[1] Daya Tarik Sang Penyanyi Bar
Riuh tepuk tangan menggema beriringan dengan habisnya bait lagu yang dilantunkan. Senyum segaris terukir di bibir merah merona nan menggoda itu disertai anggukan kecil khas sebelum tungkai mungilnya melangkah menuruni panggung.
Kalista, begitulah biasanya ia disebut. Nama itu populer di kalangan bar kelas atas daerah elit ibukota sebagai penyanyi dengan tarif selangit.
Seorang pemuda dengan setelan jas resmi berjalan menghampirinya, tersenyum sopan sebelum membisikkan sesuatu padanya. Ada kilatan tak biasa pada binar hazelnya sebelum akhirnya Kalista mengangguk patuh.
Seseorang ingin menemuinya sebagai ucapan terima kasih. Hal yang sudah biasa, mengingat ia yang selalu menjadi bintang istimewa untuk menjamu para tamu VIP.
Kalista mengangguk sopan begitu salah satu pintu terbuka di ruangan lantai atas. Ruangan khusus yang dipesan untuk kalangan orang yang tentu saja bukan sembarangan.
Dengan anggun, sang gadis mungil dipersilakan untuk duduk di sebelah seorang pemuda yang melebarkan seringaian angkuh dengan tatapan menjijikkan. Sedikit enggan, namun Kalista harus bersikap profesional.
Joseph. Begitulah nama yang dilantunkan oleh pria setengah mabuk yang baru saja menyalaminya, bahkan mencium punggung tangannya dengan suara decapan menggelikan yang membuat bulu kuduk sang gadis meremang.
Kalista merespons dengan sebuah senyuman manis seraya memperkenalkan diri. “Kalista. Senang berkenalan denganmu, Tuan.”
Sulit dipercayai, namun pemuda dengan tatapan m***m itu merupakan seseorang yang wajib dilayani dengan penuh hormat oleh Kalista. Joseph ternyata merupakan direktur dari salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia.
Mendengar Kalista meresponsnya dengan baik, Joseph tertawa lantang seraya menuangkan wine ke gelas kosong. “Ini khusus untukmu, Nona Kalista.”
“Maaf, aku tidak minum alkohol.”
Joseph mengerutkan dahinya. “Oh, benarkah? Kenapa?”
Kalista hanya tersenyum lalu meraih botol wine dari genggaman Joseph. “Jika Tuan ingin, aku yang akan menuangkannya ke gelas—”
“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?”
Kalista tersentak manakala Joseph menahan pergelangan tangannya seraya menatapnya tajam. Gadis itu terdiam, berusaha sebisa mungkin menetralkan riak mukanya yang hampir menegang. Tidak, ia tidak boleh tampak lemah di hadapan siapa pun.
“Tidak seperti itu, Tuan. Maksudku—”
“Mungkinkah... kau ingin meminumnya dengan cara lain?”
Kalista mengerjap tak mengerti, sementara Joseph seolah sengaja menggantung kalimatnya di udara. Pria itu merebut kembali botol wine dari Kalista sebelum menenggak isinya hingga memenuhi mulutnya.
Dengan jahil, Joseph mengerling genit. Ia mengedipkan sebelah matanya sebelum mencondongkan wajahnya tepat ke hadapan Kalista hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
Napas panas Joseph terasa di permukaan wajah Kalista yang tiba-tiba membeku. Gadis itu diam-diam tengah mengatur napasnya yang hampir memburu.
Bukannya tersulut gairah, Kalista ternyata tengah menahan emosi yang hampir membuncah di ubun-ubun kepalanya. Rupanya pria sialan satu ini ingin bermain-main dengannya? Cih!
Joseph pikir Kalista mampu terjerat semudah itu? Lupakan!
“Ekhem!”
Satu suara dehaman berat menginterupsi, membuat Joseph dan Kalista memalingkan wajahnya serempak ke arah asal suara. Dua orang pria berjas mahal telah masuk ke ruangan itu dan disambut Joseph dengan meriah.
“Lihat siapa yang datang! Kau akhirnya datang juga, Tuan Sok Sibuk?”
Alih-alih menjawab, respons dari pria yang disambut itu malah menampilkan wajah masam sebelum menyecahkan b****g indahnya di sofa samping kiri Joseph tanpa bersuara sedikit pun. Berbanding terbalik dengan pria cengengesan yang datang bersamanya bak kacung yang tengah mengekori sang majikan.
Pria sok sibuk yang memiliki rahang tegas dengan tatapan sadis itu bernama Arkana Mahendra Yudhistira, pemilik perusahaan properti. Sementara pria satunya lagi merupakan sepupu Arkana, Bima Erlangga, kepala staf legal di perusahaan yang sama.
“Kau yang memaksaku untuk datang,” jawab Arkana datar sebelum mengeluarkan dua barang di balik jasnya, rokok dan pemantik. “Kau harus berterima kasih pada hama satu ini karena telah berhasil menyeretku dengan paksa.”
“Tidakkah kau terlalu kasar padaku, huh? Jangan terlalu munafik jika kau bahkan menikmatinya!” sungut Erlangga seraya mendengus sebelum mengalihkan perhatiannya pada Joseph yang berlagak pria dimabuk kepayang oleh gadis cantik di sebelahnya. “Berhentilah menatapnya, Joseph! Kau tampak mengerikan dengan tatapan c***l itu!”
“Bilang saja kau iri, huh? Kau ingin memesan wanita? Hari ini aku yang akan traktir. Pesan sana semaumu!” Erlangga berteriak heboh menyambut kartu hitam yang baru saja dilemparkan Joseph tepat di hadapan wajahnya. “Karena hari ini hari ulang tahunku, mari kita bersenang-senang!”
Diam-diam, Arkana yang terus mengeluarkan asap dari mulutnya bak lokomotif memperhatikan gadis mungil di sebelah Joseph yang hingga kini tidak ia ketahui namanya. Kalista memang mempunyai fitur wajah yang tak mampu ditampik pria dalam sekali lirik—termasuk Arkana, sang pria dingin yang terkenal sulit didekati oleh jalang sekalipun.
Gadis itu begitu unik nan karismatik. Cantik, namun wajah angkuh yang mendominasi membuat aura tak biasanya makin mempesona.
“Kau ingin langsung ke hotel atau ke apartemenku?” bisik Joseph seduktif yang kali ini membuat Kalista meringis.
“Maaf, Tuan. Aku hanya dipanggil untuk menemanimu minum di sini. Jika kau ingin pulang, biar aku panggilkan supir untukmu.”
“Jual mahal, huh?” Joseph kembali meraih pergelangan tangan Kalista, kali ini lebih kencang dengan tatapan mengancam. “Sebut berapa harga yang kau mau! Besok pagi rekeningmu akan terisi penuh.”
“Maaf, tapi aku—”
“Kau ingin sekarang juga? Baiklah. Sebut angka yang kau mau! Akan kutransfer sekarang juga asal kau menemaniku malam ini.”
“Bisakah kau melepaskan tanganku dulu, Tuan?”
Mendengar jawaban tak memuaskan itu, membuat Joseph murka hingga makin mengetatkan cengkeramannya di tangan Kalista dengan rahangnya yang bergemeletuk hebat. “Kau membantahku? Kau membantah permintaan tamu VIP sepertiku?”
Kalista memejamkan matanya sesaat sebelum menghela napas panjangnya. Kejadian ini bukan yang pertama kali baginya, jadi ia masih berusaha untuk mengatasinya.
“Tuan, aku di sini hanya seorang penyanyi yang diundang untuk bernyanyi. Jika ada permintaan, aku bisa menemani Anda minum, tapi hanya untuk di tempat ini hingga tengah malam. Aku tidak menerima permintaan lain. Jadi... bisakah kau melepaskan tanganku sekarang juga?” Kalista menjelaskan panjang lebar, masih dengan senyuman tipis yang tersungging di wajahnya.
“Sudahlah, Josh! Kau bisa menyewa gadis lain.” Erlangga bersuara, namun Joseph masih bergeming.
Bahkan saat Erlangga berusaha menengahi dengan melepaskan cengkeraman Joseph, Erlangga malah didorong kasar oleh Joseph hingga terjerembab ke lantai.
Pria itu masih menatap lurus Kalista dengan keinginan yang tak main-main. Mendapat penolakan hina seperti itu membuat Joseph makin bersikukuh untuk menyeret Kalista ke ranjang sekarang juga.
Klasik! Memangnya seberapa ingin gadis itu jual mahal? Joseph bahkan merasa mampu membeli hidupnya sekarang juga!
“Kau tidak akan melepaskanku, Tuan?”
“Tidak sebelum kau menyetujui keinginanku.”
Plak!
“Yak!”
Joseph menjerit marah dengan mata membelalak lebar. Apakah gadis ini gila? Bagaimana mungkin Kalista dengan berani mendaratkan tamparan di pipinya?
“Apa yang baru saja kau lakukan, huh?”
“Memangnya apalagi? Bukankah sudah kubilang sedari tadi untuk melepaskanku?” Kalista tersenyum segaris sebelum mengendikkan bahunya tak acuh. “Semua itu ada aturannya, Tuan. Jadi tolong pahamilah! Permisi.”
Joseph hampir mencegah kepergian Kalista, namun dua penjaga siaga berbadan besar dan tegap yang sedari tadi mengawal Kalista di luar pintu buru-buru masuk demi menahan Joseph. Pria itu luar biasa murka, namun pergerakannya tertahan di ambang pintu.
“Oh, aku lupa.”
Sebelum benar-benar pergi, Kalista berbalik dan tersenyum mengejek pada Joseph. Tanpa ragu, Kalista menghadiahi Joseph dengan siraman botol wine tepat di wajah tampannya.
“Kau harus menyadarkan dirimu dulu sebelum pulang, Tuan. Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku untuk ini?”
Joseph melotot dengan muka merah padam. “Dasar jalang sialan!”
Diteriaki seperti itu membuat Kalista tambah bersikap menyebalkan—memperlihatkan keangkuhannya. Gadis itu mengibaskan rambut panjang legamnya dan bergegas pergi tanpa berbalik menatap Joseph yang kini benar-benar tampak menyedihkan bak kucing yang tercebur air.
Pria itu bahkan terus berteriak untuk memanggil pemilik bar, namun penjaga yang lain bahkan datang lebih banyak dan menjelaskan bahwa memang ini sudah peraturan mutlak yang harus dituruti. Bahwa Kalista hanya melayani tamu VIP di tempat dan tidak menerima permintaan lain.
“Maaf, Tuan. Nona Kalista memang hanya ditugaskan untuk bernyanyi dan menemani tamu untuk minum hingga tengah malam.”
Di tengah kekacauan itu, Arkana bersikap tak acuh, seolah tak pernah terjadi apa-apa di sana. Ia dengan tenang mengambil batang nikotin keduanya dengan seringaian yang tercetak jelas di salah satu sudut bibirnya seraya menggumamkan satu nama yang terus berdengung dalam benaknya. “Kalista.”