[9] Semoga Bukan Kabar Buruk

1465 Kata
“Aku tidak berkata demikian, kau saja yang menganggap dirimu serendah itu.” “Hei!” “Ada apa ini?” Poppy yang hampir meluapkan sumpah serapahnya kini kembali bungkam saat suara familiar itu menginterupsi. Madam Rose datang, dan kini melayangkan tatapan lasernya ke arah mereka bertiga yang serempak menoleh ke arahnya dalam mode tegang. “Kebetulan sekali. Aku ingin menemuimu, Madam Rose.” Kalista bersuara, berusaha mengalihkan pertanyaan yang baru saja terlontar sekaligus menyudahi pertengkaran kekanakkan dengan Poppy yang bisa saja menjadi masalah besar jika Madam Rose tahu. Sudahlah. Lebih baik Kalista tidak usah melayani debat dengan tong kosong yang nyaring bunyinya ini. Menghabiskan energi berharganya saja. Madam Rose terdiam sejenak sebelum menghela napasnya perlahan. “Ikut aku ke ruanganku!” Di tengah keheningan yang tercipta, Kalista berhasil memanfaatkan keadaan. Kelakuannya membuat Poppy semakin menggerutu dengan bibir bersungut-sungut, sementara Yasmine hanya mampu terkikik geli di sampingnya. Kalista tersenyum puas penuh rasa kemenangan. Pada akhirnya, ia berhasil mengambil kartu nama Arkana dari tangan Poppy yang lengah sebelum melenggang pergi mengekori Madam Rose. *** “Ada masalah apa kau dengannya?” Madam Rose langsung menembaki Kalista dengan sebuah pertanyaan begitu gadis itu memasuki ruangannya dan menutup pintunya rapat. Kalista menjeda, membiarkan b****g indahnya duduk dulu di sofa—berhadapan dengan sang pemilik ruangan. “Aku tidak memiliki masalah apa-apa dengan Poppy. Kau tahu sendiri ia saja yang gemar cari gara-gara denganku.” “Kalian ini jangan bertingkah! Aku tidak ingin sesama pegawaiku ribut karena hal-hal yang tidak penting. Itu hanya akan membuatku repot.” Madam Rose memperingatkan seraya menyalakan pemantik untuk membakar ujung rokoknya. “Mana bayaran tambahanku?” Kini giliran Kalista yang menodong balik pada sang atasan. “Bayaran… untuk apa?” “Pelayanan ekstra di belakang panggung.” Madam Rose menikmati batang nikotinnya sesaat sebelum berdecak. “Kau tahu saja jika ia memberiku tip lebih untuk sekadar menemuimu.” “Kau tidak mungkin membiarkan ia menemuiku secara cuma-cuma.” Madam Rose tersenyum miring. Gadis ini baru dua tahun bekerja dengannya, namun sudah tahu betul tentang sifatnya. “Arkana… ia hanya menemuimu?” “Lalu kau pikir ia akan melakukan apa denganku di belakang panggung?” Kalista balik bertanya. Madam Rose mengendikkan bahunya tak acuh. “Bahkan di sudut toilet yang paling gelap sekalipun, dua orang lawan jenis bisa saja melakukan hal tak senonoh di bar ini.” Kalista berdecih. “Kau tahu aturanku, Madam Rose. Aku bahkan hanya melayani tamu untuk menemaninya minum, tanpa kontak fisik berlebih.” Ya. Madam Rose tahu betul dengan aturan itu. Justru dengan tingkah sok jual mahalnya Kalista mampu menjelma menjadi gadis yang paling diincar di bar ini. Namun kali ini—dengan Arkana—Madam Rose seolah memiliki perasaan yang berbeda. “Kurasa Arkana tertarik padamu.” Madam Rose melantunkan opininya. “Banyak tamu yang tertarik padaku.” Tidak. Bukan itu maksud sang madam. Arkana terlalu berbeda. Tatapan tajam dari manik kelam sang pria saat menemui Madam Rose beberapa saat lalu terlalu mengusiknya. Selama ini, Madam Rose biasanya mendapati tatapan para tamu pria yang mengincar Kalista merupakan tatapan penuh nafsu akibat ingin menguasai tubuh moleknya. Tatapan itu berkabut gairah lelaki yang mengincar umpannya. Namun tatapan Arkana kali ini terlalu kuat nan pekat. Seolah-olah ia telah memiliki keinginan yang terlalu dalam untuk membuat Kalista jatuh dalam rengkuhannya—menjadi miliknya secara utuh. Dan entah untuk alasan macam apa, Madam Rose merasa bahwa ambisi kuat Arkana tersebut mungkin saja bisa membahayakan bisnisnya karena ini menyangkut tentang Kalista—sang ladang emas yang menjadi incaran para tamunya. “Ingat! Kau harus bertindak profesional di sini.” Madam Rose kembali melontarkan nasehatnya yang entah mengapa malam ini didengar Kalista terlalu sering padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. “Aku tidak peduli jika kau ingin berkencan sungguhan dengannya, atau dengan pria lain di luaran sana, asal jangan mengacaukan bisnisku. Kau ladang uangku, Kalista!” Kalista mengernyit sesaat begitu peringatan itu terlontar. Padahal, ia melayani Arkana seperti tamu-tamu lainnya. Lalu mengapa Madam Rose harus bertindak seperti ini? Wanita itu nampak... panik? Dan apa katanya tadi? Berkencan? Jangan gila! Mana sempat Kalista memikirkan hal tidak penting seperti itu? Entahlah. Mungkin saja Madam Rose mulai memasuki masa menopause-nya. Kalista memilih untuk tidak terlalu peduli. “Ya, aku tahu. Profesionalitas adalah hal yang kujunjung tinggi saat bekerja di tempat ini. Kau tenang saja, Madam.” Kalista menegaskan sebelum kembali ke inti pembicaraan yang sempat terpotong. “Jadi, mana bayaran tambahanku?” *** Sepulangnya dari bar, sosok angkuh nan anggun dari seorang Kalista telah berubah menjadi Jelita—sang gadis yang berpenampilan santai dengan kaus longgar dibalut jaket jeans, dipadupadankan dengan celana gombrong hitamnya. Jelita pulang dengan bus terakhir sebelum tengah malam. Syukurlah ia masih sempat menaikinya di menit-menit penghabisan. Karena jika tidak, biasanya Jelita memilih untuk memesan transportasi online yang biasanya tersedia 24 jam. Dengan naik bus, otomatis ongkosnya juga menjadi lebih irit. Saat turun dari bus di halte, Jelita kemudian berjalan kaki sebentar. Jarak antara halte dan panti sekitaran lima belas menit sehingga kini ia mampu berjalan santai. Sebelum melangkah lebih jauh, Jelita memutuskan untuk melipir terlebih dulu ke warung yang dilewatinya. Sang pemilik warung—Bu Siti dan suaminya, Pak Bagja—sedang membereskan barang-barang, nampak bersiap untuk tutup. “Permisi! Warungnya masih buka, Bu?” “Eh, Mbak Jelita?” Bu Siti menyambut dengan ramah. “Masih, kok. Silakan.” “Saya pesan telur satu kilo ya, Bu.” “Pak, telur satu kilo.” Bu Siti menyuruh sang suami untuk menimbang telur, sementara dirinya sedang sibuk beres-beres di warung bagian depan. “Baru pulang, Mbak?” Jelita mengangguk dengan mengulas senyum. “Iya, Bu.” “Kafenya ramai terus ya, Mbak? Lembur terus.” Bu Siti meluncurkan pertanyaan basa-basinya, seperti ibu-ibu kebanyakan yang terlalu ingin tahu kehidupan tetangganya. “Shift saya memang di malam hari, Bu. Kafenya tutup hampir tengah malam.” “Oh, begitu? Pantas pulangnya selalu malam.” Bu Siti mengangguk seraya mengepak kardus kosong untuk dijualnya pada pengepul. “Oh ya, tadi ada yang datang ke panti ramai-ramai loh, Mbak. Itu siapa ya?” Jelita mengernyit. Ia yang ditanya, namun kini malah ia yang bertanya balik. “Yang datang ke rumah?” “Iya, banyak orang yang datang, pakai baju hitam-hitam, badannya besar-besar. Orang sangar semua kelihatannya.” Bu Siti menjelaskan dengan mendetail, memperagakan orang-orang yang dilihatnya di depan panti. “Saya lihat mukanya memang serem, Mbak. Kayak penagih hutang. Betul kan, Pak?” Pak Bagja mengangguk menyetujui, masih sibuk dengan telur-telurnya. “Mereka... datang ke panti jam berapa, Bu?” Jelita mulai penasaran. “Tadi siang. Eh atau sore ya, Pak?” “Sekitaran jam tiga, Mbak. Sesudah Lina pulang les.” Pak Bagja menjawab pasti, mengingat betul waktu kejadian tersebut karena bertepatan dengan putri sulung mereka yang baru saja sampai di rumah saat itu. Kali ini ia sudah selesai menimbang telur, tinggal dimasukkan ke kantung plastik berukuran sedang. “Oh iya, betul itu.” Bu Siti mengangguk semangat sebelum rasa penasarannya menjalar kembali untuk diluapkan. “Mereka itu... siapa ya, Mbak?” Jelita terdiam seraya menerka-nerka. Ia juga tidak tahu siapa orang-orang tersebut yang dimaksudkan Bu Siti dan Pak Bagja. Dari penjelasan yang dirincikan, Jelita merasa ada yang tak beres. Orang-orang berbadan besar dan berbaju hitam? Layaknya penagih hutang? Siapa itu? Manda tidak mungkin memiliki hutang lain tanpa sepengetahuan Jelita. Bahkan untuk berhutang di warung Bu Siti saja jarang dilakukannya. Jikapun harus, itu pastilah karena kepepet. Manda bukan tipe orang yang bergemar berhutang tanpa keperluan yang mendesak. Lalu... siapa orang-orang itu? “Telurnya jadi berapa ya, Bu?” Jelita memutuskan untuk bergegas menyelesaikan pembayaran. Toh, ia pun tak tahu-menahu tentang identitas orang-orang itu. Lebih baik ia kini segera pulang dan menanyakan hal yang sebenarnya terjadi pada Manda. “Oh ya, ini satu kilogram jadi dua puluh lima ribu, Mbak.” Jelita memberikan uang pas setelah merogoh dompetnya dari dalam tas. “Terima kasih ya, Bu. Saya permisi.” Tanpa bertutur lebih panjang, Jelita lalu pulang. Saat membuka pintu dengan begitu hati-hati, ia tidak mendapati Manda yang biasa masih menunggunya. Apakah mungkin wanita itu sudah tidur? Jelita melangkahkan kakinya kembali dengan perlahan menuju kamar Manda, namun pintunya kini tertutup rapat. Tumben sekali. Biasanya, Manda selalu tidur dengan pintu kamar yang terbuka untuk tetap menjaga anak-anak panti. Sehingga kalaupun ada sesuatu yang terjadi, Manda biasanya yang bangun paling duluan karena keributan sekecil apa pun akan terdengar jelas olehnya. Keadaan panti sudah sepi. Malam sudah terlalu larut. Adik-adiknya pasti sudah tertidur pulas sehingga tidak ada seseorang yang mampu Jelita tanyai tentang kehadiran orang-orang misterius itu. Jelita juga tidak mungkin menggedor pintu kamar Manda demi menuntaskan rasa penasarannya yang sesungguhnya sudah menggebu. Lebih baik, kini ia segera membersihkan diri dan segera beristirahat dengan lelap. Biarlah tanya itu terendap hingga esok hari, dimana ia bisa bertanya langsung pada Manda. Jelita hanya berharap, bahwa bukan kabar buruk yang akan didapatnya sebagai jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN