Bunga Matahari

2029 Kata
Rebahan malam memang terasa nyaman jika kewajiban berupa dua empat empat tiga empat selesai kita semua lakukan. Di depan televisi yang menyala-nyala menampilkan siaran serial kartun kesukaannya yaitu Upin dan Ipin, tetapi Bina malah asyik bermain memandangi ponsel. Padahal, Upin&Ipin dan kawan-kawan sedang menari dan menyanyi lagu Kompang Dipalu-Pengantin Baru.  Cantik bergaya pengantin baru Duduk bersanding atas pelamin Elok budi indah bahasa Senyum manis tanda gembira Oh, ohh ohh Oh, ohh ohh Selamat, selamat pengantin baru Selamat, selamat pengantin baru "Dek, entar kalau gue nikah sama Arini, lo yang nabuh kompang, ya!" ucap Mas Johnny yang tiba-tiba saja datang. Mas Johnny langsung duduk di samping Bina dan dengan kebiasaannya, ia menyibakkan poni yang masih setengah basah karena Mas Johnny baru saja mencuci muka. "Lo pikir gue ini Upin Ipin, Mas?" Balas Bina tanpa berpaling dari ponselnya. "Lah, iya. Lo sama Doyoung sih lebih tepatnya Upin Ipin gue." Ia terkekeh. Langsung saja Bina melemparinya dengan bantal berbentuk kepala Upin. Setelah Mas Johnny berhasil menghindar dan pergi dari sana, Bina kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Sepertinya memang malam ini serial Upin dan Ipin sedang diacuhkannya. ⚠BHAM SQUAD⚠ Haekal:  Hari ini 'ku akan menyatakan cinta Nyatakan cinta 19:06 Bina: Aku tak mau menunggu terlalu lama Terlalu lama 19:06 Markku: Tumben ngetik, nggak VN kaya biasanya? 19:08 Ayuku: Selamat dong kuping kita, Mark. 19:08 Markku: HAHAHAHA 19:09 Ayuku: Kalau suara Haekal kan emang bagus, gue akuin. Tapi suara lo, Bin. Udah bikin speaker hape gue ngeprek. 19:10 Bina: Jahat banget lo, bjir. 19:10 Bina langsung membanting ponselnya ke lantai. Untung saja lantai keramik itu dilapisi karpet bulu yang cukup tebal. Jadi tidak masalah sekalipun Bina membanting ponselnya keras-keras. Ia lumayan sebal malam ini. Baru sehari saja Ayu dan Mark pulang kampung, sudah bikin kesal. Awas saja, jika sudah bertemu lagi, Bina akan menyanyi tepat di samping kuping mereka. "Dek, dicari Haekal!" teriak Mas Johnny dari ruang tamu.  Bina yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya. Baru saja ia chattingan dengan Haekal dan kedua sahabatnya yang lain, tetapi tiba-tiba saja Haekal sudah ada di rumahnya. Mungkin Haekal sudah berada di depan rumahnya sejak tadi, hanya saja tidak ada yang membukakan pintu. Tetapi, mengapa Haekal tidak mengirimi pesan pada Bina saja. Ihh, dasar Haekal. Butuh hampir satu menit bagi Bina untuk bangun dari rebahannya. Setelah merapikan piyama bergambar Upin Ipin yang ia kenakan, barulah ia berjalan untuk menemui Haekal. "Haekal bawa kembang," bisik Mas Johnny sambil cengar-cengir saat mereka berpapasan di ambang pintu ruang tamu. Bina tidak mempedulikannya, karena Bina tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan kakaknya itu. "Oi, Kal. Tumbenan kesini nggak kabar-kabar," sapanya begitu melihat Haekal duduk manis di ruang tamu sendirian. "Ngobrol di luar, yuk. Gerah, nih." Haekal sudah berdiri dan akan melangkah keluar. Baru saja Bina duduk, Haekal malah mengajaknya mengobrol di luar. "Mau nyalain kipas angin?" tawar Bina. "Enakan di luar, Bin. Angin malamnya sepoi banget!" Haekal masih bersikukuh ingin mengobrol di luar saja dari pada di ruang tamu. Sekarang mereka sudah duduk di lantai, di teras depan rumah.  Ternyata memang benar apa yang dikatakan Haekal. Angin malam ini sangat sepoi, lemah lembut menerbangkan anak rambutnya. Malam ini juga, kebetulan sekali sedang cerah dan membuat bintang berkedip menghiasi langit yang gelap. "Ada yang mau lo omongin, Kal?" tanya Bina sambil memeluk kedua kakinya. "Gue mau pulang ke Surabaya besok sore." Haekal berucap dengan nada datar. Pelukannya terlepas, kakinya langsung selonjor, dan bahunya merosot. Tidak lupa, air muka Bina berubah menjadi sedih bin sebal setelah mendengar ucapan Haekal yang menurutnya terlalu tiba-tiba. "Katanya beberapa hari lagi. Kok malah besok, sih!" Ia berucap tidak terima. Kedua tangannya kini berubah menggenggam satu tangan Haekal. Laki-laki itu hanya terkekeh melihat Bina yang menurutnya sangat berlebihan. Padahal juga kan, Haekal hanya pulang ke Surabaya yang tidak jauh dari kota Malang. "Nggak usah lebay, deh, Bin." Haekal melepas genggaman Bina. "Kayaknya lebih baik gue segera pulang ke Surabaya, deh." Ronanya mengambang. Haekal tersenyum, tetapi senyuman itu bukanlah senyuman nyata.  "Rencananya itu gue mau ngajak lo ke pantai," ucap Bina alakadarnya. Sebenarnya ia tidak pernah berencana pergi ke pantai bersama Haekal. Tetapi jika hal itu terjadi, tidak masalah juga. Toh, selama ini Bina sangat jarang sekali pergi ke pantai. "Yah, gue udah harus pulang besok. Maaf ya, Bin." Bina menunduk dalam-dalam. Alasannya yang ia buat agar Haekal sedikit lebih lama lagi di kota ini ternyata kurang mumpuni. Agaknya memang ia harus pasrah. Biarkan saja teman-temannya pulang menemui keluarga.  Karena sejatinya mereka juga butuh berjumpa dengan orang tersayang, tidak seperti Bina yang setiap hari selalu merasakan kasih sayang keluarganya. MerekaㅡHaekal, Ayu, dan Markㅡharus berjuang mendapatkan hasil yang maksimal karena mereka semua sudah diberikan kepercayaan tinggi dari orang tua mereka. Jadi tidak ada alasan lagi bagi Bina untuk mempertahankan Haekal. Tiga bulan saja. Semoga waktu tiga bulan itu segera berlalu. Toh dalam tiga bulan itu Haekal bisa berkunjung ke rumah Bina. "Sebelum gue pulang, gue ada sesuatu buat lo." Haekal berjalan mengambil kresek hitam di gantungan motor teman se-kost yang dipinjamnya. "Ini." Ia lalu menyerahkan kresek itu pada Bina. Dibukanya kresek hitam itu, setangkai bunga matahari yang kelopaknya menunduk tetapi tangkainya sangat kokoh tertancap di tanah berwadah pot kecil.  Bina tidak berucap apa-apa. Ia masih memandangi bunga matahari tersebut dengan perasaan yang semakin berkecamuk. Baginya, semakin Haekal memberikan perhatian padanya, semakin pula ia tidak bisa merelakan laki-laki itu pulang ke Surabaya. "Lo inget lagunya Upin Ipin yang Bunga Matahari, kan?" tanya Haekal. "Yang dinyanyiin Susan-" "Meimei." Bina mengoreksi cepat-cepat  "Ah, iya. Meimei." Bunga matahari sangat cantik Kembang diwaktu pagi Daunnya hijau, bunganya kuning Memikat kumbang lalu Bunga matahari sangat cantik Di halaman rumahku Darilah pagi, hingga kepetang Tak jemu ku memandang "Yeay ...." Mereka bersorak bersama setelah berhasil menyanyikan lagu itu bersama-sama. "Yah, Kal. Harusnya kita rekam terus kita kirim ke Ayu sama Mark." Bina baru saja ingat, harusnya nyanyiannya tadi bersama Haekal sudah seharusnya direkam dan dikirim ke Ayu dan Mark. "Ah, iya juga, ya." Haekal mengangguk setuju. "Yaudah. Kita bikin video nyanyi duet aja, yuk. Kita kirim ke mereka biar mereka tahu, sebenarnya suara gue itu bagus!" Ide Bina muncul tiba tiba. Haekal yang mendengar itu langsung mengacak rambut Bina dengan gemas. Bodo amat jika dirinya akan kena tampolan maut dari Bina.  Plakk Plakk "Kenapa, sih. Orang-orang pada hobi banget ngacak rambut gue!" sebalnya. Setelah mengirim beberapa video menyanyinya bersama Haekal malam ini, suasana di ruang tamu mendadak hening. Mereka berdua saling sibuk dengan ponselnya masing-masing. Yang satu sedang memutar ulang video mereka, yang satu lagi sibuk bermain game tumpuk-tumpuk kotak kubus. Di Kota Malang, sekarang sudah pukul sembilan. Suasana yang tenang membuat suara sirine ketera api terdengar, walau palang pintu kereta cukup jauh dari rumah Bina. Tidak lama, suasana hening yang sempat kembali teralihkan oleh suara mesin mobil. Bina dan Haekal yang sedang asyik dengan ponselnya tidak tersadar dengan kehadiran seseorang. Sampai akhirnya muncul dua orang di balik pintu, Mama dan Papa Bina. "Eh, ada Haekal," ucap Papa begitu mendapati Haekal di sana.  "Eh, Tante sama Om baru pulang?" sapa Haekal setelah buru-buru bangkit dan bersalaman. "Oi, mama sama papa lo pulang. Salim dulu!" toleh Haekal pada Bina. Kalau kata orang, ponsel itu bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Itu benar sekali. Bina terlalu asyik dengan permainan yang ada di ponselnya hingga lupa akan kebiasaannya mencium tangan Papa dan Mama saat mereka pulang dari warung bakso. "Sttsttt," kode Haekal pada Bina untuk segera menyalami orang tuanya yang baru saja pulang dari warung bakso.  Hingga akhirnya Bina bangkit. Namun netranya masih fokus pada ponselnya. Tanpa ia sadari apa saja yang menghalangi langkahnya, jari kelingking Bina berhasil kesandung kaki meja. "Aduhhhh." "Ha ha ha. Sakit, Bin?" tanya Haekal sambil tertawa. "Pake nanya lagi!" Orang tua Bina hanya menghela napas dan menggeleng melihat anaknya kesakitan seperti itu. Mama dan Papa tidak mau menanyakan bagaimana kondisi kelingking Bina, karena mereka sudah tahu jika rasanya pasti sakit dan nyut-nyutan. Ditambah karena Bina yang terlalu fokus pada ponselnya, membuat Mama dan Papa membiarkannya saja. Biar tahu rasa. Makanya, kalau ada orang tua yang baru pulang harusnya di sambut. "Om, Tente. Mumpung ketemu, Haekal mau pamit. Besok mau pulang ke Surabaya," kata Haekal. "Lho, kok cepat banget pulangnya. Terus nanti Bina mainnya sama siapa?" ujar Papa sambil menepuk bahu laki-laki itu. "Nggak mau main bareng dulu? Biasanya kalau mau liburan kalian main bareng. Sama Ayu sama Mark juga, kan?" Kini giliran Mama yang bertanya. Memang benat. Setiap kali liburan dimulai, biasanya BHAM Squad akan pergi berlibur bersama. Seperti tahun lalu, BHAM Squad sempat berlibur ke kebun teh. Walau masih di area Malang Raya, tetapi liburan saat itu sangat seru. Apalagi bagi Bina. Pasalnya mereka perlu menaiki kereta untuk sampai di sana dan itu adalah pengalaman pertama kali bagi Bina pergi ke stasiun dan naik kereta. Waktu itu liburannya cukup dadakan, hingga hanya tersedia dua kursi bagi mereka berempat, gerbong pun terpisah. Akhirnya Bina ikut bersama Haekal dan Ayu bersama Mark. Sebenarnya tiket atas nama Bina yang tidak mendapatkan kursi alias harus berdiri selama satu jam, tetapi dengan berbaik hati Haekal rela bersempit-sempit agar Bina dapat duduk juga. Ah, itu tidak terlepas dari hati baik penumpang lain yang rela mensempit-sempit juga, karena dua seat kursi harus dibagi bertiga. "Ayu sama Marknya nggak mau diajak main, Ma. Mereka pilih ngumpulin duitnya buat naik kereta kelas bisnis. Banyak gaya emang!" sebal Bina. Jangan salah, dirinya masih fokus pada ponselnya. "Kenapa kalian nggak inisiatif main berdua aja? Ke Batu misalnya." Ayah memberikan ide yang cukup brilian. Bukannya tidak ada inisiatif untuk main berdua bersama Bina. Bahkan Haekal sudah merencanakan akan mengajak Bina ke Jatim Park dan ke Pantai sebelum dirinya pulang ke Surabaya. Tetapi entah mengapa Haekal memantapkan untuk mengurungkan semua niatnya itu dan ia berpikir kalau dirinya lebih baik untuk segera pulang ke Surabaya.  "Soalnya mendadak di suruh pulang cepat sama Ibu saya, Om." Haekal berbohong. Tidak pernah sekalipun ibunya menyuruhnya untuk segera pulang. Jika saja ibunya Haekal mendengar jika dirinya dijadikan alasan, sudah pasti ia akan mendapatkan omelan selama sehar-semalam.  "Oh, kalau gitu hati-hati besok pulangnya." Haekal mengangguk, lalu kembali tersenyum. Ruang tamu kembali menemui keheningannya. Lagi-lagi Bina masih terfokuskan pada permainan ponsel yang tidak akan membuatnya mendapatkan uang. Paling-paling yang Bina dapat adalah rabunnya yang semakin bertambah. Haekal mengembuskan napas panjang menyaksikan semua keheningan ini. Ia sempat melihat jam di ponselnya, lalu dengan segera ia kembali memakai jaket hitamnya. "Bin, gue mau pulang. Udah malam, nih." Bina tidak menyahut. Kedua netra dan tangannya sedang sibuk.  "Bin. Gue mau pulang! Pamitin ucap ke  Om sama Tante." Haekal lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi. "Hm. Hati-hati, Kal." Ingat pesan yang dikirimkan Haechan di grup chat BHAM Squad jam tujuh malam tadi? Haekal tidak pernah berbohong jika hari ini ia akan menyatakan cinta sama seperti pesan yang ia kirimkan kepada ketiga sahabatnya. Tetapi sepertinya Bina sedang sibuk. Jikalau ia menyatakan apa yang ia rasakan selama ini pada Bina, bisa saja Bina tidak akan mendengarkan. Lagi-lagi yang bisa Haekal lakukan hanya mengembuskan napas panjang. Sembari memakai jaketnya dengan lambat, hatinya berusaha memantapkan apakah ia benar-benar harus mengatakan semuanya malam ini atau lain kali.  "Bin." Tidak ada jawaban.  "Bin." Lagi. Tidak ada jawaban.  Haekaln memutuskan untuk benar-benar pulang dan tidak akan bertemu Bina untuk tiga bulan ke depan. Jika saja semesta masih berbaik hati, Haekal ingin selama tiga bulan ini mereka bisa saling jumpa. Haekal berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan tetap menyatakan perasaannya kepada Bina. Apapun yang terjadi. Sekalipun harus menunggu selama tiga bulan atau mungkin ia akan tiba-tiba datang ke Malang dan menyampaikan perasaanya. Laki-laki itu pergi tanpa ucapan selamat tinggal atau selamat berjumpa lagi. Ia pergi dalam hening, meninggalkan Bina yang sangat asyik dengan kesibukannya. Sedetik setelah laju motor yang dipakai Haekal sudah tidak lagi terdengar, Bina benar benar mengangkat kepalanya dan membanting ponselnya di atas sofa.  Ia benar benar marah dengan Haekal yang tiba tiba saja memutuskan untuk pulang besok pagi. Kalau begini caranya, memang Bina akan benar benar merasa sendirian dan kesepian.  Bina marah. Bina emosi. Harapannnya akan sedikit lebih lama lagi dengan Haekal ternyata dikhianati. Haekal akan pulang. Bina sudah tidak tahu lagi mau lari kemana dia kalau saja ia merasa kesepian.  Yasudah. Bina bisa kok hidup tanpa semua teman temannya. Entah, mungkin itu pikiran Bina saat ini. Jika sudah benar-benar kesepian, biarlah Bina menangis sesegukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN