Sempol Ayam dan Es Degan

2321 Kata
Bina sedang galau. Sungguh dia sangat galau sekali. Sejak melihat Pak Doyi dan Bu Riyah jalan berduaan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hatinya. Padahal, tidak hanya sekali atau dunia kali Bina melihat mereka jalan berdua. Berlaki-laki saat di kampus, tidak jarang Pak Doyi dan Bu Riyah terlihat menghabiskan waktu bersama, apalagi saat jam istirahat makan siang. Berkali-kali juga Bina meyakinkan dirinya kalau ia hanya rindu kebersamaan dengan Doyi. Namun, perasaannya yang lain mengatakan bahwa bukan itu alasannya. Dan sekarang Bina mulai menduga duga. Jangan jangan diriny itu sudah mulai menyimpan rasa lebih dari seorang sahabat ataupun teman kepada Pak Doyi alias Doyi sang tetangga sekaligus sahabat dirinya dan Mas Johnny. Jam di dinding yang berada di kamarnya baru menunjukkan pukul setengah empat DNA detiknya terus bergerak. Orang tuanya belum juga pulang dari rumah Budhe Endang, Mas Johnny juga belum pulang dari kerjaannya. Ditambah rumah sudah sangat rapi, membuat Bina tidak tahu lagi harus melakukan kegiatan apa disisa sore hari ini. Paling paling yang ia lakukan hanyalah bersantai ria bahkan kadang merasa bosan sembari menscroll ponselnya membuka sosmed, kalau tidak ya ia memilih nonton siaran televisi yang membosankan juga. Menonton televisi? Tidak. Bina tidak suka tayangan televisi tahun dua ribu dua puluh ini. Tidak ada yang menarik menurutnya selain serial Upin-Ipin, tapi sekarang belum jam tayangnya. Bina membuka ponselnya, mencari-cari ruang obrolannya dengan Doyi. Beberapa menit gadis itu hanya memandanginya, tanpa mengetikkan sesuatu, padahal Doyi sedang online. Bina pun tidak tahu mengapa dirinya melakukan semua ini. Maksudnya, mengapa dirinya memandangi ruang obrolannya dengan Doyi di saat Bina masih mempunyai BHAM Squad.  Ponselnya ia banting ke ranjang, masih dalam ruang obrolannya bersama Doyi yang pasti tidak Bina sadari. Bina ikut membanting tubuhnya. Setelah itu, dirinya hanya bernapas dengan normal sambil menatap langit-langit kamar bernuansa langit sungguhan berwarna biru dan dengan goresan awan yang indah. Ia sedang berpikir tentang bagaimana perasaannya bekerja. Di saat Bina menyukai seseorang, misalnya saja Mas Tae. Bina tidak pernah merasa sebal ataupun cemburu ataupun yang lainnya saat melihat Mas Tae bersama dengan perempuan lain. Dengan semua orang yang pernah Bina sukai, juga berlaku seperti itu.  Tetapi, tidak dengan Doyi. Bina tahu pasti jika Pak Doyi dan Bu Riyah adalah rekan kerja dan sedang bersama-sama mengerjakan penelitian. Ada perasaan yang Bina tidak tahu mengapa selalu muncul setiap dirinya melihat Pak Doyi tersenyum bersama perempuan lain. Apalagi melihat Pak Doyi sangat dekat  dengan Bu Riyah, seperti di selasar perpustakaan siang tadi.  Apakah Bina benar-benar cemburu? Tapi mengapa Bina cemburu? Ah, mungkin memang benar apa yang dipikirkannya tadi. Bina hanya rindu kebersamaannya dengan Doyi. Sudah lama juga dirinya tidak tersenyum dan tertawa bersama. Bukankah wajar, bila seorang teman merasa cemburu kepada temannya yang sedang tertawa bersama temannya yang lain? Bina menutup mata dan berembus lelah. Ia kemudian mengambil ponselnya, yang ternyata masih berada di ruang obrolannya dengan Doyi, dan yang membuatnya membulatkan bola mata adalah ... Doyi sudah mengiriminya lima pesan yang membuatnya semakin membulatkan bola mata dan sudah menduga bahwa Doyi sedang tertawa di sana karena pasti Doyi mengira bahwa Bina sedang menunggu pesan dari dirinya. Doyibkadang semenyebalkan itu memang. Tetapi ya Bina tidak tahu yang sebenarnya karena ia hanya menduga. Bina lalu berjengit, duduk seketika. Doyi : Di rumah nggak, Bin? 15:35 Bin. Di rumah nggak? 15:36 Woi, diread doang. 15:37 Bin. Jalan, yuk! 15:37 Gue jemput, ya! 15:38 Hubungan Bina dengan Doyi memang sudah membaik. Jika seperti ini, tidak ada alasan bagi Bina untuk menolak ajakan laki-laki itu. Lagi pula, dirinya sudah selesai membersihkan rumah dan juga mandi. Daripada hanya melamun dan pikirannya lari kemana-mana, lebih baik Bina menerima ajakan Doyi. Siapa tahu Doyi mengajaknya pergi dan mentraktirnya jajanan yang menggugah selera. "Rapi banget, kayak mau ke kondangan," ucap Bina begitu melihat Doyi berdiri di depan pintu rumahnya. Celana jeans dan kemeja lengan panjang berwarna navy itu membuat penampilannya sangat rapi. Sangat kontras dengan Bina yang hanya mengenakan kulot dan kaus.  "Sekalian nanti ke rumah Budhe Endang." Doyi menjawab dengan sepatah kata, santai tanpa bertele-tele. "Siapa yang ngajak?" tanya Bina kemudian. Sebenarnya ia sudah tahu siapa yang mengajak Doyi untuk pergi bersama dengan mereka ke rumah budhe Endang. "Johnny." Doyi menyingkat.  "Udah ketebak, sih." "Kalau udah ketebak, ngapain tanya?" "Mastiin aja." "Oh." Doyi hanya manggut-manggut masih di depan pintu, sedangkan Bina sibuk menguncinya. Tidak heran jika Doyi juga mengenal Budhe Endang. Dulu saat anak Budhe Endang menikah, keluarga Bina ikut membantu acara pernikahan saudaranya itu yang memang tinggalnya tidak jauh, hanya dua jam perjalanan.  Saat itu Doyi yang baru saja selesai dengan Ujian Nasionalnya merengek minta ikut ke rumah Budhe Endang, katanya buat refreshing. Semenjak saat itu keluarga besar Bina jadi mengenal Doyi. Apalagi saat tahu jika Doyi sangat pandai dan mengikuti program akselerasi untuk SMP-SMA, Johnny dan sepupu-sepupunya yang lain sukses dibanding-bandingkan dengan Doyi. Jangan dikira Doyi bersikap malu-malu atau canggung. Justru Doyi yang kala itu masih remaja adalah Doyiyang paling sombong bin songong. Ia tidak segan-segan bercerita bagaimana cara dirinya bisa sampai sepintar itu. Sungguh, Johnny dan Bina pernah berencana mencuri rapor Doyi dan membakarnya, karena Doyi sering membuat kakak beradik itu dipaksa belajar oleh Mama dan Papa. Bahkan, Papa pernah meminta tolong Doyi untuk menjadi Tentor belajar Bina dan Johnny. Coba bayangkan bagaimana polah tengik Doyi saat itu. Beruntung, Bina dan Johnny tidak pernah kehabisan akal saat belajar bersama Doyi. Ada saja tingkah aneh yang dilakukan mereka, hingga berakhir membuat Doyi sebal. Sore-sore saat matahari masih terang seperti ini enaknya jajan camilan di Jl. Surabaya, tepat di sisi selatan Universitas Matahaya. Kawasan di sekitar kampus memang banyak sekali pedagang. Mulai dari warung makan ayam goreng laos, bakso dan mie ayam, hingga jus dan sejenisnya.  Motor matic berwarna putih itu sudah terparkir di pinggir jalan, bersanding dengan motor-motor lain yang sepertinya telah membuat badan Jl. Surabaya menjadi tempat parkir dadakan setiap sore hingga malam. Ditambah tepat di trotoar ini terdapat bangku panjang yang biasa dijadikan pangkalan beberapa driver ojek online. Beruntung jalan raya ini cukup lebar, sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas pengendara lain. Bina dan juga Doyi masih setia menunggu sempol ayam pesanan mereka matang. Berdiri sekitar sepuluh menit dengan matahari yang masih terik, serta helm yang nangkring di kepala adalah pemandangan yang biasa. Ada banyak alasan mengapa pembeli yang memarkir motornya tidak melepas helm. Yang pertama karena tidak mau ribet lepas-pasang helm, dan yang kedua karena takut helm mahal mereka digondol maling. Hmmm. Jangan heran, ramai-ramai begini, justru menjadi kesempatan bagi orang jahat untuk melancarkan aksinya.  "Mbaknya tadi sepuluh ribu, ya?" tanya Bapak penjual sempol. Tangannya lihai menggoreng tusuk sate yang ujungnya dibalut adonan tepung dan telur.  Bina kira Bapak penjual sempol itu berbicara padanya. Namun, saat baru saja ia akan meng-iya-kan pertanyaan bapak tersebut, mbak-mbak di sampingnya langsung menyahut. Padahal jelas sekali, di panci penggorengan hanya ada dua puluh tusuk sempol dan itu adalah pesanannya.  Bina melirik mbak-mbak itu sebentar, lalu menatap Bapak penjual sempol. "Pak, saya dulu yang datang, tahu?!" ucapnya dengan ketus, tidak terima. "Lho, saya duluan, Mbak!" jawab si mbak-mbak yang ada di sampingnya, tidak kalah ketus. Doyi mulai mengembuskan napas lelah. Memang sudah menjadi kebiasaan Bina berbicara ketus seperti itu jika antreannya direbut orang lain. "Udah biarin, Bin!" ucap Doyi berbisik di balik maskernya. "Tadi mbaknya duluan yang pesen, Mbak," ucap Bapak penjual sempol pada Bina. Mendengar itu, Bina seakan menulikkan pendengarannya, tidak mau merasa malu. Satu menit kemudian, dua puluh tusuk sempol sudah diangkat dari panci penggorengan. Lagi-lagi dengan lihai, si Bapak penjual sempol mengambil dua puluh tusuk sempol dari etalase dan mencelupkan ke kocokan telur sebelum masuk dalam panci. Setelah memastikan adonan tepung itu terendam minyak panas sepenuhnya, tangan renta itu membumbui sempol yang ia angkat tadi dan memasukkan ke dalam wadah plastik. "Sepuluh ribu kan, Pak?" ucap si mbak-mbak di samping Bina dengan wajah yang masih masam. Sebelum berbalik dan pergi, mbak-mbak itu melirik tajam kepada Bina. Tidak lupa, Bina juga membalas lirikan tersebut. "Nggak usah dilirik gitu, malu!" Doyi brrbisik  Bisikan Doyi berhasil membuat gadis itu menginjak kakinya. Ia memekik, "apaan, sih, Bin!" Keduanya kembali fokus pada panci penggorengan, mengamati setiap perubahan yang terjadi pada tiap tusuk adonan sempol. Awalnya Bina enggan sekali membeli sempol atau jajanan di pinggir jalan. Walau beberapa kali ia mengantar Ayu membeli sempol tersebut, tapi Bina tidak pernah mau mencicipi. Bukannya Bina tidak mengonsumsi jajanan pinggir jalan atau Bina sedang diet minyak. Tetapi Bina sangat yakin, kalau dirinya membeli sempol dan ternyata rasanya enak, Bina akan ketagihan dan tidak akan berhenti mengonsumsi adonan tepung goreng itu sampai dirinya merasa eneg. Seperti akhir-akhir ini, selama hampir satu bulan setiap pulang ngampus, ia selalu mampir membeli sempol ayam yang bahkan tidak terdapat rasa ayam disetiap gigitan. Bina itu suka makan. Tidak jarang jika berat badannya gampang naik. Saat tingginya hanya 157 cm, berat badannya bahkan pernah mencapai 62 kilo gram saat SMA. Namun saat kuliah, berat badan Bina menjadi gampang naik dan turun. Jika dirinya sedang stres dan banyak tugas, biasanya gadis itu akan makan lebih banyak dan berujung berat badannya yang naik. Berbanding terbalik saat sedikit tugas, Bina akan makan secukupnya tanpa ngemil dan kualitas tidurnya akan lebih baik. Hal itulah yang membuat Bina dapat menurunkan berat badannya lebih cepat walau tidak pernah kurang dari 54 kilo gram. Bagi Bina, yang penting badannya enteng, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus, dan sehat pastinya. "Terima kasih, Pak." Akhirnya sempol nikmat itu sudah berada di tangan Bina. Dua puluh tusuk itu tidak banyak, apalagi jika dimakan bersama Doyi. Malah, Bina rasa akan kurang jika mereka masing-masing memakan sepuluh tusuk. Ingin sekali gadis itu memesan lebih, tapi pasti Doyi akan melarangnya hingga muring-muring. Selain galak saat menjadi dosen, Doyoung juga galak saat menjadi Doyi, saat menjadi teman Bina. Dirinya tidak segan-segan memarahi Bina sampai gadis itu ngambek dan menangis hanya karena Bina terlalu banyak begadang untuk belajar dan mengerjakan tugas dengan camilan tidak sehat yang selalu dikunyahnya. Jika Bina mau, Bina juga ingin punya otak encer dan rajin macam Doyi, yang tidak perlu belajar dan mengerjakan tugas sampai begadang. Tapi apa daya, Bina dan ketiga sahabatnya sama-sama masuk dalam sekte sesat sistem kebut semalam. Jika belum H-beberapa jam, belum ada gairah untuk mengerjakan. Ah, itu berlaku di semua mata kuliah, kecuali mata kuliah Doyi.  "Es degan, yuk!" Tanpa aba-aba, Bina sudah menggenggam pergelangan tangan Doyi, hendak membawanya ke tenda di seberang jalan yang di sampingnya terdapat beberapa gelinding kelapa muda.  "Nyeberang itu tengok kanan-kiri! Udah tahu di deket pertigaan, nggak sabar banget!" Bina berdecih. Ia melepas genggamannya pada Doyi dengan kasar.  "Ayo." Laki-laki itu beralih menggandeng tangan Bina dan membawanya ke seberang saat dirasa sudah waktunya menyeberang. Nah, inilah yang betul. Gandengan tangan itu kalau mau menyeberang. Bukan setiap jalan selalu gandengan. Buat apa, sih? Takut digondol macan? Serius, author nanya! "Loh, Bina?" Seorang perempuan dengan kerudung cokelat muda menyapanya begitu ia dan Doyi masuk ke tenda. Sangat mudah wanita itu mengenali Bina walau sedang tidak berada di kampus, karena memang Bina cukup akrab dengannya. Apalagi tadi siang Bina dan ketiga sahabatnya sempat bertemu dan sedikit mengobrol di selasar perpustakaan. Saat ini, Bina memang menurunkan maskernya, berbeda dengan Doyi yang sebagian wajahnya tertutup masker. "Eh, Bu Riyah. Beli es degan juga?" tanya Bina dengan ramah, sedangkan laki-laki di sampingnya agak menjaga jarak, tidak mau jika Bu Riyah mengenalinya. "Kamu tolong beli cilok di sana, ya?" ucap Bina pada Doyi yang terlihat kaku. Langsung saja Doyi pergi dari sana, berjalan menuju tukang cilok dengan perasaan lega. Bina sangat paham dengan apa yang sedang dipikirkan Doyi. Tidak ada seorangpun yang tahu jika Bina dan Doyi adalah teman sejak kecil. Bahkan ketiga sahabatnya sekalipun. Sore ini saat mereka tidak sengaja bertemu dengan Bu riyah di tenda es degan, Bina sangat tahu jika dirinya harus segera menyuruh Doyi menghindar dari Bu Riyah. "Sama pacar ya, Bin?" goda Bu Riyah dengan senyum yang mengembang yang menambah rasa cantik yang terpatri di wajah mulusnya tanpa jerawat dan flek hitam tersebut. "Ah, enggak, Bu!" jawabnya dengan senyum mengembang, malu-malu. "Bu Riyah nggak sama pacar?" Bina balik menggoda. Bu Riyah hanya meringis, tidak menjawab. "Pasti pacar Bu Riyah ganteng. Kalo nggak dosen, pasti pegawai bank. Iya, kan?" ucap Bina asal. Walau dirinya cukup akrab dengan Bu Riyah, tetapi Bina bukanlah gadis yang pandai membuat obrolan, dan entah kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. "Ngawur kamu. Saya duluan, ya!" Satu plastik es degan mengakhiri berbincangan singkat Bina dan Bu Riyah yang langsung pergi.  Tidak lama, Doyi sudah kembali dengan plastik berisi beberpa butir cilok mandi saus kacang. Dirinya langsung duduk di bangku yang  disediakan sambil sesekali melirik keluar. "Udah pergi, ya? Deg-degan gue," ucapnya dengan bahu yang merosot, lega. "Kenapa deg-degan?" tanya Bina penasaran. Sebenarnya hatinya yang pensaran mengapa Doyi sampai menghindari Bu Riyah. Tentu saja, karena dia sedang bersama dengan Bina.  "Ya kalau dia tahu gue jalan sama lo, kan nggak lucu?" ucap Doyi spontan  Bina termenung mendengar ucapan Doyi. Nggak lucu? Kenapa harus 'nggak lucu'? "Emang harus gimana biar lucu?" ucap Bina, datar dan pelan. "Hah? Gimana, Bin?" Saat itu perasaan Bina semakin bertanya-tanya mengapa sampai segitunya Doyi bersembunyi agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dirinya alias Bina adalah teman dan sahabat dari Doyi. Tetapi, seharusnya Doyi tidak perlu berkata perkataan yang bahkan membuat hati Bina merasa sedih.  Sebenarnya, Bina juga tidak mau kucing-kucingan seperti ini jika bertemu dengan orang yang mengenal Doyi sebagai dosen dan saat Doyi kebetulan sedang bersama Bina. Bina sungguh sedih. Ia berusaha menguatkan hatinya untuk tidak memasukkan semua ini ke dalam perasaannya dan hanya menganggap jikalau hal ini adalah hal yang biasa.  Doakan saja. Semoga memang Bina tidak baper dengan ucapan Doyi yang memang menyakitkan.  Bina berharap, cepat atau lambat Doyi bisa terbuka bahwa dirinya adalah teman dan sahabat dari Bina.  Karena pada akhirnya, cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan tahu yang sesungguhnya jikalau Pak Doyi sang dosen galak adalah seorang sahabat dari Bina Sabrina yang membuatnya selalu emosi jika bertemu. Sekarang, Bina dan Doyi sudah kembali ke motor dan mereka akan pulang saja untuk menikmati es degan dan juga Sempol sebelum Sempol lezat nan nikmat tersebut menjadi dingin dan alot. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN