Pak Abas baru saja pulang kerja, tas kerja masih tergenggam di tangannya.
Langkahnya terhenti di garasi begitu melihat mobil yang berlapis debu dan kotor.
Tangannya langsung diletakkan di pinggang, raut wajahnya mengeras.
“Reza!” Suaranya meledak, tajam menusuk udara senja.
Pintu rumah terbuka, Marsha keluar dengan wajah datar, tak terkesan dengan kemarahan suaminya.
Reza, yang sedang menyiram tanaman dengan selang di halaman, mengangkat kepala pelan.
“Kamu ngapain dari tadi? Saya suruh cuci mobil, malah main air!” bentak Pak Abas.
Reza tetap diam. Memang, dia tidak pernah diberi tugas itu hari ini. Hari ini, tanggung jawabnya cuma menyiapkan sarapan, menyapu rumah, dan membersihkan halaman.
Tapi di rumah ini, membela diri sama artinya dengan mencari masalah.
“Astaga! Saya mau rapat pemegang saham! Mobil belum dicuci! Kamu sengaja mau mempermalukan saya, ya?”
Reza tetap diam, menelan ludah.
“Dasar menantu nggak berguna! Bisanya apa? Hanya merepotkan!”
Dengan langkah berat, Pak Abas berbalik masuk ke dalam rumah. Tapi amarahnya belum reda. Di ruang tamu, suara sumpah serapahnya masih terdengar, bahkan ia menyarankan Raysa untuk menceraikan Reza.
Marsha hanya mengangguk malas. Bagi dia, Reza masih berguna, setidaknya sebagai pembantu gratis.
Tak lama kemudian, Reza mulai mencuci mobil. Spons basah di tangannya bergerak cepat, terlatih. Dia tahu betul, mertua itu perfeksionis sampai ke detail terkecil.
Namun, suara langkah berat itu kembali terdengar. Pak Abas muncul membawa tas kerja.
“Ini kamu cuci sekarang?” tanyanya, nada penuh tekanan.
“Bukannya Bapak yang minta tadi?” jawab Reza pelan.
“Dasar nggak ada otak! Aku sudah terlambat. Kamu mau aku tunggu berapa lama lagi?”
Reza menelan ludah, menatap motor butut yang sudah menunggu.
“Naik motor saya saja, Pak. Kalau pesan taksi—”
“Kamu gila? Ini rapat orang-orang terpandang. Jangan bikin malu saya!”
Reza hanya diam.
Pak Abas menggeram, “Oke! Antar saya. Ngebut!”
Motor tua itu melaju cepat di jalanan yang mulai gelap. Dua orang dengan penampilan bertolak belakang, Pak Abas berjas rapi, sang pengusaha sukses, sementara Reza mengenakan baju sederhana penuh noda, tukang kebun dan pembantu di rumah itu.
Di perjalanan, ocehan Pak Abas tak berhenti:
“Kamu ini numpang hidup! Laki-laki harusnya jadi tulang punggung, bukan beban!”
Reza menggenggam setang motor erat, tidak membantah. Karena sebagian besar benar.
Sesampainya di pabrik, Raysa sudah berdiri menerima pujian dari staf dan tamu penting.
Wajahnya berubah dingin begitu melihat ayahnya turun dari motor bersama Reza.
Beberapa wartawan mulai berbisik, melirik dengan ekspresi penuh arti.
“Itu tukang ojek?”
“Bukan, kayaknya keluarganya.”
“Jangan-jangan suaminya Bu Raysa?”
Beberapa wajah mulai menyeringai.
“Kalau benar, ini berita besar. Gas trendingkan!”
Raysa menahan napas saat ponselnya bergetar. Layar menampilkan headline mencolok.
[Terungkap, suami pengusaha muda ternama ternyata hanya tukang kebun.]
Reza mendekat, menatap layar ponsel istrinya.
Matanya terbelalak saat membaca kalimat itu seolah seluruh dunia menertawakannya.
Raysa tersenyum hambar pada kerumunan, tapi matanya dingin dan tak lagi mengenalnya.
“Masuk mobil sekarang.”
“Ke—kenapa?”
“Jangan banyak tanya! Cepat!” bentak Pak Abas, mata membulat penuh kemarahan.
Reza tak punya pilihan selain mengikuti.
Puluhan pasang mata, termasuk kamera wartawan, mengikutinya keluar.
Mobil melaju dalam keheningan, hanya suara mesin yang terdengar.
“Aku bangun semua ini dari nol. Susah payah jaga citra. Dan kamu dengan gampangnya, hancurkan!” teriak Raysa tiba-tiba.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa, Sayang!” Reza mencoba menjelaskan dengan suara serak.
Ponsel di tangan Raysa melayang, menghantam dasbor keras.
“Jangan sok polos! Kamu bikin aku malu!”
“Aku cuma nolong Bapak. Aku nggak—”
“Diam! Bersihin nama aku! Kalau perlu bilang ke semua orang kamu bukan suami aku!”
“Kenapa harus bohong? Faktanya aku memang suami kamu!”
“Aku bilang diam!”
Saling bentak semakin menjadi. Udara di kabin terasa menyesakkan, penuh ketegangan.
“Sa, awas!”
Mobil oleng, Raysa membanting setir keras. Ban menderit di aspal basah.
Kendaraan mewah itu menabrak tiang listrik dengan benturan keras.
Gelap.
Raysa mengerang, memegangi kepala yang berdarah.
Setengah sadar, dia meraih ponsel dan berbisik, “Tolong… ke lokasiku. Cepat.”
Tangannya mencari Reza. Tubuhnya diam, kepala penuh darah.
Dia menempelkan jarinya ke hidung Reza, masih ada napas.
Lampu mobil hitam mendekat. Brian keluar, wajah tegang.
“Ayo bawa ke rumah sakit!”
“Jangan. Kalau wartawan tahu aku yang bawa, selesai sudah.”
Brian terdiam.
“Seret dia ke pinggir jalan. Cepat!”
“Akan ada badai—”
“Cepat!”
Beberapa menit kemudian, Reza tergeletak di rerumputan.
Mobil derek datang, tapi Raysa memilih pergi meninggalkannya.
Angin malam menusuk tulang. Darah kering di kepala Reza bercampur dengan debu dan kotoran.
Lalat mengerumuni tubuhnya yang lemah.
Dia sadar. Dunia di sekelilingnya gelap dan sunyi.
Napasnya berat, langkahnya goyah saat mencoba bangkit.
“Raysa…?” suaranya pecah, lemah.
Dia berjalan, terhuyung, tubuhnya ambruk berulang kali.
Awan tebal menutup langit. Dari kejauhan, suara motor terdengar mendekat.
Riviya, basah kuyup dan melawan angin badai, melihat sosok itu.
“Mas! Kenapa?”
Dia turun, menatap luka di kepala Reza. Darah lama bercampur segar.
“Mas, ingat aku? Aku SPG itu…”
Tak ada jawaban.
Via mencoba menelepon, tapi sinyal mati. Angin kian kencang, badai semakin menggila.
Dia menatap Reza, yang setengah sadar. Lalu mengikat tubuh mereka dengan sabuk motor, memaksanya duduk di belakang.
“Maaf, kita harus pergi sekarang.”
Motor melaju menembus hujan lebat, petir menyambar di kejauhan.
BRAKK!
Pohon tumbang tepat di depan, jalan tertutup.
Bukan hanya satu, tapi puluhan batang kayu memblokir jalan.
Via menatap hambatan itu, napasnya berat. Jalan pulang tertutup.
Badai masih mengguyur deras.
Riviya berdiri di tengah jalan, napas memburu. Dia melirik ke arah Reza—kepala penuh perban, tubuh lemas.
Tenang, pikirnya. Cari jalan lain.
Akhirnya dia memutuskan untuk putar balik, menuju pemukiman yang lebih aman daripada menerobos hutan badai.
“Pegangan. Ada klinik dekat pantai,” katanya singkat.
Motor berlari menembus hujan. Tak lama, bangunan kecil dengan papan kusam bertuliskan “KLINIK” muncul di depan mereka.
“Tolong! Ada yang luka parah!”
Dia melepaskan sabuk yang mengikat Reza.
“Masih kuat jalan?”
“Aku bisa sendiri,” jawab Reza lirih, tapi langkahnya goyah.
Via menyelipkan bahunya, menuntunnya masuk.
Perawat datang membantu memindahkannya ke ranjang.
“Apa yang terjadi?” tanya perawat.
“Ketemu di jalan… kayaknya korban tabrak lari,” jawab Via cepat.
“Aku nggak apa-apa,” potong Reza, nada datar dan tegas. Dia tak mau cerita sebenarnya.
Perawat mulai membersihkan luka. Potongan kaca keluar dari kulitnya.
Via mengernyit. Kalau ini kecelakaan mobil, kenapa di jalan nggak ada bangkai mobil?
“Mbak, urus administrasi dulu,” kata perawat.
Via membuka dompet, kosong. Ugh, kesialan terus-terusan. Mau nolong orang saja repot.
Reza sempat menatap wajahnya yang frustasi.
Perawat menyerahkan pakaian pasien.
“Ini untuk pacarnya.”
“Pacar?” Via memanyunkan bibirnya. “Perawat yang nyuruh ganti. Aku nggak ada niat macam-macam.”
Reza tersenyum tipis. Via menghela napas, membantu duduk. Satu tangannya dipasang infus.
“Merepotkan. Mending nggak usah pake baju sekalian,” gumam Via.
“Kamu mau lihat aku telanjang?”
“Mulutnya…” Via memicing, tapi tetap membantu.
Begitu kancing baju terbuka, luka-luka itu terlihat jelas.
Via menatap celananya.
“Aku panggil perawat aja deh.”
“Burung apa lagi?” Reza menghela napas.
“Ambil selimut. Ikat di pinggang. Tarik dari bawah.”
Dengan wajah kesal, Via mengikuti. Celana Reza turun sampai betis, lalu dia sendiri yang melepaskannya.
“Melelahkan,” keluh Via. “Takdir macam apa ini, ketemu kamu terus.”
Reza menatap celana bersih di ranjang.
“Mau aku pakai selimut aja?”
“Udah, diem. Biar cepat.”
Celana baru terpasang sampai paha. Sisanya Reza tarik sendiri.
“Mana gelang aku?” tanya Via tiba-tiba, tangannya terulur.
Reza diam.
“Mana?” suaranya meninggi.
“Aku habis kecelakaan. Mana mungkin aku bawa. Tapi aku pasti balikin,” bisik Reza dekat telinganya.
Via menelan ludah.
“Baiklah. Nama kamu siapa?”
“El,” jawabnya singkat. “Panggil saja El.”