AMANAT Chandra masih tidak percaya dengan dugaan sang bunda bila Naya memang telah berbadan dua. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakak iparnya itu. Mungkin bisa jadi lebih hancur. Rintik hujan yang turun di pagi hari membuat lelaki berambut cepak itu duduk bersandar dalam mobil. Jarum pada arlojinya menunjukkan pukul 7.30, masih tersisa waktu sekitar setengah jam lagi untuk menunggu apotek yang belum dibuka. Perhatiannya tertuju pada kaca jendela yang telah basah oleh tetesan air, membuat angan mulai mengembara mengingat obrolannya dengan Narendra malam itu. “Biar Naya yang milih, tetap jadi istri lo atau pergi jauh sama gue!” tegasnya tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. “Jangan! Tolong biarkan dia tetap sama gue untuk sementara waktu! Gue gak tahu sampai kapan bis

