1 Miliar.
Sebuah nominal yang fantastis dan keterlaluan. Manda telah menempati tempat ini selama lebih dari separuh hidupnya, namun kini ia malah harus membayar sejumlah uang tidak masuk akal tersebut agar bertahan di tempat tinggalnya sendiri.
Manda menangis pilu. Ia tidak memiliki tujuan lain. Panti ini merupakan satu-satunya tempat tinggal baginya, dan juga anak-anak tidak beruntung yang telah menganggapnya sbagai ibu kandung mereka sendiri.
Manda memikirkan nasib meraka. Ia tidak ingin jika berpisah dengan anak-anaknya tersebut. Begitupun dengan Jelita. Ia tidak sanggup membayangkan lebih jauh tentang nasib mereka semua jika harus tergusur dari tempat ini.
“Raffa tahu tentang ini?”
Manda menggeleng. Air matanya terus menganak sungai di pipi, tak kunjung berhenti. Ternyata selama ini ia memendam masalah itu seorang diri karena tidak ingin menambah beban pikiran orang lain—terutama Raffa dan Jelita.
“Ibu sekarang tenang dulu. Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin.” Jelita meraih tangan Manda untuk digenggamnya erat.
“Apa... kita harus memberitahu Raffa tentang hal ini?”
“Jangan dulu, Bu.”
Jelita mencegah. Ia tahu temperamen Raffa yang terkadang bisa lepas kendali. Ia terlalu sensitif jika menyangkut tentang sang ibu, dan juga panti. Jika Raffa tahu hal ini, bisa-bisa ia meninggalkan tugasnya dengan gegabah di rumah sakit demi mendatangi Manda saat ini juga.
“Besok, jika orang itu datang lagi ke sini, biar Jelita yang berbicara dengannya.”
“Tapi, Nak—”
“Kita coba dulu, Bu. Kita harus tahu dulu kronologis keputusan pengadilan. Jika perlu, kita naik banding demi mempertahankan panti.”
Sesungguhnya Jelita tidak terlalu mengerti tentang hukum, namun dari kasus-kasus infotainment yang sering lalu-lalang di televisi, ia tahu jika keputusan pengadilan bisa dikaji ulang di tingkat banding. Jelita masih berharap keadilan masih berada di pihak orang-orang tertindas sepertinya.
“Kita pasti punya jalan keluar, Bu. Tenanglah. Tuhan tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang butuh pertolongan.”
Jelita mendadak religius. Biarlah ia hina, namun Jelita masih memiliki kepercayaan jika Tuhan pasti sudi mendengar doa orang-orang baik, seperti Manda. Meskipun kini pikirannya benar-benar buntu, namun ia tetap berharap jika keajaiban itu akan datang. Setidaknya melalui doa-doa tulus Manda yang sering dipanjatkannya setiap malam.
***
Setibanya di bar sore itu, Kalista menceritakan masalahnya pada Yasmine. Hanya gadis itu yang selama ini tahu tentang latar belakangnya. Kalista hanya memiliki Yasmine untuk berkeluh kesah tentang dua sisi kehidupannya.
Namun bukannya solusi yang didapat seperti yang diharapkan. Ucapan panjang lebar Yasmine sebagai tanggapan kini malah membuat Kalista semakin patah arang.
“Kau yakin dengan naik banding pantimu akan kembali? Terlebih, jika orang yang kau hadapi bukanlah orang sembarangan, maka kemungkinan menang sepertinya akan sulit. Semua permainan hukum itu juga membutuhkan biaya yang tak sedikit. Faktanya, keadilan jarang berpihak pada orang-orang tersisihkan seperti kita.”
Sebelum berjuang, Kalista bahkan sudah merasa kalah duluan. Pikirannya kini bercabang tak menentu.
Harapan yang sempat dibangunnya kini perlahan mengendor—bahkan hampir pupus. Selepas kepergian Yasmine untuk kembali pada tugasnya, Kalista kini merenung di belakang panggung.
Waktu penampilannya masih satu jam lagi, menunggu tamu dengan dompet tebal yang kehadirannya agak terlambat. Asalkan tamu itu mampu membayarkan sejumlah uang kepada Madam Rose sebagai gantinya, maka keterlambatan akan dimaklumi. Bahkan Kalista juga harus patuh karena Madam Rose yang memerintahkannya untuk menunda penampilan.
“Mau kemana, Nona?”
Kalista yang baru saja keluar dari ruangannya kini harus menghadapi pertanyaan dari salah satu penjaga yang berdiri tegak di pintu depan. Ya. Selama di bar, keselamatan Kalista menjadi keutamaan yang harus dilindungi. Ia memiliki dua pengawal resmi selama jam kerjanya—Dimas dan Bayu.
Namun setelah penampilan panggungnya usai, maka mereka akan kembali menjadi penjaga bar dan membiarkan Kalista untuk pulang sendiri. Sebuah kemewahan yang begitu singkat, bahkan Kalista pun sering merasa dipermalukan oleh keuntungannya tersebut yang malah sering membuat para pegawai lain iri.
Padahal, semua itu karena titah Madam Rose. Wanita itu tidak ingin menanggung risiko kerugian atas keselamatan Kalista. Namun setelah tugasnya usai, maka Kalista hanya akan menjadi Jelita—gadis biasa yang dianggap tidak ada artinya bagi bar miliknya.
“Aku ingin pergi menemui Madam Rose.”
Dimas dan Bayu saling pandang, melempar pertanyaan lewat tatapan.
“Waktu penampilanku masih satu jam lagi. Aku bosan jika harus mengurung diri di sini terus-terusan.”
Dimas pun mengangguk setelah memberi isyarat anggukan pada Bayu. “Biar saya antarkan.”
Kalista mendengus sebelum dengan pasrah mengekori Dimas. Pria bertubuh atletis itu mengetuk pintu Madam Rose, mengatakan maksud kedatangannya, lalu diizinkan masuk. Ia kemudian membukakan pintu untuk Kalista sebelum sang gadis berjalan melewatinya untuk menemui sang atasan.
“Ada apa kau ingin menemuiku?” tanya Madam Rose setelah Kalista duduk di hadapannya.
“Berapa lagi sisa hutangku padamu?” Kalista langsung menggelontorkan tanya tanpa basa-basi tersebut, membuat Madam Rose agak terhenyak di kursinya untuk sesaat.
“Kenapa? Kau ingin melunasinya?”
“Aku… ingin berhutang lagi.” Kalista memberanikan diri untuk blak-blakan. Ia memang sudah tidak memiliki rasa malu lagi di hadapan Madam Rose.
“Kenapa? Ibumu sakit lagi?”
“Aku ada keperluan lain.”
Kalista memilih untuk tidak menjelaskan secara detail masalahnya. Lagipula percuma saja. Madam Rose tidak pernah memiliki belas kasih bahkan jika ia tahu akan kesusahan yang ditanggung Kalista. Wanita itu hanya memikirkan keuntungan yang bisa didapatkannya.
“Berapa yang kau butuhkan?”
“Satu miliar.”
Alis Madam Rose menukik tajam. Sesungguhnya ia begitu tercengang dengan nominal yang baru saja disebutkan. Meskipun ia memiliki uang sebanyak itu—bahkan lebih—namun ia kini merasa tidak mengerti.
Seorang Kalista yang bahkan dulu menangis-nangis padanya agar dipinjamkan uang untuk berobat ibunya, kini dengan berani mengatakan jika ia ingin meminjam lagi dengan nominal tidak masuk akal. Berani sekali gadis itu! Apakah mungkin ini karena ia mulai sadar akan popularitasnya yang semakin menanjak dari hari ke hari?
“Uang sebanyak itu… untuk apa?” Madam Rose merasa perlu tahu terlebih dulu alasan sang gadis.
“Ini… mendesak.” Pada akhirnya, Kalista menunduk dengan jari-jari tertaut. Ia sadar ini merupakan keputusan sinting, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Hanya Madam Rose yang mampu membantunya. “Tolong aku!”
Madam Rose kembali dikejutkan dengan kata yang baru saja dilontarkan—tolong. Sebuah kata yang jarang digunakan oleh seorang Kalista yang bahkan selalu bertindak angkuh. Jika telah seperti ini, Madam Rose mengerti bahwa gadis di hadapannya ini telah diselimuti keputusasaan yang mendalam.
“Harus kuingatkan, bahwa hutangmu yang lalu saja belum lunas. Jika kau ingin berhutang lagi padaku, mungkinkah kau sanggup bekerja di bar milikku seumur hidup untuk melunasinya?”
Madam Rose menumpukkan kedua sikunya di atas meja. Tatapannya condong menatap pada Kalista yang kini balas menatapnya tajam. Emosi gadis itu mulai terpancing.
“Jujurlah padaku! Seharusnya hutangku itu sudah lunas, kan? Selama ini aku hanya dibayar murah untuk upahku. Aku tahu tarif menyanyiku bahkan jauh lebih tinggi dari itu!”
“Hei, tenanglah sedikit!” Madam Rose sama sekali tidak terprovokasi. “Pokok hutangmu memang sudah lunas, namun bunganya belum.”
Kalista membuang muka, mendengus kasar. Ia tahu sejak awal seharusnya ia tidak menjerumuskan diri untuk terjerat dengan lintah darat berbalut pesona elegan layaknya Madam Rose.
Biaya operasi untuk Manda setahun lalu berada di bawah angka lima puluh juta. Namun hingga kini hutangnya masih jauh dari kata lunas meski ia telah bernyanyi hampir setiap malam, bahkan memberikan pelayanan pada tamu untuk menemaninya minum.
Kalista tahu selama ini ia telah dipermainkan oleh sang madam dengan jeratan hutang berbunga yang tak ada habisnya, namun lagi-lagi ia tidak dihadapkan dengan pilihan yang lebih baik. Orang di sekitarnya tidak mungkin ada yang memiliki nominal setinggi itu untuk dipinjamkan pada gadis yang bahkan tidak memiliki jaminan apa pun sepertinya.
“Lalu sampai kapan aku bisa melunasi hutangku? Apakah aku harus bekerja di bar ini seumur hidupku seperti keinginanmu? Demi Tuhan! Kau ingin aku mengabdikan diriku untukmu dengan seluruh kepalsuan ini?”
Kontras dengan Kalista yang meledak-ledak, kini Madam Rose menyunggingkan senyum miring di sudut bibirnya. Sebuah ide yang mengagumkan—juga mencengangkan—telah terangkai dalam benaknya.
“Satu miliar itu… aku bisa membuatmu mendapatkannya dalam satu malam.”
Telinga Kalista meruncing seketika. Kalimat yang seolah disengaja untuk menggantung di udara itu membuat Kalista menatap heran sang madam dengan mata yang memicing tajam. Ia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Lelang keperawananmu!”
Deg!
“Akan aku pastikan hargamu jauh lebih tinggi dari itu.”