Perpustakaan

1844 Kata
Gedung perpustakaan Universitas Matahaya adalah satu-satunya gedung yang masih mempertahankan arsitektur kunonya. Gedung ini bercat dominan cokelat dan oren, dengan pilar bundar berlapis kayu klasik yang menjulang sampai lantai tiga, pun dengan tegel sebagai lantainya dan juga rak-rak buku yang terbuat dari kayu tua. Jangan anggap remeh penampilan klasik Perpustakaan Universitas Matahaya. Biarpun tampilannya usang, namun teknologi di perpustakaan ini sudah secanggih Perpustakaan Indonesia yang berada di Ibu Kota.  Pintu yang terbuat dari kaca tebal itu otomatis terbuka saat Bina dan ketiga sahabatnya itu muncul di baliknya. Mereka baru saja selesai mengembalikan buku yang mereka pinjam yang di peraturannya tertera peminjaman selama maksimal dua puluh delapan hari kerja. Jika melebihi hari yang ditentukan tersebut, maka bersiap saja terkena denda sebesar lima ratus rupiah untuk satu hari keterlambatan. Namun tidak dihitung setiap akhir pekan, yaitu hari sabtu dan minggu. Seperti siang ini. Haekal terlihat sangat lesu, padahal dirinya baru saja menjadi tersangka yang paling banyak melahap kue pandan buatan Bina. Itu semua karena ia harus merelakan uang jajannya satu hari untuk membayar denda keterlambatan pengembalian buku selama lima puluh dua hari kerja, atau senilai dua puluh enam ribu rupiah. Ia mengembuskan napasnya lemah sebelum akhirnya membanting kepala pada bahu Bina. Bina tidak tinggal diam. Ia yang sedikit terkejut, langsung menghindar, dan sudah pasti pemuda yang terlihat sangat kasihan itu terjungkal. Buahahahahaha Sakitnya sih tidak seberapa, tetapi malunya itu lho. Walau sudah musim liburan, tetapi tetap saja perpustakaan selalu ramai. Apalagi di selasar, bukan hanya mahasiswa yang numpang Wi-Fi, namun beberapa dosen juga sering terlihat bercengkerama di sana. "Kal. Maaf!" Bina yang merasa bersalah itu membantu Haekal untuk bangkit. Sekuat tenaga, gadis itu menahan tawanya agar tidak pecah. "Lo, sih, pake sender-sender segala." Bina juga membantu Haekal membersihkan kemejanya yang terkena debu. Namun tetap saja sambil mengomeli pemuda itu. "Jahat, kalian semua. Ketawa di atas penderitaan gue!" "Yaelah, Kal. Mending elo cuma dua puluh enam ribu. Lo inget, nggak. Gue sampai habis sejuta!" ucap Bina sambil mengingat kesialannya pada semester dua. Dimana ia tidak sengaja meninggalkan buku yang ia pinjam dari perpustakaan di gazebo Fakultas Teknik. Sudah beberapa hari Bina dibantu ketiga sahabatnya itu mencari-cari buku Financial Accounting edisi IFRS seberat lebih dari satu kilo itu. Namun, tidak kunjung mereka temukan. Yang lebih parahnya, harga asli buku tersebut sama dengan harga sewa kamar kost Mark selama dua bulan. Ditambah, Bina yang harus membayar denda keterlambatan lebih dari satu bulan karena ia harus mengumpulkan uang jajannya. Jika mengingat cobaan yang pernah menimpanya tersebut, rasanya ingin sekali Bina menjambak rambut Miss Linda, dosen PAnya. Sebab, setelah satu minggu Bina mengganti buku yang hilang tersebut, Miss Linda baru memberitahunya jika selama ini buku yang hilang tersebut ada di meja kerjanya. Kata beliau, seseorang dari Fakultas Teknik datang ke FEB hanya untuk mengembalikan buku tersebut. Tidak hanya Miss Linda yang membuatnya sebal saat itu, tetapi juga si anak Teknik yang mengembalikan buku tersebut. Harusnya, si anak Teknik langsung mengembalikan di Perpustakaan, bukannya malah ke FEB. Selalu saja sumpah serapah ia lontarkan untuk Miss Linda dan si anak Teknik itu. Menurutnya, lebih baik buku tersebut tidak pernah ditemukan karena pada akhirnya buku tersebut hanya mendekam dalam kardus di bawah ranjang Bina. "Sebel gue sama Miss Linda! Ih, nyebelin!" Mereka sudah mendapatkan tempat duduk di selasar perpustakaan, namun Bina masih saja uring-uringan. "Tapi gue nggak bisa bener-bener sebel sama beliau!" Kemudian Bina merengek. Ketiga temannya, Haekal terutama, memberikan tatapan aneh bin mangkel. "Ehem. Mahasiswa jaman sekarang, kerjaannya cuma gosipin dosen, ya!" Keempatnya menoleh dan seketika membisu. Hanya Haekal yang berani meringis melihat ekspresi datar seseorang yang berucap tadi, sedangkan perempuan yang ada di sampingnya tersenyum simpul menatap mereka berempat. "Saya bilangin ke Miss Linda, lho," goda perempuan tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bu Riyah, dan yang ada di sampingnya adalah Pak Doyiㅡsang dosen muda yang terhormat dan terkenal galak seantero Negeri Matahaya. "Yah, jangan dong, Bu. Saya tadi cuma bercanda. Saya juga nggak bisa sebel sama Miss Linda." Bina menatap Bu Riyah dengan binar permohonan. Bu Riyah kembali terkekeh, sedangkan Pak Doyi dengan susah payah menahan bibirnya yang sangat ingin tersenyum. s**l, Bina lucu sekali saat memasang wajah seperti itu. Pak Doyi jadi tidak sabar untuk mengejeknya nanti setelah berada di rumah. Demi menahan senyumnya yang selalu ingin mengembang, beberapa kali laki-laki itu sengaja mengalihkan pandangannya ke layar laptop dan sesekali menyeruput es kopinya. "Pak Doyi keliatan gusar gitu. Kalo mau ketawa ya ketawa aja, Pak. Nggak usah ditahan. Nanti keselek!" Uhukkk "Kan, bener, keselek. Hahaha." Haechan tetap tertawa puas, walaupun tatapan setajam elang itu sudah dipancarkan oleh Pak Doyi. Jika tadi Pak Doyi ingin segera mengejek Bina, hal itu juga yang sekarang sedang Bina rasakan. "Pak Doyi galak, inget, woy!" bisik Bina tepat di telinga Haekal. Bukannya berhenti menggoda dosennya yang super galak, Haekal justru mengulangi perkataan Bina dengan lantang. "Ha, apa? Pak Doyi, galak?" Bina langsung mendelik di balik punggung Haekal. Sumpah demi tujuh manusia tampan yang lebih menarik perhatiannya ketimbang Wi-Fi perpustakaan, Bina ingin sekali menimpuk kepala Haekal menggunakan batu yang ada di taman. Andai saja bebatuan di taman mudah ia raih tanpa harus berjalan, sudah pasti Bina akan penjadi tahanan. "Walaupun Pak Doyi keliatan galak, tapi aslinya itu Pak Doyi emang galak." Kini Mark mengambil alih percakapan. Ayu dan Bina, apalagi Haekal, tidak pernah menyangkan jika jokes Mark sereceh jokes bapak-bapak di grup sss. Buahahahahhaha "Sst, sudah. Nggak baik ngomong kayak gitu." Bu Riyah menengahi. Ah, kenapa Bu Riyah terlihat sangat anggun dengan jilbab cokelat mudanya itu? Apalagi saat Pak Doyi tersenyum setiap kali Bu Riyah berbicara, membuktikan bahwa perempuan itu memang sungguh anggun. "Eh, omong-omong, Pak Doyi sama Bu Riyah berduaan aja, lagi pedekate, ya?" Tolong ... hanya Haekal yang berani berkata seperti itu, ditambah dengan kerlingan matanya yang membuat Bina, Ayu, dan Mark seolah ingin muntah. "Saya lagi bahas penelitian sama Bu Riyah. Kalian pulang saja sana kalau tidak ada kerjaan. Mengganggu saja." "Padahal yang bikin kita berempat noleh, ya elo." Bina berniat mencibir Pak Doyi. Tetapi karena sapaan yang digunakan Bina untuk Pak Doyi sangat tidak sopan, gadis itu langsung mendapat pelototan dari ketiga temannya. Jangan lupakan juga pelototan Pak Doyi yang mematikan. Dan untuk Bu Riyah, beliau hanya geleng-geleng kepala mendapati tingkah laku mahasiswa masa kini. "Awalnya bahas penelitian, endingnya bahas pelaminan. Uhuyy!" Plakk Plakk Plakk Cepokk Tiga kali Haekal mendapat tamparan dari Bina di lengan kanannya. Sontak pemuda itu mengaduh kesakitan. Tidak sampai di situ, kepalanya juga berhasil terkena lemparan kotak pensil milik Pak Doyi. "Pak Doyi, Bu Riyah. Maaf, saya agak terlambat." Seorang wanita berjilbab biru datang dan langsung duduk di bangku yang masih kosong. Ia sejenak membenarkan ujung jilbabnya yang sedikit melorot, lalu buru-buru ia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Bina, Ayu, Haekal, dan Mark yang menyadari kedatangan wanita tersebut langsung memutar badan. Mereka semua berharap semoga saja Miss Linda tidak menyadari keberadaan mereka di sana. "Miss Linda nyebelin!" celetuk Bu Riyah. Miss Linda yang mendengar itu langsung mendongak, menatap Bu Riyah yang ternyata sedang senyum-senyum. "Aduh, Bu Riyah. Maaf, deh. Tadi suami lupa isi bensin. Terus kita mampir ke SPBU, eh malah antre." "Empat mahasiswa kita yang bilang Miss Linda itu nyebelin." Bu Riyah mengkode Miss Linda dengan menatap empat mahasiswa yang ada di depan mereka. Miss Linda yang penasaran pun akhirnya memperhatikan dengan betul masing-masing dari keempat mahasiswanya itu. "Lho, Haekal." Haekal sedang kurang beruntung, karena Miss Linda bisa mengenalinya dengan cepat. Haekal lalu berbalik tak lupa menampakkan deretan giginya. "Pasti yang lain itu Bina, Ayu, sama Mark?" Tebakan Miss Linda sangat tepat. Sebagai dosen PA (Pembimbing Akademik), Miss Linda memang sudah seperti wali kelas mereka. Apapun masalah yang berkaitan dengan urusan kampus atau non kampus, Miss Linda selalu terbuka untuk mendengarkan keluh kesah para mahasiswanya, dan mereka adalah empat mahasiwa yang paling akrab yang sering berbagi cerita berasamanya. Tidak heran, semenyebalkan apapun Miss Linda, Bina dan ketiga sahabatnya tidak bisa berlama-lama merasakan sebal. Empat mahasiswa itu sudah saling hadap dengan tiga dosennya. Pak Doyi selaku dosen AKM 3, Bu Riyah selaku dosen Pengantar Bisnis di semester 2 tahun lalu, dan Miss Linda selaku dosen PA. "Kalian kenapa sebal sama saya. Hayo, cerita?" pinta Miss Linda. Yang pasti, Miss Linda adalah tipe dosen yang tegas namun tidak galak. Aura Miss Linda sangat memancarkan aura keibuan, walaupun usia Miss Linda satu tahun di bawah Pak Doyi dan Bu Riyah. Jangan heran, FEB adalah gudangnya dosen muda yang sangat luar biasa. "Biasalah, Miss. Masalah buku," celetuk Haekal begitu saja. Seketika pemuda itu mengaduh saat cubitan maut Bina berhasil meninggalkan bekas biru pada kulit perut sebelah kanan. "Maafin saya ya, Bina. Harusnya langsung saya serahin ke pihak perpustakaan. Tapi kan sehari setelah itu saya cuti satu bulan." "Nggak papa kok, Miss. Saya ikhlas." Jika dalam kondisi seperti ini, Bina yakin seratus persen bahwa dirinya sudah ikhlas. Tapi tidak tahu jika nanti, mungkin dirinya akan uring-uringan lagi. "Cuti nikah sama Pak Taeil itu ya, Miss?" Haekal berulah lagi, menggoda dengan kerlingan mata. "Cutinya lama, yang sekalian honeymoon ke pulau Nusa Kambangan, kan? Eh, Nusa Penida." Plakk Plakk Plakk Bukan. Bukan Haekal yang terkena tamparan. Tapi Mark. Dua tahun bersahabat dengan Haekal, berhasil membuat Mark yang kalem menjadi Mark yang pecicilan. Tunggu, Bina dan Ayu memang menampar lengan Mark. Tapi satu tamparan lain bukan dari Haekal, melainkan dari Miss Linda secara langsung. "Kamu kira saya napi?" Miss Linda memasang wajah cemberut. "Jangan cemberut gitu dong, Miss. Nanti cantiknya ilang." "Ye, dasar, lo." Plakk Aduhh Bina memukul bagian belakang kepala Haekal. "Sudah. Haekal, nggak baik ngomong gitu sama dosen!" "Pak, Pak Doyi dari tadi diem aja. Kepengen honeymoon kayak Miss Linda, ya?" "Diam kamu, Haekal!" Haekal diam? Ah, mustahil. "Bu Riyah, kapan nih diresmiin?" Lagi-lagi Haekal menggoda. Belum sempat ditanggapi oleh Bu Riyah, Pak Bulanㅡsuami Miss Linda datang dengan sebuah rantang tupperware. "Bunda, camilannya ketinggalan," ucapnya sambil meletakkan rantang itu di atas meja. "Cie yang bucin, panggilnya bunda-bunda, dong!" Astagfirullah, Haekal. Rasanya sulit sekali bagi Pak Doyi menahan kesabaran untuk tidak menonjok bocah petakilan di depannya itu. Pak Bulan yang tidak mengenal empat mahasiswa itu langsung tersenyum malu, apalagi mereka tidak berhenti mencie-cie dirinya dan sang istri. "Maaf nih, Pak. Tolong jangan nebarin ke-uwu-an di sini. Kasian kita-kita yang jomlo. Apalagi Pak Doyi, tuh." Haechan menunjuk Pak Doyi dengan tatapannya. "Kok saya, sih?" Pak Doyi tidak terima. Ia sampai menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa ingin menonjok Haekal. "Yasudah. Pak Doyi, Bu Riyah, saya pamit, ya. Bunda, ayah pamit. Dan kalian ...." Kalian yang dimaksud adalah Bina, Haekal, Ayu, dan Mark. "Jangan kelamaan ngejomlo, dadah." "Pak Doyi tuh yang kelamaan ngejomlo. Terakhir putusnya sama tali pusar!" Haekal berteriak sesaat setelah Pak Bulan melenggang dari sana. Ucapannya itu sangat berhasil menarik perhatian setiap orang yang mendengarnya. Pletukk Mantap. Akhirnya bolpoin milik Pak Doyi berhasil mendarat dengan sempurna di pelipis Haekal dan tentu saja membuat pemuda itu otomatis mengaduh. Sedangkan sisa manusia yang ada di sana berhasil dibuat tertawa oleh kelakuan Pak Doyi dan Haekal yang sangat lucu. Cuaca siang yang terik otomatis berubah sejuk karena bercakapan dan bercandaan mereka. Satu lagi hal yang harus disyukuri, yaitu bhagia dengan tertawa dan tersenyum karena hal-hal sederhana yang tercipta oleh orang-orang terdekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN