Jika Bina dan Haekal itu bisa diibaratkan sebagai Upin dan Ipin, lain lagi dengan tiga dosen mereka. Pak Doyi, Bu Riyah, dan Miss Linda. Jika dilihat dari serial yang sama, maka tiga dosen tersebut lebih seperti Mail, Susanti, dan Mei mei. Walaupun tidak ada korelasi yang kokoh untuk mengibaratkan mereka bertiga seperti tiga tokoh tersebut dalam serial Upin dan Ipin, tetapi rasanya mereka cukup cocok diibaratkan seperti itu.
Jangan disamakan dengan sifat Mail yang perhitungan dan lumayan pelit, karena Pak Doyi itu sangat dermawan dan suka berbagi. Tidak jarang dosen muda yang terkenal galak itu mentraktir Bu Riyah dan Miss Linda setiap kamis di jam makan siang. Katanya, kalau jumat tidak bisaㅡada sholat jumat yang membuat mereka tidak bisa makan bersama. Jangan juga terlalu menyamakan jika Bu Riyah itu Mei mei, karena Bu Riyah tidak ketus seperti Mei mei saat menghadapi Mail. Lain lagi dengan Miss Linda, beliau sangat cocok jika diibaratkan Susantiㅡcantik dan lemah lembut.
Pak Doyi, Bu Riyah, dan Miss Linda memiliki bilik meja dengan deretan yang sama. Baris paling depan dan di sisi kanan. Jika saja mereka mau membuat geng seperti BHAM Squad atau geng-geng yang lain, mungkin nama yang paling cocok adalah LDR SquadㅡLinda, Doyi, dan Riyah.
Seperti siang ini, setelah bersemilir ria di Jl. Surabaya, Haekal datang bersama dengan Bina ke bilik meja Miss Linda. Dengan random, salah satu mahasiswa kesayangan Miss Linda itu berkata, "Miss Linda kenapa nggak bikin geng aja sama Pak Doyi sama Bu Riyah?"
Tujuan Haekal datang ke sini sebenarnya adalah untuk mengantar Bina untuk berkonsultasi masalah nilainya yang menurun drastis. Namun baru saja mereka sampai di meja Miss Linda, Haekal sudah berkata random seperti itu yang membuat siapapun yang mendengarnya merasa tidak habis pikir dengan kerandoman bocah tengil itu.
Bina yang baru saja duduk, mendongak seketika. "Lah, belum juga salaman, udah ngomong ngawur aja lo!" Ucap Bina menanggapi pernyataan Haekal yang sangat tidak berguna.
Haekal hanya terkekeh. Setelah terkekeh, laki-laki itu menarik satu kursi kosong di samping Bina dan langsung duduk.
Miss Linda tersenyum. Pipinya yang mengembang itu nampak cerah secerah buah delima. "Kalian itu kenapa, sih?" tanyanya dengan senyum yang mengembang. Tentu saja Miss Linda terhibur dengan perkataan Haekal tadi, karena selain murah senyum, Miss Linda juga cukup receh orangnya.
"Hehe. Saya mau konsultasi masalah nilai, Miss." Air muka Bina menurun. Bukannya ia tidak ikhlas mendapat nilai D yang berpengaruh pada turunnya IP Bina, tetapi wajar kan kalau ia merasa sedih. Apalagi nilai itu didapat di mata kuliah wajib jurusan, yang terasa sekali untuk merasa bodoh tatkala Bina tidak dapat lulus mata kuliah tersebut
"IP saya semester ini turun, Miss, dan ada satu mata kuliah yang dapat D," ucapnya dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Mata kuliah apa?" tanya Miss Linda kemudian.
"AKM3." Jawabnya singkat.
"Dosennya Pak Doyi?" Sangat mudah untuk bagi Miss Linda untuk menebaknya. Karena memang hanya Pak Doyi yang sangat suka memberikan nilai D pada mahasiswanya, sampai sampai Pak Doyi pernah dipanggil oleh ketua jurusan karena saking banyaknya mahasiswa ampunan Pak Doyi yang tidak lulus mata kuliahnya. Bukannya apa, tetapi banyaknya mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah bisa mempengaruhi akreditasi prodi dan jurusan. Tentu saja itu sangat berbahaya bagi eksistensi Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Matahaya.
Bina mengangguk. Lalu, ada sebuah kerandoman lagi yang keluar dari mulut Haekal. "D untuk Doyi! Wah!" Tatapan Haekal menerawang ke udara. "Apa mungkin karena inisial Pak Doyi itu D, jadi beliau ngasih nilai lo D!" Kemudian Bina ditatapnya dengan tatapan tidak percaya akan hasil analisa dadakannya.
"Ck, nggak usah ngadi-ngadi!" Bina memukul lengan Haekal. Ia kembali dibuat kesal oleh kerandoman sahabatnya itu.
Baru saja Bina akan berancang-ancang untuk curhat pada Miss Linda, tetapi di belakangnya Doyi melintas mak sliwir.
"Panjang umur, yang di omongin muncul," ucap Miss Linda. Yang langsung membuat Haekal dan Bina menoleh.
Doyi berhenti melangkah dan tidak jadi menuju bilik mejanya. "Ada apa ini? Pasti kamu iri dengan ketampanan saya ya, Kal?" Ucap Pak Doyi pasti. Ia tidak pernah ragu ketika berucap masalah ketampanan, karena memang ketampanan Pak Doyi telah diakui di seluruh penjuru Universitas Matahaya.
Haekal memutar bola mata. Sedangkan Bina mendelik menyumpah-serapahi Doyi yang sok ganteng tersebut. Tetapi masalahnya bagi Bina, Doyi itu memang ganteng bin tampan. Apalagi kalau Doyi sedang ramah seperti ini, ketampanannya bertambah dengan kemanisan.
"Bina lagi curhat, nih, tentang nilai AKM3nya yang dapet D." Miss Linda terkikik, sedangkan Bina lagi-lagi mendelik. Memang ya, Miss Linda itu terkadang menyebalkan. Hmmm, tapi bagaimana pun juga setiap orang yang kenal Miss Linda tidak bisa merasa sebal. Huh.
"Gue udah terima kok kalau gue dapet D. Gue cuma mau curhat aja sama Miss Linda, kedepannya gimana." Sontak ia membekab mulutnya sendiri saat ia menyadari bahwa dirinya telah berbicara dengan bahasa non formal dan tidak sopan kepada Doyi. Yang Bina tidak sadar, bahwa dirinya sedang berbicara dengan Pak Doyi dan di ruang dosen.
Haekal dan Miss Linda melotot menatap Bina. Sedangkan Pak Doyi malah terkekeh sambil meletakkan tangannya di depan d**a. Ia memutar bola matanya sejenak, lalu mengacak puncak kepala Bina. "Udah berani nggak sopan ya, kamu," ucapnya dengan kekehan. "Nanti sebelum kamu pulang, temuin saya. Sendirian saja." Lalu Pak Doyi melenggang pergi tanpa memberikan penjelasan lain lagi padahal Haekal dan Miss Linda sudah berhasil dibuat penasaran.
Setelah tubuh Pak Doyi benar-benar menghilang, saat ini yang Bina bisa hanya menghela napas.
Haekal dan Miss Linda bersamaan menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Parah lo, Bin. Nanti lo bakal kena semprot sama Pak Doyi," ucap Haekal dengan gidikan ngeri.
Bukannya menasihati, Miss Linda malah mengagguk menyetujui. "Kamu ... awas nanti nilai kamu diturunin auto E."
"Tapi, Miss ...." Haekal mengalihkan pandangan Miss Linda yang pada Binaㅡmenjadi menatapnya. "Bisa aja kan Pak Doyi maksa ngajak Bina jalan. Terus kalao Bina nolak, baru deh nilainya auto E." Oke, lagi lagi Haekal suka berpikir macam macam.
"Hush, kamu kebanyakan baca novel!" Kali ini bukan Bina yang menampol lengan Haekal, tetapi Miss Linda.
-----
Bina sengaja mempersilakan Haekal untuk pulang duluan dan tidak usah mengantar Bina sampai di rumah. Dirinya masih tinggal di lobby gedung D4 seorang diri untuk menunggu manusia paling menyebalkan di muka bumi setelah Haekal yang menyuruhnya untuk pulang bersamanya. Beberapa kali Bina menghubungi laki laki itu untuk memastikan apakah dirinya jadi menemuinya, tetapi sedari tadi tidak ada jawaban. Bina berhasil dibuatnya kesal. Pasalnya, ia sudah lelah karena harus menunggu lama.
Semakin sore, lobby semakin sepi. Doyi yang tidak juga muncul membuat Bina semakin murung karena cacing-cacing di perutnya sedang saling merundung. Kalau saja ternyata Doyi lupa jika harus menemui Bina, sudah pasti laki-laki itu akan babak belur saat sudah di rumah nanti. Bina berjanji, ia akan menghabisi bukan hanya wajah tampan Doyi yang akan ia buat menjadi babak belur, tetapi isi dompet Doyi juga akan ia kuras habis. Ia bersumpah. Doyi pun tidak pernh marah, karena isi dompetnya yang berupa uang tunai tidak pernah lebih dari dua ratus ribu. Itupun tidak cukup untuk membeli pizza untuk mengobati rasa kesal Bina. Huh.
Akhirnya laki-laki itu muncul di balik pintu lift bersama dengan dua rekan dosen mudanya. Siapa lagi kalau bukan Bu Riyah dan Miss Linda. Bina sengaja tidak mau menyapa mereka. Bina berpura-pura tidak melihat mereka yang kini berjalan melaluinya.
Setelah mereka bertiga sudah berada di luar gedung dan Pak Doyi tinggal sendiri, barulah Bina bangkit dari duduknya dan menghampiri Pak Doyi.
"Woi, mau ngapain?" tanyanya begitu sampai di samping Pak Doyi. Ia sudah memasang wajah sebal dan kesal karena terlalu lapar.
Pak Doyi yang sedikit terkejut dengan kehadiran Bina, langsung mengaitkan lengan kanannya di leher gadis itu.
"Woi, Doy. Lepasin! Lo apa-apaan, sih!" marah Bina dengan berbisik dan berusaha melepaskan kaitan itu.
Pak Doyi tidak menjawab. Ia terus membawa Bina berjalan pergi dari depan gedung D4. Sepertinya yang merangkul Bina saat ini bukanlah Pak Doyi, tetapi laki-laki bernama Doyi dengan kaca mata bulat dan maskernya.
Walau banyak mahasiswa yang memperhatikan mereka, Doyi tak urung juga menghentikan apa yang ia lakukan. Dirinya masih santai berjalan dengan merangkul Bina di lehernya dan tertawa di balik maskernya. Sebenarnya Doyi sangat paham jika banyak mahasiswa yang tahu jika dirinyalah yang sedang bersama Bina, tetapi Doyi juga langsung yakin jika mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak akan percaya jika Pak Doyi lah pelakunya, nengingat image Pak Doyi yang super duper garang.
Sekitar sepuluh menit berjalan sambil merangkul Bina ternyata cukup membuat lengannya pegal. Mereka yang sudah keluar dari Universitas Matahaya melalui gerbang utara, kini akhirnya saling lepas. Bukan hanya Doyi yang pegal, tetapi leher Bina seolah terasa kaku setelah tertekan oleh lengan berat itu.
Ditemani urat-urat matanya, Bina sekonyong-konyong mendorong laki-laki itu hingga hampir tersungkur. Beruntung ada gapura Universitas Matahaya yang menahannya.
"Leher gue sakit!" pekiknya sambil merenggangkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Ia merasakan nyata jika lehernya pegal pegal, apalagi nanti setelah malam. Akan lebih terasa lagi pegalnya. Jika iya, ia benar benar harus meminta Doyi untuk memberikan pijatan relaksasi untuk lehernya.
"Lengan gue juga pegel, tau nggak!" ucap Doyi kemudian dengan melalukan putaran pada sendi putarnya itu.
Setelah dirasa lumayan, tangan laki-laki itu beralih menggandeng Bina. "Nonton, yuk!" ajaknya.
Bina langsung menggeleng. "Nggak mau. Pasti selesainya habis magrib."
Doyi langsung melirik jam tangannya, lalu membawa Bina berjalan ke seberang, ke Mall yang biasa mereka datangi.
"Kan gue bilang, enggak mau!" ucap Bina lagi sesampainya di seberang. Namun bukannya menghentikan langkahnya, ia justru tetap berjalan dengan tuntunan Doyi.
"Makan kalau gitu." Doyi memberikan pilihan lain.
"Nggak mau fastfood." Bina memang sedikit tidak suka makanan cepat saji. Ia lebih memilih nasi goreng di pinggir jalan daripada jenis makanan cepat saji apapun walau rasanya sangat enak, kecuali pizza. Bina cukup bucin dengan pizza.
"Lo yang milih, deh." Doyi menyerah untuk membiarkan Bina memilih makanan apa Yang akan mereka makan sore ini.
Mereka sudah memasuki mall dengan disambut aroma kopi dari pengharum ruangan salah satu outlet. Penglihatan Bina mengedar ke penjuru mall, mencari-cari sesuatu yang menarik. Namun sepertinya tidak ada perubahan yang terjadi di mall ini sejak sekitar tiga hari yang lalu saat Bina berkunjung.
"Nggak ada yang menarik. Cari makan di luar aja," ajak Bina melepaskan gandengan Doyi.
Baru beberapa detik terlepas, Doyi kembali menggandeng tangan Bina dan membawanya lebih masuk lagi ke dalam mall.
"Temenin cari buku dulu."
"Upahnya beliin novel, ya!"
"Hm."
Bina yang tadinya malas, seketika berubah antusias, berjalan sambil sedikit melompat seperti anak kecil yang diajak ke taman bermain.
Bukan novel yang Bina tuju sesampainya di toko buku, melainkan rak bertuliskan anak-anak. Dengan saksama Bina memilah buku cerita mana yang akan ia ambil. Agaknya gadis itu bingung memilih buku warna-warni tersebut.
Tidak lama, ia mengambil dua buku yang menurutnya paling menarik dan membawanya pada Doyu yang sedang mencari buku referensi tentang akuntansi.
"Doy, bagus mana?" tanyanya sambil menunjukkan dua buku yang ia pilih. "Imajinasi si anak kelinci atau kisah perjalanan beruang putih?"
"Katanya mau novel, kok malah cerita anak?" Doyi menanggapi tanpa melirik Bina. Ia masih sibuk mencari referensi.
"Yang ini aja, ya." Bina menurunkan satu buku yang tidak ia pilih. Buku cerita berjudul Imajinasi si anak kelinci itu lebih ia sodorkan ke Doyoung. "Gue pilih itu. Biar kayak lo. Lo kan anak kelinci." Bina terkikik.
"Maksud lo, ibu gue kelinci, gitu?"
Yang tadinya terkikik, kini berubah tertawa. Bina terbahak mendengar apa yang diucapkam Doyi, apalagi dengan ekspresinya saat menurunkan maskernya.
"Bukan gue yang bilang. Ha ha ha."
Setelah membayar buku yang Bina pilih, Doyi keluar toko buku dengan tangan kosong. Dirinya tidak jadi membeli referensi tentang akuntansi, tidak ada yang cocok katanya. Namun tetap saja, laki-laki itu harus tetap mentraktir Bina sebuah buku karena sudah mau menemaninya.
"Gue sebenarnya juga mau jadi dosen kayak lo. Tapi IP gue aja turun lagi, gimana mau jadi dosen akuntansi. Yaudah, gue jadi penulis aja. Tiap hari kerjaan gue cuma berimajinasi."
"IPK doesn't matter, some smart people can't easily work tanpa imajinasi." Setidaknya, ia bisa memberikan sedikit semangat pada Bina. "Lo belum cerita. Kenapa beli buku anak-anak? Katanya mau jadi penulis novel. Emang lo mau nulis novel anak-anak? Anak-anak nggak ada yang baca novel." Doyi berucap panjang lebar tanpa jeda.
"Siapa bilang? Gue pas SMP udah baca novel!"
"SMP itu bukan anak-anak lagi."
"Tapi orang-orang nyebutnya anak SMP."
"Lagian, mana ada anak SMP yang baca novel hewan-hewan?"
Bina menghentikan langkahnya. Ia mengangguk saat baru menyadari sesuatu hal yang diucapkan Doyi.
"Kebanyakan anak SMP novelnya udah cinta-cintaan." Seperti sudah terbiasa, tangan Doyoung kembali menggandeng tangan Bina.
"Bodo, ah. Kalau gitu gue mau banting stir aja jadi penulis cerita anak yang bener-bener buat anak-anak."
"Kenapa?"
"Gue pengen ngebangun imajinasi positif anak-anak di masa depan lewat karangan gue dan nama gue bisa terpampang di setiap buku cerita anak best seller." Gadis itu tersenyum menerawang gambaran masa depannya.
Sambil tersenyum karena bangga dengan pemikiran Bina, Doyi lebih menghapus jarak diantara mereka, lalu mengusap puncak kepalanya.
Plakkk
"Ngacak rambut mulu, deh, heran gue." Seketika mereka kembali berjarak walau tangan tetap bergandengan.
Doyi terkekeh, kembali menghapus jarak diantara mereka. "Semangat nulisnya! Percaya aja kalau lo itu bisa. Suatu hari nanti lo bakal jadi penulis terbest, bukan cuma dari penjualan, tapi juga kualitas. Dan tetap ingat, jangan takabur."
"Siap, Pak!"
Tanpa mereka sadari, tidak ada jarak sama sekali antara mereka berdua. Bahkan tanpa Bina sadari, ia sudah menggandeng tangan Doyi dengan seperti memeluk lengannya. Memang, sudah seperti adik yang sedang bermanja dengan sang kakak.