“Bagaimana keadaan ibumu?” Kalista yang baru selesai berdandan itu menoleh—mendapati sang madam yang baru saja masuk ke ruangannya di belakang panggung. Dengan riasan natural yang dipolesnya sendiri, Kalista kini telah siap melantunkan suara indahnya dengan gaun hitam yang melekat pas di tubuh mungilnya. “Sudah membaik. Ia juga sudah pulang.” Madam Rose mengangguk kecil sebelum melangkah maju dan mendudukkan diri di kursi yang berdampingan dengan Kalista. “Apakah penyakitnya kambuh lagi?” “Tidak, hanya kecapekkan saja.” Kalista memilih menjawab singkat, enggan berpanjang kata. “Syukurlah.” Ungkapan kelegaan itu bukan semata-mata dilantunkan demi menaruh simpati pada ibu Kalista—tentu saja—melainkan juga merupakan rasa syukur sang madam karena kini sumber pundi-pundi berharganya mampu

