Pusat Komunikasi Mas Johnny

4176 Kata
Bina dan Haekal memutuskan dan sepakat untuk tidak bertanya pada Mas Johhny tentang apa Mas Johnny dan Doyi bicarakan tadi malam. Walau rasa penasaran mereka sudah meluap-luap hingga membuat mereka berdua tidak bisa tidur nyeyak, tetapi mereka tidak mempunyai hak mengetahui kecuali Mas Johnny sendiri yang bercerita. Seperti untuk masalah seperti ini, mereka sudah bisa menanggapi dengan sedikit dewasa.  Tadi malam saat Haekal tidur satu kamar dengan Mas Johnny, laki-laki itupun hanya diam dan tidak berbicara apapun lagi pada Mas Johnny, ia juga sempat berpura-pura tidur. Memang benar Haekal itu bocah selengekan. Namun Haekal juga adalah laki-laki yang dengan mudah memahami sutuasi. Ia memutuskan untuk langsung tidur walau belum mengantuk, bertujuan untuk menghindari perbincangan dengan Mas Johnny yang sepertinya tidak ingin diganggu. Sekalipun ia sok-sok an tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi dan mengobrolkan hal lain dengan Mas Johnny, rasa-rasanya memang kurang tepat. Akhirnya Haekal memutuskan untuk tidur saja walaupun ia masih terbayang-bayang oleh rasa penasaran. Sedangkan pada pagi hari ini, Haekal sudah bersiap membereskan barang dan kopernya. Tambahan oleh-oleh dari mama dan papa membuatnya harus menata ulang barang-barang dan rupanya koper beserta ransel besarnya tidak cukup untuk menampung tambahan oleh-oleh dari mama dan papa. Akhirnya Haekal masih harus juga menenteng totebag untuk membawa oleh-oleh tersebut agar sampai dengan selamat di rumah nanti. Sebenarnya malam tadi Haekal tidak benar-benar tidur dan Haekal sempat mendengar apa yang diucapkan Mas Johnny untuk dirinya. Haekal sempat tidak percaya bahwa Mas Johnny bisa berkata seperti itu, tetapi sepertinya memang ia tidak salah dengar walau ucapan Mas Johnny terdengar sedikit lirih. Mungkin untuk menghidari dirinya mendengar apa yang diucapkan Mas Johnny. "Kal, lo tetap bakal jadi sahabat Bina buat selamanya, kan? "Lo nggak bakal ninggalin Bina sendirian, kan?" "Kalau lo mau tahu, lo itu satu-satunya temen Bina yang paling akrab. Bina nggak punya temen sampai akrab banget kecuali elo. Temen sekolahnya udah ngilang entah kemana. Walaupun masih ada Ayu sama Mark, tapi gue rasa Bina cuma bener-bener akrab bangetnya sama lo. Jangan pernah tinggalin dia, ya. Walaupun lo lagi di Surabaya, jangan bosen-bosen buat ngehubungin Bina. Surabaya-Malang juga nggak jauh, sering-sering main ke sini." "Tolong jagain dia juga. Usahain jangan sampai buat Bina kecewa. Kalaupun dia nakal, cubit aja nggak papa. Gue rasa kalian bisa tumbuh bareng. Gue rasa lo itu mood boosternya Bina, yang suka bikin Bina kesel tapi pada akhirnya ketawa-ketawa." "Kal ... gue nggak tahu lo udah tidur apa cuma merem. Tapi semoga lo bisa denger apa yang gue omongin." "By the way, lo udah tahu ya kalau Doyi itu sahabatan sama kita? Bagus, deh. Lo jadi bisa akrab juga sama Doyi, anggep aja temen sendiri." "Tapi, Kal. Gue rasa Bina ada rasa deh sama Doyi. Lo ngerasain juga nggak? Bina pernah cerita ke elo tentang perasaannya sama Doyi, nggak?" "Gue cuma takut, Kal. Gue takut Bina bakal patah hati kalau sampai dia suka sama Doyi. Karna lo tahu sendiri kan kalau Doyi itu cerdas plus berkelas. Sedangkan Bina nggak pinter-pinter amat. Gue takut Doyi malah ilfeel kalau tahu Bina suka sama dia. Gue rasa itu juga yang jadi alasan Doyi nyuruh Bina pura-pura nggak kenal sama dia selama di kampus. Yah, walaupun gue nggak tahu alasan dia sebenarnya itu apa." "Pas gue nyuruh lo sama Bina masuk kamar, lo sadar nggak kalau gue sama Doyi lagi ada masalah? Anggep aja lo nggak sadar ya, Kal. Soalnya kalaupun lo sadar, gue nggak bakal ceritain masalah gue sama Doyi sekalipun saat ini lo udah tidur dan sama sekali nggak bisa dengerin omongan gue." "Atas nama gue sendiri, dengan nggak ngurangin rasa hormat sedikitpun, gue bener-bener minta tolong sama lo untuk selalu ada buat Bina. Anggap aja Bina itu adik lo ... ah, tapi kayaknya Bina yang lebih tua dari lo. Jadi, anggap aja dia itu kakak lo." "Maafin gue juga kalau gue itu rese banget tiap lihat lo. Karena emang lo itu nyebelin banget, sumpah. Cuma ngeliat wajah lo aja udah bikin gue pengen nonjok. Tapi mau gimana lagi, lo itu deket banget sama adik gue. Malahan gue rasa lo itu seiras banget sama Bina. Lo mau nggak jadi adik gue juga? Yah, walaupun satu adik aja udah bikin pusing, tapi dua adik juga nggak masalah, kok. Gue rela tekanan darah gue naik turun asalkan Bina bahagia." "Udah ya, Kal. Gue harap lo tahu maksud gue. Gue harap lo bisa denger apa yang gue omongin walau ternyata lo dengernya cuma lewat mimpi." "Hahaha ... semoga lo bener-bener tidur, deh. Bisa malu tujuh turunan gue kalau ternyata lo belum tidur dan denger ini semua. Apalagi kalau sampai lo bocorin ke mama papa." "Oii!" Haekal tersadar dari lamunannya karena terlalu fokus memikirkan perkataan Mas Johnny yang panjang dan lebar. "Hah? Apa?" Ia menggerak-gerakkan kepala untuk mengembalikan kesadaran. Beruntung Bina tidak terlalu ambil pusing atau menanyakan mengapa laki-laki itu melamun saja sedari tadi. "Kal. Ke pantai dulu, yuk!" ajak Bina dengan nada melas. Ia yang katanya ingin membantu menata ulang barang Haekal, malah mengeluarkan lipatan pakaian yang sudah rapi di dalam koper satu per satu tanpa peduli dengan pakaian yang kemabli acak-acakan. Pakaian-pakaian itu lalu direbut si empunya. "Katanya mau bantuin beresin. Eh, malah ngeberantakin!" omel Haekal dengan kedua tangannya yang sibuk melipat. Ia juga kembali memunguti pakaiannya yang sudah disebar Bina ke segala sisi di atas ranjang. Setelah ia taruh ke dalam koper, pakaian tersebut Bina ambil dan Bina lempar ke atas ranjang. Semua kembali berantakan. Haekal hanya bisa berembus lelah. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatap Bina yang masih asyik membuat barangnya berantakan. "Bin,” ucap Haekal dengan nada datar yang berniat agar Bina mengehntikan aktivitasnya membuat berantakan pakaian Haekal. Bina tidak menjawab. Ia masih asyik dnegan kegiatannya itu. "Gue juga punya keluarga. Gue pengen ketemu mereka. Gue kangen sama mama papa gue." Ucapan Haekal terdengar sangat menohok hati siapapun yang mendengarnya. Kuasanya dengan kasar memunguti barang-barangnya. Kontan aktivitas Bina terhenti. Perempuan itu menunduk dalam-dalam seolah ada rasa sakit yang sedang ia tahan. Satu kaos berwarna biru tua yang sering dipakai Haekal masih ada dalam genggamannya, dan tidak lama tetesan air mata jatuh ke sana, meninggalkan bekas basah di beberapa titik. Haekal tidak pernah menyangka bahwa Bina sangat mudah meneteskan air mata. Selama ini yang ia ketahui, Bina adalah sosok yang periang. Namun selama tiga hari tinggal di sini, sudah tiga kali juga Haekal melihat Bina menghamburkan air matanya. Haekal jadi berpikir, apakah ini adalah diri Bina yang sebenarnya, seorang gadis muda yang mudah menangis tetapi tidak terlihat saat sedang di luar. Apakah Bina adalah definisi manusia pemilik senyum palsu yang selalu ditebarkan kemana-mana, Haekal tidak tahu, ia tidak mau menyimpulkan hal itu. "Bin. Jangan nangis." Tangan Haekal terulur dan ia menaikan dagu Bina, membuat perempuan itu mendongak dan tampillah mata beserta hidungnya yang sudah memerah. Haekal jadi merasa iba. Baru kali ini ia membuat perempuan itu menangis. "Sorry ya kalau gue egois," ucap Bina dengan pelan dan suaranya sedikit bergetar, lalu ia kembali menunduk tidak mau menatap Haekal. "Kita video call Ayu sama Mark, yuk!" ajak Haekal berusaha mengubah suasana. Ia sudah mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tetapi Bina menggeleng. "Nggak mau." Senyum Haekal terhenti, lalu perlahan hilang. Sekarang yang bisa Haekal lakukan hanya menatap Bina dalam diam. Yang ditatapnya pun juga diam masih menunduk dalam-dalam dengan kaos biru tua yang mulai basah. Tangisan Bina kali ini memang tidak bersuara, tidak sesegukan, dan badannya juga tidak bergetar, tetapi air mata yang keluar justru sangat lancar membanjiri kaos biru tua kesukaannya. Padahal baru semalam Haekal mendengarkan permintaan Mas Johnny untuk tetap bersama dengan Bina, menjaga Bina, dan berusaha untuk tidak membuat Bina kecewa. Namun, baru saja ia sudah sukses membuat perempuan itu menangis. Haekal kembali berpikir lagi. Agaknya perkataan yang keluar dari mulutnya barusan memang sedikit kasar. Harusnya Haekal tidak mengatakan hal itu dengan raut wajah datar. Harusnya Haekal juga tidak usah mengatakan jawaban itu dan menggantinya dengan jawaban yang lain dengan bumbu selengekan, seperti biasanya. Mungkin tadi Haekal terlalu lelah karena ia memang benar-benar ingin pulang untuk bertemu dengan keluarganya, jadi Haekal tidak bisa dipaksa untuk lebih lama lagi tinggal di sini. "Lo ikut gue ke Surabaya, yuk! Nanti kita jalan-jalan keliling kota sampai pelabuhan," ucap Haekal tiba-tiba. Ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa agar Bina berhenti merasa sedih. Pasalnya Haekal memang benar-benar ingin pulang tanpa paksaan untuk tetap tinggal. Bina menggeleng bersamaan dengan air mata yang ia usap. "Nggak mau,  Surabaya panas." Bibirnya melengkung ke bawah secara alami. "Tapi di kamar gue ada ACnya, pasti nggak panas," balas Haekal apa adanya, kembali menjadi manusia polos. "Masa iya mau jalan-jalan di dalam kamar!" Nada bicaranya sudah berubah. Sudah hampir terdengar seperti Bina yang menyebalkan. Haekal sedikit tenang sekarang. Haekal meringis, lalu kemudian menganga saat mendapatkan sebuah ide yang tidak terduga. "Bin, gimana kalau kita ke Solo?" "Ke rumah Mark maksud lo?" tanya Bina memastikan perkataan Haekal yang terdengar sedikit random. Haekal mengangguk antusias. "Ho'o." "Ayo. Kapan?" tanya Bina dengan girang. Tidak mungkin perempuan itu menolak jika diajak jalan apalagi sampai ke luar provinsi. Tentang izin dari orang tua, itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting agendanya bisa tersusun dengan rapi. "Gue pulang ke Surabaya dulu. Kita ke sana seminggu lagi, deh,” kata Haekal yang otomatis membuat Bina tidak terima dengan waktu yang cukup lama baginya. "Kok lama banget kudu seminggu?" Perempuan itu merasa tidak sabar. Dalam pikirannya sudah terbayang jelas apa saja yang akan ia dan teman-temannya lakukan di Solo nanti. Pasti seru jika Bina dana teman-temannya bisa jalan-jalan ke keraton atau bahkan ke tempat-tempat bersejarah lainnya di Solo. "Kan kita juga harus dapat persetujuan dari pihak Mark dan keluarga. Kita nanti bakal nginep di rumahnya Mark, kan? Terus jangan lupa mampir ke rumah Ayu. Nginep di sana sekalian." Haekal berucap panjang lebar sembari melipat pakaian. Sedangkan Bina hanya menyimak. "Kita nginep di sana kan harus dengan izin orang tua mereka. Siapa tahu orang tua mereka bukan tipe orang yang suka rumahnya didatengin orang asing, sampai nginep lagi. Bukannya gue suudzon ya, kan emang kondisi orang itu beda-beda." Berbicara seperti itu membuat Haekal seperti laki-laki idaman yang memang berusaha memikirkan semuanya dengan matang sebelum mereka benar-benar melakukan perjalanan jauh dari Kota Malang menuju tempat tinggal sahabatnya Mark yaitu Kota Solo. "Kan bisa nginep di hotel," celetuk Bina yang langsung saja membuat Haekal mengembuskan napas. Jika difikir-fikir, emnginap di hotel memang jalan mudah bagi siapapun yang akan melakukan perjalanan dengan catatan memiliki banyak uang. "Keon pikir hotel itu murah? Paling murah sehari bisa dua ratusan ribu, dikali dua kamar sama dengan empat ratus ribu. Itupun kalau kita nginepnya sehari doang. Belum lagi di Magetan rumahnya Ayu, di gunung hotelnya makin mahal, bisa tiga ratusan, dikali dua kamar jadi enam ratusan. Sama juga, itupun cuma sehari. Belum makan sama jajan." Haekal berbicara panjang lebar agar Bina paham betapa hotel bisa membuat mereka menghabiskan banyak uang hanya untuk tidur satu malam. Bina mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Haekal. "Pesan satu kamar aja," ucapnya tanpa panjang lebar. Haekal diam memikirkan saran dari Bina. Matanya melirik ke langit-langit kamar pertanda otaknya sedang ia jalankan. Lalu ia saat tahu apa yang harus dilakukan kemudian. "Yang check in salah satu dari kita, terus nanti gue atau lo yang jadi tamu." Mereka berdua melongo tidak percaya dengan ide brilian tersebut. Tapi sejurus kemudian, Haekal mengibaskan tangan di depan wajah. "Ah, jangan! Itu terlalu beresiko, Bin!" Raut wajahnya menurun lemas. "Beresiko gimana?" tanya Bina benar-benar tidak paham. "Lo inget kata-kata Mas Johnny pas sarapan kemarin sama kata-kata Pak Doyi pas dateng semalam?" Haekal tiba-tiba saja terinagt akan hal itu. Kening Bina berkerut, lalu ia menggeleng. "Kalau kita sekamar berdua, nanti yang ketiga itu setan." "Jadi rame dong!" Kontan laki-laki itu melempari wajah Bina dengan pakaian yang sudah ia lipat rapi. "Maksud gue ... kita nginep di hotel berdua, tapi pas kita pulang jadi bertiga." Haekal masih belum mengatakan dengan blak-blakan apa yang sebenarnya ia maskud. "Lah, iya, bener. Jadi rame." Bina masih menanggapi dengan jawaban seadanya. Sesungguhnya ia benar-benar tidak paham dnegan apa yang dimaksud Haekal. Ia hanya bodo amat yang penting ia bisa berlibur di luar kota tanpa memikirkan apa yang seharusnya dipikirkan selama dalam perjalanan. "Kok lo polos banget sih, Bin?" "Makasih." Plakkk "Kok gue digeplak, sih?" Bina tidak terima ketika lenagnnya digeplak oleh Haekal, karena biasanya ia adalah tukang geplak lengan sahabat-sahabatnya. Haekal mengembuskan napas frustrasi di hadapan Bina. "Lo itu pura-pura polos apa emang polos beneran, sih!" Bina terdiam sebentar dan akhirnya ia pahamd engan apa yang dimaksud sahabatnya itu. "Iya, gue paham maksud lo," katanya meringis. "Tapi kan kita juga nggak bakal lakuin hal itu, Kal." "Nggak ada yang bisa jamin, Bin." Haekal berucap tentang kenyataan. "Gue yang jamin." Tetapi Bina malah berucap tentang ketidakpastian. Tatapan Haekal terhenti pada manik Bina, datar, dan dengan dua gigi depannya yang terlihat. "Nggak usah gitu juga natapnya," ucap Bina mengomentari tatapan Haekal yang melongo. Kemudian lagi-lagi ia melempar satu pakaian di wajahnya. "Gini, Kal. Kita itu sahabat, udah deket banget. Nggak mungkin kita lakuin hal bodoh kayak gitu. Toh, gue juga nggak ada pikiran sedikitpun buat lakuin hal itu. Jadi ya selama lo nggak ada mikir sampe ke sana, ya nggak masalah," lanjutnya berusaha meyakinkan Haekal. Bina sedang sangat percaya diri demi bisa pergi berlibur. "Tapi masalahnya musuh kita itu setan, Bin." Haekal juga tidak mau berhenti meyakinkan Bina bahwa hal itu sangat beresiko. "Lo bayangin deh, Bin. Kita lagi jauh sama orang tua, di luar kota bahkan luar provinsi. Dan posisi kita satu kamar selama beberapa hari. Lebih dari dua puluh empat jam kita sekamar, makan bareng, tidur bareng, ngapa-ngapain bareng. Yakin lo bisa nulikin pendengaran dari bisikan setan?" Haekal masih harus meyakinkan Bina bahwa hal tersebut sangat dan sangat berisiko sekali. "Gue yakin!" ucap Bina tegas dan pasti. "Jangan-jangan lo yang nggak yakin, ya? Lo ada niatan mau ena-ena sama gue?" Matanya menyipit, menunjuk wajah Haekal. "Ya makanya buat ngehindarin hal itu." "Kal, sadar! Kita ini sahabat, kita ini belum nikah. Lo jangan lakuin hal bodoh kayak gitu, kecuali lo mau masa depan lo suram gara-gara lo hamilin anak orang." Bina yang mulai berucap panjang lebar dengan segala nasihatnya itu hanya ditatap dengan datar oleh Haekal. "Gue juga nggak mau masa depan gue hancur gegara hamidun sama lo. Gue masih pengen jalan-jalan haha-hihi. Gue nggak mau nikah cepet-cepet karena alasan hamil, nggak etis banget gila. Kalo lo mau ena-ena sama gue ya nikahin dulu, dong. Tapi jangan sekarang. Gue belum siap lahir batin, Chan!" Ucapan Bina yang panjang lebar itu dapat dibalas dnegan mudah oleh Bina. Haekal tidak mau kalah. "Gue juga paham, Bin. Nikah itukan juga bukan cuma buat ena-ena doang. Nikah itu sehidup semati. Kita kudu siap lahir batin, kudu mandiri, siap finansial itu juga penting. Ya kali gue nikahin lo sekarang, lo mau gue kasih makan apa? Gue itu masih pengangguran, bayaran kost yang setahun aja sengaja gue tilep tiga bulan buat jajan." "Nah, makanya. Nanti pas di hotel nggak usah ena-ena!" Perdebatan tidak kunjung berujung. Keduanya masih asyik mengeluarkan argumen masing-masing. Bina dan Haekal yang sama-sama cerewet itu memang seharusnya jangan dipancing untuk saling berdebat. "Bin, kan gue udah bilang kalau setan itu ada dimana-mana." Haekal merasa sangat gemas. Ingin sekali ia menjambak rambut Bina yang terurai. "Kal ...." Bina tidak kalah gemas. "Kan gue udah bilang, jangan dengerin kata-kata setan!" Haekal meremas pakaiannya saking gemasnya. "Ya gue nggak tahu bisa nulikin kuping gue dari setan apa enggak! Lo juga nggak bakal tahu, Bin!" "Gue yakin banget gue bisa!" "Tapi gue nggak yakin!" "Yakinin, dong!" Dugh dugh dugh Suara pintu yang diketuk itu mengalihkan perhatian Bina dan Haekal. Mereka menoleh ke ambang pintu kamar, ternyata sudah ada Mas Johnny yang berdiri di sana dengan wajar datar memperhatikan perdebatan mereka berdua. "Mas! Masa Haekal mau ena-ena sama gue di hotel!" adunya pada Mas Johnny yang langsung mendapat timpukan beberapa pakaian di wajahnya. Haekal melotot takut jika Mas Johnny akan salah paham dan akan memukulinya lagi. Mas Johnny berjalan menghampiri mereka. Wajahnya yang datar itu praktis membuat Haekal menelan ludah, bersiap-siap untuk mendapatkan bogem mentah. Haekal sudah menelan ludah. "G-gue bisa jelasin, Mas. M-maksud gue ...," ucap Haekal terbata, ketakutan. Namun ucapannya terhenti saat Mas Johnny ternyata hanya ikut duduk bersama mereka. "Kenapa kalian nggak pake pengaman aja?" tanya Mas Johnny yang langsung mendapatkan tatapan tidak percaya dari Bina dan Haekal. "Mas, lo gila? Lo ngedukung Haekal buat ena-ena sama gue?!" Bina menyentak kakaknya itu, berhasil membuat Mas Johnny sedikit memundurkan kapalanya.  "Lah, Bin! Kok kesannya kayak gue yang pengen banget ena-ena sama elo, sih!" Haekal tidak terima. Mendengar keceriwisan dari dua bocah tersebut membuat Mas Johnny memilih untuk merebahkan punggungnya. Tangannya ia lipat di belakang kepala sebagai bantal. "Emang sih kalo pake pengaman itu nggak nikmat. Tapi ya daripada kalian nanti kebobolan," ucapnya santai menatap langit-langit kamar. "MAS!" sentak Bina dan Haekal bersamaan. "Anjir, random banget. Yaudah, nggak jadi aja deh, Bin. Gue mau pulang!" Haekal cepat-cepat memasukkan pakaiannya tanpa ia lipat. Sesegera mungkin ia ingin pergi dari kamar ini dan mengakhiri kerandoman yang terjadi. "Nggak jadi ena-ena?" celetuk Mas Johnny. "ASTAGFIRULLAH, MAS ...." Haekal menyesal. Seharusnya pembahasannya tidak sampai serandom ini. "Ya kalian kalau mau ena-ena ya silakan. Tapi pakai pengaman. Kalau kalian sampai kebobolan, kasian orang tua kalian." Bina dan Haekal tidak pernah menyangka jika Mas Johnny bisa berucap sesantai itu. Mas Johnny kembali duduk. "Ena-ena itu hak setiap orang. Kalian tahu, kan? Jadi ya nggak usah sampai ribut gini. Kalau mau ena-ena, nggak usah nginep di hotel. Mau kapan? Malam ini? Di kamar Bina aja nggak papa." Mas Johnny menatap Bina dan Haekal yang masih melongo. "Syaratnya cuma satu. Beli pengaman dulu dan jangan berisik. Nggak enak kalau sampai tetangga denger." Rasanya Bina dan Haekal ingin pergi ke laut saja. Ingin berenang berasama ikan nila. Tapi mereka baru ingat, ikan nila tidak hidup di laut. "Oiya. Kalau seumpama kalian nggak mau pakai pengaman, jangan dikeluarin di dalam. Bahaya." Ucapan Mas Johnny semakin dua puluh satu coret saja. Istigfar dalam hati masih dilakukan Bina dan Haekal. "Tapi nggak enak kalau nggak dikeluarin di dalam." Astagfirullah ... astagfirullah .... "Cukup, Mas. Cukup!" Haekal sudah menutup kedua telinganya. "Mas, kita bukan manusia bodoh yang mau ena-ena seenaknya, ya!" Bina mendengus kesal. "Makanya, biar nggak seenaknya, gue kasih tahu sedikit tentang s*x education. Jangan dianggap tabu." Bina dan Haekal berbalik diam dan mulai mendengarkan maksud dari perkataan Mas Johnny. "Pasti udah nggak asing lagi kan bagi kalian lihat pasangan muda yang nikah karena hamidun? Bukan dari cerita orang, tapi mungkin teman kalian ada yang kayak gitu juga." Tanpa Mas Johnny duga sebelumnya, ternyata Bina dan Haekal sama-sama mengangguk, membuktikan bahwa perkataan Mas Johnny memang benar. Kemudian Mas Johnny melanjutkan apa yang menurutnya harus ia katakan. "Sekarang gue tanya. Kira-kira kenapa mereka nikah dalam kondisi hamil? Ah, maksud gue si ceweknya yang hamil." Mas Johnny memberikan pertanyaan pada Bina dan Haekal yang masih diam menyimak perkataannya. "Ya masa nanti pas lahir si anak nggak punya bapak," celetuk Bina tanpa pikir panjang. Sedangkan Haekal masih memikirkan jawabannya. "Karena malu sama tetangga. Belum nikah kok udah punya anak," kata Haechan. Bina mengangguk menyetujui. “Kalau masalah punya bapak atau enggak, yang gue tau dalam agama sih anak yang lahir di luar nikah tuh bukan anaknya si bapak tapi anaknya si ibu.” “Tapi kan sebelum lahir udah nikah.” Bina menyanggah perkataan Haekal. Haekal berusaha menjelaskan. “Maksudnya, hamil di luar nikah.” Walau jawaban tersebut bukanlah jawaban yang diharapakan Mas Johnny, tetapi ia cukup puas mendengar jawaban dari dua bocah petakilan yang ada di hadapannya. "Terus kenapa mereka bisa punya anak padahal belum nikah?" tanya Mas Johnny lagi. "Keenakan ena-ena sampai nggak mikirin masa depan." Mas Johnny langsung menjentikkan jari di depan wajah. "Jadi kesimpulannya?" Bina dan Haekal diam. Mas Johnny sudah seperti orang hilang saja, kebanyakan tanya. Sepersekian detik Bina dan Haekal masih diam, membuat Mas Johnny tidak sabar. "Kesimpulannya mereka belum paham tentang s*x education. Jadi mereka having s*x tanpa pengetahuan. Jadilah hamidun. Ujung-ujungnya nikah padahal belum siapa berumah tangga. Kalau nggak gitu, mereka pilih aborsi. Bahkan buang bayi setelah lahir. Hm." Bina dan Haekal hanya ber oh panjang sambil mengangguk. "Sebenarnya s*x education ini masih sering dianggap tabu. Makanya banyak orang tua yang nggak ngasih pelajaran tentang s*x ini ke anak mereka. Padahal ini kan penting banget ... dan masalahnya, hamil diluar nikah itu udah banyak terjadi dimana-mana tanpa adanya s*x education. Gila." Mas Johnny menggelengkan kepala merasa tidak percaya dengan kondisi dewasa ini. "Kalian tahu kan kalau s**s bebas itu banyak kerugiannya?" Mas Johnny bertanya lagi. Lagi-lagi mereka hanya menyimak dan sesekali memberi anggukan persetujuan. "Having s*x atau yang biasa kalian sebut ena-ena itu emang hak setiap orang. Siapapun silakan lakuin itu. Tapi mbok ya kalau mau ngelakuin, dicari dulu ilmunya, efeknya, dan lain-lain. Kita kan nggak pernah tahu orang yang having s*x sama kita itu sehat apa enggak. Bisa-bisa kita jadi kena berbagai penyakit kelamin, parahnya kalau sampai kena HIV/AIDS. Makanya pakai pengaman itu penting, kecuali kalau udah periksa kesehatan dan dinyatakan sehat." Tanpa aba-aba, Mas Johnny yang asyik bertutur kata itu melihat satu bungkus keripik apel. Langsung saja ia buka dengan menggunakan giginya. Hebatnya, Haekal si pemilik keripik itu membiarkan keripiknya dimakan orang. Padahal keripiki itu oleh-oleh dari mama untuk keluarga Haekal. "Jadi misal kalian mau having s*x tanpa pengaman, silakan ke dokter dulu. Kalau lo nggak mau hamil, Bin, suruh Haekal jangan ngeluarin di dalam. Paham?" Bukannya menyangkal seperti yang sudah-sudah, keduanya malah mengangguk pertanda paham yang otomatis membuat bola mata Mas Johnny membulat sempurna. "Jadi, kaliam serius mau ena-ena?" tanya Mas Johnny yang hampir tersedak keripik apel. "Ya enggaklah, Mas! Astagfirullah." Haekal mengelus dadanya berkali-kali. "Ya siapa tahu setelah lo paham apa yang gue jelasin, lo jadi ngerasa aman terus bisa dengan santainya having sex." "Mas, gue ini belum genap dua puluh satu tahun," kata Haekal dengan tangan yang kembali sibuk melipat pakaian. "Kan kata gue pakai pengaman biar nggak kebobolan," jawab Mas Johnny enteng. Sedangkan Bina masih asyik menyimak. "Bukan gitu, Mas. Gue nggak mungkin ena-ena sebelum nikah. Dosa zina itu gede banget. Bagaimanapun juga, zina itu k**i. Pokoknya gue nggak mau nambah-nambah dosa cuma buat ena-ena. Mending banyak-banyakin istigfar, deh, biar pikiran kita nggak kemana-mana." Tidak hanya sampai disitu. Haekal masih berkata panjang lebar. "Iya, sih. Kita masih bisa taubat setelah zina, tapi apa iya kita sempat? Kalau sedetik habis zina kita mati, gimana? Belum dosa kita yang lain. Auto neraka plus kemungkinannya kecil banget buat kita bisa nyium bau surga ... gue bilang kayak gini karena agama gue yang ngajarin, jadi jangan sama ratain orang-orang yang having s*x sebelum nikah itu sama dengan bodoh dan nggak beragama. Mereka punya keyakinannya masing-masing. Dan kembali lagi sama kayak yang Mas Johnny bilang, kalau having s*x itu hak setiap orang. Kalau gue pribadi, big no sebelum nikah." Diam-diam Mas Johnny tersenyum mendengar perkataan Haekal. "Kenapa kalian nggak nikah aja biar nggak dosa, malahan ena-ena setelah nikah itu dihitung ibadah. Keuntungan lainnya, kalian bisa pesen satu kamar hotel tanpa harus kucing-kucingan." Sungguh ide Mas Johnny jauh dari kata brilian. "Kalau tujuan kita cuma buat ena-ena, itu sama aja kita nikahnya karena nafsu. Walaupun tujuan nikah itu salah satunya emang buat ngehindarin zina. Tapi tetep aja, masih banyak tujuan nikah selain ngehindarin zina. Yaitu menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah." Mas Johnny benar-benar kagum dengan pemikiran Haekal yang walaupun sederhana tetapi tepat sasaran. "Denger tuh, Mas. Masa iya Haekal yang harus ngejeleasin tentang pernikahan ke elo. Kan elo yang lebih tua!" celetuk Bina. "Anjir. Gue cuma ngetes doang kali, Dek!" "Jadi, lo udah siap nikah sama Mbak Arini?" Pertanyaan tersebut kontan membuat Mas Johnny bergeming. "Lo udah mapan, Mas. Cepet seriusin keburu diambil orang!" "Jangan doain yang jelek-jelek dong, Dek!" ucap Mas Johnny dengan sedikit rengekan. "Yang penting nggak usah lo aamiinin, Mas,” ucap Bina dengan santai. Kemudian Haekal mengambil alih. "Tapi kalau yang aamiinin malaikat, beda lagi ceritanya." "Kal!" ucap Bina dan Mas Johnny berbarengan. Haekal hanya bisa meringis sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya pertanda meminta pengampunan. "Dek, kalau lo nikah sama Haekal, insyaaAllah gue ikhlas lahir batin." Ucapan Mas Johnny yang barusan berhasil membuat Bina dan Haekal sama-sama tersedak salivanya. "Bukan sekarang maksud gue. Nanti kalau Haekal udah nggak hobi nilep uang kostnya yang tiga bulan itu." Mas Johnny kemudian terkekeh, lalu kembali mengunyah keripik apel yang tinggal setengah. "Lo setuju kan, Kal, kalau lo gue jodohin sama Bina?" Ekspresi Mas Johnny yang sedang menatap Haekal itu sangat serius. Tidak ada semburat bercanda seperti yang sebelumnya. "Setiap orang berhak buat ngejodoh-jodohin. Cuma ya kembali lagi ke takdir." Dari nada biacara Haekal yang berubah melemah, Bina sangat yakin jika saat ini Haekal sedang memikirkan suatu hal tentang apa yang dikatakan Mas Johnny. Bina bisa menebak bahwa Haekal sedang tidak menganggap remeh ucapan kakak laku-lakinya itu. "Ya kalau gitu gue doain kalian berjodoh, deh." Ucapan Mas Johnny tidak terdengar seperti sedang main-main, tetapi terdengar sangat tenang dan penuh keseriusan.  Haekal berusaha terkekeh. "Tapi Bina sukanya sama Pak Doyi. Hahaha." Lalu tawanya menggema, tetapi terdengar sangat miris dan merana. Di depannya, Bina dan Mas Johnny sama sekali tidak tertarik untuk ikut tertawa. Keduanya hanya diam tanpa bisa berkata-kata. Terutama Mas Johnny, ia membeku mendengar ucapan Haekal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN