Perihal mencintai, Bina adalah tipikal perempuan yang sangat-sangat mudah jatuh cinta, namun juga sangat mudah bosan dengan laki-laki yang dicintainya. Jika bulan ini Bina merasa jatuh cinta dengan Mas-mas Teknik Sipil, bisa jadi bulan depan Bina akan jatuh cinta dengan Dedek gemes Pendidikan Biologi. Bahkan tidak terkadang Bina tidak membutuhkan waktu selama satu bulan untuk berganti-ganti dengan siapa ia jatuh cinta. Bina juga tidak paham dengan apa arti cinta yang sesungguhnya. Yang Bina tahu, jika jantung Bina berdesir setiap melihat laki-laki tampan dan senyumnya seketika mengembang, berarti ia sedang jatuh cinta. Namun, yang Bina tidak paham, mengapa dirinya merasakan hal itu hampir setiap bulan kepada laki-laki yang berbeda, yang bahkan tidak dikenalnya? Sedangkan dengan laki-laki yang ia kenal saja Bina tidak pernah merasakan degub jantung seperti saat ia bertemu dengan laki-laki yang dicintainya.
Apakah Bina adalah remaja labil? Tetapi Bina sudah lebih dari dua puluh satu tahun, yang artinya ia sudah tidak lagi remaja, tetapi sudah beranjak dewasa yang harusnya ia sudah paham apa itu cinta yang sesungguhnya.
Atau ini memang kehendak Tuhan agar Bina tidak pernah berpacaran dan langsung dipertemukan dengan laki-laki yang benar-benar mencintainya sehidup semati? Semoga saja Tuhan berkehendak baik padanya dan juga laki-laki yang akan menjadi pasangannya kelak.
Tapi, masalahnya ... Apakah Bina bisa hanya mencintai satu laki-laki sepanjang hidupnya nanti?
Atau mungkin akan ada laki-laki yang benar-benar memperjuangkannya walau Bina sudah tidak mencintainya?
Ah, terserah. Bina sedang tidak mau memikirkan laki-laki untuk mengisi hatinya di masa depan. Yang pasti, perempuan itu sudah duduk manis di gazebo Fakultas Teknik, tepat di depan kafetaria. Ia hanya sendirian, masih menunggu Ayu, Mark, dan Haekal yang sejak tadi tidak muncul juga. Kebangetan memang tiga anak Curut itu, Bina biasa mengumpati mereka dengan u*****n anak Curut jika ketiga sahabatnya itu membuatnya kesal. Walau Bina paham hal itu tidak bisa dibenarkan, tetapi memang mereka sangat menyebalkan.
Walau dirinya bukan anak Teknik dan Fakultas Teknik cukup jauh dengan FEB, tetapi Bina merasa sudah sangat akrab dengan lingkungan di sekitar Fakultas Teknik. Bagaimana tidak, hampir setiap ada waktu luang, Bina bersama BHAM Squad nongkrong di gazebo ini. Menurut mereka, tempat paling nyaman di kampus memang gazebo Fakultas Teknik. Tempatnya tepat di samping kafetaria, rumput hijau jadi alasnya, dan juga pepohonan rindang menyejukkan dari udara yang panas. Jangan lupakan, kecepatan Wi-Fi di Fakultas Teknik adalah yang paling poll. Huh, terkadang Bina tidak habis pikir kenapa hanya WiFi di sini yang sangat lancar, sedangkan di tempat lain di kampus ini Wifi-nya terkadang lemot. Padahal, mereka juga sama besarnya dalam membayar uang kuliah. Hal ini adalah sisi lain menyebalkannya universitas Matahaya.
Tetapi, ada satu hal yang tidak disukai Bina jika dirinya hanya sendirian menempati gazebo yang cukup besar ini. Tidak apa jika ada mahasiswa lain yang satu gazebo dengannya walau tidak pernah saling sapa, tidak apa juga jika ada mahasiswa yang sekadar bertanya asalnya darimana. Itu tidak pernah jadi masalah. Namun, yang paling menyebalkan adalah jika ada mas-mas Teknik yang duduk di gazebo yang sama dengannya, di sampingnya atau saling membelakangi, dan mas-mas itu menyesap rokok hingga asapnya menusuk lubang hidung. Jika sudah seperti itu, Bina hanya bisa mengalah dan pergi dari sana. Atau kalau Bina sedang tidak ada tempat lain, Bina hanya bisa menutup hidung dengan masker, atau jika ia sedang tidak membawa masker seperti sekarang, ia hanya pasrah dengan mengibaskan tangan di depan wajah. Terkadang juga, ia menyindir orang yang merokok tersebut dengan cara ia berpura-pura terbatuk batuk hingga si perokok tersebut merasa dirinyalah penyebab Bina terbatuk, lalu perokok tersebut akan pergi menjauh dari Bina dan Bina akan tersenyum penuh kemenangan tetapi dengan hati yang tetap saja merasa sebal.
"Bina!"
Akhirnya ketiga cucurut itu muncul juga. Ayu, Mark, dan Haekal.
"Asyik. Yang kemarin ulang tahun, sekarang bawain kue," ucap Haekal yang langsung membuka kotak makan Bina. Matanya langsung berbinar melihat potongan-potongan kue dengan aroma pandan yang dibawa Bina.
"Kalian lama amat. Dari mana?" Bina berucap dengan sebal. Ia sampai mengerucutkan bibirnya monyong-monyong.
"Maaf, Bin. Kita tadi janjian dulu mau surprisein, lo." Ayu duduk di samping Bina dan tidak lupa juga mengintip kotak makan yang sudah berada di tangan Haekal.
"Terus?"
"Terus nggak jadi. Bingung mau surprisein apa," ucap Haekal dengan mulut penuh. Ternyata ia sudah memakan sepotong kue tersebut sekali lahap.
"Iya, Bin. Maaf, ya. Nggak papa nggak ada surprise. Yang penting kan doanya." Mark beralih, ikut mencomot kue yang sudah habis separuh.
"Woi, kalo mau ngerokok jangan di tempat umum, dong!" Mulutnya memang penuh, tetapi suara Haekal bisa di dengar dengan jelas oleh semua orang.
"Hush, diem lo, Kal!"
"Auuuh." Cubitan maut Bina berhasil membuat Haekal kesakitan dan langsung menggosok lengannya.
Niat hati ingin menegur mas-mas yang merokok, sekonyong-koyong Bina menendang tulang kering pemuda itu. Haekal kembali mengaduh sambil mengusap-usap tulang keringnya. Jangan lupakan, mulutnya masih penuh dengan kue.
"Jangan keras-keras. Nggak enak." Bina berucap pelan, ia juga melayangkan tatapan tajamnya pada Haekal yang dirasa tidak sopan telah berbicara seperti itu apalagi di depan umum seperti ini.
"Ya gimana, ya. Asap rokoknya kemana-mana," balas Haekal dengan santai, tetapi dengan nada yang lebih menyindir. Mata Bina kembali melebar, mengisyaratkan agar Haekal segera diam.
Tidak lama setelah mendengar ucapan Haekal, mas-mas itu pergi begitu saja. Sepertinya mas-mas itu sangat sadar bahwa dirinya sedang disindir oleh pemuda yang suaranya terdengar nyaring itu. Syukurlah kalo memang dia benar-benar tersindir.
"Kan, kan. Masnya pergi. Awas, nanti kamu dislepet kalo ketemu di jalan," ucap Mark menggoda Haekal tidak lupa dengan menjulurkan lidahny.
"Gue tim Haekal deh kali ini." Ayu berucap pasti. Begitu Haekal mendengarnya, pemuda itu langsung menyuapi Ayu secuil kue pandan sambil manyun-manyun merasa menang dan juga melirik pada Mark yang sudah menatapnya jijik seperti ingin muntah.
"Tapi tetep aja kan, nggak enak ngomong kaya gitu." Bina masih merasa tidak enak dengan perilaku Haekal yang berhasil membuat mas-mas itu pergi dari tempat duduknya.
"Nggak enakan aja terus, sampai lo asma," celetuk Haekal sekenanya. Ia juga sebal dengan sifat tidak enakan yang bisa saja membuat siapapun yang memiliki sifat itu akan terus ditindas.
Plakkk
"Jahat banget lo, Kal!" Bina menampar lengan kanan pemuda itu, tetapi tidak sampai membuatnya merintih.
"Plislah, Bin. Setiap warga negara itu berhak ngehirup udara bersih. Kalo kita biarin mas-mas itu ngebul di sini, sama aja kita biarin hak-hak kita dirampas." Pemuda itu berucap saagat serius. Mark dan Ayu mengangguk, menyetujui ucapan Haekal yang ada benarnya dan memang benar dalam kenyataannya.
"Tapi kan di sini nggak ada tulisannya dilarang merokok." Bina masih mengelak, masih merasa bahwa tindakan Haekal tadi tidak sepenuhnya benar.
"Disini juga nggak ada tulisannya dilarang membunuh."
"Apaan sih, Kal? Kok malah bahas bunuh-bunuhan? Emang siapa juga yang mau jadi pembunuh?" Bina mulai bingung dengan yang dimaksud Haekal yaitu tentang dilarang membunuh.
"Bisa jadi mas-mas tadi." Haekal berucap dengan santainya dengan mengunyah kue pandan yang tersisa sedikit.
"Hush. Kalo ngomong itu dijaga mulutnya!"
"Merokok membunuhmu."
Bina kemudian terdiam. Menimang-nimang, benar juga apa yang dikatakan Haekal. Namun tetap saja, menurutnya, cara Haekal menyampaikan itu yang salah. Harusnya Haekal menegur dengan sopan mas-mas itu. Jangan main sindir-sindir saja. Tetapi, biasanya kalau ditegur, orang-orang ada yang sadar, tetapi ada
"Eh, Bin. Kamu tau nggak siapa mas-mas yang ngerokok tadi?" tanya Mark kemudian.
"Siapa?"
"Mas-mas tata boga. Mas Tae."
"Oh."
Ayu terheran, "oh, aja?"
"Terus, gue kudu bilang wow gitu?"
"Kayaknya seminggu yang lalu, lo bilang ke kita kalo lo suka sama Mas Tae, deh." Ayu masih terheran, pun dengan Mark. Sedangkan Haekal tidak peduli dan memilih menghabiskan kuenya hingga tiada sisa.
"Kan itu seminggu yang lalu. Sekarang udah enggak," jawab Bina santai. Ayu dan Mark hanya bisa menggeleng mendengar jawaban Bina yang lagi-lagi sama seperti beberapa waktu lalu saat Bina menyukai mas-mas dari FMIPA.
Semuanya geleng-geleng kepala. Ayu, Mark, dan Haekal. Selama dua tahun terakhir mengenal Bina, mereka belum pernah sama sekali mendapati Bina suka dengan seseorang melebihi satu bulan. Pun dengan cerita apakah Bina pernah berpacaran atau tidak. Bina selalu mengalihkan pembicaraan jika ditanya tentang pacar. Bahkan, dengan percaya diri, Bina akan bilang kalau dirinya adalah calon pacar dari laki-laki yang sedang disukai Bina, Mas Tae salah satunya. Namun, rupanya Bina sudah hilang rasa dengan Mas Tae, padahal dirinya belum juga berkenalan. Huh, Bina si gadis aneh.
"Kalian beneran bakal pulang kampung?" tanya Bina saat semua temannya sedang menikmati kue pandan yang tinggal sedikit. Pasalnya, liburan semester sudah tiba dan memang sudah menjadi hal wajar untuk pulang ke kampung halaman.
Mark menyeruput teh hangat yang ia pesan di kafetaria, lalu ia mengangguk. "Yang pasti aku bakal pulang ke Solo. Masa iya, libur tiga bulan tapi aku nggak pulang."
Bina beralih ke Ayu. "Kalo lo, Ay?" Tampang Bina sudah bersedih karena sudah pasti Ayu akan pulang kampung.
"Jawabannya udah diwakilin Mark," singkat Ayu. Benar saja apa yang sudah diduga Bina sebelumnya.
Mungkin ini bukan kali pertama Bina akan berpisah dengan teman-temannya selama tiga bulan. Mereka sudah melalui masa-masa itu di semester dua. Tetapi, namanya waktu terus berjalan, pertemanan mereka semakin rekat. Yang tadinya hanya membicarakan masalah pelajaran, sekarang mereka sudah semakin percaya satu sama lain untuk membicarakan tentang masalah pribadi.
Setiap hari, setiap ada masalah, mereka saling berbagi, mereka saling menguatkan, saling menasihati, atau malah balik curhat dan bersambat. Pokoknya, mereka sudah sangat akrab sekali.
Yang Bina tahu, tidak ada yang tidak Bina ketahui tentang ketiga temannya itu. Dan sebaliknya, yang ketiga temannya tahu, tidak ada yang mereka tidak tahu tentang Bina. Tetapi tetap, hal pribadi yang mereka ketahui masih sebatas hal pribadi yang wajar untuk dibagi bersama teman. Ralat, mereka sudah seperti saudara beda orang tua. Sangat dekat sekali.
"Syut, syut." Haekal bersyut memberi ketiga temannya kode. Matanya mengarah pada dua orang yang sedang berjalan di depan gedung Fakultas Teknik.
Bina, Ayu, dan Mark langsung mengikuti kemana arah pandang Haekal.
Seorang laki-laki dan perempuan, sedang berjalan bersebelahan, tanpa jarak yang berarti. Keduanya juga terlihat akrab karena sedang membicarakan sesuatu hal.
Sang perempuan sesekali tekekeh, tidak lupa menutupi mulut setiap kekehannya, membuatnya semakin anggun. Sedangkan sang laki-laki, tersenyum meringis memperlihatkan deretan gigi dan gusinya. Aw, terlihat sangat tampan sekali.
Bina yang melihat itu hanya menggeming. Ia tidak menanggapi apa-apa selain masih menatap mereka berdua, pun dengan Ayu dan Mark. Ia tidak mau mengurusi apapun yang dalam kenyataannya bukanlah urusannya.
"Pak Doyi yang galak plus judesnya minta ampun, ternyata bisa ketawa gitu ya kalau deket sama Bu Riyah ya." Ucapan Haekal mendapat persetujuan dari mereka, kecuali Bina.
Gadis itu masih menatap Pak Doyi dan Bu Riyah yang sudah berlalu. Melihat Doyi secerah itu sungguh membuat Bina rindu saat dimana dirinya dan Doyi bisa bercanda tanpa ada rasa canggung atau rasa sebal sekalipun. Rasanya, kini Bina sedikit iri dengan Bu Riyah. Karena pada kenyataannya Pak Doyi dan dirinya sempat mengalami perang dingin alias bermusuhan walau tidak pernah ada kata 'kita musuhan'.
"Apa cuma gue sih, yang nggak sebel sama Pak Doyi?" celetuk Haekal, sontak membuat teman yang lainnya mengangguk, kecuali Bina Sabrina.
"Gue juga nggak sebel kok. Emang siapa yang bisa sebel sama Pak Dosen ganteng macam Pak Doyi." Pipi Ayu memerah, ia menyunggingkan senyum menatap punggung Pak Doyi yang semakin menjauh.
"Kalo kamu, sebel sama Pak Doyi, Bin?" tanya Mark melirik pada Bina.
"Ha?" Bina tergupuh mendengar pertanyaan dari Mark. Beberapa hari yang lalu memang Bina sangat sebal dengan Pak Doyi. Tetapi, kesebalan itu seolah sirna saat Bina tahu yang sebenarnya dan sekarang ia sudah tidak sebal lagi pada Pak Doyi ataupun Doyi, tetangganya sekaligus sahabatnya.
"Oiya. Kamu belum cerita. Kenapa pas habis protes nilai sama Pak Doyi, kamu langsung cabut aja?" tanya Mark lagi yang sebenarnya tidak membuat Bina terkejut.
"Kecepirit mungkin." Haekal memang mulut ember, apa saja yang ia pikirkan pasti akan dilontarkan.
Plakkk
Akhirnya, lagi-lagi lengan Haekal terkena tamparan dari Bina. Tidak sampai disitu, Bina juga mencubitnya. Haekal sudah kebal, ia tidak merintih kesakitan seperti biasanya. Sepertinya, untuk kali ini saja, entah nanti.
Walau mereka berempat selalu saling terbuka, tetapi Bina sama sekali tidak pernah bercerita bahwa Pak Doyi adalah tetangganya yang bahkan sangat akrab dengannya. Bina rasa, hal itu memang tidak perlu untuk diceritakan kepada mereka. Karena hal itu tidak lah pernting bagi kehidupan persahabatan oleh BHAM Squad.
"Jadi kenapa, Bin?" Tanya Ayu yang rupanya juga penasaran mengapa kemarin saat protes nilai, Bina mendadak pergi dan tidak memedulikan Ayu dan Mark.
"Gue lupa kalo gue datang sama lo berdua." Bina berusaha menjawab dengan sesantai mungkin.
Ketiga sahabatnya itu hanya mengembuskan napas dan tidak mau membahasnya lagi jika memang Bina tidak mau terbuka untuk menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Sepertinya mereka sangat paham, jika sesuatu sudah terjadi pada Bina saat dirinya protes beberapa hari yang lalu.
Haekal yang ada di samping Bina, menatapnya dengan sendu. Pemuda bertampang menyebalkan itu justru terlihat yang paling prihatin sekarang. "Nggak papa deh, Bin. Kalau emang lo dapetnya D, lo bisa ulang lagi tahun depan." Ia berharap ucapannya bisa mengembalikan semangat sahabatnya tersebut.
Bina berembus lelah. "Udahlah, nggak usah di bahas lagi. Lagian emang seharusnya ngulang tahun depan, hey!" Entah mengapa, ia menjadi merasa sebal setiap teringat dengan nilai D AKM 3nya.
"Mungkin ini emang yang terbaik. Tuhan nggak mau lo lulus dengan nilai A atau B, padahal lo nggak paham sama materinya. Berarti, Pak Doyi sayang sama lo." Kini Ayu yang berucap. Langsung saja tatapan Haechan beralih pada Ayu.
"Loh, kok jadi Pak Doyi sayang sama Bina?" seketika Haekal memprotes perkataan Ayu.
"Maksud Ayu, berarti Pak Doyi nggak akan ngebiarin mahasiswanya lulus tanpa ilmu." Mark berusaha membela Ayu yang sebenarnya ia juga memiliki pikiran yang sama seperti apa yang dipikirkan Ayu. Lalu diikuti anggukan oleh gadis itu.
"Harusnya Pak Doyi nggak lulusin mereka yang nggak paham juga, dong!" Bina berucap menggebu dan sempat memukul bangku tempatnya duduk. Ia baru sadar, jika teman-temannya yang lain yang tidak paham materi AKM 3 diluluskan, berarti Pak Doyi bukanlah dosen yang adil, sekalipun beliau memakai nilai keaktifan untuk nilai plusnya.
"Dimana-mana orang pinter itu ya karena mereka paham sama materinya. Bukan karena mereka bersikap baik!" Bina masih berceloteh tentang keksalannya. ia merasa Pak Doyi sangat tidak adil.
Ketiga temannya bingung menatap Bina. Mereka tidak paham dengan apa yang Bina ucapkan.
"Maksud kamu gimana, Bin?" tanya Mark dengan penasaran.
Bina mendesah frustrasi. Ia mengambil kotak makannya yang sudah kosong dan membantingnya gemas ke rerumputan. Ayu, Mark, dan Haechan hanya mengrenyit heran melihat sahabatnya itu.
"Kata Pak Doyi, gue terlalu nyepelein beliau setiap ada kelas."
"..."
"Iya. Gue paham gue sering nyepelin beliau. Tapi ya kan harus adil juga dong!"
Bina semakin menggebu-gebu.
"Wah, kalau alasannya cuma itu. Harusnya temen-temen yang lain yang nggak paham, nggak seharusnya lulus." Haekal akhirnya berucap dengan pendapat yang sama seperti yang dilontarkan Bina tadi.
"Ah," desah Bina saat mengingat sesuatu. Bahunya menurun seketika, ia merasa lemas. "Tapi gue juga sering salah kalo dikasih pertanyaan sama Pak Doyi." Nada bicaranya melemah
Ketiganya mengangguk, mengiyakan, menyetujui kalau Bina memang sering salah ketika menjawab pertanyaan dari Pak Doyi.
"Semangat, ya, Bin!" Mark menyemangati sambil menepuk bahu gadis itu. Pun juga dengan Ayu.
Sedetik kemudian, setelah memikirkan sesuatu, Haekal akhirnya mengangguk-angguk seorang diri. Ia lalu mengisyaratkan agar ketiga sahabatnya itu lebih mendekat.
"Gue mau ngomong sesuatu, nih!" ucap Haekal begitu mereka sudah duduk melingkar tepat di tengah gazebo. Ketiganya sudah bersiap mendengar sesuatu hal yang sepertinya sangat serius dari Haekal.
"Jadi gini ...." Haekal sudah berancang-ancang, menarik napas panjang dan mengembuskannya. "Sebenernya ... soal UTS sama UASnya Pak Doyi itu bocor. Renjun and the genk dapet bocorannya. Hampir semua dapet bocoran!"
"Anj...."
Sebelum Bina meloloskan kata-k********r dari mulutnya, Haekal dengan sigap membungkam. "Diem, anjir!"
"Terus gimana?" tanya Mark penasaran.
"Kalau menurut gue. Kayaknya emang nilai UTS sama UAS itu paling jelek kita. Soalnya yang lain pake bocoran itu. Cuma kita doang yang nggak tau." Haekal melanjutkan, masih sedikit berbisik agar tidak di dengar orang lain.
Sedari tadi Bina sudah meradang, napasnya tidak teratur dan alisnya mengkerut. Rasanya memang bukan dirinya saja yang butuh keadilan, tetapi juga dengan Pak Doyi yang harus menjadapt kejujuran tentang bocornya soal UTS dan UAS beliau.
"Tapi, masa iya Renjun and the genk pake bocoran? Kan mereka terkenal rajin." Ayu menanggapi, merasa tidak yakin sebab Renjun adalah anak yang cukup polos dan pintar.
"Renjun and the genk emang rajin. Tapi mereka juga rajin nanyain bocoran ke anak kelas lain. Tau sendiri kan, kalau kelas kita jadwal UTS sama UASnya selalu terakhir?"
"Sebentar, Kal ...," ucap Bina, merasa seperti ada yang ganjal. "Jadi, maksud lo, teman sekelas kita tahu tentang bocoran itu, dan cuma kita yang nggak tahu?"
Haekal mengangguk.
Bina memincingkan matanya, menerawang. "Dan lo, dapet bocoran juga?"
Haekal yang tadinya serius, sekarang meringis mendadak.
Plakkk
Plakkk
Plakkk
Tiga tamparan dari tiga orang berbeda berhasil membuatnya mengaduh minta ampun. Yakinlah, sekarang lengan Haekal sudah memerah.
"Tega banget sih, lo, nggak ngasih tahu kita." Bina memprotes. Rupanya protesnya itu menjadapt persetujuan Ayu dan Mark yang sama-sama mengangguk.
"Bukannya nggak mau ngasih tahu. Tapi bukannya kalian anti curang-curang club?" Haekal berdalih mencari pembelaaan. "Tapi suer, gue juga nggak pake bocoran itu." Pemuda itu sampai mengangkat dua jari ke udara, berharap teman-temannya itu percaya.
Bina, Ayu, dan Mark masih menatapmya dengan sebal. Memang benar, mereka adalah anti curang-curang club, sekalipun mereka tahu kalau ada bocoran soal. Mereka berempat memilih tidak peduli dengan semua itu. Mereka tetap belajar dengan keras walau sampai subuh sekalipun.
"Padahal waktu malam sebelum UTS, kita kan sempet belajar sama Renjun sampai tengah malem. Eh, rupanya dia malah pake bocoran. Mantap." Bina bertepuk tangan dan menggeleng-gelengkan kepala. Sifat julidnya seketika muncul saat teringat betapa dirinya dan ketiga temannya menyangjung Renjun yang cukup rajin itu. "Mending juga gue sih, dapet D tapi hasil sendiri." Okai, rupanya Bina sudah merasa seperti di atas angin.
Melihat Bina yang sudah mulai percaya diri, ketiga temannya itu tersenyum. Memang sangat mudah membuat gadis itu kembali percaya diri. Namun, sangat mudah juga untuk menjatuhkan kepercayaan diri seorang Bina Sabrina.
Namun tiba-tiba saja Bina mengerang. Ia tidak menampar lengan Haekal, namun ia justru menjambak rambutnya. "Tetep aja gue kudu ngulang tahun depan! Harusnya lo ngasih tahu gue, Chan!" Jambakan bertubi-tubi itu berhasil membuat Haekal merengek minta ampun, sedangkan Ayu dan Mark terbahak di sana.
"Bin, stop, ampunnn!" Haekal sudah berteriak minta ampunan. Tetapi, Bina tidak berhenti walau ia sangat yakin jika mereka sudah mencuri perhatian banyak orang.
"Sebel gue sama lo!" Ia masih menjambak rambut Haekal dengan gemas bin sebal.
Pemuda itu kemudian merapikan rambutnya. Ia tahu, saat ini ia juga bersalah sebab tidak terbuka dengan sahabatnya. Apapum keadaannya, seharusnya Haekal tidak pernah merahasiakan masalah bocornya soal UTS dan UAS milik Pak Doyi. Satu-satunya alasan Haekal merahasiakannya karena Haekal tahu betul, Bina akam meminta bocoran soal tersebut agar ia bisa dengan mudah mengerjakan soal-soal dari Pak Doyi. Padahal, prinsip Bina selama ini adalah, lebih baik mendapat nilai bagus dengan jujur daripada mendapat nilai biasa-biasa saja tetapi hasil dari kecurangan. Prinsip tersebut tidak terbalik, memang seperti itu bunyinya.
Jika saja Bina bisa menyadari, ketika Haekal bungkam tentang bocoran soal tersebut, satu langkah Bina telah terselamatkan dari jurang yang curam. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi rengginang. Akan semakin nikmat jika di goreng renyah. Akan ada hal baik jika ada perbaikan.
"Ambil hikmahnya, Bin. Lo bisa ngulang tahun depan. Di ijazah nanti bisa jadi nilai lo yang D berubah jadi A. Dari lo yang nggak paham sama sekali, lo bisa sangat paham. Nilai itu cerminan kita. Kalo misal sekarang lo dapet nilai B atau nggak C+, belum tentu, kan, tahun depan lo mau ngulang? Dan apa lo mau, lulus dengan gelar sarjana tapi lo nggak paham sama ilmu-ilmu yang lo pelajarin?"
"..."
"Kalau berdasarkan hasil intropeksi gue nih ya. Gue itu terlalu fokus belajarnya sampai ngelupain doa. Ya walaupun nggak fokus-fokus amat, tapi emang gue rasain gue udah jarang berdoa."
"..."
"Pokok e saiki penting semangat ae. Nggak usah ngurusin orang lain. Biarlah mereka berbuat ini-itu. Yakinlah everything happen for a reason. Ambil hikmah e ae. Urip kayak ngono insyaAllah dadi rodok tenang."
Yang berucap panjang kali lebar adalah Haekal. Bina, Ayu, dan Mark tidak pernah menyangka kalau Haekal bisa merangkai kalimat sedemikian panjang tersebut. Sampai-sampai, gadis bernama Bina Sabrina itu menegang mendengarkan ucapannya, juga dengan matanya yang memerah.
Semua ucapan Haekal memang ada benarnya. Apalagi tentang kekuatan doa. Bina baru sadar, akhir-akhir ini memang dirinya jarang sekali berdoa. Setiap selesai sembahyang, dirinya langsung terburu-buru melepas mukena setelah merapalkan doa untuk kedua orang tua, itupun jarang sekali ia panjatkan dengan khusyuk.
Selain kekuatan doa, kekuatan untuk berusaha dari seorang Bina juga hanya sebatas belajar bersama sahabatnya, tidak untuk memperhatikan saat Pak Doyi menjelaskan di kelas. Bina itu suka menyepelekan Pak Doyi, semua teman satu kelasnya juga tahu tentang itu.
Salah satunya, seperti beberapa waktu yang lalu, saat itu Pak Doyoung menyuruh mahasiswanya untuk membentuk kelompok dan mempelajari satu materi, kemudian Pak Doyoung akan memberi pertanyaan yang cukup detail tentang materi tersebut. Sudah pasti BHAM Squad terbentuk menjadi satu kelompok dimana BHAM Squad adalah kepanjangan dari Bina, Haekal, Ayu, dan Mark. Walaupun otak mereka susah untuk menerima materi mata kuliah Pak Doyi, tetapi mereka tetap berusaha belajar bersama.
Hingga tibalah pada hari dimana kelas Pak Doyi sudah dimulai. Seluruh mahasiswa berdegub gemetar, bahkan Tiara dan kawan se-genknya memutuskan untuk absen. Alhasil mahasiswa yang tersisa tidak sampai dua puluh orang.
"Kalian sudah belajar, kan?" tanya Pak Doyi begitu memasuki ruang kelas, tanpa salam apalagi senyum. Sama sekali tidak terpancar aura ramah walaupun aura tampannya masih menempel.
Hening. Tidak ada yang menjawab.
"Kenapa diam?!" gertaknya.
Renjun, si ketua kelas dan si anak paling rajin yang menjawab, "Sudah."
Pak Doyi membuka laptopnya lalu menacapkan kabel proyektor hingga materi muncul di layar besar.
"Hari ini kita bahas materi Leasing atau Sewa Guna Usaha," ucap Pak Doyi sambil menunjuk layar dengan pointer yang ada di genggamannya. "Saya akan bahas sedikit mengenai materi ini."
Kelas cukup kondusif. Pembahasan yang secepat kereta api listrik itu sama sekali tidak bisa masuk ke otak Bina, walau dirinya sudah mempelajarinya semalaman bersama BHAM Squad. Seberapapun Bina memperhatikan, tetap saja hanya titik merah dari pointer Pak Doyoung yang hanya bisa ia lihat.
"Renjun!"
Wah, semua mahasiswa kaget luar biasa ketika mendadak nama Renjun disebut oleh Pak Doyi.
"Sekarang kamu jelaskan, perbedaaan kapitalisasi antara Lessee dan Lessor!"
Hening. Atmosfir di kelas mulai panas, ditambah mereka sedang kuliah di GKB FEB lantai tiga yang tidak dilengkapi pendingin udara. Angin yang keluar dari kipas anginpun terasa panas.
"Ayo, jawab!"
Bina membatin dalam hati. Seperti biasa, ia kesal bukan main jika Pak Doyi bersikap sok galak seperti itu.
"Kamu tidak belajar, ya? Kan saya sudah suruh kalian semua belajar dulu sebelum ikut kelas saya!"
Semuanya menunduk, menghindari tatapan mematikan dari seorang Doyi Dipura. Tetapi tidak dengan Bina, Bina menunduk bukan karena menghindari tatapan Pak Doyoung, tetapi ia justru memainkan ponselnya, membuka aplikasi belanja.
"Renjun. Kamu sekelompok sama siapa?"
"Sama Jeni, Jamin, Lukas."
Pak Doyoung beralih menatap Lukas yang ada di sebelahnya. Sumpah serapah sudah Lukas lontarkan dalam hati begitu tatapannya beradu sejenak dengan tatapan Pak Doyi.
"Lukas, jelaskan. Jelaskan perbedaan kapitalisasi untuk Lessee dan Lessor!"
"Maaf, Pak. Itu bukan bagian saya. Bagian saya adalah pencatatan awal oleh Lessor."
"IS NOT MY DAMN BUSINESS!" Pak Doyi menggeberak meja. "Saya suruh kalian belajar bareng itu biar paham semua materinya, bukannya malah bagi-bagi materi!"
Pandangan Pak Doyi beralih ke Bina yang sedang asyik bermain ponsel. "Bina!"
Bina mendongak, tanggannya masih di bawah meja.
"Kamu malah main handphone? Sini handphone kamu!" Pak Doyi mendekat ke bangku Bina. Ia meminta agar mahasiswinya itu menyerahkan ponselnya, tetapi Bina menolak. Gadis itu hanya menggeleng walau dengan wajah yang memucat. Bagaimanapun juga, selain menyebalkan, Pak Doyi kalau sudah marah itu sangat menyeramkan. "Kalau gitu, kamu keluar dari kelas saya!"
Belum ada lima detik setelah Pak Doyi menutup mulutnya, Bina sudah berdiri sigap dengan menyangklong tas dan ponsel yang ada di tangan kirinya. "Permisi, Pak!" ucapnya datar, lalu gadis itu keluar meninggalkan kelas.
Kejadian itu terjadi beberapa hari sebelum UAS, saat itu kepedulian Bina memang sudah berada pada titik kritis. Bina tidak peduli jika Pak Doyi akan memanggilnya dan akan berbicara empat mata padanya, karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Jikapun terjadi, pokoknya Bina tidak peduli. Ia hanya ingin segera pulang dan merebahkan Badan. (Flashback, end)
Mengingatnya, membuat Bina merasakan perih. Jika boleh, jika waktu itu bisa diulang, Bina tidak akan memutuskan untuk keluar menuruti perintah Pak Doyi. Seharusnya Bina meminta maaf terlebih dahulu kepadanya. Atau seharusnya Bina tidak pernah bermain ponsel saat sedang ada kelas. Ah, Bina lagi-kagi merasakan penyesalan.
Jika dipikir-pikir, jika dirasakan, sepertinya memang akan sangat sedih jika Bina berada di posisi Pak Doyi, yang mempunyai mahasiswa tidak tahu diri seperti dirinya. Lagi-lagi jantung Bina berdesir, merasa sedikit nyeri.
"Bin, ngelamun?" Ucapan Mark berhasil menyadarkannya dari lamunan.
"Eh, enggak." Bina tersadar dari lamunan dan mengelak.
"Gue cuma dapet C, dan tahun depan gue ngulang." Haek tersenyum, tatapannya menenaangkan. Manis, sangat manis sekali.
"Gue sama Mark juga cuma dapet C+ dan kita juga nggak terlalu paham materi AKM 3. Kayaknya kita juga bakal ngulang tahun depan. Iya, kan, Mark?" Ayu menoleh pada Mark, menanyakan kebenaran, dan Mark langsung mengangguk.
"Kalian niat ngulang tahun depan, bukan karena kasihan sama gue, kan?"
"Weishh ... tunggu dulu, sistur. Soal nilai dan masa depan, kita tetap berkompetisi and berperang."
Plakkk
Saat itu juga, Bina merasakan sedikit tenang pada perasaannya. Memang benar jika ia dan sahabatnya itu tetap harus bertempur layaknya medan perang saat mengejar nilai. Mereka harus tetap berkompetisi dan tidak boleh saling bekerja sama di saat ujian, tetapi mereka tetap harus bekerja sama dalam hal belajar bersama.
Bina lagi-lagi harus bersyukur karena sebenarnya ia dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dnegannya walau tidak banyak. Perempuan itu mengucap syukur dalam hati dan berjanji untuk menajdi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.
ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih hormat lagi dan tidak menyepelekan dosen terlepas dosen tersebut orang yang ia kenal atau bukan. Bukan berjanji, ia harus mendapatkan nilai yang lebih baik lagi dna saat ini penyesalannya perlahan meluntur.
Karena Bina yakin, penyesalan yang terus dirasakan hanya akan menghambat proses perbaikan. Bina, Semangat!!!