Bab 119. Pertengkaran Dua Sahabat

1339 Kata

Timo berjalan beberapa langkah, berdiri berjarak di depan Irfan. Dia masih mengingat ekspresi wajah bengis Irfan saat menghajarnya di ruang kerjanya di Bandung. Dia tidak mau membalas, tidak mau pengecut seperti Irfan yang hanya berani menghadapinya dengan membawa banyak orang. Dia lebih baik datang seorang diri. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal saat mengingat Irfan yang menyuruh orang melenyapkan organ intimnya. Dia memaklumi kemarahan Irfan saat itu, tapi Irfan sangat berlebihan. Irfan yang duduk di kursi kerja mewahnya sempat melirik interkom hendak menghubungi penjaga, tapi tampaknya dia berubah pikiran, urung melakukannya. “Aku baru saja pulang dari Yogya,” ujar Timo memulai. Irfan menelan ludah disertai deru napas yang tiba-tiba memburu, langsung menebak Numa yang minta izin k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN