"Orang tua dulu bilang, jangan macam-macam sama botol s**u, bisa kualat."
RUMAH ONDENG adalah rumah yang sederhana, hampir sama dengan rumah-rumah warga golongan menengah pada umumnya. Yang membedakan hanyalah bagian depannya. Papanya Ondeng, Labu Songo namanya, merupakan seorang pedagang aktif di kampung. Sudah lebih dari sepuluh tahun belakangan ini dia menghidupi Ondeng dengan hasil jualan di toko kecil-kecilan yang dibuat persis di depan rumah mereka. Jadi jangan harap ada teras dan kaki lima jika berkunjung ke rumah Ondeng ini.
Ondeng pulang dengan perasaan lemas. Mukanya ditekuk seolah melihat uang lima puluh ribuan tercecer di jalanan. Dia membuka pintu terali besi toko papanya itu dengan ranggas kemudian masuk seperti dipaksa.
"Ondeng pulang, Pa." Sapa Ondeng sambil melepaskan sepatu sekolahnya.
Labu Songo sedang duduk memandangi anak gadisnya dari meja yang ia sebut sebagai kasir. Padahal itu hanyalah meja makan sederhana yang ia sulap menjadi seperti tempat pembayaran belanjaan di swalayan-swalayan dengan menambahkan kotak-kotak kayu setinggi kardus.
Dia merengut dan berdiri ketika mendapati Ondeng hendak masuk begitu saja seolah tak peduli dengan jualan papanya hari ini. "Ondeng apa-apaan kamu!"
Ondeng menoleh dengan malas. "Kenapa lagi, sih, Pa? Ondeng capek, nih! Mau istirahat."
"Nggak bisa!" Hardik papanya. "Botol s**u kita hari ini penjualannya parah. Kalau begini terus, Pak Tuka bisa menghentikan pengiriman stok botol s**u ke toko kita."
"Ya terus? Bukan salah Ondeng, 'kan, Pa, kalau jualan botol susunya Papa nggak laku. Lagian Papa, 'kan, sudah Ondeng bilangin dari dulu, nggak usah jualan botol s**u lagi. Masih banyak, Pa, jualan barang lain daripada harus jualan botol s**u terus."
"Ondeng!!!" Labu Songo teriak. Dia menghempas sebuah plakat kayu bergambar botol s**u yang memanh selalu terletak di bagian atas meja kasirnya. "Jaga mulutmu! Kamu pikir kamu bisa sekolah itu karena penghasilan dari mana, hah, kalau bukan dari hasil menjual botol s**u-botol s**u ini?" Labu Songo menunjuk-nunjuk botol s**u jualannya yang banyak terpajang di rak-rak yang tak jauh dan tergantung-gantung rapi dalam kemasan plastik yang elegan.
Botol s**u-botol s**u itu sendiri banyak macam dan warnanya. Ada yang kecil kurus, kecil gemuk, besar kurus dan besar gemuk. Warnanya tersedia bahkan dari segi umur yang disasar. Katanya Labu, kalau warna biru langit itu untuk bayi, warna kuning untuk remaja, warna ungu untuk janda, warna abu-abu untuk lansia. Sebenarnya masih banyak warna lain dan dia sampai sekarang masih bingung menentukan dikisaran umur berapa warna-warna lain itu tertuju. Biarlah pembeli yang menentukan sendiri. Dan dia juga masa bodoh botol susunya digunakan oleh siapa, yang terpenting itu laku.
Ondeng diam saja mendengar papanya ngomel-ngomel karena kalau dilawan bisa merembet ke botol s**u-botol s**u zaman purba.
"Pokoknya Papa nggak mau tahu, kali ini kamu harus ikut andil dalam penjualan botol s**u Papa."
Ondeng mengernyit. Kali ini dia merasa perlu untuk melakukan perlawanan. "Ikut andil dalam penjualan botol s**u Papa? Maksudnya apa, Pah?"
"Beberapa waktu ini sedikit sekali yang beli botol s**u Papa, entah ke--"
Ondeng memotong kalimat papanya. "Pah, nggak setiap hari orang membutuhkan botol s**u di dunia ini. Lagipula, botol s**u itu pada umumnya dipakai sama anak bayi. Memangnya Papa pikir nenek-nenek mana yang mau ngedot pake botol s**u? Atau kakek-kakek mana? Atau Ibu-Ibu mana? Atau janda-janda mana, duda-duda mana? Papa harus pikirkan itu juga, dong."
Labu Songo menghampiri Ondeng dan mendengus kesal. "Kamu itu nggak tahu apa-apa tentang botol s**u di zaman purba. Zaman dulu itu--"
Mulai lagi, deh, penyakitnya papa. "Iya, iya, Pa, Ondeng tahu, kok. Zaman dulu itu semua orang pake botol s**u dan nggak pandang umur, kan. Tapi sekarang ini zaman modern, Pah. Kalau dulu perempuan haid, bersihin darah kotornya pake lap dapur yang besar, lah kalau sekarang, 'kan, sudah pake pembalut yang bisa nyerap cairan sendiri."
"Itu beda perkara, Ondeng!" Labu tak mau kalah. Biasa, setiap orang tua selalu punya idealisme yang lebih tinggi dari anak muda. "Itu pembalut, dari kertas tisu. Kalau botol s**u ini kuat, dari bahan yang teruji kualitasnya. Buktinya orang kalau ngedot beratus-ratus kali, botolnya nggak rusak-rusak, 'kan."
Ya iyalah, Pa. Yang rusak itu bukan botolnya, tapi dotnya. "Justru itu, Pa, makanya tadi Ondeng nyaranin supaya Papa ganti jualan barang lain aja. Nggak setiap waktu orang membutuhlan botol s**u karena botol s**u itu nggak gampang rusak. Papa musti jualan barang yang gampang rusak aja supaya orang lebih sering ganti dan beli baru terus."
"Nggak, nggak bisa!" Labu Songo bersikeras. "Botol s**u ini yang telah menghidupi keluarga kita selama lebih dari sepuluh tahun. Orang tua Papa dulu bilang, jangan macam-macam sama botol s**u, bisa kualat."
"Kualat?"
"Iya. Pokoknya Papa nggak mau tahu, kamu harus bantuin Papa jualin botol-botol s**u ini. Kamu mau kita jadi gelandangan gara-gara kualat sama botol s**u, hah?!"
"Itu nggak mungkin, Pa."
"Kamu ini, Ndeng, bantah aja terus kalau dikasih tahu sama orang tua. Sudah, pokoknya nanti kamu harus bantuin Papa jualin 100 biji botol s**u, karena kalau tidak, Pak Tuka nggak bakal nyetok botol s**u lagi di toko kita dan kita bakalan jatuh miskin."
Memangnya kita kapan tajirnya, sih, Pa? "Apa, Pa, Ondeng harus jualin 100 biji botol s**u? Papa nggak salah?"
Labu Songo kembali ke meja kasir botol s**u. "Nggak. Keputusan Papa sudah bulat. Nggak bisa diganggu gugat lagi."
Ondeng berlari menyambangi meja papanya. "Pa, tapi 100 biji itu kebanyakan. Mau Ondeng jualin ke mana botol s**u sebanyak itu?"
"Ya itu terserah kamu, mau kamu jual ke mana. Ke pasar ikan kek, ke butik hijab sebelah kek, ke toko kutang seberang kek, ke penjual bakso kek, terserah, yang penting botol s**u 100 biji harus habis terjual dalam sebulan, soalnya Pak Tuka, bos besar botol s**u, bakal ngecek hasil penjualan botol s**u kita sebulan lagi."
Ondeng seketika terasa disambar petir. Dia merasa hidupnya menderita. Inikah yang disebut dengan kualat sama botol s**u?