Sahabat Jadi Musuh

1104 Kata
Reza menghela napas berat melihat halaman belakang yang seperti hutan kecil. Rumput menjulang, dedaunan menumpuk di tanah, dan ia tahu pasti, dialah yang harus membereskannya. Mengeluh percuma. Hidupnya di rumah ini sudah seperti itu, apa pun bisa, apa pun harus. Tanpa suara, ia mulai memotong rumput, mengumpulkannya, lalu membuangnya ke lubang sampah untuk dibakar. Bau asap bercampur peluh menempel di kulitnya. Sesekali, tangannya yang kotor mengusap keringat di wajah, meninggalkan jejak tanah di kulitnya. “Heh! Kalau anak saya telepon itu diangkat! Dari tadi Raysa nelepon kamu, ngapain aja sih?” teriak Marsha dari teras. Reza mendongak, berdiri, dan merogoh ponsel di saku celana. Benar saja deringnya mati. Panggilan masuk dari Raysa tak terdengar. “Ada, kan? Dasar suami nggak berguna. Istri kamu itu butuh bantuan. Cepat angkat!” Tanpa menanggapi, Reza langsung menghubungi balik. Begitu tersambung, suara bentakan Raysa langsung memenuhi telinganya. [Heh! Dasar suami nggak tahu diri. Dari tadi aku nelepon, kamu ngapain aja? Kalau aku telepon ya diangkat!] “Aku lagi beresin halaman. Kenapa telepon?” [Pake nanya lagi! File penting ketinggalan di rumah. Gimana sih, berkas kayak gitu nggak masuk ke tas aku!] “Sa, selama ini kamu nggak izinin aku nyentuh barang kamu, apalagi dokumen perusahaan—” [Jangan banyak alasan! Kalau ketinggalan, harusnya kamu langsung kabarin aku. Cepat bawa ke sini sebelum aku beneran murka!] Selesai bicara, Reza menuju pintu belakang. Baru beberapa langkah, Marsha menghadang. “Mau ke mana?” “Ganti pakaian dulu, Ma. Soalnya—” “Cepat sekarang! Kalau kerjaan Raysa terganggu gara-gara kamu, aku minta ganti rugi!” ujarnya, menyodorkan map dengan kasar. Reza diam saja. Untung ia pakai motor, jadi bisa melaju cepat tanpa terjebak macet. Di mall, Raysa mondar-mandir seperti setrikaan. Begitu melihat Reza muncul di lorong, ia langsung menyambar tangannya. “Mau ke mana sih? Udah tahu aku butuh berkas ini malah mau keluyuran!” “Tadi ada yang ngelihatin kita. Dia bawa kamera sama—” “Udah-udah! Nggak usah alasan. Sana pulang!” Reza memilih mundur. Jalan pulangnya ia isi dengan memperhatikan keramaian mall. Tubuhnya tersenggol seseorang. Seorang SPG berlari kecil sambil tersenyum minta maaf, lalu langsung menuruni eskalator. Reza hanya menggumam, “Kenapa orang-orang selalu terburu-buru.” Di parkiran, ia baru saja mengenakan helm ketika seseorang menepuk bahunya. “Mas, tolong anterin saya ke gudang. Stok toko saya habis, saya harus cepat ambil. Nggak jauh kok!” “Maaf, saya harus pulang—” “Saya bayar, Mas. Beneran urgent banget.” “Mending pesan ojek online aja. Saya—” Belum selesai bicara, gadis itu sudah duduk di jok belakang. Reza sempat ragu, ia tidak pernah membonceng perempuan lain selain istrinya. Tapi rasa iba menutup keberatannya. Ia menyerahkan helm cadangan. “Terima kasih banget, Mas. Kalau naik taksi pasti macet.” Reza tetap diam, fokus pada jalan. Sesekali gadis itu menepuk pundaknya, memintanya mengebut. Begitu sampai, gadis itu meloncat turun. “Eh, Mbak!” panggil Reza. “Ongkosnya, ya?” Gadis itu meraba saku-sakunya, wajahnya pucat. “Astaga, uangnya nggak ada. Kayaknya ketinggalan.” Reza mengulurkan tangan. “Helmnya aja. Saya bukan ojek.” Mata gadis itu membulat. “Oh… maaf.” Ia melepas helm, lalu melihat sanggulnya berantakan di spion motor. “Ya Allah… ini apaan.” Reza hanya menggeleng. “Gimana kalau… ini aja.” Gadis itu melepas gelangnya, memaksa Reza menerimanya. “Besok ketemu di toko Lamria, mall tadi. Jam segini. Aku bayar.” Tanpa menunggu jawaban, ia pergi. Malamnya, Raysa masuk kamar sambil melempar tas kerja ke ranjang. “Mas, bawain aku minum.” Reza yang duduk di sudut bangkit, keluar untuk menuruti permintaan itu. Raysa membuka blazernya, lalu matanya menangkap kilau asing di meja rias. Ia mendekat, mengambilnya. Sebuah gelang. Senyum miring muncul di bibirnya. “Astaga… ini pasti gelang murahan yang dia pikir cocok buat aku. Bisa-bisanya PD banget beli beginian.” * Riviya berdiri di depan cermin, tersenyum pada pantulan dirinya. Kulit sawo matang, bibir selalu tersungging ramah pesona yang tak pernah gagal memikat orang yang melihatnya. Tubuh tinggi semampai itu sudah rapi dalam seragam SPG kecantikan. Rambut panjang dicepol, dibungkus harnet pita hitam-merah muda. Cantik, sederhana, tapi memikat. Begitu keluar dari kamar kos, ia mengenakan high heels, mengunci pintu, dan menyapa setiap tetangga yang dilewati. “Selamat pagi, selamat beraktivitas.” “Mau ke mall, Via?” tanya Mbak Naura. “Iya, Mbak mau jaga toko juga?” jawabnya dengan senyum. Via memang terkenal ramah. Sarjana yang nasibnya membelok jadi SPG. Tapi baginya tak masalah. Hidup tanpa tekanan lebih berharga daripada titel pekerjaan. Kosnya persis di depan mall, jadi ia hanya perlu berjalan kaki. Sambil melangkah, ia bersenandung kecil, tas kecil di tangan bergoyang mengikuti langkah. “Pagi, Mas Jo!” sapanya pada tukang ojek tetangga. “Ih, si cantik mau kerja,” goda Mas Jo. Senyumnya hilang seketika saat sebuah motor melintas kencang, ban depan menghajar kubangan, air cokelat memercik ke rok Via. “Arrgh! Dasar nggak lihat jalan!” bentaknya spontan. Pengendara itu sempat melirik lewat spion. Wajahnya Reza. Lelaki yang kemarin mengantarnya ke gudang kecantikan. Tapi motor itu tak berhenti. Reza menelan ludah, melajukan motor. Ia belum siap bertemu Via. Gelang yang ia janjikan tidak ada di tangannya. “Tolong jangan marah, Via…” gumamnya. Via mendengus. “Orang nggak tanggung jawab,” ujarnya, menatap tajam plat nomor motor itu. Ia hafal. Dan ia akan pastikan orang itu minta maaf. Roknya kotor. Untung ada kran di parkiran. Ia membasuh noda sebisanya sambil menenangkan diri. “Sabar, Via. Cantik harus sabar.” Selesai, ia mengecek penampilan lewat kaca mobil di parkiran, mengoles lipstik, lalu berbalik dan berhadapan dengan sosok yang langsung ia kenali. “Riviya,” sapa Raysa dengan nada genit. Via menunduk, hendak pergi. Tapi Raysa menghampiri, senyum sinis di bibirnya. “Kamu kerja jadi SPG?” tanyanya, lalu menambahkan, “Sarjana terbaik kok ujung-ujungnya begini. Memang takdir sesuai perbuatan.” Via hanya tersenyum tipis. Raysa menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. “Udah nikah? Oh… belum, ya? Umur segini mau jadi perawan tua? Mana ada yang mau sama SPG rendahan.” Tawa kecil keluar dari bibirnya. Rahang Via mengeras. Ia melangkah mendekat, menatap Raysa tajam. “Siapa yang sok cantik? Siapa yang ngerebut pacar orang? Coba deh berkaca.” Matanya menelusuri penampilan Raysa dari atas sampai bawah. Ketegangan terasa di udara. Via berbalik, memilih pergi. Di pintu belakang mall, matanya menangkap motor yang pagi tadi memercikkan lumpur ke roknya. Ia menunggu. Pemiliknya tak kunjung datang. Dengan sengaja, Via mengambil helm di jok motor itu. Ia tahu, cepat atau lambat, pemiliknya akan mencari nya. Dan saat itu tiba, ia siap menagih permintaan maaf. Helm itu tetap tak ada yang mengambil sampai sore. Via membawanya pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN