Zira memilin jari-jari tangannya. Ia tidak tau harus apa sekarang, yang pasti dirinya tengah dilanda rasa khawatir berlebihan. Ia menatap kearah pintu kamarnya yang terbuka setengah. Tak lama, Kinan datang bersama suaminya itu. Anak perempuan dengan netra abunya itu menatapnya dengan raut wajah ceria. Mau tak mau Zira menampilkan senyumnya. Ia menepuk ranjang sebelahnya, meminta agar anaknya itu duduk disampingnya. "Abang ken--" "Sstt. Adek mau tidur?" Tanya Zira lembut dan diangguki oleh anak perempuan dengan rambut diikat satu itu. Ia lalu menaruh kepalanya di paha sang bunda dan mencoba menutup matanya perlahan. "Katanya mau nan-" Zira menempelkan jari telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan agar suaminya itu diam dan tak banyak bicara. David mengangguk dan diam. B

