MIMPI “Kamu jahat, Mas Naren! Sandiwara kamu gak lucu!” Naya merajuk sambil menghujani tubuh suaminya dengan pukulan ringan. Narendra hanya tersenyum, seolah ingin terus menikmati pemandangan wajah Naya yang tampak menggemaskan. Kedua tangannya membelai lembut pipi istrinya. Dengan pakaian yang putih bersih, dia berdiri tegak di ambang pintu. Paras tampannya terlihat bercahaya, memancarkan pesona yang nyaris menyilaukan. “Aku pulang ya, Nay,” ucap Narendra tanpa melepaskan senyumnya. “Aku mau ikut kamu!” “Jangan, belum waktunya! Berbahagialah!” Pria itu membalikkan tubuh, lalu pergi meninggalkan sang istri. Jarak antara mereka semakin lama semakin jauh. Naya berusaha mengejar sambil terus berteriak memanggilnya. Namun, panggilan itu sama sekali tidak dihiraukan. “Mas Naren … Mas Nar

