bc

Unfinished (Bahasa Indonesia)

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
dominant
others
others
drama
bxg
others
illness
surrender
like
intro-logo
Uraian

Aku selalu memikirkan hubungan kita, yang semakin hari semakin bertambah rumit karena pertengkaran yang tak jelas.

Padahal kita selalu berkhayal, saat kita memiliki anak dan semakin bertambahnya usia pernikahan kita, pasti rumah tangga kita akan sangat bahagia...

Tapi…

Kenapa kamu sering sekali mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati?

Meskipun menurutmu aku yang selalu membuat kamu marah, namun tak semestinya kamu mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan untuk di dengar :)

Padahal kita hidup bersama. Seharusnya suasana romantis yang kita dapatkan, namun malah kebalikannya.

Bukannya kita tak cocok. Maksud ku, andai saja kamu berpikir dengan lebih dewasa lagi.

Jangan karena pikiran lelah dan emosi yang menguasaimu, sehingga kamu bisa berbuat semaumu.

Renungkan !!!

chap-preview
Pratinjau gratis
Eps 1
Pagi itu masih seperti biasa, sebelum berangkat bekerja, pagi-pagi sekali aku akan selalu menyiapkan sarapan untuk mas Ghilman. Kali ini aku akan memasak opor ayam kesukaannya. Aku beranjak dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum aku pergi ke tempat favorit ku yaitu dapur. Aku sangat hobby sekali memasak, sampai-sampai mas Ghilman sempat menyuruh ku untuk resign dari pekerjaan ku yang sekarang, dan mendirikan resto sendiri. Namun sepertinya rencana itu hanya menjadi sebuah hayalan untuk mas Ghilman, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah resign dari pekerjaan ku, kecuali aku mempunyai anak. Kami hanya tinggal berdua di rumah yang minimalis ini. Selama dua tahun usia pernikahan kami, kami belum juga di beri amanah untuk mempunyai keturunan. Sempat ku bujuk mas Ghilman agar kami berdua melakukan medical check-up, namun mas Ghilman selalu menolak. Menurutnya mungkin memang masih belum di beri. Padahal sebenarnya itu merupakan salah satu ikhtiar yang ingin ku lakukan. Aku takut saja jika nanti pada akhirnya aku tidak bisa memberikan keturunan untuk mas Ghilman. Mimpi buruk terbesar ku yaitu, ketika aku tidak bisa memberikan keturunan. Lalu mertua ku menyuruh kami untuk bercerai dan meminta mas Ghilman untuk menikah dengan wanita lain yang bisa memberikan mereka cucu, seperti di kebanyakan film yang aku tonton selama ini. “kamu masak apa, sayang?” Tanya mas Ghilman, sambil memelukku dari belakang, sambil menyenderkan dagunya di pundak ku. Aku tergidik kecil. “eh, mas. Udah bangun?” Tanya ku, sambil melanjutkan ritual memasak, ku biarkan pelukan mas Ghilman tetap mendekap di tubuhku. Mas Ghilman lalu mengangguk. “kamu masak apa, de?” Tanya mas Ghilman. “masak opor ayam kesukaan mas” sahut ku sambil mencolek hidung mas Ghilman, lalu aku menuju meja makan, untuk menata makanan. “mas mandi dulu, gih. Habis itu baru kita sarapan” lanjut ku. “siap, nyonya” balas mas Ghilman, sambil memberikan hormat kepada ku. “mas mandi dulu, ya” lalu ia mencium puncak kepala ku. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ku lanjutkan menata makanan. Tak lupa ku ambil dua buah piring, kemudian menyendokkan nasi ke piring tersebut. Tak lama kemudian mas Ghilman keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu mengibas-ngibaskannya. “makan dulu mas, baru nanti ganti baju, biar nggak kotor bajunya” ucap ku. “iya sayang” mas Ghilman lalu menuju meja makan, menarik kursi yang berada tepat di depannya. Di meja makan, seperti biasa, hening tanpa kata. Sambil sesekali aku menatap ke arah wajah mas Ghilman. “kenapa, de? Mas ganteng, ya” goda mas Ghilman. Langsung ku tundukkan pandangan ku, dan menyuapkan makanan kedalam mulut ku. “ish, apa sih, mas” ucap ku, lalu tersenyum tipis. Dua suapan sudah masuk kedalam mulut ku. Ku hentikan sarapan ku, lalu ku letakkan alat makan ku ke piring. Ku tatap kembali wajah mas Ghilman yang sangat tampan itu. “mas” ucap ku dengan suara lirih. “iya, kenapa de?” sahut mas Ghilman, lalu ia menghentikan sarapannya, dan melihat ke arah ku. “mas hari ini sibuk nggak?” Tanya ku. Mas Ghilman menggelengkan kepala. “memangnya ada apa, de? Kamu mau minta temani, mas?” tanyanya. “gapapa mas” lalu ku lanjutkan menyuap makanan. Mas Ghilman keheranan, ia memegang tangan ku, membuat makan ku terhenti. “jujur aja, ada apa, dek? Kamu ada masalah? Kalau ada masalah bilang sama mas, nanti kita cari jalan keluarnya, seperti biasa” ucap mas Ghilman, sambil mengelus kepala ku. “beneran mas, gapapa, kok” ucap ku. Lalu ku ambil gelas berisikan air, dan meminumnya. “de, kita ini hidup berumah tangga sudah dua tahun, selama dua tahun itu, mas sudah mengenal seperti apa karakter kamu. Kalau kamu bilang gapapa, mas yakin, pasti ada apa-apa. Cerita aja, de. Mas gak masalah kok, mas mau dengerin cerita kamu” ucap mas Ghilman meyakinkan ku. Aku terdiam sejenak. Tak yakin kalimat ini akan keluar lagi dari mulut ku. “mas” ucap ku, sambil menggenggam tangan mas Ghilman. “iya, de?” sahutnya dengan lembut. “hari ini kita medical check-up ya mas, ya?” mendengar permintaan ku, tanpa piker panjang mas Ghilman langsung menggelengkan kepalanya. “nggak perlu, dek. Buat apa? Mungkin memang belum di kasih, ya, mau gimana lagi?” lalu ia melanjutkan sarapannya. “nggak, mas. Aku takut kalau misalkan nanti aku memang nggak bisa ngasih kamu keturunan, gimana? Terus nanti mama nyuruh kamu buat ceraikan aku, dan nyuruh kamu untuk menikah dengan wanita lain yang bisa ngasih kamu keturunan, gimana?” Tanya ku, dengan ekspresi ketakutan. “de, kamu kebanyakan nonton film” balas mas Ghilman. “nggak, mas. Aku beneran takut” sahut ku. “kamu dengerin mas, pegang kata-kata mas” mas Ghilman memegang kedua tangan ku. Aku hanya menganggukkan kepala. “kalaupun kamu memang nggak bisa ngasih mas keturunan, mas nggak keberatan kok. Dan kalau untuk masalah mama, kamu nggak perlu khawatir, nanti mas yang bilang sama mama” ucapan mas Ghilman membuat ku tenang untuk saat ini. “jadi, kamu nggak usah takut lagi kalau misalkan kamu nggak bisa ngasih keturunan untuk mas. Kamu jangan ngomong gitu lagi, ya, ke mas. Soal nya mas sakit hati” raut wajah mas Ghilman menunjukkan kesedihan. “mas sakit hati kenapa?” sahut ku. “seolah-olah mas itu nggak sayang sama kamu. Kalau orang nggak sayang itu, kan biasanya nggak mau dan nggak selalu bisa menerima kekurangan pasangannya” ucapnya. “emang siapa yang bilang kalau mas nggak sayang sama aku. Aku nggak bilang gitu, kok” jawab ku, ku manyunkan bibir ku. “iya, kamu emang nggak bilang gitu. Karna kamu tau kalau mas itu sayaaang banget sama kamu” mas Ghilman lalu mencubit hidung ku, dan beranjak dari meja makan. Ku raba pipiku, lalu tersenyum sesaat. “mas ganti baju dulu, ya, de” ucapnya. “iya, mas” sahut ku. Lalu ku rapikan meja makan, dan mencuci piring bekas kami makan tadi. Ku susul mas Ghilman yang sedang ganti baju di kamar. “hari ini kamu berangkat kerjanya bareng mas aja, ya” Pinta mas Ghilman, karena aku biasanya berangkat kerja sendiri. Lalu ku anggukkan kepala ku pertanda setuju. “aku manasin mobil dulu ya, de” ucap mas Ghilman, ia berlalu keluar kamar. ‘mas Ghilman kebiasaan deh, ponsel selalu ketinggalan’ batinku, seraya mengantongi ponsel mas Ghilman yang terletak di atas meja rias. Lalu aku menyusul mas Ghilman ke luar rumah. Ku lihat mas Ghilman berlari masuk ke dalam kamar. “de, kamu liat ponsel mas?” Tanya mas Ghilman kebingungan. Lalu ku sodorkan ponsel itu ke arah mas Ghilman. Mas Ghilman pun langsung mengambil ponsel itu, lalu mencium puncak kepala ku. “makasih ya, de. Mas kira ilang” sambil menggaruk tengkuknya sambil nyengir kuda. “iya sama-sama mas. Yaudah yuk, ntar telat lagi” sahut ku, sambil melihat jam yang melingkar di tangan ku. Mas Ghilman pun melihat jam tangannya. “yuk” ajak mas Ghilman. Lalu kami memasuki mobil, dan mas Ghilman menjalankan mobilnya dengan santai. Di sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela. “de, itu ponsel kamu berdering" ucap mas Ghilman yang tetap fokus dengan perjalanannya. “ah, iya, mas” aku yang melamun membuat suara telepon itu tak terdengar. Ku raih ponsel di dalam tas ku, tertulis nama ibu disana. “assalamu’alaikum, bu” … “oh, ya? Iya nanti pulang kerja, aku sama mas Ghilman langsung kerumah ibu” … “iya, bu. Ini lagi di jalan sama mas Ghilman” … “iya bu, wa’alaikumsalam” Langsung ku tutup telepon dari ibu. Lalu ku letakkan kembali ponsel itu kedalam tas. Aku melanjutkan kesibukan ku melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. “ibu kenapa, de?” Tanya mas Ghilman, sambil sesekali melirik ku. “oh, itu, mas. Nisa katanya mau di lamar, jadi nanti sore keluarga cowoknya mau dating kerumah” mas Ghilman menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian, mas Ghilman menghentikan mobil karena lampu merah di depan. Dia lalu memandangi ke arah ku yang sedari tadi melihat keluar kaca mobil. Hingga ia menjalankan lagi mobilnya. “kamu kenapa, de. Dari tadi diem aja, mas liat juga kamu bengong gitu?” aku hanya menggelengkan kepala ku. “masalah dirumah tadi?” sambungnya. Aku menaikkan kedua bahu ku, dan masih tetap fokus dengan pemandangan di jalan. “yasudah, ntar deh kita check, ya. Kalau mas ada waktu luang” mendengar hal tersebut aku merasa senang, aku tersenyum simpul, namun tetap enggan melihat ke arah mas Ghilman. Tak ku sadari ternyata kami telah sampai di depan kantor tempat aku bekerja. “de, udah sampai” “eh, iya mas. Aku masuk dulu ya, kamu hati-hati di jalan” ku raih tangan mas Ghilman, lalu ku cium punggung tangannya. Di ikuti dengan ciuman mas Ghilman di puncak kepala ku. “iya, de. Kamu semangat ya kerjanya hari ini” Iya, mas. Mas juga ya” mas Ghilman menganggukkan kepalanya. Ku buka pintu mobil. “oh, iya, mas”. Mas Ghilman mengangkat kedua alisnya sambil memajukan kepalanya. “yang itu tadi, janji, ya” sambung ku dengan mengedipkan sebelah mata kepada mas Ghilman. Lalu aku tersenyum, dan keluar dari mobil. “wa’alaikumsalam, de” ucap mas Ghilman agak keras agar suaranya dapat di dengar oleh ku, sambil membuka kaca mobil. “hee, assalamu’alaikum, mas” sahut ku, sambil nyengir. Lalu mas Ghilman mengibaskan tangannya, menyuruh aku langsung masuk kedalam kantor.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook