Hujan

2551 Kata

“Bin, lo nggak risih ada Doyi di sini?” tanya Haekal beberapa saat setelah Doyi mendaratkan bokongnya di atas sofa. Mendengar hal tersebut, tubuh Doyi menegak. “Maksud lo ngomong kayak gitu buat apa, Kal?” Doyi sedikit menyentak. Ia tidak terima Haekal bertanya seperti itu pada Bina. Matanya bahkan melotot dan memerah. Ah, itu bukan berarti Doyi sangat marah, memang laki-laki itu hobi sekali membulatkan matanya hingga memerah jika ia sedang kaget. “Gue tanya Bina, bukan tanya lo. Lo nggak usah nanggepin.” Haekal berucap dengan santai, seolah Doyi bukanlah dosennya dan seperti teman biasa saja. “s****n lo, Kal.” Doyi mendengus. Sejatinya ia juga jadi penasaran dengan jawaban Bina atas pertanyaan Haekal. “Gimana, Bin? Kalo lo risih, gue bisa usir Doyi kok dari sini.” Ucapan Haekal meman

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN