Doa doa yang dirapalkan Ayu dalam hati selama perjalanan akhirnya membuahkan hasil juga dan akhir mereka bisa sampai di stasiun dengan selamat dan tanpa hambatan di perjalanan.
Setelah panik selama hampir sepuluh menit, akhirnya mereka sampai juga di Stasiun Kotabaru. Cepat-cepat Ayu dan Mark mencetak boarding pass karena sudah hampir pukul sembilan dan syukurnya hanya ada sedikit antrean. Sedangkan Bina dan Haekal duduk di bangku yang disediakan sambil menjaga barang bawaan mereka.
"Pas banget jam sembilan," ucap Ayu lega saat boarding passnya berhasil dicetak.
"Ayu, Mark. Kalian hati-hati, ya!" ucap Bina sambil menyalami kedua sahabatnya itu. Tidak lupa Ayu dan Bina saling berpelukan.
Ayu dan Mark mengangguk. "Kita pamit, ya." ucap mereka dengan mata yang berbinar karena akhirnya mereka tidak ketinggalan kereta.
"Hati-hati, jagain Mark gue," ucap Haekal dengan selengekan.
"Ye, harusnya Mark yang jagain gue!" Balas Ayu dengan membuang muka karena kesal.
"Pengen banget lo dijagain sama Mark?" Ucapan Haekal tidak ada yang menggubris karena ia harus segera masuk ke dalam kereta.
"Dadahh."
"Semoga semesta masih ngizinin kita buat jumpa!" Bina tersenyum sambil melambaikan tangannya ke Ayu dan Mark yang sudah berada di peron stasiun. Doa yang baru saja ia ucapkan memang tidak pernah main main. Karena memang itulah yang diharapkan oleh Bina.
Beberapa menit kemudian, kereta yang akan mereka naiki telah datang. Puluhan orang yang lalu lalang berhasil menghilangkan Ayu dan Mark dari pandangan Bina dan Haekal. Keduanya lantas menurunkan lambaiannya dan sama-sama bernapas lega walau netranya belum beralih dari deretan gerbong berwarna dominan putih dan merah tersebut.
Tidak lama, sepertinya kereta sudah diizinkan berangkat karena suara suling lokomotif yang sangat melengking itu sudah terdengar dan diikuti bunyi klakson kereta dua kali.
Perlahan kereta mulai bergerak. Beberapa gerbong terus Bina amati hingga gerbong teakhir. Sampai akhirnya suasana gaduh berubah senyap seketika tiada kereta yang tinggal.
Bina masih di sana, berdiri, dan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Beberapa menit yang lalu ia masih bisa merasakan tawa bersama Ayu dan Mark. Namun mulai sekarang dan sampai tiga bulan kedepan, sepertinya hanya sambungan telepon yang dapat mengobati rasa rindunya nanti. Di dalam hati, Bina selalu berdoa agar para sahabatnya selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan, hingga pada akhirnya mereka bisa berjumpa lagi. Tidak lupa, Bina juga mengucapkan selamat berlibur untuk Ayu dan Mark, walau hanya dalam hati, karena dirinya tidak sempat mengucapkan langsung pada mereka.
Perasaannya mendadak dingin dan sunyi. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menggenggamnya, terasa nyaman, memberi kehangatan di pagi hari yang cukup mendung ini. Bina menoleh, menatap Haekal yang tersenyum simpul saat melihat matanya yang telah sendu sejak tadi saat di kedai kopi.
"Ayo pulang," ucap Haekal pelan dan tenang. Padahal, beberapa menit yang lalu sikap bocah itu sangat selengekan.
Mereka berjalan keluar stasiun dengan tangan yang masih saling bergandengan. Tidak ada niat dari Bina untuk melepaskannya, karena saat ini tinggalah Haekal yang masih bersama dirinya. Mungkin sebentar lagi Bina akan benar-benar sendiri, saat Haekal pamit untuk kembali ke Surabaya dan tinggalah ia dalam kesepian yang nyata selama tiga bulan lamanya.
"Mau makan dulu?" tanya Haekal pada Bina. Ekspresi Haekal sudah berubah tanpa ada raut selengekan seperti beberapa saat yang lalu.
Bina hanya menggeleng.
Setelah mengedarkan pandangannya di sekitar stasiun, Haekal menarik tangan Bina yang tidak ada penolakan darinya.
Mereka berdua kemudian berhenti di depan gerobak bercat biru dengan beberapa gelas yang di gantung di atasnya.
"Es dogernya dua, Pak," kata Haekal begitu si Bapak penjual es doger menyadari akan ada yang membeli dagangannya.
"Bungkus atau gelas, Mas?" tanya bapak penjual es Doger itu untuk memastikan.
"Gelas aja, Pak." Haekal menjawab dengan tatapan yang beredar pada es Doger yang siap disajikan.
"Oiya. Silakah duduk dulu." Bapak penjual es mempersilakan duduk dengan memberikan dua kursi plastik
Bapak penjual es doger itu memberikan dua buah kursi plastik pada Haekal dan Bina. Kemudian keduanya duduk, dan Bina masih diam saja.
"Terima kasih, Pak." Haekal menerima dua gelas es doger. Ia lalu berbalik dan menyerahkan satu gelas pada Bina. "Minum dulu."
"Kal. Kok lo nggak pulang bareng aja sama Ayu sama Mark?" Tanya Bina tiba tiba dengan es Doger yang belum disantapnya barang sesendok pun.
Baru saja satu suap es doger akan masuk kemulutnya, tetapi sepertinya Haekal harus menjawab pertanyaan Bina terlebih dahulu. Ia mengembalikan sendok berisi es doger itu ke dalam gelas. "Kalo gue pulang kampung bareng mereka, terus lo pulang ke rumah bareng siapa?" katanya, lalu ia berhasil merasakan kesegaran es doger di pagi menjelang siang hari ini.
"Kan gue bisa pulang sendiri. Lagian enak pasti, kalau kalian bertiga satu kereta. Ya, walaupun lo bakal turun duluan di Surabaya." Jawab Haekal sedapatnya dan sekenanya. Haekal tidak suka mengada Ngada atau bahkan mengarang cerita.
Haekal menurunkan tangannya yang terangkat membawa segelas es doger. "Surabaya itu deket. Tiap hari juga gue biasa bolak-balik." Jawabnya dengan santai.
"Bukan itu maksud gue. Maksud gue, kebersamaannya itu, loh. Ih, lo nggak paham banget!" Bina mulai jengah. Ia sebal lantaran Haekal tidak mengerti juga maksud dari perkataannya, yaitu tentang kebersamaan.
"Woy santuy, sistur." Haekal mulai cengengesan. Ia berniat menghabiskan es dogernya terlebih dahulu sebelum lanjut berbicara. Pun dengan Bina, dirinya mulai menikmati serutan es berwarna merah muda dengan berbagai topping tersebut.
"Biarin mereka seru-seruan berdua. Dan biar adil, lo seru-seruan sama gue. Ehe." Haekal menyempatkan untuk terkekeh. "Masa iya, kita bertiga seru-seruan di kereta, sedangkan lo pulang ke rumah sendirian setelah nganterin kita ke stasiun," lanjutnya.
"Jadi, lo rela nggak mau seru-seruan sama mereka cuma biar gue nggak pulang sendirian?" tanya Bina memastikan.
Haekal langsung tergelak mendengar pertanyaan Bina. "Ya enggaklah, Bin. Kost gue masih beberapa hari lagi. Yakali gue pulang sekarang, rugi dong. Hahaha!"
Bina diam, menggeming menatap Haekal yang masih tertawa di sana.
Sedetik kemudian tawa Haechan terhenti. Ekspresinya berubah serius dan menatap Bina dengan tenang. "Sini." Ia menggenggam tangan Bina dan membawa ke pangkuannya. "Gue nggak bakal biarin lo kesepian. Walau pada akhirnya gue bakal pulang ke Surabaya, setidaknya gue bisa sedikit ngobatin rasa kesepian lo selama nggak ada Ayu sama Mark."
"Kok lo bisa mikir sampai sejauh itu?" tanya Bina dengan penasaran.
Haekal terkekeh. "Kita kan geng," ucapnya dengan nada Limㅡteman Badrol saat berbicara dengan Raju di serial Upin-Ipin episode Hantu Durian Runtuh.
Haekal masih menatap Bina dengan hangat, sedangkan yang ditatapnya terus saja bergeming. "Saat kita bahagia karena sebentar lagi kita bakal jumpa sanak saudara, saat itulah kita nggak sadar kalau kita bakal sedih juga karena ninggalin orang-orang tersayang di perantauan." Haekal menarik napasnya panjang dan mengembuskan perlahan. "Makanya, gue nggak mau sedih pas balik ke Surabaya nanti. Gue pengen lo nggak ngerasa kehilangan gue gitu." Sekarang ekspresinya sudah berubah cengengesan dan Bina sudah memutar bola matanya.
"Surabaya sama Malang itu deket. Kata lo, bolak-balik tiap hari juga bisa." Bina mengucapkan apa yang diucapkan Haekal tadi.
"Dipikir gue pengangguran yang banyak duit, bisa bolak-balik tiap hari?" Haekal mendengus. Begini begini, ongkos untuk perjalanan Suarabaya dan Malang lumayan untuk membeli dua mangkuk bakso.
"Yaudah, sih. Biasa aja, nggak usah nyolot gitu." Bina membuang napas dan mendengus kesal.
"Siapa yang nyolot, Bina Sabrina?"
"Elo."
"Gue?"
"Iya."
"Ganteng."
"Idih."
Plakk
Selalu saja, perdebatan diantara mereka berdua akan berakhir dengan geplakan geplakan yang pastinya hanyalah sebuah bercanda tanpa rasa sakit seperti yang dibayangkan.