Plakkk! Suara tamparan itu memecah suasana yag sedikit panas menjadi sunyi. Tangan Neandro masih terangkat di udara. Dia melihat wajah Angel yang telah tertunduk dengan rambut menutupi sebagian wajahnya. Rasa bersalah menghampirinya saat melihat Angel sama sekali tak bereaksi pada tamparannya. Hingga dia menggenggamkan tangannya kelu dan menurunkannya pelan. "Aku tak ingin kau mengatakan hal yang buruk tentangnya lagi! Cealin, dia tak akan serendah itu! dan tamparan ini, harusnya itu menyadarkanmu!" Ada jeda beberapa saat hingga suasana hening itu mendominasi. Helaan napas marah Neandro terdengar memburu meski tatapan matanya tampak menyesal. Dia melirik tangan yang telah dia gunakan untuk menampar pipi Angel. Lalu beralih pada Angel yang masih saja diam. Tiba-tiba dia meras

