Seharian ini Haekal tidak menghidupkan ponselnya. Bukan untuk meeghindari siapapun, tetapi ponsel Haekal memang sudah saatnya dimuseumkan. Jika sekali saja kehabisan baterai, ponsel yang dibelinya pada tahun 2014 itu tidak akan menyala jika baterai belum terisi penuh. Beruntung saja, hari ini Haekal akan pulang ke Surabaya dengan menaiki Bus. Jadi, jadwal lebih fleksibel, tidak terikat waktu.
Masih pukul tiga sore. Masih sangat banyak waktu untuk Haekal pulang ke Surabaya. Walau perjalanan hanya satu jam melalui jalan tol. Namun Haekal memilih untuk tidak melewati tol. Bus Patas tidak menjadi pilihannya hari ini dan Bus ekonomi akan lebih beruntung.
Sesegera mungkin ia menyalakan ponselnya yang baterainya sudah terisi penuh. Sambil mengunci pintu kamar, ia biarkan ponselnya benar-benar menyala dan normal.
Banyak sekali notifikasi masuk. Bahkan panggilan tidak terjawab dari perempuan yang selama ini mengisi hatinya, Bina. Ada 20 panggilan tidak terjawab.
Haekal memutuskan untuk kembali duduk di sofa yang ada di depan kamarnya, dan berniatvuntuk membaca pesan dari Bina.
Bina:
Kal.
Nanti gue anterin ke stasiun, ya.
Jam berapa, sih?
06:05
Kal.
Haekallllll.
06:36
Kok lo centang satu, sih?
07:00
Kal.
Woi.
Kal.
07:45
Yahhhh.
Lo lagi di jalan, ya?
09:12
Kalllllll.
09:40
Lo marah sama gue?
Kal.
10:01
Kal.
Lo nggak kenapa-kenapa, kan?
12:07
Kal.
Bales woii.
Setidaknya kalo elo di rumah, kabarin gue pake hape saudara lo.
12:12
Eh, tapi saudara lo nggak ada nomor gue.
halahhhh.
Kalll.
12:14
Kallll
Balesssssssssss.
13:04
Yaudah deh, Kall.
Selamat liburan!
Gue tunggu tiga bulan ke depan, ya!
14:35
Luvyu!
14:35
Setelah membaca banyak pesan dari Bina, tak terasa senyumnya mengembang. Lalu ia menaruh ponselnya di saku. Tetapi baru saja tangannya keluar dari saku, ponselnya bergetar. Sepertinya ia harus menonaktifkan fitur getar di ponselnya dan ia harus segera berangkat sebelum gelap.
Kamar Haekal ada di lantai empat. Tidak heran jika dirinya akan sedikit kewalahan membawa satu buah koper besar ditambah tas di punggungnya yang tidak kalah berat. Haekal sengaja membawa semua barang-barangnya karena liburan cukup lama. Menurutnya, membayar sewa kost untuk tiga bulan padahal ia tidak menempatinya, rasanya sangat merugikan. Maka dari itu, ia memutuskan kontrak dan akan membayar DP di kost yang sama untuk semester depan. Nah, bisa ditiru jiwa hemat Haekal yang satu ini. Tetapi tidak akan berlaku bagi kalian yang memiliki banyak barang seperti Ayu dan Mark.
Bangunan di kost Haekal ini memang bukan kaleng-kaleng. Tidak seperti beberapa bangunan lain yang dipaksakan untuk dijadikan tempat kost. Temboknya tinggi dan kokoh, lebar tangganya pun satu meter dengan anak tangga asli batu bata. Setiap kali dirinya sudah berada di dalam kamar, rasanya enggan untuk keluar membeli makan. Apalagi dapur hanya ada di lantai satu, membuatnya semakin rajin menyimpan roti-rotian jika ia tiba-tiba merasa lapar. Dan akhirnya hari ini adalah terakhir kalinya Haekal berada di lantai empat. Semester depan nanti, dirinya sudah memesan satu kamar di lantai satu. Walaupun sama saja jika menjemur pakaian harus ke lantai empat, setidaknya ia bisa bolak-balik jajan keluar dan tidak pernah kelaparan.
Napasnya tersenggal begitu ia sampai di akhir perjuangannya menuruni anak tangga dengan tas ransel dan koper. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar sembari memesan taksi online untuk sampai ke depan g**g, lalu ia akan lanjut naik angkot sampai terminal. Inginnya sih, naik taksi online saja sampai terminal. Namun apadanya, empat puluh ribu bahkan jauh lebih mahal dari tiket busnya ke Surabaya.
Siap. Taksi online berhasil di pesan tepat pukul setengah empat sore. Haekal kembali menggendong ransel dan menyeret kopernya.
Baru saja laki-laki itu memegang gagang pintu, ia terlupa satu hal.
Kunci pintu. Dimana?
Ahhhh
Haekal mengacak acak rambutnya, ia merasa kesal dan frustrasi. Ia lupa jika ia menaruh kunci pintu depan di paku dekat almari. Sebelum memutuskan untuk kembali naik ke kamarnya di lantai empat, Haekal menyempatkan diri untuk berputar di tempat sebanyak tujuh kali untuk menghukum dirinya sendiri yang sangat pelupa.
"Ngapain, Mas?"
Putarannya terhenti, padahal masih kurang dua kali lagi. Kepalanya yang pusing membuat dirinya sempoyongan. Tangannya meraba-raba mencari pegangan, berusaha agar tidak tumbang.
"Mas Haekal mabuk?" tanya adik tingkat Haechan sambil berusaha membantu Haechan menyeimbangkan badan.
"Gundulmu!" Balas Haekal dengan kesal karen telah dituduh mabuk oleh tetangga kost yang sekaligus adik tingkatnya itu.
Tidak lama kemudian pandangannya sudah normal. Haekal menggelengkan kepala sesekali sampai ia benar-benar tidak lagi merasa pusing.
"Bukain pintu, dong. Kunci gue ketinggalan di atas, nih."
Setelah berpamitan pada adik tingkatnya itu, Haekal sesegera mungkin keluar dari rumah kost karena taksi online pesanannya sudah sampai.
"Mas Haekal, ya?" tanya sang driver
Begitu Haekal mengangguk, driver taksi online tersebut keluar dari mobil dan membuka bagasi. Tetapi baru saja Haekal akan mengangkat koper dan memasukannya, dirinya dibuat menoleh spontan oleh suara cempereng yang ia dengar.
"Haekallll!" teriakkan itu terdengar lagi. Rupanya dari Bina.
Bina yang sedang menaiki ojek online terlihat menyuruh sang driver untuk cepat-cepat sampai di depan kost Haekal, sebelum Haekal benar-benar pergi dari sana.
Setelah membayar, Bina langsung menghampiri Haekal dan menabok lengannya.
"Jahat banget! Kenapa ditelfon nggak diangkat?" ucapnya pada Haekal.
Sedangkan laki-laki itu kembali memeriksa ponselnya. "Kan hape gue mode silent, nggak tau kalo lo nelfon gue. Maaf, deh." Ucapnya dengan jujur dan apa adanya.
"Seenaknya minta maaf. Lagian gue udah ngechat lo dari pagi. Gue kira lo udah di Surabaya, ternyata masih di sini-"
"Mau nganterin gue ke terminal?" potong Haekal dengan santai.
Bina mengangguk.
"Nggak usah. Nanti lo pulangnya sama siapa?"
Bola mata Bina berputar menatap tanah, lalu tangan hangat itu mengacak rambutnya.
"Masuk." Haekal mempersilakan Bina masuk ke dalam mobil dan diikuti dirinya.
Mobil sudah melaju perlahan. Di jalanan g**g seperti ini memang mobil tidak pernah melaju dengan kecepatan lebih dari 25 KM per jam. Jalannya sangat lirih, mewanti-wanti jika ban akan bergesekan dengan tong sampah atau pagar.
"Jadi, nanti lo berani pulang sendirian?" Tanya Haekal pada Bina memvah keheningan yang sempat terjadi.
Bina menggeleng.
"Kok geleng?" Tanya Haekal lagi.
"Ya kan gue belum pernah ke terminal. Ntar kalo gue nyasar gimana?" Ia memanyunkan bibirnya.
"Padahal lo asli daerah sini, ya. Tapi ke terminal aja belum pernah."
"Naik bus aja kalau nggak study tour ya nggak akan pernah." Nadanya berubah sebal. Memang selama hidupnya, Bina jarang sekali naik kendaraan umum kecuali angkot.
"Yaudah, nanti langsung pesen ojol aja. Biar lo dapet ojol dulu, baru gue naik ke bus."
"Yah, itu namanya lo yang ngaterin gue. Bukan gue yang nganterin lo." Ucap Bina.
"Nanti kalau gue duluan yang masuk bus, terus lo tiba-tiba ilang, gimana?" Haekal memang takut jika Bina akan hilang di terminal. Padahal, Bina sudah besar harusnya Haekal tidak perlu sekhawatir itu.
"Setidaknya kalau gue diculik, gue nggak akan kesepian."
Refleks, satu tangan Haekal membekap mulut Bina. "Eh, mulut kalo ngomong nggak dijaga."
"Mas, sudah sampai."
Haekal melepaskan bekapan itu dan Bina langsung bernapas lega. Keduanya telah sampai di depan g**g dan harus keluar dari taksi untuk oper angkot menuju terminal.
"Semoga nggak ada angkot yang lewat, ya Allah. Aamiin." Bina menengadahkan tangan ke udara sambil berdoa dengan khusyuk. Ia sedang tidak bercanda, ia benar-benar berdoa supaya tidak ada angkot tujuan Terminal Arjosari yang melintas.
"Dosa lo, Bin." Ucap Haekal setelah mendengar doa Bina.
"Setiap manusia itu berhak berdoa."
"Tapi kalo doanya jelek, tetep aja dosa."
"Gue doa baik, kok. Doa buat kebaikan gue sendiri maksudnya. Hehe." Bina lalu terkekeh. Sedangkan Haekal lagi-lagi mengacak puncak kepalanya. Namun Bina tidak mau menabok atau mncubit Haekal seperti biasanya. Karena Bina paham, pasti dirinya akan rindu dengan tangan Haekal yang selalu mengacak puncak kepalanya itu.
"Asyik, udah jam empat. Pasti nggak ada angkot yang lewat." Bina kegirangan di samping Haechan yang mulai risau karena memang sudah lumayan sore dan biasanya jarang ada angkot lewat kalau sudah sore.
"Pesen taksi online aja kalau gitu." Haekal membuat pilihan.
"Eh, jangan!" Bina langsung merebut ponsel Haekal, lalu memasukkan dalam saku celananya.
"Kalo kesorean, nanti nggak ada bus lagi, Bin!"
"Alhamdulillah."
"Bina! Siniin nggak hape gue!" Kali ini Haekal benar-benar menyentak. Tetapi bagaimanapun Haekal marah, Haekal tetaplah Haekal yang tidak bisa memasang wajah seram. Bahkan, bagi Bina, Haekal adalah tipikal manusia yang tidak bisa marah.
Bina hanya cengar-cengir sambil sesekali menghindar saat Haekal akan mengambil paksa ponselnya dari saku celana Bina.
"Seneng banget lo liat sahabat sendiri kesiksa gini!" gerutu Haekal kemudian.
"Lo tersiksa, gue semakin bahagia. Hahaha." Bina tertawa bak iblis di sana. Lalu sedetik kemudian, tawanya luntur. "Btw, lebay banget lo. Milih diksi tersiksa. Emang gue nyiksa lo?" Manik matanya berfokus pada Haekal. Sempat mereka berdua saling tatap dalam diam, sebelum sebuah angkot terlihat di belakang Bina.
"AL, Bin!" Haekal berteriak kegirangan dan siap-siap untuk memberhentikan angkot tersebut.
Bina menoleh, mendapati angkot berkode AL yang artinya angkot tersebut tujuan terminal Arjosari dan Landungsari. Bahunya langsung merosot, merasa dirinya akan benar-benar kesepian.
"Arjosari, Pak?" tanya Haekal begitu angkot berhenti tepat di depan mereka.
"Wah, wes sore, Mas. Ngapunten." Balas sang sopir angkot yang tidak mau menerima Haekal untuk mengantar ke terminal karena memang sudah sore.
Kini giliran bahu Haekal yang merosot, ditambah napasnya yang ia hembuskan sangat panjang.
"Asyik. Doa anak sholehah emang cepat dikabulkan."
"Pengen tak hiiiiiiiiih!" ucap Haekal tepat di depan wajah Bina sambil menunjukkan kepalan tangannya. Rasanya ia sangat gemas sekali kepada perempuan itu, sampai-sampai ia ingin menggigitnya.
Bina hanya menyengir.
"Bin, please. Mana hape gue?!"
"No. Tidak. Wegah. Nehi," kata Bina sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak mungkin balik ke kost. Barang gue udah di sini semua. Lagian kunci kamar gue udah gue titipin ke temen gue biar dia kasih ke ibu kost." Haekal berbicara dengan nada yang diseduh sedihkan.
"Gue nggak peduli." Bina masih selengekan di sana. Benar-benar perempuan itu membuat Haekal marah bin sebal.
Tidak ada pilihan lain lagi. Mungkin memang malam ini dirinya harus bermalam di rumah Bina. Mungkin juga malam ini Haekal akan diberikan kesempatan oleh semesta untuk menyatakan perasaannya.
Bina memasang wajah yang sangat ingin ditampol. Tetapi alih-alih menampolnya atau memilih mengacuhkannya, Haekal justru mencubit pipi Bina dengan gemas dan Bina berhasil mengaduh kesakitan.
"Gimana? Daripada tidur di jalanan plus tanpa hape, karena hape lo masih gue pegang." Bina masih mengusap pipinya yang nyut-nyutan.
Haekal mengangguk pasrah. "Tapi nanti balikin hape gue. Bagaimanapun juga gue harus bilang ke Ibu gue kalo gue nggak jadi pulang hari ini."
"Siap, Bos!" setuju Bina dengan memamerkan jempolnya.
--
"Loh, loh. Haekal ngapain bawa koper gede gini?" tanya Mas Johnny yang kebetulan berada di depan rumah saat Bina dan Haekal datang.
"Haekal mau nginep di sini, Mas. Gue udah bilang juga kok sama Mama Papa," jawab Bina dengan air muka yang sangat bahagia, kontras dengan Haekal yang hanya pasrah.
"Adek lo tuh, Mas!"
"Kan gue cuma mau habisin malam terakhir kita, sebelum kita berpisah." Bina kemudian merangkul Haekal dan menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki itu. Sedangkan Haekal hanya bisa memutar bola mata menghadapi sikap Bina.
"Mas, Haekal nanti tidur di kamar lo, ya!"
Mas Johnny langsung memberikan penolakan. "Ah, nggak bisa. Kan lo tau sendiri kalau kamar gue itu kasurnya kecil."
"Yaudah, Kal. Lo tidur sama gue."
"Gila lo, Dek? Mana boleh!"
"Adek lo emang gila, Mas."
Plakk
Tampolan meluncur ke lengan Haekal yang pasti berasal dari Bina.
Dan akhirnya, untuk malam ini, Haekal memutuskan untuk menginap saja di rumah Bina karena memang tidak ada lagi pilihan lainnya. Haekal butuh hape, tetapi hapenya dibawa Bina.
Haekal tidak bisa lagi menginap di kost. Yasudah, daripada tidur di emperan lebih baik ia tidur di rumah Bina.