“Jadi… haruskah kita mulai?” Deg! Telinga Jelita meruncing seketika, beriringan dengan manik hazelnya yang melebar. Jelita refleks memasang tampang waspada, menjaga jarak dari sang pria yang kini berada di hadapannya. “Maksudku… mulai berganti baju lalu mandi.” Arkana yang menyadari situasi canggung di sini segera meluruskan ucapannya yang sepertinya telah disalahpahami. Sungguh, perkataannya tadi bukan bermaksud untuk mengarah pada hal lain yang telah membuat Jelita merasa tak nyaman, hingga menunjukkan ekspresi tak terkendali yang begitu kentara. “Tidakkah kau merasa kegerahan mengenakan pakaian ini seharian?” Arkana merujuk pada setelah tuksedo yang saat ini masih melekat di tubuhnya, juga gaun pengantin sang gadis. Jelita tertawa rikuh sebagai reaksi setelah mulai memahami maksud

