“Bagaimana? Masih sakit?” tanya Arkana di sela-sela kegiatannya mengompres kaki Jelita. “Hm… sedikit.” “Kau yakin kita tidak perlu memanggil dokter?” Arkana lagi-lagi memastikan. “Ini sudah sangat larut, Arkana. Lagipula aku sudah merasa lebih baik.” Arkana menengadah, menatap Jelita untuk menelisik kebohongan yang mungkin saja dilontarkan sang gadis. “Sungguh. Kali ini aku tidak berbohong padamu.” Jelita mempertegas, seolah mampu membaca pikiran Arkana yang tengah sangsi padanya. “Lebih baik sekarang kau segera tidur! Aku bisa mengompresnya sendiri.” “Tak usah banyak bergerak! Aku yang akan merawatmu.” Arkana menepis perlahan tangan Jelita yang hampir merebut handuk di kakinya. Pria itu menggenggam erat tangan sang gadis seraya mengukir senyum di sudut bibirnya. Jelita sempat tergu

