Mahkluk botol s**u tua

878 Kata
"Ma, plis, jangan hukum Ayap dengan cara nggak ngasih air susunya Mama selama tiga hari. Ayap bisa mati, Ma, kalau nggak nyusu sama Mama." DI TEMPAT YANG berbeda, seseorang juga tampak sangat kesal persis seperti Labu Songo. Dia tak lain adalah Tumba, ibunya Ayap. Bagaimana tidak, pulang-pulang dia langsung disambut oleh berantakannya peralatan bayi di ruang tamu. Yang paling mendominasi adalah botol s**u. Tak jauh di sana, Ayap tersandar mengenaskan di kaki sofa. Dia masih mengenakan seragam sekolah, tapi di kepalanya bertengger topi bayi berwarna biru muda bergambar botol s**u kecil-kecil. Tumba membanting tas ke atas sofa. Dia memandang heran ke sekujur lantai. "Ayap apa-apaan ini? Kenapa banyak betul botol s**u berhamburan, hah? Cepat simpuni!" Ayap menghentakkan paha. "Nggak mau, Ma. Ayap kesal. Ini semua gara-gara makhluk botol s**u tua itu." Tumba berkacak pinggang. "Makhluk botol s**u tua? Sejak kapan botol s**u bisa menua? Siapa yang kamu maksud, sih, Yap?" "Siapa lagi kalau bukan Kakek, Ma," sahut Ayap seraya memasang tampang seperti orang merengek. Ayap memang selalu seperti ini jika di depan mamanya, manjanya ampun-ampun, sampai-sampai sang kakek menjulukinya 'bayi tua.' "Kakek?" Tumba heran, tapi dia belum bersedia mengubah posisi berdirinya. "Ada apa dengan Kakekmu? Lalu pa hubungannya sama botol-botol s**u ini, hah? Sudahlah, Ayap, jangan menyalahkan orang atas kesalahan yang kamu perbuat sendiri. Sekarang Mama nggak mau tahu, cepat simpuni barang-barang yang berantakan ini. Jaga semua botol s**u itu. Jangan sampai rusak. Bisa ngamuk Kakekmu kalau sampai tahu." Ayap semakin merengek. Dia melepaskan topi bayi di kepalanya, lalu menghempaskannya ke lantai sambil menghentakkan paha berulang kai. "Mama, kok, malah ngedukung Kakek tua berotak botol s**u itu, sih? Kakek nyuruh Ayap jualin semua botol s**u ini sampai habis, Ma. Kakek hukum Ayap yang tidak berdosa ini." Tumba terkejut. Sontak dia berjalan mendekati Ayap. Dia duduk di atas sofa yang tak jauh di samping Ayap. "Apa, Nak, Kakek nyuruh kamu buat jualin semua botol s**u ini?" "Iya, Ma!" Ayap menyandarkan kepalanya di samping betis mamanya. "Tadi di sekolah Ayap dipanggil ke kantor cuma untuk menerima hukuman ini." "Kamu nggak bohong, 'kan, Sayang?" Tumba mengusap pelan kepala anak semata wayangnya. "Iya, Ma, Ayap serius. Ngapain juga Ayap bohongin Mama." Mendadak wajah Tumba berubah kesal. "Keterlaluan banget Kakekmu. Padahal bulan ini Mama sudah mati-matian bantuin dia dalam penjualan botol s**u. Kenapa masih juga nyuruh kamu, sih?" Ayap merangkul betis mamanya. "Memang itu, Ma. Dasar makhluk botol s**u tua ubanan. Pokoknya Mama harus lakuin sesuatu buat Ayap. Mana mungkin Ayap bisa jual semua botol s**u ini dalam waktu sebulan." Tumba kembali terkejut. "Hah, kamu dikasih waktu cuma sebulan buat jualin semua botol s**u ini sampai habis, Yap?" "Iya, Ma. Kelewatan, 'kan!" "Habis temakan karet dot kali Kakekmu itu. Kelewatan banget. Nanti Mama bakal tanya langsung ke dia. Mama mau protes. Tapi gimana ceritanya, sih, kok, kamu bisa dihukum kayak gini sama Kakek di sekolah?" Ayap langsung melepas rangkulannya. Dia bingung harus menjawab apa. Jika dia mengatakan bahwa hukuman ini diberikan kakeknya karena dia berkelahi di sekolah, pasti mamanya akan marah. "Kok malah diam, sih, Sayang? Kenapa Kakekmu ngasih kamu hukuman sampai sebegininya, sih?" "Eng, anu, Ma, anu-" "Anu apa, Ayap? Anunya siapa? Kenapa anunya?" Tumba mulai penasaran. "Anu, Ma," Ayap masih kelabakan. "Oh, Mama tahu. Pasti karena kamu melakukan pelanggaran, 'kan, di sekolah!" Ayap menggelengkan tangan. "Eng, enggak, kok, Ma. Ayap baik-baik aja, kok, di sekolah. Dasarnya tuh anak aja yang ngajakin Ayap kelahi duluan. Ups!" Ayap refleks menutup mulutnya yang terlanjur membeberkan. "Hah, berkelahi? Nah, 'kan, ketahuan! Berkelahi di sekolah itu namanya pelanggaran, Ayap. Kamu tahu, 'kan, apa hukuman dari Mama karena masalah ini? Mama nggak suka ngelihat anak laki-laki kelahi. Papamu meninggal itu gara-gara kelahi sama temannya dulu. Bukannya Mama sudah ngasih tahu masalah ini sama kamu, Yap!" Ayap menguncupkan tangan setelah membalikkan badan menghadap ke arah mamanya. "Ma, plis, jangan hukum Ayap dengan cara nggak ngasih air susunya Mama selama tiga hari. Ayap bisa mati, Ma, kalau nggak nyusu sama Mama. Plis, Ma! Masa' Mama nggak kasihan, sih, sama Ayap. Ayap ini sudah dapat hukuman dari Kakek. Jangan Mama tambah lagi, dong, hukuman yang sudah berat ini." Tumba mengangguk-angguk. "Kenapa, sih, kamu sampe kelahi sama temanmu itu, Ayap? Karena rebutan jemuran tetangga kayak Papamu dulukah?" "Bukan, Ma, bukan. Lagian mana ada tetangga di sekolah." "Terus karena apa?" "Ayap berada di pihak yang benar, Ma. Ayap cuma mau ngebela botol s**u Kakek yang dihina-hinanya. Wajar, dong, kalau Ayap nggak terima." "Benar begitu?" "Benar, Ma." "Nanti bakalan Mama tanyakan sama Kakekmu. Kalau kamu terbukti bohongin Mama, Ayap pokoknya nggak boleh nyusu sama Mama selama tiga hari." "Ya Allah, Mama tega banget, sih, sama anak sendiri. Mama mau lihat Ayap mati, ya?" Tumba berdiri dan mendesah nyaring. "Hah, kamu ini ngarang aja. Mana ada anak segede kamu bisa mati kalau nggak nyusu selama tiga hari aja. Kalau masih bayi boleh jadi nggak sanggup." "Tapi, Ma-" Tumba beranjak pergi. "Sudah. Mama mau nelpon Kakekmu buat konfirmasi semua ini. Sebaiknya sekarang juga kamu beresin semua yang berantakan di lantai ini. Kalau kamu nggak mau, Mama bakal hukum yang lebih berat lagi." "Hah, hukuman yang lebih berat lagi, Ma?" "Iya," teriak Tumba. "Mama nggak akan nyusuin kamu selama satu bulan kalau kamu nggak nurut kata-kata Mama kali ini." Ayap merengek kesal, tapi apa boleh buat, terpaksa dia harus menurut. Air s**u mamanya adalah segalanya baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN