Mas Johnny dan Arini

3033 Kata
Jika ditilik ke belakang, perjalanan cinta Mas Johnny memang sedikit banyak cukup mengharukan, ribet, dan membingungkan namun tetap saja unik dengan takdir takdir yang telah digariskan oleh Tuhan.  Cinta pertama Mas Johnny adalah Arini.  Jangan kaget, jangan terkejut, apalagi sampai pingsan menmbaca bahwa cinta pertama Mas Johnny adalah Arini.  Benar sekali, Arini Warbyazahㅡperempuan penuh imaji yang pernah mengaku hamil karena Mas Johnny. Lima atau enam tahun yang lalu adalah pertemuan awal mereka. Saat itu Arini berniat mengejutkan Jefri yaitu pacarnya yang sedang ada di kantin, tetapi ia malah menutup kedua mata Mas Johnny dari belakang ketika berada di kantin. Mas Johnny yang terkejut langsung melepaskan dua tangan yang menutup matanya itu, sedangkan Arini yang sadar bahwa dirinya sudah salah orang langsung malu tidak karuan dan sesegera meminta maaf kepada Mas Johnnya. Saat itu Arini tidak pernah menyangka jika laki-laki dengan kemeja biru bergaris itu adalah orang lain, bukan Jefriㅡkekasihnya. Padahal, kemeja biru bergaris itu sama seperti kemeja favorit Jefri, ditambah orang yang sedang mengobrol dengan Mas Johnny saat itu adalah teman akrab Jefri.  "Yaampun, aduh maaf maaf!" ucap Arini saat Mas Johnny menoleh. Ia terkejut bukan main. Bodoh sekali memang, padahal sangat jelas sekali jika postur tubuh Mas Johnny dan Jefri jauh berbeda, pun dengan model rambut mereka. Tetapi namanya Arini yang sudah sangat antusias ingin mengejutkan kekasihnya yang sangat ia cintai, ia jadi tidak sadar bahwa punggung lebar itu bukanlah milik Jefri. Bola mata gelap milik dua anak manusia itu saling beradu sesaat, pun dengan temannya yang ada di sana hanya diam tanpa berucap sepatah katapun. Keheningan terjadi di tengah keramaian kantin, dengan perasaan yang membatin satu sama lain. "Eh, maaf. Gue kira lo temen gue," ucap Arini begitu sadar bahwa pandangannya dan laki-laki itu sudah cukup lama saling berpendar. Ia kembali meminta maaf lagi kepada Mas Johnny karena menang benar benar Arini merasa sangat tidak enak karena telah salah orang. Mas Johnny sedikit menyunggingkan bibirnya. "Ah, iya. Nggak pa-pa," balasnya tidak kalah canggung. Yapp, disinilah perasaan Mas Johnny pada Arini mulai tumbuh. Namun saat itu Mas Johnny belum mau mengakuinya karena Mas Johnny bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta ketika pandangan pertama.  Tidak lama setelah itu kemudian, Jefri datang menghampiri mereka dengan kemeja yang sama persis seperti yang dipakai Mas Johnny. Ternyata memang kemeja itu adalah simbol persahabatan antara Jefri dan Mas Johnny. Selama lebih dari tiga tahun pacaran dengan Jefri, Arini baru tahu jika Jefri memiliki sahabat yang sepertinya sudah sangat dekat, bahkan memiliki kemeja yang sama. Dan dengan Johnny, baru ia juga tahu jika Arini adalah kekasih Jefri sang sahabatnya dari sekolah menengah atas. "Aku tadi salah orang. Aku kira teman kamu itu kamu," ucap Arini pada Jefri, saat mereka sudah meninggalkan Mas Johnny dan teman-temannya yang lain. Arini menggandeng tangan Jferi. "Jangan bilang, kamu peluk dia dari belakang, ya?" tanya Jefri dengan nada yang sangat datar, tidak seperti biasanya karena Jefri adalah seseorang yang dikenal hangat dna ramah apalagi kepada sang pacar.  "Ah, enggak!" Arini menegaskan, wajahnya sudah sangat merasa bersalah. Padahal hal tersebut bukanlah sebuah kesengajaan yang disengaja untuk terjadi.  "Terus, kamu pasti ngelakuin sesuatu, kayak kalau kamu ketemu sama aku." Jefri terus mengoceh dengan datar yang semakin membuat Arini terpojokkan  "Aku tutup mata dia dari belakang." Arini pun menjawab dengan nada yang rendah. Seolah suram, hubungan mereka saat ini tercium sedang tidak baik baik saja. Jefri meringis mendengar penuturan polos dari sang kekasih. Lesung pipi yang nampak itu menandakan bahwa dirinya sangat gemas kepada Arini yang tersipu malu. "Kamu, sih. Kenapa nggak bilang kalau punya kemeja kembaran sama dia?" Arini mengubah nada bicaranya menjadi sebal dan dimanja manjakan. Ia juga mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya pertanda bahwa ia sedang marah. "Itukan bukan hal penting." Jefri menjawab dengan singkat. Mereka berdua masih terus berjalan pelan di jalanan kampus. "Tapi kan itu bikin aku salah orang!" Arini menggertak dengan sebal, tetapi menggemaskan.  "Salah orang sama orang ganteng mah nggak ada ruginya, kan?" Nada yang keluar dari mulut Jefri terdengar sarkas, walau dirinya masih menampakkan lesung pipi termanisnya sambil mengusap puncak kepala Arini. "Iya, sih, nggak rugi. Tapi malu!" "Nggak kenal, sih. Makanya malu." "Kalau kenal, aku nggak malu gitu?" Jefri mengangguk. "Apalagi kalau sampai saling suka." "Hah?" Arini menghentikan langkahnya. "Maksud kamu apa, sih?" Arini benar benar tidak mengerti apa yang diucapkan lelaki itu. Wajah Jefri berubah datar. Ia tidak membalas tatapan Arini, hanya memandang lurus ke depan. "Kamu liat-liatan lama sama dia." Arini menggeming. Ia sama sekali tidak percaya jika Jefri sedang cemburu. Lebih tepatnya, Jefri sedang cemburu buta.  "Kamu cemburu, ya?" Arini mencoba menggoda. Namun gagal, yang ada hanya ekspresi datar. "Kita putus aja, ya." Deg Deg Deg Deg Kalimat yang tidak pernah Arini bayangkan tiba-tiba saja keluar dari mulut laki-laki yang dicintainya. Matahari terik siang ini menjadi saksi, juga pepohonan yang daunnya sudah gugur entah sejak kapan. Arini harap, ia sedang mengalami gangguan pendengaran. Tetapi bagaimanapun juga otaknya berkilah, memang ucapan itulah yang didengarnya.  Jeㅡfriㅡminㅡtaㅡpuㅡtus. Jantungnya mencelus, dadanya sangat sakit seperti dilibas belati berkali-kali. Kakinya kaku, tidak bisa bergerak barang selangkah untuk menyusul Jefri yang sudah berjalan jauh meninggalkannya begitu saja. Lebih dari tiga tahun menjalin kasih, tanpa sebab yang pasti, tanpa aba-aba yang berarti, hati Arini berhasil dihancurkan oleh keputusan sepihak laki-laki bernama Jefri. Tidak masuk akal jika alasan Jefri memutuskam hubungan mereka hanya karena cemburu atas kejadian tadi. Bahkan, Arini belum sempat berkenalan dengan Mas Johnny, apalagi mengobrol dengannya. Sungguh. Cemburu buta menghancurkan semuanya. Ingatan tentang bagaimana Jefri menyatakan perasaannya tiga tahun yang lalu saja masih terbayang-bayang jelas, tetapi sekarang semuanya telah kandas. Arini tidak lantas memperjuangkan perasaannya. Saking kalutnya, ia tidak bisa menahan emosi dalam pikirannya.  "Yasudah. Kalau kamu ngira aku suka sama sahabat kamu, aku bakal suka sama dia. Biar kamu puas!" ucapnya dalam hati, saat itu juga. Sejak saat itu, Arini mulai menjalani hari-harinya dengan berusaha menyukai Mas Johnny. Walaupun dirinya tidak berani berinteraksi dengan Mas Johnny, tetapi perlahan ia mulai bisa menyukainya. Banyak hal yang dilakukan Arini agar bisa mencintai laki-laki itu. Mulai dari stalking sosial media milik Mas Johnny, hingga mencuri foto layaknya paparazi. Walau dalam hati perempuan itu masih mencintai Jefri dan juga kenangan-kenangan manis itu masih nyata terbayang di otaknya, Arini tidak pernah barang sekalipun menegur Jefri saat tidak sengaja bertemu. Sampai detik ini, Arini juga tidak pernah bertanya apa alasan Jefri mengakhiri hubungan mereka. Bagi Arini, yang lalu biarlah berlalu, walau kenangannya tidak pernah lepas dari ingatan dan sakitnya juga sangat dalam. Tidak mudah bagi Arini berkenalan dengan Mas Johnny. Walau mereka satu fakultas dan sering sekal dirinya melihat laki-laki itu, tetapi ia tidak pernah berani mendekat. Ada sesuatu yang sangat sakit yang menghantam dadanya setiap kali perempuan itu selangkah lebih dekat dengan Mas Johnny.  Iya, Jefri. Wajah tampan bak pangeran itu selau saja terbayang. Setiap dirinya memikirkan Mas Johnny, Jefri tidak luput dari pikirannya juga. Mas Johnny dan Jefri itu seperti dua orang yang tidak bisa tidak ia pikirkan. Sungguh. Setiap hari perempuan itu melamun membayangkan bagaimana jahatnya Jefri saat dengan sepihak memutuskan hubungannya dan menuduh dirinya menyukai Mas Johnny. Selain itu, ia juga membayangkan bagaimana jika dirinya sangat mencintai Mas Johnny dan membuat apa yang dituduhkan Jefri memang benar-benar terjadi. Hari bergganti minggu, dan minggu berganti bulan. Perasaan Arini terhadap Mas Johnny mulai terjadi. Kini setiap dirinya melihat Mas Johnny, otak dan pikirannya terus berlari dalam sebuah lingkaran imajinasi. Ia selalu membayangkan bersanding bersama Mas Johnny, berjalan bersama, beradu kasih, hingga membuat Jefri mendapat bukti apa yang dikatakannya.  Perempuan yatim piatu itu menjadi lebih sering melamun. Teman-tamannya pun satu demi satu mulsi menghindarinya. Padahal, Arini adalah salah satu mahasiswa penerima beasiswa jalur prestasi. Awalnya memang ia sangat ramah kepada siapapun. Dosen-dosen juga kenal baik dengannya. Namun, saat pikirannya telah penuh dengan Jefri dan Mas Johnny, perempuan itu menjadi jarang berinteraksi. Membolos kelas juga sudah menjadi rutinitas, hingga ia tidak bisa mengikuti UAS di beberapa mata kuliah saat dirinya baru semester satu. Arini tidak pernah sadar jika imajinasinya tentang Mas Johnny sudah berubah menjadi obsesi. Walau dirinya belum juga bertegur sapa dengan Johnny, tetapi pikirannya berhasil berisi kehaluan yang sangat mendalam. Ia banyak mengarang cerita di buku hariannya, tentang bagaimana ia berkenalan dengan Mas Johnny, berteman baik dengannya, menjadi kekasih Mas Johnny, hingga sebuah hubungan terlarang juga tertulis di sana. "Kamu darimana, kok baru pulang?" tanya Paman Arini ketika Arini baru pulang lewat tengah malam. Arini tidak banyak menjawab. Katanya, hanya masih banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan. Bibi dan Paman Arini tidak terlalu ambil pusin, karena keponakannya itu kalau belajar memang sangat rajin. Namun, baru kali ini Arini pulang selarut ini, tanpa kabar sebelumnya. Beberapa hari kemudian, Arini merasa badannya sangat lemas dan kepalanya pusing. Perutnya juga terasa mual. Sungguh. Arini tidak pernah berbohong saat dirinya merasakan mual tersebut. Huek ... huek "Arini, kamu kenapa?" tanya Bibi dengan cemas. Tak berlangsung lama, Paman juga masuk ke kamar Arini yang masih muntah-muntah di sana. Perasaan Paman sudah kacau. Paman menduga-duga ada sesuatu yang tidak beres.  "Arini cuma masuk angin," ucap Arini dengan lemas. Rasa mual itu tidak berlangsung lama, tetapi beberapa kali masih perempuan itu rasakan. Walau saat di rumah terasa mual, tetapi Arini menahannya. Arini tidak mau Paman dan Bibinya kecewa padanya. Arini memang pandai, tetapi ia juga tidak luput dari kecerobohan. Perempuan itu tidak sengaja meninggalkan buku hariannya yang masih terbuka di atas nakas. Bibi yang tidak sengaja melihat buku itu tergeletak, langsung membacanya. Membaca semua bagian dari buku itu, sampai pada cerita dimana Arini melakukan hubungan terlarang dengan Mas Johnny. 11 Januari 2014 Dear, Johnny. Menjadi kekasihmu memang hal yang paling aku syukuri. Aku bahagia bisa memilikimu. Dan malam ini, aku bahagia saat kita dapat membuktikan cinta kita. Itu artinya, aku sudah menjadi milikmu, dan kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya.  Johnny, terima kasih untuk malam ini. Walau kita tidak bisa bersama hingga pagi, setidaknya kamu sudah memberikanku kepercayaan yang sudah aku nantikan.  Tangan bibi bergetar membaca surat tersebut. Ketika bibi mencari Arini untuk meminta penjelasan, ia mendapati Arini keluar dari kamar mandi dengan tampang lemas. Setelah itu, mual kembali dirasakannya. Huek ... huek Bibi dan paman tidak percaya mendengar semua yang diucapkan keponakannya itu. "Paman, bibi. Maafkan Arini." Paman dan bibi tidak pernah menyangka. Keponakan yang dibangga-banggakannya, ternyata adalah satu-satunya yang membuat mereka sangat kecewa. Harapan-harapan besar yang mereka andalkan dari Arini, sudah hancur. Ariniㅡkeponakannyaㅡhamil. Arini memang tidak bisa menikah dengan Mas Johnny. Tetapi beruntung, Mas Johnny sangat perhatian kepada Arini walau itu bukanlah tanggung jawabnya. Paman dan bibi tidak mau peduli. Mereka benar-benar meminta pertanggung jawaban Mas Johnny. Dari mulai kebutuhan kehamilan, hingga menjaga kandungan Arini, di rumah maupun di kampus.  Walaupun ejekan demi ejekan diterima Arini dan Mas Johnny, tetapi mereka tetap kuat menjalani hari-harinya. Jefri? Jangan ditanya, ia sudah pergi ke ujung dunia. Persahabatannya dengan Mas Johnny juga resmi berakhir, saat Jefri tahu jika Arini hamil karenanya.  Sampai semua orang tahu bahwa semua hanya sebatas imaji, ejekan dan cemoohan semakin gencar didengar perempuan itu. Teman-temannya tidak tersisa lagi. Hanya Mas Johnny, satu-satunya orang yang mau memahami Arini selain paman dan bibi. Namun sayang sekali, imajinasi yang tertanam dalam diri Arini membuat jiwanya harus direhabilitasi. Hampir satu tahun menjalani perawatan di rumah sakit jiwa bukanlah hal yang mudah. Saat Arini dinyatakan sembuh, ia juga harus sering kontrol kesehatan jiwanya setiap satu bulan sekali. Saat kembali ke kampus dengan mengulang semester 2 disaat teman-temannya yang lain sudah semester 4, itu juga membuat semangat Arini menurun, ditambah adik tingkatnya yang satu kelas dengannya itu juga mengetahui kondisi Arini. Bukannya mendapat semangat, ternyata mereka sama saja, tidak mau berteman dekat dengan Arini kecuali saat mengerjakan tugas. Arini sadar. Dirinya sudah salah jalan. Selama ini dirinya sudah banyak membuat orang dalam kesusahan, terutama Mas Johnny yang namanya menjadi buruk karenanya. Arini tak lantas berlarut-larut dalam penyesalan. Masih beruntung beasiswanya tidak dicabut, karena cuti sakit adalah alasannya. Arini mulai giat belajar seperti dahulu. Tertinggal dua semester memang sedikit menyebalkan. Tetapi mau bagaimana lagi, itu semua harus ia jalani walau hanya seorang diri. Lagi-lagi Arini termasuk orang yang beruntung. Karena laki-laki yang sudah ia cemarkan nama baiknya itu masih bersikap baik padanya. Bahkan sesekali Arini berangkat ke kampus bersama Mas Johnny saat ada jam masuk kelas yang sama. Tidak jarang juga mereka saling bertegur sapa dan pulang bersama. Sungguh. Hampir sembilan bulan saat dirinya mengaku hamil, Arini menjadi sangat dekat dengan Mas Johnny. Tetapi saat itu ia tidak bisa benar-benar merasakan kedekatan, karena semua itu seperti tipuan.  Mas Johnny orang baik. Mulai dari rajin menjenguknya saat dirinya di rumah sakit, hingga kontrol bulanan juga diantar olehnya.  Ada satu masa dimana Arini sungguh bahagia. Saat itu, Arini telah menyelesaikan sidang skripsinya di semester 7. Benar, Arini memang terlahir pintar.  Selesai keluar dari ruang sidang, tidak ada satu temanpun yang menyambutnya, apalagi memberikannya sebuket bunga. Arini hanya keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega atas pencapaiannya. Jujur, ia sangat sedih saat itu. Ia juga ingin seperti orang lain, yang saat keluar dari ruang sidang, langsung disambut teriakan histeris dan ucapan selamat dari para sahabat. Namun, apa daya, kesalahan dimasa lalu membuat Arini kehilangan semua teman-temannya. Perempuan yang hampir resmi bergelar sarjana itu duduk sendirian, mengamati mahasiswa lain yang langsung mendapat sebuket bunga dan ucapan selamat begitu keluar dari ruang sidang. Seandainya ia ada di posisi orang itu, pasti ia akan sangat bahagia. Tak terasa, perempuan itu menyunggingkan senyumnya, merasa miris atas hidupnya. "Maaf, aku terlambat. Selamat, ya!" Arini mendongak. Didapatinya laki-laki jangkung menyodorkan tangannya berniat menyalami, dengan napas yang sedikit tersenggal. Mas Johnny. Rela izin setengah hari dari kantornya hanya untuk mengucapkan selamat sidang skripsi untuk Arini. Hari itu juga, Mas Johnny mengungkapkan perasaannya pada Arini. Walau nampak sedikit ragu, tetapi Arini tidak menolak. Walaupun harus menungguwisuda agar resmi bergelar Sarjana Ekonomi, tetapi hari itu Arini resmi menjadi kekasih Mas Johnny.  Mas Johnny tidak mau ambil pusing dengan hubungannya dengan Jefri. Karena bagi Mas Johnny, hanya Jefri yang tidak mau lagi berhubungan dengannya. Jefri yang sudah tidak membalas pesannya dan menghindar darinya. Apalagi Jefri sudah pernah mengatakan bahwa hubungan persahabatan selesai saja. Dan dengan Arini, Mas Johnny snagat tahu jika perempuan itu sudah putus lama dengan Jefri dan perempuan itu juga dicampakkan oleh Jefri. Tetapi sungguh, Mas Johnny benar benar mencintai Arini karena ada perasaan suka DNA cinta di dalam hatinya untuk perempuan malang itu, bukan karena rasa kasihan terhadapnya. Tidak ada yang menyangka jika perjalanan penuh haru itu mengantarkan mereka menjadi sepasang kekasih. Bahkan setelah dua tahun, dua sejoli itu masih setia dan percaya satu sama lain. Jika sudah berdua, dunia seakan miliknya, yang lain hanya obat nyamuk. Seperti saat ini, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Budhe Endang. Biarpun aroma segar dari pengharum sudah bercampur dengan aroma sempol ayam milik Bina, hal itu sama sekali tidak mengganggu dua sejoli yang asyik bergurau di tengah macetnya jalanan kota.  Di dalam kampung bernama Durian Runtuh Ada dua b***k kembar  Berbaju kuning, berbaju biru Mereka senantiasa bersama Luar biasa wo o o Upin dan Ipin Keajaibam bermula hanya di sini Oh, Upin dan Ipin marilah kita Bermain dan bergembira bersama mereka Lagu yang mengalun di dalam mobil dan juga obrolan Mas Johnny dengan Arini berhasil kalah oleh lagu Upin-Ipin dari ponsel Bina. Saat ini sudah hampir magrib dan mereka masih terjebak macet di jalan. "Dek, ngapain nyetel Upin-Ipin? Nggak bosen, tiap hari nonton episode yang diulang-ulang?" ucap Johnny dengan memandang Bina melalui spion tengah. Yang dilihat tidak menggubris, sibuk dengan Upin-Ipinnya dan sempol yang masih banyak. Arini yang ada di sampingnya terkekeh. "Bina lagi galau, ya? Kok dari tadi diam aja?" tanyanya sambil menengok ke belakang. Bina tidak menjawab. Ia masih memfokuskan pandangannya pada ponsel yang menampakkan tayangan Upin-Ipin. Sedangkan di samping Bina, laki-laki bernama Doyi Dipura itu juga tidak lepas dari ponselnya.  "Arini, kamu tahu nggak, selama ini ternyata aku punya Upin sama Ipin," ucap Johnny pada Arini. "Maksudnya?" Johnny yang fokus menyetir itu terkekeh. "Lihat aja di belakang." Johnny mengedikkan kepalanya, menginterupsi Arini. "Berbaju kuning, berbaju biru," lanjutnya dengan nada serial Upin dan Ipin. Bina dan Doyi yang baru menyadari hal itu langsung saling melirik.  "Cie, lirik-lirikan," goda Johnny. Keduanya lalu memalingkan wajah masing-masing menghadap ke arah luar.  "Kalian kenapa lagi? Marahan?" tanya Johnny yang sadar bahwa sedari tadi Bina dan Doyi hanya diam. Padahal, sebelum berangkat, Bina dan Doyi terlihat pulang bersama dengan membawa es degan dan sempol. Bina tidak menggubris. Justru dirinya menaikkan volume ponselnya. "Doy, lo kan udah gede. Ada apa lagi, sih, sebenarnya?"  "Kok gue?" jawab Doyi tidak terima. "Masa iya, lo nggak mau ngalah?" Doyi berdecak, lalu beralih menghadap Bina yang setengah memunggunginya. "Bin, lo kenapa sebenarnya?" ucapnya ketus. Bina tidak menjawab. Lagi-lagi hanya diam menulikkan pendengarannya. "Dek ... Bina, jangan kayak anak kecil gitu, ah."  "Tuh, dengerin. Jangan kayak anak kecil, Bin!" ucap Doyi dengan penuh penekanan pada setiap kata. "Lo juga, Doy. Inget umur." Di depan, di bangku penumpang, Arini diam-diam tersenyum menahan tawa. Baginya, sangat lucu mendengar percakapan antara Johnny, Bina, dan Doyi. "Arini kenapa nahan senyum gitu?" tanya Johnny yang rupanya sadar jika wanitanya itu sedang menahan senyum. "Mereka lucu ya, kalau lagi diem-dieman." "Lucuan mana sama aku?" Johnny menatap Arini dengan mata berkerling. Plakk Plakk Palkk Tampolan lembut mendarat di lengan laki-laki itu. Arini kembali terkekeh saat Johnny pura-pura kesakitan.  "Bucin terosss!" ucap Bina dan Doyi bersamaan. Setelah itu, keduanya saling beradu tatap dan kemudian terkekeh menyadari kekompakan mereka. Bina dan Doyi pada akhirnya memang selalu kompak. Apalagi ssaat menggoda Mas Johnny dna Arini, mereka adalah jagoannya dan yang pasti untuk membuat sebal semua orang, Bina dan Doyi jika sudah disatukan memang berlaga seperti anak kecil sungguhan yang sangat suka bersenang-senang dengan menggoda orang-orang.  Bahkan selama dalam perjalanan sampai rumah Budhe Endang, Bina dan Doyi selalu ribut memperingatkan hal hal yang sebenarnya tidak layak untuk diperuntukan dan hal itu sangat berhasil membuat kepala Mas Johnny yang emndengarnya mendadak keliyengan. Beruntung Mas Johnny masih bisa fokus untuk menyetir dan selamat sampai tujuan yaitu di rumah Budhe Endang yang tidak jauh memang masih di daerah malang  Sedangkan Arini, ia juga bercanda di saat mas JoHnny sambat mengenai kelakuan Bina dan Doyi di dalam mobil yang membuatnya pusing. Pokoknya, jika Mas Johnny dan Arini merasa tersiksa karena bercandaan atau kehadiran Bina dan Doyi. Dua anak manusia itu akan semakin suka dan akan terus terusan mengganggu Mas Johnny dan juga Arini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN