Dipersilakan untuk Pulang

2606 Kata
Kata orang, Mas Johnny itu seksi. Tapi kalau kata Bina, Mas Johnny itu hanya kakak tengil yang bucin Arini. Tipikal laki-laki pada umumnya yang kalau sudah bucin atau menjadi b***k cinta, apa saja yang menghalangi hubungan keduanya akan mereka singkirkan terseringnya tanpa berpikir panjang. Bagaimana tidak, laki-laki yang beda empat tahun dengan Bina tersebut tiba-tiba saja membatalkan janjinya untuk mengantar Haekal pulang ke Surabaya. Padahal, dirinya sudah membuat anak orang itu babak belur hingga kesusahan mengunyah makanan. Dan Mas Johnny rela membatalkan janjinya hanya demi seorang wanita yang ia akui sebagai pujaan hati. Apalagi alasannya kalau bukan Arini. Saat mereka bertiga sudah hampir berangkat, tiba-tiba saja Arini menelfon mengajaknya makan siang di dataran tinggi Batu. Praktis Mas Johnny menerima tawaran itu dan langsung tidak peduli dengan dua bocah yang sudah siap di dalam mobil. Mas Johnny memang lemah kalau sudah ada hubungannya dnegan Arini. Kalau saja Arini tahu jika Mas Johnny rela membatalkan janji demi dirinya, sudah tidak bisa diketahui lagi nasib Mas Johnny. Selain Arini akan menasihatinya hingga berhari-hari, Arini juga tidak segan untuk tidak menemuinya selama satu bulan. Menurutnya, janji adalah utang dan utang harus dibayar. Arini perempuan yang baik, yang selalu mengerti kondisi Mas Johnny, dan tidak pernah menuntut macam-macam kepada laki-laki itu. Bahkan, Arini selalu mengingatkan Mas Johnny bahwa Mas Johnny harus terlebih dahulu menomorsatukan mama, papa, dan Bina. Dirinya tidak pernah menuntut untuk dinomorsatukan. Dirinya juga tidak pernah marah jika janjinya dibatalkan saat ada hal lain yang lebih penting. Ah, pokoknya Arini itu tipe ideal perempuan yang siap untuk dijadikan pasangan. Memang benar saat ini Mas Johnny sudah bucin dan cinta mati dengan Arini. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Mas Johnny selalu memikirkan Jefriㅡsang mantan dari kekasihnya tersebut. Terkadang Mas Johnny sangat merasa bersalah karena dirinya sudah menjadi perusak hubungan Jefri dengan Arini. Terkadang juga Mas Johnny ingin mengembalikan Arini kepada Jefri karena barangkali hati Arini masih tertinggal di sana. Namun seberapa kalipun Mas Johnny membahas tentang Jefri, Arini selalu menulikkan pendengarannya. Arini selalu bilang jika masa lalu harus dibiarkan berlalu. Sedangkan menurut Mas Johnny, masa lalu memang harus berlalu tetapi masa lalu akan tetap terkenang. Jika ada perdebatan yang cukup membuat hubungan Mas Johnny dan Arini renggang, itu semua pasti berhubungan dengan Jefri yang sengaja Mas Johnny bahas kembali. Beruntungnya, mereka sudah sama-sama dewasa dan berusaha memahami bahwa Jefri bukan hanya mantan dari Arini, tetapi Jefri juga pernah menjadi sahabat baik Mas Johnny. Dengan begitu, Jefri tidak bisa terlepas dari kenangan keduanya. Kalau Mas Johnny itu bucin sekali dengan Arini, lain lagi dengan Bina yang suka menggoda hubungan mereka berdua. Lebih tepatnya suka menggoda Mas Johnny. Saat dirinya tahu jika Mas Johnny batal mengantar Haekal karena diajak makan siang Arini, ia tidak lantas diam. Ia sudah bersiap-siap menelfon Arini dan mengatakan semuanya, bahwa Mas Johnny membatalkan janji demi Arini. Tetapi hal itu Bina urungkan, saat Mas Johnny lagi-lagi berjanji akan memberinya uang saku untuk pergi ke rumah Mark jika rencananya dengan Haekal berhasil diwujudkan. Siang hari dengan teriknya, Bina dan Haekal masih berdiri tegak di teras. Keduanya tidak sedang sebal ataupun ngedumel. Justru keduanya sedang berbinar karena janji yang dikatakan Mas Johnny. Imajinasi keduanya mulai berlarian ke sana dan ke mari "Gue udah mulai bayangin, nih. Nanti kita naik bus ke Solo terus nginepnya di rumah Mark sama Ayu. Dan uang tambahan dari Mas Johnny bisa kita pakai buat jajan. Terus pulangnya naik kereta aja!" Bina menerawang pemandangan di depan rumahnya. Jalanan kosong yang lengang membuat suasana sunyi, cocok sekali untuk berimajinasi. Sedangkan Haekal hanya menyipitkan matanya karena terik yang dirasakan. Sengaja tidak mau menanggapi perkataan Bina karena ia tidak mau terlarut dalam ekspektasi. Takutnya, kenyataan yang terjadi bukanlah sesuatu yang diinginkan dan akhirnya akan membuat Haekal kecewa. Sebenarnya itu memang hal yang paling ditakuti seorang manusia normal. "Kok lo diem, Kal? Lo nggak setuju ya? Apa kita berangkatnya naik kereta, terus baru pulangnya naik bus aja?" ucapnya pada Haekal yang masih terdiam. Yang pasti Bina belum mengubah topik pembiacaraan yaitu masih tentang rencana liburan mereka berdua. Haekal mengedikkan bahunya. "Terserah, sih," ucapnya singkat tanpa embel-embel sepatah apalagi dua patah kata yang sukses membuat Bina memerosotkan semangat berimajinasinya. "Lo nggak suka ya pergi ke Solo bareng gue?" Bina berbicara dengan sungguh-sungguh. Ia tahu bahwa dirinya adalah seornag pengabdi imajinasi dimana terkadang sahabatnya pun tidak menyukai sifatnya tersebut yang sangat jauh dari realistis. Laki-laki itu menoleh menghadap Bina. Ia menatap manik cokelat di depannya itu dengan lamat. "Kata Mas Johnny, gue harus jagain lo," ucapnya dengan rendah tanpa tercium bau-bau selengekan. Memang, akhir-akhir ini selama menginap di rumah Bina, jiwa-jiwa selengekan Haekal sepertinya agak berkurang. "Ha?" Bina menganga tidak paham dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Haekal mengangguk memberi kepastian bahwa apa yang diucapkan tidak pernah salah dan tidak akan ia tarik. "Katanya semalam, gue kudu jagain lo, gue kudu bareng-bareng terus sama lo, dan gue juga nggak boleh bikin lo kecewa." Ia melanjutkan perkataannya dnegan menatap Bina yang masih menganga menyimak perkataan dirinya. Mendengar itu membuat Bina terkekeh. Ia berembus tidak terlalu peduli dengan yang dikatakan Haekal. "Mas Johnny itu tengil banget, Kal." Bina masih berusaha mengelak bahwa Mas Johnny benar-benar mengatakan hal itu. "Tapi gue rasa Mas Johnny lagi nggak bercanda. Dia bilang kayak gitu ke gue, padahal jelas-jelas gue udah merem." Haekal berusaha menjelaskan tentang kebenaran yang ia dengarkan yang keluar dari mulut Mas Johnny. "Ya mungkin Mas Johnny ngelindur." Bina masih mengelak. Agaknya ia sedang tidak mau untuk mengobrol terlalu serius dengan Haekal. "Enggak, Bin." Tanpa aba-aba, laki-laki itu meraih satu tangan Bina. Jantungnya kembali gemetar saat tangan yang ternyata lebih lebar dari tangannya itu berhasil ia genggam. "Kenapa diam? Aneh, kan, tangan gue lebih gede dari tangan lo." Bina terkekeh hebat ketika melihat Haekal memperhatikan telapak tangannya. Ia lalu menarik tangannya dari genggaman Haekal. "Ini itu bukti kalau gue rajin banget beberes rumah!" ketusnya. "Ck." Haekal berdecak. "Jangan sombong jadi manusia." Akhirnya senyuman kembali terukir di bibirnya. Ia kembali meraih kedua tangan Bina. "Gue nggak sombong. Emang kenyataannya gue rajin beberes rumah!" Ia kembali melepaskan genggaman itu, kemudian Haechan kembali meraihnya. "Diem dulu, Bin." Wajahnya yang selengekan berubah tenang. Namun dalam hatinya kembali gemetaran. "Boleh nggak gue penuhin apa yang Mas Johnny minta?" Bina bergeming. Bola matanya ia edarkan kemanapun asal tidak menatap Haekal. "Kok nggak lihat mata gue?" Haekal bertanya pada Bina yang malah menunduk. Bina menunduk, wajahnya berubah masam karena sebal dengan suasana seperti ini. "Gue belum siap nikah, Kal. Suwer!"  ucapnya pelan, masih menunduk dalam-dalam. "Emang siapa yang mau ngelamar lo?" tanyanya dengan heran. Ucapan yang terdengar selengekan itu praktis membuat Bina mendongak. Matanya membulat menatap wajah Haechan yang sudah berubah menyebalkan. "Kan baru aja lo ngomong kalo lo mau penuhin permintaan Mas Johnny!" Ia memukul d**a Haekal ringan. Haekal terkekeh, memegangi dadanya yang sama sekali tidak sakit, hanya gemetaran. "Bukan yang nikah. Tapi yang jagain lo sama selalu ada buat lo dan berusaha nggak ngecewain lo." Mulutnya manyun-manyun ketika memberikan penjelasan pada Bina. Udara semakin panas saja. Ditambah angin musim kemarau yang terasa kering membuat keduanya tidak tahan berlama-lama di luar rumah. "Kal. Masuk lagi, yuk," ajak Bina menariknya kembali masuk ke dalam rumah. Mereka akhirnya bisa bernapas lega setelah berpanas ria. Keheningan kembali terjadi. Hanya ada suara kipas angin yang bergetar menyejukkan tubuh mereka. Kursi sofa yang cukup panjang juga telah penuh karena tubuh mereka berdua yang ia rebahkan. "Gue pulang kapan?" ucap Haekal pada dirinya sendiri sembari menguap karena mengantuk. Hawa dingin di ruang tamu rumah Bina memang sangat nikmat dijadikan tempat untuk melepas penat. "Nggak usah pulang. Lo tinggal di sini aja," cetus Bina dengan ponsel yang ditatapnya. "Kan lo bilang mau bareng-bareng gue terus," lanjutnya. Tidak ada jawaban dari Haekal. Sebab, laki-laki itu memilih bungkam dari pada kata-kata yang nantinya keluar dari mulutnya akan membuat Bina menangis lagi. "Kal." "Hm." "Kenapa, ya, kalau orang pengen bareng-bareng itu kudu nikah dulu. Dan banyak juga orang yang nggak pengen bareng-bareng tapi tetap harus nikah." Haekal merubah posisi. Ia sudah kembali duduk. "Maksud lo?" Bina meletakkan ponselnya. Ia juga sudah merubah posisi menjadi duduk. "Gue pengen bareng-bareng terus sama lo. Tapi gue belum pengen nikah." "Emang di masa depan lo mau nikah sama gue?" tanya Haekal kemudian. Mereka berdua sedang berusaha membicarakan hal yang lebih intim tetapi dengan sesantai mungkin. Bina menggeleng, bibirnya sedikit manyun. "Gue nggak tahu. Emang syarat nikah itu harus benar-benar cinta ya?" "Gue nggak tahu, Bin." "Kalau boleh tahu, lo ada nyimpen rasa cinta nggak ke gue?" tanya Bina lagi. Kali ini pertanyaan itu benar-benar membuat hati Haekal bergetar. Laki-laki itu membasahi bibir bawahnya. Lalu mengecek ponselnya sejenak untuk menetralkan degub jantungnya. "Gue sayang sama lo," singkatnya. "Sebagai?" "Sahabat." Bina mengembuskan napasnya panjang. Jawaban dari Haekal agaknya sukses membuat dirinya lega. Namun ada rasa lain yang menggelitik yang Bina tidak tahu asalnya karena apa. "Lo gimana sama Pak Doyi?" tanya Haekal yang saat itu juga langsung teringat dnegan Pak Doyi, pria yang sepertinya memang disukai oleh Bina. "Biasa aja," singkatnya. Saat ini Bina benar-benar tidak berfikir tentang perasaannya kepada Doyi. Yang ada di otaknya hanyalah bagaimana ia bisa bersama-sama dengan Haekal agar dirinya tidak pernah merasa kesepian. "Sayang banget ya, Kal. Seandainya lo itu cewek. Gue bisa bebas bareng-bareng terus sama lo." Haekal tidak marah ketika Bina mengandaikan bahwa dirinya seorang perempuan. Justru laki-laki itu mengembangkan senyumnya dan kembali merebahkan badan. "Mau gue cewek atau cowok, nggak ada yang bener-bener bisa bareng-bareng. Namanya manusia, ada masa dimana mereka bakal berpisah. Entah apapun itu alasannya, jangan pernah mengandalkan manusia buat jadi teman biar lo nggak kesepian. Ingat, masih ada Tuhan yang selalu ada buat lo." Bina berdecih mendengar jawaban panjang dari Haechan. "Sok bijak, deh." "Bukannya sok bijak. Gue cuma nggak mau kalau pada akhirnya kita emang nggak ditakdirin buat selalu bareng-bareng, padahal kita udah janji. Takdir nggak ada yang tahu. Bisa jadi sejam lagi, dua jam lagi, atau mungkin lusa, kita udah kepisah dunia." "Astagfirullah, Kal!" Praktis bantal  sofa ia lempar tepat di kepala Haekal. "Jangan bicara yang enggak-enggak!" "Gue cuma berusaha sadar. Kalau kita itu makhluk fana." Bina terdiam seribu bahasa. Pikirannya mengarah ke hal yang sama sekali tidak masuk akal. Tentang bagaimana mereka berdua berpisah dan sama-sama saling meninggalkan. - Akhirnya setelah bermacet selama satu jam, mereka sampai juga di pintu keluar Terminal Arjosari. Keduanya saling diam menatap bus yang berlalu lalang. Bagi Bina, pemandangan seperti ini sangatlah langka. Ada pedagang asongan, pengamen dengan gitar kecilnya, dan juga kenek bus yang berteriak menyebutkan daerah tujuannya. Surabaya Surabaya .... Blitar Blitar .... Probolinggo Probolinggo .... Jember Jember .... "Loh, Kal. Itu bis Surabaya. Kenapa nggak naik yang itu?" ucap Bina ketika Haekal membiarkan bus tujuan Surabaya melewatinya. Haekal hanya menggeleng. Lalu bus tujuan Surabaya lainnya kembali berhenti di depan mereka. "Surabaya, Mas?" tanya sang kenek. Haekal kembali menggeleng. Walau Bina dipastikan sedih jika berpisah dengan Haekal, tetapi udara siang yang panas lebih membuatnya sebal. "Kal. Lo itu jadi pulang nggak sih?" ketusnya dengan muka masam. Sudah tidak tahan lagi, dirinya ingin segera pulang. "Lo ngusir gue?" balas Haekal datar. "Ya bukan gitu. Dari tadi ada banyak bis ke Surabaya. Tapi kok lo nggak naik-naik?" "Jangan yang warna hijau. Lama. Nanti macet di jalan. Gue naik yang patas. Yang lewat tol biar nggak macet." Bina mengangguk mendengarkan penjelasan Haekal. "Bedanya apa emang?" tanya Bina lagi. "Bedanya ya lewat tol sama nggak lewat tol." Bina hanya membulatkan mulutnya mengucapkan huruf 'O' tanpa berniat menanyakan hal lainnya lagi. Beberapa bus tujuan Surabaya melewati mereka. Sudah hampir satu jam juga Bina dan Haekal berdiri di sana dengan gulungan debu yang berterbangan. Bina mencoba sabar. Mungkin seperti inilah rasanya berada di terminal. Beruntung dirinya hanya mengantar Haekal, dan dirinya bukan bagian dari pedangan asongan yang setiap hari kepanasan. Diantara rasa sebalnya karena Haekal tak kunjung menaiki bus yang inginkannya, terselip rasa bersyukur atas kehidupannya selama ini yang lebih dari nyaman. "Bin." Ucapan Haekal menyadarkan Bina dari lamunannya memperhatikan sekitar. "Ha, iya. Mau naik yang itu?" tunjuk Bina pada bus berwarna hijau yang berhenti di depannya. "Bukan. Yang dibelakangnya." Bina menggeser penglihatannya. Memang benar ada bus berwarna dominan putih yang melaju ke arah mereka. Namun selaras dengan itu, seorang laki-laki juga berjalan ke arah mereka, tersenyum menatap Bina. "Doyi?" "Hai, Bin. Kal." Senyum Doyoung merekah, memperlihatkan deretan gigi dan gusinya yang indah. "Lo pulang bareng Pak Doyoung ya, Bin. Makasih udah nganterin gue." Lalu Haekal bersiap untuk naik ke dalam bus putih yang sudah berhenti di depan mereka. "Bawa Bina pulang ya, Doy," kata Haekal. Bina tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran Doyi, karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah perpisahannya dengan Haekal. "Kal!" Langkah Haekal terhenti saat kopernya sudah masuk ke dalam bagasi. "Nggak mau peluk dulu?" Bibir perempuan itu melengkung ke bawah dengan sempurna. Matanya lesu menatap Haekal yang sebentar lagi akan meninggalkannnya. Haekal kembali mendekat pada Bina dan tersenyum tanpa memperlihatkan giginya. Alih-alih memeluk seperti yang inginkan perempuan itu, Haekal justru menjitak kepalanya. "Bukan Muhrim!" singkatnya lalu buru-buru masuk ke dalam bus dengan cengengesan. Bina hanya bisa menggerutu. Saat ia ingin membalas jitakan itu, ternyata pintu bus sudah ditutup dan bus mulai melaju. Sekarang tinggallah asap knalpot hitam pekat dengan semburan debu yang mengganggu penciuman. Beberapa kali Bina terbatuk karena asap knalpot tersebut. Pun juga dengan Doyi yang sama-sama terganggu karena udara kotor yang cukup buruk. "Ayo, pulang." Doyi sudah mengatakan hal itu berarti Doyi sudah mengajaknya pulang tanpa peduli dengan perasaannya yang baru saja ditinggal pulang ke kampung halaman oleh sahabatnya. Yang pasti, Doyi tidak pernah tahu rasa itu karena memnag Doyi tidak pernah merasakan hal tersebut. Harusnya setelah Haekal meninggalkannya, yang tersisa adalah rasa senyap dan kesepian. Harusnya Bina bisa menikmati rasa syahdu itu untuk beberapa menit tinggal di sini sembari mengingat kenangannya bersama Haekal. Bina mungkin lebay, tetapi memang Haekal sangat berpengaruh dalam hidupnya dan ia adalah orang yang berhasil membuat Bina tidak pernah kesepian. Sepersekian detik Bina sadar ... sejatinya orang yang membuat Bina tidak pernah merasa kesepian, pada akhirnya juga akan meninggalkan rasa sepi yang lebih teramat dalam. Ketika Bina baru akan memulai adegan syahdu yang sudah ia bayangkan. Tetapi tangannya sudah ditarik oleh Doyi dan membawanya pergi dari sana menghindari udara kotor yang ada. Mereka berdua berteduh di sebuah warung kecil. Baru ada lima detik, si empunya warung sudah merawari mereka berbagai macam barang dagangannya. "Mau minuman dingin atau es tes, Mas? Soto daging sapi juga ada. Nasi rames sama bakso Solo juga siap dipesan," kata pemilik warung tersebut dengan senyum ramahnya. "Bakso Solo itu maksudnya bakso asli Solo?" tanya Bina kemudian. Benar-benar perempuan itu tidak pernah tertarik dengan macam-macam bakso karena menurutnya bakso yang paling sempurna adalah buatan papa dan mama. "Rasanya juga beda sama bakso yang biasa kita makan." Doyi menimpali memberi Bina informasi. "Kuahnya lebih seger kalau menurut gue. Terus di baksonya juga lebih terasa dagingnya. Harganya nggak bijian kayak di sini, tapi langsung satu porsi. Isinya juga cuma bakso sama mie kuning atau bihun. Nggak ada gorengnya, kalaupun ada cuma pangsit dan itu nggak semua warung bakso Solo ada pangsitnya. Bina mengangguk-angguk. Mencoba membayangkan rupa bakso Solo yang sudah  dijelaskan Doyi. "Mau coba?" Doyi menawarkan pada Bina untuk mencoba bakso solo. Tidak mungkin Bina menolak. Selain dirinya belum pernah mencicipi bakso Solo, ia cukup excited karena Solo adalah tempat tinggal Mark. Sepertinya ia harus merasakan dahulu nikmatnya bakso Solo di terminal ini. Agar nanti saat di Solo, ia tidak terkejut bahwa ada sajian bakso lain yang sangat berbeda dengan bakso yang ada di Malang Raya. Dan benar saja. Rasa bakso solo dan bakso yang dibuat papa memenag berbeda. Mulai dari bola baksonya hingga kuahnya. Apalagi bakso solo yang Bina makan menggunakan bihun berbeda dengan bakso bikinan papa yang menggunakan sohun. Kesimpulannya, menurut Bina, Bakso solo dna bakso buatan papa sama-sama enak dan Bina sangat doyan untuk memakan keduanya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN