Eps 2

1844 Kata
“eh, la. Tumben agak pagian datangnya” sapa Willy yang hendak menyeruput teh panasnya, yang memang selalu disediakan oleh OB setiap pagi. “eh, iya, nih. Soalnya tadi berangkat bareng sama mas Ghilman. Dia ada proyek pagi ini, jadi mesti dating lebih awal” sahutku, kemudian meletakkan tas ku di atas meja yang bersebelahan dengan meja Willy. Willy hanya menganggukkan kepalanya, lalu menyeruput teh panasnya itu. Aku dan Willy bisa di bilang lumayan dekat, karena biasanya Willy selalu bertanya tentang hal-hal di dalam rumah tangga, Willy merupakan pengantin baru, jadi dia masih belum terlalu paham tentang hidup berumah tangga, beda dengan ku yang sudah 2 tahun menjalani rumah tangga ini meskipun tidak terlalu pro. “Ola, laporan yang saya minta untuk kamu perbaiki kemarin udah selesai?” Tanya pak Andy, yang merupakan Manager di kantor tempat aku bekerja sekarang. “sedikit lagi, pak” sahut ku. “oke, nanti kalau sudah selesai, langsung bawa ke ruangan saya, ya” sambung beliau. “baik, pak” lalu ku buka komputer, dan langsung ku lanjutkan mengetik laporan yang di minta oleh pak Andy. “kamu kemarin nggak jadi lembur, la?” Tanya Willy. “nggak, nih. Soalnya kemarin tiba-tiba aja nggak enak badan” sahut ku. “ohh.. terus, kamu udah minum obat?” Tanya Willy lagi. “udah kok” sahut ku yang fokus dengan laporan yang ku ketik. “kamu, gimana sama suami mu, aman’kan?” sambung ku, ku iringi dengan tawa kecil. “ih, apa, sih. Godain mulu” sahut Willy, sambil tersipu malu. “eh, tapi beneran nih, wil. Udah bisa masuk belum?” goda ku lagi. Karena Willy merupakan pengantin baru, jadi ia dan suaminya sempat bingung harus memulai dari mana, alhasil mereka malah tidur dengan kasur yang di beri pembatas, karena merasa risih dan belum terbiasa. “au, ah, gelap” sahut Willy, wajahnya tambah memerah. “mending kabur aja, deh. Dari pada di godain mulu” sambungnya, lalu ia pun meninggalkan ruangan sambil menjulurkan lidahnya ke arah ku. Aku yang melihat ekspresi Willy hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. “eh, ngapain balik lagi?” ucapku pada Willy. “nggak jadi keluar, deh” sahutnya, lalu menarik kursi miliknya, dan langsung mendaratkan bokongnya disana. “lho, kenapa? Mau minta di godain lagi?” ku mainkan alisku turun naik, tak lupa senyum yang seakan-akan tak sabar lagi ingin melahap mangsa yang ada di depan mata itu. “hilih. Mentang-mentang udah pro, jadi ngeledekin mulu” ucapnya kesal. “eh, siapa bilang udah pro. Kalau pro pasti udah punya anak” sahutku sambil menundukkan kepala. “maaf, la. Nggak maksud” ucap Willy dengan penuh rasa sesal. “udah gapapa, wil. Santai aja kali” sahut ku, sambil memukul pundak Willy. “siklus haid kamu, gimana? Lancar?” Tanya Willy. “lancer kok, wil. Nggak pernah telat. Kalaupun telat juga karena stress gara-gara kerjaan aja” sahut ku. “tapi kamu udah check ke dokter belum, la” aku menggelengkan kepala ku. “nggak, takutnya antara kamu sama suami kamu ada yang bermasalah” ucaapnya lagi, sambil memakan camilan yang ada di atas mejanya. Lalu ku ambil makanan itu. “nggak permisi dulu, kalo mau minta bilang. Kebiasaan” ucap Willy kesal. Ku balas kekesalan Willy dengan senyuman. “eh, tapi beneran loh, la. Aku pernah baca jurnal gitu tentang kesehatan. Karena aku lagi program hamil, jadi aku banyak-banyakin baca jurnal tentang gitu. Nggak cuman cewek aja loh yang bias mandul, cowok juga bisa” jelasnya. “oh, ya? Aku sih udah sering ngajak mas Ghilman buat check, tapi dia selalu nolak. Tapi tadi pagi dia janji, sih mau check kalau dia ada waktu luang” sahutku. Ada perasaan bahagia, karena akhirnya mas Ghilman mau juga untuk ikut check-up dengan ku. “bagus, deh, la. Mudahan nanti hasilnya bagus-bagus aja, ya” do’anya. “iya, wil. Aamiin.. makasih, ya” ucapku. “iya, la, sama-sama. Do’ain juga, ya biar aku cepet dapat keturunan” balasnya. Lalu akupun mengamini perkataan Willy. “emang nggak kecepetan, ya, wil?” Tanya ku, karena umur Willy yang baru 24 tahun, menurut ku tidak perlu tergesa-gesa untuk segera memiliki anak. “apanya?” “program hamilnya” sahut ku. “mumpung masih muda, jadi mau banyak-banyakin anak. Kan banyak anak bisa jadi asset buat tua nanti” sambungnya, di iringi dengan suara ketawanya yang khas. “la, jangan di habisin. Ini bekal buat nonton drakor hari ini” ucap Willy, ia langsung merampas makanannya yang dari tadi ada di tangan ku. “iya, maaf. Nggak tau” ucap ku tanpa rasa bersalah. Laporan yang di minta pak Andy tadi sudah selesai, dan langsung ku print out untuk langsung di serahkan ke pak Andy. “aku ke ruangan pak Andy dulu, ya, wil. Mau nyerahin laporan, nih” ucap ku. “silahkan, aku juga mau nonton drakor dulu” balasnya. *** “wil, makan, yuk. Udah laper nih” ajakku pada Willy, karena memang sudah memasuki jam istirahat. Namun rupanya Willy masih setia dengan drama Koreanya itu. “bentar lagi, la. Nanggung nih” sahutnya. “bilangin ke pak Andy baru tahu rasa, ya. Emang nggak ada kerjaan lain, ya selain nonton drakor-drakor itu” ucap ku. Aku yang dari tadi di buatnya kesal, karena disuruh untuk menunggu episode yang di tonton oleh Willy sampai selesai. “nggak ada” jawabnya tanpa merasa bersalah. “eh, beneran nih. Bentar lagi jam istirahat mau habis, loh” ucapku, sambil melirik jam dinding yang terletak di atas pintu ruangan. “yaudah, kamu duluan aja sana” usir Willy, dengan mengibaskan tangan menyuruh ku keluar. “ish, awas, ya” tak di tanggapi oleh Willy, aku ‘pun langsung beranjak hendak keluar ruangan. “la, kamu di panggil tuh sama pak Andy. Disuruh keruangan beliau sekarang” ucap Tirta, yang juga merupakan salah satu karyawan di kantor ini. “oh, oke. Makasih, tir” ucapku. Tirta mengangkat jempolnya, dan langsung berjalan ke luar ruangan. ‘huhh, apalagi sekarang? Masa harus revisi terus. Ada aja salahnya, nggak tau dimana. Padahal udah ngikutin sesuai dengan apa yang beliau bilang’ keluhku. Karena ini merupakan ketiga kalinya laporan itu di revisi. “ish, gara-gara kamu nih, wil” ucap ku sambil menghentakkan kaki. “eh, kok aku, sih?” Willy menatap ku dengan penuh keheranan. “iya kalau aja nggak nungguin kamu nonton drama sialan itu, perut ku sekarang pasti udah kenyang” sahut ku. “eh, yang salah itu kamu, bukan drakornya, ya. Lagian siapa suruh mau” ejek Willy, sembari tertawa. Tak ku hiraukan ucapan Willy, lalu ku aku pergi keruangan pak Andy. *** Sebelum mengetuk ruangan pak Andy, ku rapikan dulu pakaianku. Aku tak mau di tegur seperti karyawan yang lain, yang terlihat tak rapi ketika bertemu dengan beliau. Karena menurut pak Andy, kerapian di tempat kerja itu nomer satu, “tokk..tok..tok..” “masuk” suara pak Andy dari dalam yang menyuruh ku untuk masuk. “permisi, pak” ucapku. “iya, la. Kesini sebentar” pak Andy sambil memainkan bolpoin yang ada di tangannya. Ku hampiri pak Andy. “bukannya kemarin saya nyuruh hasil rekapitulasi yang ini di hapus aja, ya” kata beliau dengan lembut. Pak Andy sebenarnya merupakan orang yang tegas, namun di di samping itu beliau juga orangnya memang lemah lembut serta ramah tamah kepada setiap bawahannya. Maka dari itu beliau sangat di sukai dan di segani oleh setiap karyawan yang bekerja di sini, belum lagi tampang beliau yang di sebut oleh Willy seperti oppa-oppa korea. Dengan perawakan yang tinggi dan kaki jenjangnya, sangat terlihat sempurna untuk di sandingkan dengan oppa-oppa itu. “eh, iya, pak. Maaf. Saya lupa. Habis ini langsung saya perbaiki pak” pak Andy hanya mengangguk mendengar ucapan ku. Lalu ia membolak-balik kertas hasil laporan yang ku buat. “ada lagi, pak?” “udah, itu aja dulu, la” kemudian memberikan laporan tadi kepada ku. ‘itu aja dulu? Maksudnya? Ntar ada lagi, gitu’ batinku. “udah nggak ada lagi, kan, pak?” Tanya ku, memastikan apakah ada lagi yang harus ku perbaiki. Aku lelah jika harus sampai bolak balik lagi kesini, disamping aku juga merasakan lapar yang luar biasa akibat belum makan siang. “iya. Nanti kamu bawa lagi kesini kalau sudah selesai. Saya akan cek ulang” jawab beliau. Aku menganggukkan kepala ku. Aku merasa seperti mahasiswa yang sedang konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi. Yang selalu bolak balik ke ruangan beliau, karena laporan yang ku buat selalu tidak sesuai dengan apa yang beliau kehendaki. “baik, pak. Saya permisi dulu” pak Andy hanya menganggukkan kepala. Langsung ku langkahkan kaki ku hendak keluar dari ruangan pak Andy. Namun langkahku terhenti tatkala beliau memanggil nama ku. “la” ucap pak Andy, seraya memanggil nama ku. Ku hentikan langkah ku, dan berpaling melihat ke arah pak Andy. “iya, pak?” ku turunkan sedikit kepala ku. Tiba-tiba ponsel ku berdering. “angkat aja dulu, la” ucap pak Andy. “bukan, pak. Alarm saya” ucap ku, sambil sesekali menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. Lalu pak Andy melirik ke arah jam dinding yang menempel di atas pintu ruangan beliau. “kamu udah istirahat, la?” ucap beliau. Aku menggelengkan kepala. “boleh nggak, pak saya izin keluar sebentar buat cari makan” ucap ku dengan tampang yang sedikit memelas itu, di akhiri dengan sebuah cengiran. Pak Andy tersenyum sambil menggelengkan kepala. “yaudah, kamu ikut saya aja. Kita makan bareng, gimana?” ucap beliau. Aku terkejut mendengar ajakan beliau. Meskipun aku yakin tidak ada maksud lain dari ajakan pak Andy, namun aku merasa kurang enak saja jika kami hanya berdua. “eng.. nggak usah pak. Saya pesan go-eat saja. Sekalian mau perbaikin laporan yang bapak minta” ucap ku. “jadi, saya di tolak, nih?” ucap beliau. “eh..” lalu pak Andy ketawa. “nggak pak, saya nggak enak aja gitu kalau misalkan ada yang liat kita makan berdua. Apa lagi..” aku terdiam sejenak. “apa, la?” beliau menatap serius ke arah ku. “kalau ada yang liat kita, terus lapor ke istri bapak. Kan nggak lucu pak, nanti saya malah di bilang pelakor” ucap ku dengan hati-hati. “yang ada saya yang takut, la” ucap beliau. Lalu aku tercengang. “ntar saya malah di gebukin suami kamu lagi” ucap beliau, lalu tertawa. “hehe.. iya, pak” sahut ku. “jadi, gimana, la?” “gimana apanya, pak?” Tanya ku kembali “kamu beneran nggak mau makan bareng saya, nih, la?” Tanya pak Andy sekali lagi, untuk memastikan apakah aku telah berubah pikiran atau tidak. “saya pesan go-eat aja pak” sahut ku. “oh, yasudah, gapapa” “iya, pak. Saya permisi dulu pak” ucap ku menyudahi obrolan ini. “iya, silahkan” ucap beliau sambil tersenyum kepada ku. Lalu aku beranjak keluar dari ruangan pak Andy. “Yolanda Aprillia. Akan ku buat kau jadi milikku, meskipun kau sudah mempunyai suami, dan aku pun sudah mempunyai istri. Namun hal tersebut tidak akan menghalangi ku untuk merebut mu dari suami sialan mu itu” ucap Andy Pratama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN