[10] Identitas Segerombolan Pria Sangar

1325 Kata
Pagi itu, Jelita bangun pukul sembilan lalu mengernyitkan dahinya akibat rasa heran yang mendera. Tumben sekali. Biasanya, Jelita selalu dibangunkan oleh adik-adiknya—terutama Shafa—sebelum mereka berangkat sekolah. Namun kali ini, ia malah kebablasan. Sayup-sayup, kini juga ia mulai mendengar suara ribut-ribut di luar. Sepertinya dari arah ruang tamu. Ini jelas bukan keributan dari anak-anak panti yang familiar terdengar oleh indera pendengarana Jelita. Lagipula kini mereka juga pasti sudah berangkat sekolah. Panti biasanya masih dalam keadaan sepi jika pagi hari seperti ini. Mereka mulai bermunculan, datang satu per satu untuk pulang di antara pukul sepuluh hingga pukul satu siang. Nyawanya baru terkumpul setengah saat Jelita mulai menggeliat dari ranjang dan mengucek matanya. Ia memilih untuk segera bangun dan memastikan keadaan di luar. Apa memang benar suara gaduh itu berasal dari ruang tamu, atau malah dari arah luar—ribut-ribut tetangga. “Bu?” Deg! Jelita terhenyak di ambang pintu kamar saat mendapati pemandangan yang begitu asing di hadapannya. Di ruang tamu itu, kini sang ibu—Manda—tengah dikerubungi para pria berbaju hitam dan berbadan besar. Persis seperti apa yang dikatakan Bu Siti kemarin malam. “Ini… ada apa?” Jelita bergerak mendekat, masih dengan piama bermotif polkadot yang dikenakannya, lengkap dengan cepolan khas orang bangun tidur dengan muka bantalnya. Jelita tidak peduli akan penampilannya, yang ia pedulikan kini adalah siapa sebenarnya identitas orang-orang di hadapannya yang kini mengalihkan atensi padanya. “Masuk, Nak. Biar Ibu jelaskan nanti.” Manda bergegas berdiri dan mendorong Jelita untuk kembali masuk ke kamarnya, namun Jelita tetap kukuh bertahan di posisinya. Jelita mengarahkan tatapan penuh tanya pada Manda. “Mereka ini… siapa, Bu?” “Kau… siapa?” Bukannya jawaban yang didapat, melainkan Jelita mendapati pertanyaan dari salah satu pria yang kini tengah duduk di ruang tamunya. Pria dengan bulu-bulu halus di rahangnya itu terlihat seperti pemimpin pasukannya yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang. Pria itu juga mengenakan jaket kulit mewah dengan sebuah kacamata hitam besar yang bertengger di hidung bangirnya. Tampilannya begitu perlente, namun tatapannya benar-benar membuat Jelita risih. Tatapan itu… merupakan tatapan yang sering dijumpainya pada pria menjijikkan di bar—seolah menjadikannya objek rendahan yang pantas dinilai dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kalian siapa? Ada urusan apa kalian kemari?” Jelita maju selangkah, bertanya dengan berani. Kehadiran orang-orang ini terlalu mencurigakan. Mereka jelas bukan calon orang tua asuh yang biasanya mendatangi panti untuk mengadopsi anak. Bukan. Tampilan mereka lebih seperti… penagih hutang yang bersiap menyita rumah sang kreditur. Ya. Setidaknya kesan itulah yang Jelita dapatkan ketika bertemu langsung dengan orang-orang ini. “Perkenalkan, saya Krisna.” Pria itu menghampiri Jelita seraya mengulurkan tangannya. Walau enggan, Jelita tetap menyalami pria yang nampaknya berusia awal 40-an tersebut. “Jadi siapa namamu, Nona?” “Jelita.” Sang gadis berucap pendek seraya menarik lepas tangannya. “Nama yang indah, persis seperti orangnya. Jelita.” Krisna berdecak kagum saat memandangi Jelita sebelum mengalihkan tatapan pada Manda. “Ternyata… Bu Manda punya anak gadis juga?” “Bapak Krisna ini siapa?” Jelita tidak membiarkan sang ibu yang kini masih berada di sebelahnya untuk menjawab. “Ada keperluan apa sehingga membawa orang sebanyak ini untuk datang ke panti kami?” “Bapak?” Krisna tidak percaya dengan sapaan yang baru saja didengarnya dari sang nona manis yang menarik perhatiannya. “Saya belum terlalu tua. Cukup panggil Mas, Nona.” “Saya tidak perlu setuju dengan panggilan itu, bukan?” Jelita menolak dengan keras. Wajahnya mulai menegang. Saat ini ia merasakan firasat yang tidak baik. “Saya hanya perlu mengetahui apa alasan kalian mendatangi panti kami dengan bergerombol seperti ini.” “Bagaimana kalau kita duduk dulu? Akan saya jelaskan maksud dan tujuan saya datang kemari.” Lagak pria ini seperti tuan rumah, menggiring Jelita dan Manda ke sofa untuk duduk bersebelahan, dan ia duduk di seberangnya dengan bertopang kaki. Krisna lalu memberi isyarat pada pria berkepala pelontos di sebelahnya untuk memberikan berkas yang kini tersaji di atas meja. “Silakan dibaca terlebih dahulu! Sesuai dengan surat putusan pengadilan, saya—Krisna Wijaya—telah resmi menjadi pemilik lahan panti ini.” Bagai disambar petir di pagi hari yang begitu cerah ini, kalimat yang baru dilontarkan tersebut merupakan sebuah pernyataan sinting. Jelita melotot sejadi-jadinya, mengarahkan kembali tatapannya pada Manda yang kini hanya mampu balas memandangnya dengan mata berkaca-kaca. “Maksud… Bapak... apa?” Jelita tergeragap. Di hadapannya kini, ia melihat sendiri bahwa itu memang merupakan berkas resmi dari pengadilan. Surat itu merupakan keputusan final dari hasil gugatan yang menyatakan bahwa lahan panti yang sudah ditinggali Jelita selama puluhan tahun ini ternyata milik orang di hadapannya—Krisna Wijaya. “Rupanya ibumu belum memberitahumu tentang ini?” Krisna menghela napas beratnya. “Ini dokumen resmi dari pengadilan. Saya memenangi gugatan atas sengketa tanah ini. Sudah sejak dua minggu yang lalu saya menghubungi ibumu, namun tak pernah ada jawaban.” Jelita semakin terperangah. Ia berharap kejadian tidak rasional ini hanyalah akal-akalan orang sinting di hadapannya, namun kebisuan Manda di sebelahnya mengartikan hal yang sebaliknya. Semua ini nyata adanya. Manda menunduk dalam, sama sekali tak mampu bicara. Jelita semakin ketar-ketir di tempat. Selama beberapa saat, mereka semua yang berada di sana larut dalam keheningan yang mencekam. “Kalian sepertinya butuh waktu untuk berdiskusi. Baiklah. Apa boleh buat?” Krisna memecah keheningan. “Besok, saya akan datang lagi ke sini. Saya harap, sudah ada jawaban pasti dari kalian—terutama Bu Manda—tentang hal ini. Untuk sekarang, saya permisi. Sampai berjumpa besok, Nona Jelita.” *** “Apa?!” Jelita begitu tercengang dengan penjelasan dari Manda. Rahangnya sempurna jatuh ke tanah. Saat ini mereka duduk berdampingan di ranjang tipis milik Manda. Sengaja berpindah tempat karena anak-anak panti mulai berdatangan, baru pulang dari sekolah. Setelah Krisna dan segerombolan anak buahnya yang nampak seperti preman itu pamit, Jelita menenangkan Manda yang kondisinya terguncang. Manda menyeruput teh hangat yang dibuatkan Jelita, membuat kondisinya jauh lebih baik saat ia mulai sudi untuk berbicara. Ternyata, tanah panti ini merupakan sengketa sejak tiga tahun yang lalu. Sebenarnya Manda pun telah menerima surat panggilan dari pengadilan tentang kasus ini sebagai pihak tergugat, namun ia tidak pernah datang. Manda memilih untuk menyembunyikan semua surat-surat dari pengadilan itu sendiri tanpa pernah memberitahu Jelita atau Raffa. Ia bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak pernah ada hal buruk yang sedang terjadi pada panti. Ternyata, Manda yang telah menempati lahan ini kurang lebih selama tiga puluh tahun tidak pernah tahu tentang surat atau sertifikat tanah panti. Saat kepindahannya dulu, yang mengurus semuanya adalah sang suami. Manda saat itu hanya berfokus untuk mengurus perizinan panti, sementara tentang lahan ia serahkan semuanya pada sang suami. Manda sama sekali tidak tahu tentang seluk beluk tanah ini. Dan kini di waktu yang tak terduga, tiba-tiba saja datang orang yang mengaku-ngaku memiliki tanah ini dengan surat serta sertifikat yang begitu lengkap, ditambah bukti bahwa ia telah memenangi gugatan atas lahan. Krisna juga telah menghubunginya dua minggu lalu, namun lagi-lagi Manda menghindarinya. Manda pikir, gugatan itu tidak akan diperpanjang. Dengan pikiran sempitnya, Manda mengira surat pengadilan itu salah alamat meski dengan jelas namanya tertera di sana sebagai pihak tergugat. Nyatanya, kini ia malah ketar-ketir karena diusir dari tempat tinggalnya sendiri. Kepala Jelita kini juga langsung pening dibuatnya. Manda menjelaskan jika maksud kedatangan Krisna dan anak buahnya adalah untuk mengusir mereka dari lahan panti. Bangunan tua ini akan dirobohkannya dan akan dibangun sebuah vila. Krisna bahkan telah mulai merancang denah akan vila tersebut. Meski Manda telah memohon dengan memelas bahkan hampir bersujud di kakinya, nyatanya Krisna tak juga luluh. Ia merasa berhak atas lahannya dan meminta Manda untuk segera membereskan barang-barangnya. Masalah anak panti, Krisna berjanji akan mengurus kepindahan anak-anak tersebut ke panti lain jika memang Manda tak sanggup mengurus mereka lagi. Hanya itu kebaikan yang ia tawarkan agar penghuni panti segera angkat kaki dari sini. Namun, jika Manda berniat untuk membeli lahan yang kini telah resmi menjadi miliknya tersebut, Krisna juga terbuka untuk penawaran. Ia membuka penawaran pada Manda sebesar 1 M untuk lahan panti tersebut. Ya. 1 Miliar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN