Ketika Bina Menemukan Mereka

2441 Kata
Pada saat itu adalah malam pertama kalinya Bina Sabrina mengenal Haekal. Saat itu kebetulan sekali bulan menyapa bersama dengan bintang-bintangnya, sangat indah seperti malam-malam pada biasanya saat langit yang gelap terlihat cerah. Padahal, saat inj malam sedang mendung dan gerimis sempat turun. Perasaan cemas menghampiri Bina kala itu ketika ia masih berstatus mahasiswa baru Universitas Matahaya. Saat itu jam di layar ponsel Bina menunjukkan pukul sebelas malam, sebelum akhirnya ponsel miliknya benar-benar padam karena kehabisan daya untuk bertahan tetap menyala dan menemani Bina di sini sendirian. Bina masih di pos satpam Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tadinya ia berniat untuk memesan ojek online. Namun nahas, ponselnya kehabisan daya baterai dan kini ia tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa sampai di rumah. Walau Universitas Matahaya dan rumahnya tidak terlalu jauh, masih dapat dijangkau dengan jalan kaki, tetapi tidak akan mungkin Bina berjalan kaki seorang diri mengingat sudah sangat malam. Tidak banyak orang di sekitarnya, kecuali Pak Satpam yang terkantuk-kantuk di depan televisi yang menyala-nyala memperlihatkan sinetron yang membosankan di televisi kecil di pos jaganya. Bina masih berdiri di sana. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang ia harapkan, Mas Johnny atau Papa datang menjemputnya. Walau dirinya tahu betul jika Papa sedang mengunjungi saudara di luar kota dan ia sudah terlanjur bilang pada Mas Johnny bahwa tidak usah di jemput saja. Ia berharap, malam ini Mas Johnny segera sadar bahwa adik tercintanya itu belum juga pulang dan semoga saja Mas Johnny memiliki inisiatif untuk datang menjemput Bina.  Ada sebuah alasan mengapa Bina masih di kampus hingga tengah malam, yaitu karena dirinya harus latihan drama ringan yang diadakan oleh jurusan. Ya, Bina masih mengikuti kegiatan ospek jurusan Akuntansi di Universitas Matahaya. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan yang namanya seni peran, tetapi saat dirinya melihat antusiasme teman-temannya yang lain sangat rendah dan hampir tidak ada yang mengajukan diri, akhirnya Bina bersedia menjadi salah satu lakon di drama ringan berjudul Cinta Laki-Laki Playboy. Setiap malam dirinya akan latihan bersama temannya sampai larut. Walaupun lelah, setidaknya ia sudah berkontribusi dan menghargai kakak pengurus himpunan yang telah memikirkan kegiatan-kegiatan pengisi ospek jurusan. Hal itu bukan sesuatu yang sulit, karena Bina tahu, hal tersebut merupakan cara lain ia untuk menghargai kerja keras kakak kakak tingkat pengurus ospek jurusan ini. Malam semakin larut, tetapi tidak ada tanda-tanda Mas Johnny datang menjemput. Sepertinya memang Mas Johnny tidak memiliki inisiatif untuk datang menjemput adik kecilnya yang belum juga sampai rumah itu. Sampai akhirnya pada pilihan terakhir, Bina datang mendekat ke pos satpam. Ia berniat meminta tolong Pak Satpam untuk meminjaminya ponsel agar dirinya bisa memesan ojek online. Namun baru saja Bina ingin menyapa Pak Satpam, netranya yang sudah lelah langsung menuju bangku yang dimana di sana tergeletak ponsel jadul. Bina mengurungkan niatnya, sepertinya Pak Satpam tidak memiliki ponsel android. Bina kembali ke tempat asalnya tadi, berdiri, diam, menunggu keajaiban. Di malam yang sangat dingin, gerimis kembali datang, bintang-bintang menghilang dan cerahnya malam seakan sirna diterpa kegelisahan seorang Bina Sabrina. Sempat dirinya ingin ke seberang meneduhkan badan, tetapi sebuah nyala lampu berhasil mengganggu penglihatannya. Bina tidak jadi ke seberang, ia menunggu motor itu melewati dirinya terlebih dahulu. Namun, tidak disangka, motor itu justru berhenti tepat di depannya. Bina tidak akan menebak kalau sang pengemudi adalah Mas Johnny. Bina paham betul, Mas Johnny itu sangat jangkung. Berbeda sekali dengan laki-laki yang menaiki motor matic tersebut, ia berperawakan kurus dan tidak terlalu tinggi. Bina mundur selangkah. Niat hati ingin melangkah pergi menuju pos satpam, tetapi dirinya keburu dipanggil oleh sang pengemudi motor matic itu. Dalam pikirannya, Bina sudah siap mengeluarkan jurus bela diri yang ia ciptakan sendiri kalau-kalau ada orang yang berniat jahat padanya. Jangan salah, jurus tersebut berhasil membuat Mas Johnny dan Doyi tersungkur di atas rumput sampai meninggalkan lecet di tangan dan dagu mereka. Bahkan saat Mas Johnny dan Doyi masih kecil, Bina kecil yang mengeluarkan jurus itupun sempat membuat mereka menangis tersedu-sedu. Sang pengemudi motor matic itu membuka kaca helmnya, lalu menurunkan masker yang menutupi setengah bagian wajahnya. "Kok belum pulang? Masih nunggu ojek?" tanyanya pada Bina. Ia lalu mematikan mesin motornya sehingga kembali lah kesunyian menyapa di tempat Bina berdiri  Bina mengangguk. "Iya," jawabnya singkat. Pikirannya masih sangat was-was. "Anak FEB, ya? Tadi saya lihat sewaktu saya masih latihan drama, sampai sekarang saya mau pulang, kok kamu masih belum pulang juga?" tanyanya lagi. "Kan udah dibilang masih nunggu ojol." Bina menjawab dengan mengulang perkataannya yang tadi. Jujur, ia sedikit kesal ditanya seperti itu, apalagi dengan orang asing, berasa sangat basa basi dan hal itu tidak dibutuhkan Bina. Laki-laki itu meringis. "Kalau lama, dicancel aja. Pesan ulang." Laki-laki itu memberi Bina saran. "Handphone saya mati," jawabnya singkat. Bina masih mencoba menghindar untuk menatap Haekal. Ia takut jika menatap wajahnya, bisa saja Harkal mempunyai ilmu yang bisa menghipnotis seseorang. Baiklah, tidak apa jika kalian menilai Bina itu berlebihan, tetapi memang zaman sekarang semuanya harus serba berhati-hati.  Buru-buru, laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Pakai aplikasi saya." Ia lalu memberikan ponselnya pada Bina, tetapi tidak Bina terima. Lagi, laki-laki itu membuka jaketnya, mengambil sesuatu dari bagian dalam saku jaketnya. "Saya Haekal, Maba Akuntansi. Sama seperti kamu." Ia menyerahkan sepotong Kartu Tanda Mahasiswa. suasana menjadi sedikit hangat walaupun Bina belum merasa seratus persen aman, setidaknya laki-laki itu sedikit unik karena sampai memberikan Bina kartu tanda mahasiwanya.  Setelah menerima dan membacanya, Bina bersedia meminjam ponsel Haekal dan segera memesan ojek online. Sebelumnya, ia juga menyamakan foto yang ada di kayu tanda mahasiswa tersebut dengan rupa Haekal yang masih saja meringis. "Sudah. Makasih, Haekal," ucap Bina sambil menyerahkan ponsel Haekal. Akhirnya Bina sudah bisa memesan ojek online lagi. Semoga saja driver ojek online segera datang.  "Saya temani sampai ojeknya datang, ya." Tawar Haekal pada Bina. Rupanya Haekal tidak tega jika harus membiarkan Bina menunggu seorang diri di sini di gelapnya malam dan juga diantara cerita cerita seram mengenai gedung fakultas ekonomi dan bisnis di universitas Matahaya. Namun Cepat-cepat, Bina menolak. "Nggak usah. Drivernya sudah OTW, kok." Ucapnya alakadarnya. Justru ia lebih takut lagi jika ditemani Haekal. Karena terkadang, pembunuh yang sebenarnya itu adalah manusia, bukan setan. Haekal hanya tersenyum dan Bina mengembuskan napas diam-diam. Haekal tidak juga memutuskan untuk pergi, sedangkan Bina juga tidak enak hati untuk mengusir Haekal dari sana. Tidak lama, driver ojek online pesanan Bina sudah sampai. Bina segera naik dan tidak lupa mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Haekal. "Sekali lagi, makasih ya, Haekal." Bina cukup tahu diri. Setelah berucap terima kasih, ia juga menyempatkan tersenyum pada laki-laki yang juga membalas senyumnya, bahkan Haekal pun melambaikan tangannya dan berucap hati-hati pada Bina dan sang driver.  Haekal mengangguk dan setelah itu tidak ada interaksi lagi diantara mereka, karena ojek sudah melaju menembus jalanan kampus yang sepi dan sunyi. "Mbak, temannya tadi ngikutin, ya?" tanya driver pada Bina. Benar saja, saat Bina menoleh ke belakang, Haekalp dengan motor maticnya itu mengikuti dirinya. Padahal, mereka sudah masuk ke dalam komplek perumahan Bina.  "Pak, di aplikasi kan rumahnya nomor 20A. Nah, sebenarnya rumah saya itu nomor 20B. Nanti tolong muter-muter beberapa kali dulu sampai dia nggak ngikutin lagi ya, Pak," ucap Bina pada sang driver. Ia sekarang ini mulai cemas mengapa Haekal mengikutinya bahkan sampai masuk ke komplek perumahan tempat tinggalnya. Walaupun Haekal sudah memperlihatkan kartu tanda mahasiswanya, tetapi Bina tidak lantas percaya begitu saja bahwa Haekal tidak akan berbuat macam-macam. Tidak ada yang tahu isi otak seseorang, Bina juga tidak bisa yakin juga bahwa Haekal adalah orang baik. Ini bukan tentang prasangka buruk, tetapi ini bentuk kewaspadaan untuk menjaga diri.  Ia sengaja mengisi nomor rumah yang berbeda dengan nomor rumahnya di aplikasi milik Haekal agar Haekal tidak tahu alamat asli rumahnya. Namun sialnya, ternyata Haekal malah mengikuti dirinya bahkan saat Bina dan driver ojek online berputar sebanyak tiga kali mengelilingi komplek.  Tepatnya saat sebuah motor mengejar mereka, mengejar motor ojek online dan juga Haekal.  "Tolong berhenti." Rupanya dua satpam memberhentikan mereka. "Maaf, kalian kenapa muter-muter di sini?" tanya satpam tersebut. Jelas sekali ketika dua motor itu berputar putar mengelilingi komplek sebanyak tiga kali, hal tersebut mengundang reaksi mencurigakan bagi sang satpam yang tengah berjaga. "Lhoh ... Mbak Bina?" ucap salah seorang satpam saat Bina membuka kaca helmnya. Bina hanya meringis. "Mbak Bina ngapain muter-muter malam-malam? Ini sudah hampir jam dua belas, lho." Pak Satpam itu terheran heran karena rupanya Bina lah yang berputar putar bersama driver ojek online tersebut.  Bina lalu turun dari motor ojek online. "Pak, bisa minta tolong anterin saya sampai rumah, nggak?" tanyanya pada dua pak satpam kompleknya. "Lho, Mbak Bina kan naik ojek. Terus, itu temannya juga kan?" Yang Pak Satpam maksud adalah Haekal. Bina tidak menjawab. Ia mengisyaratkan pada Pak Satpam untuk lebih dekat dengannya. Bina pun berbisik di telinga kedua satpam itu. Setelahnya, kedua satpam itu mengangguk. Bina berbalik pada driver dan memberikannya selembar uang. "Terima kasih, Pak," ucapnya. "Sekalian tebengin Pak Satpam ke depan, ya." "Iya, Mbak." Balas driver ojek berterima kasih pada Bina. "Haekal. Makasih, ya. Saya nggak tahu kenapa kamu ngikutin saya sampai di sini. Saya nggak paham apakah kamu mau berbuat jahat sama saya atau malah mau ngejagain saya biar sampai rumah dengan selamat. Tapi maaf, saya belum bisa percaya sama kamu. Tolong kamu pulang aja, ya. Saya sudah aman kok sama Pak satpam." Bina menjelaskan panjang lebar. Haekal mengangguk paham. Lalu ia dan juga driver ojol yang dibonceng salah satu Pak Satpam mulai melaju menuju gerbang depan. Sedangkan Bina, sudah lega akhirnya Haekal tidak mengikutinya sampai di depan rumah. Tidak sampai di situ. Keesokan harinya masih di acara ospek jurusan, saat itu para Maba Akuntansi sedang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Saat ospek, belum ada pembagian kelas. Jadi tidak ada yang tahu apakah mereka yang saat itu satu kelompok saat ospek, akan bertemu di kelas yang sama. Bahkan, mereka ada yang sengaja tidak saling sapa padahal pernah dekat saat ospek jurusan.  Bina yang sedang duduk bersila sambil melipat kertas origami, tidak sengaja menyenggol seseorang yang ada di belakangnya. Dia adalah Haekal. "Eaduh!" pekik Haekal dengan nyaring. Dari situ, Bina bisa menilai bahwa manusia tersebut merupakan manusia yang amat sangat berlebihan karena Bina hanya menyenggol pelan tetapi reaksinya sangat di luar nalar. Bina yang merasa menyenggol seseorang, langsung berbalik badan dan mendapati Haekal yang sudah terjerahap ke samping sambil memeluk origami buatannya agar tidak basah terkena minuman yang tumpah.  "Eh, maaf. Yaampun!" Cepat-cepat Bina mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan mengelap basahan lantai itu. "KALAU MAU MENANG, JANGAN GITU CARANYA!!!" Suara provokasi itu berasal dari ujung.  "ITU MULUT DIJAGA, WOY! YANG DISENGGOL BINA AJA SANTAI, KOK LO YANG RIBUT?!" Lalu, suara selanjutnya berasal dari Ayu yang kebetulan satu kelompok dengan Bina. "Kalian ributin masalah ini? Tenang, kelompok saya yang bakal menang. Lihat aja, origami di kelompok saya paling banyak!" Mark dengan tenang menyindir dua kelompok yang saling ribut tersebut. Hari ini ada lomba membuat origami, siapa yang paling banyak dialah pemenangnya. Dan origami di kelompok Mark adalah yang terbanyak. "Wes lah, Rek. Cepat selesaiin!"  Semua kembali dengan kesibukannya masing-masing. Bersama Bina yang masih sibuk mengelap lantai dengan tisu dan Haekal yang masih belum berganti gayaㅡmasih meringkuk menyelamatkan origaminya. Setelah kegiatan ospek jurusan hari itu selesai, lagi-lagi Bina diharuskan pulang malam karena latihan drama. Bersamaan dengan itu Haekal sengaja menunggunya sampai selesai, walau tidak bisa menunggu dari dekat. Karena sudah pasti laki-laki itu akan diusir jika menyaksikan latihan drama kelompok lain. Melihat Bina yang kembali berdiri seorang diri di dekat pos satpam membuat Haekal langsung menghampirinya. Ia berbasa-basi seperti malam yang lalu. Namun malam itu ada satu tambahan, yaitu Haekal ingin berkenalan dengan Bina. "Masih nunggu ojek?" tanya Haekal. Bina mengangguk. "Soal tadi siang, maaf ya."  "Lupain. Tadi kan juga udah minta maaf." Bina bergeming, tetapi dalam hatinya sedikit muring-muring. Dirinya ingin sekali cepat pulang tanpa harus kucing-kucingan dengan Haekal seperti malam yang lalu.  "Tolong. Jangan ikutin saya," ucap Bina spontan.  "Saya khawatir sama kamu." Haekal membalas dengan tenang  "Tapi kita nggak saling kenal. Saya jadi takut." Bina sudah pasrah. Akhirnya ia berucap jujur akan kekhawatirannya ketika Haekal terlalu sok kenal sok dekat dengannya. "Yasudah. Ayo, kenalan." Haekal tersenyum, mengulurkan tangannya ingin bersalaman. Walau sempat ragu, tetapi Bina tetap menerima uluran tangan itu. "Bina." "Sekarang sudah kenal, kan? Ayo, saya antar pulang." Bina menggeleng cepat. "Nggak usah." "Kenapa?" "Nggak papa. Takut ngerepotin." "Yasudah. Saya temani sampai ojek kamu datang, ya!" Bina hanya meegembuskan napasnya. Ia sudah menyerah menghadapi teman barunya itu. Jika ia melanjutkan perdebatan, bisa jadi Pak Satpam akan datang dan menuduh macam-macam. Sekarang Bina masih diam, sembari menunggu Mas Johnny datang menjemput. Semoga saja Mas Johnny cepat datang. "Kok kamu diam aja?" tanya Haekal memecah keheningan yang sempat terjadi. Namun Bina tidak menjawab. Sampai akhirnya sebuah motor yang bergenti di depannya berhasil membuat perasaannya lega. Akhirnya Mas Johnny datang juga. Bina dijemput Mas Johnny, malam lalu, ia menceritakan semuanya pada Mas Johnny. Akhirnya Mas Johnny yang menjemput Bina setiap pulang malam. "Saya pulang dulu," pamit Bina pada Haekal. "Siapa itu, Dek?" tanya Mas Johnny.  Haekal memajukan diri, mengulurkan tangan kanannya. "Saya Haekal, temannya Bina." Mas Johnny langsung tersenyum menyalami Haekal. Malam itu adalah kali pertama Bina ketahuan punya teman baru. Biasanya Bina akan sangat sulit mencari teman baru karena Bina adalah tipikal manusia yang tidak butuh teman. Namun saat memandang Haekal dengan senyumnya yang hangat, Mas Johnny sangat yakin jika Haekal akan menjadi teman bahkan sahabat Bina. Ditambah, cerita Bina tentang Haekal yang mengikutinya sampai komplek, menambah keyakinan Mas Johnny jika Haekal adalah orang yang baik. "Besok-besok kamu minta anterin Haekal aja, Dek," Mas Johnny malah menggoda Bina sambil terkekeh. Padahal Mas Johnny tidak tahu saja jika berada di posisi Bina, pasti Mas Johnny juga akan merasakan hal yang sama yaitu khawatur dan ketakutan terhadap orang asing. Dalam hatinya ia sudah mangkel. Saat Bina berusaha menghindar dari orang asing seperti Haekal, tetapi kakak laki-lakinya itu malah mempercayakan adiknya pada Haekal. Malahan, Mas Johnny sampai meminta nomor telepon Haekal dan tidak lupa meminta foto KTMnya.  Sejak saat itulah Haekal lebih sering menyapa Bina. Hingga Bina bercerita pada Ayu walau dirinya belum akrab, sampai-sampai Ayu merasa khawatir juga apabila ternyata Haekal bukanlah orang baik. Lalu, Mark yang tidak sengaja mendengar perbincangan mereka tiba-tiba datang dan memberikan pencerahan. Berbagai nasihat keluar dari mulut Mark. Tentang kerugian berprasangka buruk, hingga menjadi orang ramah.  Beberapa hari berlalu, tidak disangka mereka ternyata satu kelas. Bina kala itu sudah dekat dengan Ayu karena satu kelompok saat ospek, perlahan Mark menjadi sering memberi nasihat saat mengetahui dua perempuan itu sedang bergosip, hingga akhirnya Haekal dengan sok akrab masuk dalam circle pertemanan mereka. Dan entah bagaimana, Haekal mengetok palu pak tukang yang kala itu tergeletak di lobby FEB yang digunakan untuk memperbaiki kusen pintu. Kata Haekal waktu itu, "dengan ini saya nyatakan terbentuklah sebuah geng persaudaraan bernama BHAM Squad, yaitu Bina Haekal Ayu dan Mark." (Flasback off)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN