yang musti kalian tuliskan di plank nama, ya." Pak Wapata mengangguk. Ayap menatap Pokeng. "Keng, pokoknya lo harus bisa kerjasama dengan Pak Wapata. Awas kalau hasilnya sampe nggak memuaskan! Kalian berdua akan gue hukum." Meski terpaksa, Pokeng harus mengiyakan, sedangkan Pak Wapata, penjaga sekolah yang budiman itu, malah ketakutan mendengar kata hukuman dari Ayap barusan. Kenangan tentang mengisap air s**u dari botol karatan kembali terngiang di kepalanya. Dan singkat cerita, meski bersusah payah, mengorbankan kuas yang patah tiga karena ulah Pak Wapata, mengecat plank nama yang kadang melenceng malah jadi terkena wajah Pokeng, kerjaan akhirnya selesai di bawah instruksi Ayap. Inilah hasil karya seni mereka yang mereka pandangi sendiri sambil tersenyum-senyum di pinggir taman buatan sekolah. Sebuah plank nama yang melekat di setiap kelas. Bacaannya, Kelas 12 IPA BOTOL s**u 1 Kelas 12 IPA BOTOL s**u 2 Kelas 12 IPS BOTOL s**u 1 Kelas 12 IPS BOTOL s**u 2 Begitulah seterusnya, di setiap kelas memiliki bacaan plank nama jurusan yang dibubuhi kata botol s**u. Entahlah apa tujuan Ayap melakukan ritual ini. Dia hanya bergumam, "Gue rasa Kakek bakal senang dengan apa yang gue lakuin." Dia tersenyum-senyum. Pokeng dan Pak Wapata juga tersenyum. Makna senyuman mereka sama. Sama-sama tak jelas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN