Aku Melepaskanmu

1042 Kata
Namun, Raka nggak menyerah. Dia tetap saja, berusaha mengambil alih kemudi kekuasaan dengan hanya berpaling padanya. Dia terus saja, mendekat kepada gadis itu yang malah mundur terus menerus darinya, hingga, satu pengakuan terekam di telinganya. ‘Mama Kakak bilang, Kakak bahkan nggak pernah mengatasnamakan aku, yang udah Kakak angkat dalam keluarga, sebagai adik angkat.’ ‘Dia mengatakan juga, bahwa selama ini Kakak justru ngakunya, selama tinggal sendirian di Indonesia. Kakak sama sekali, nggak pernah absen buat berbohong seputar aku dan Kakak seolah membeliku begitu saja dengan membAntuku, yang sebenarnya, aku pribadi sangat berterimakasih sekali, karena berkat Kakak, aku jadi nggak perlu bingung, aku harus kemana.’ ‘Tapi, kalau hadirku, justru bikin kepercayaan Ibu dan Anak runtuh, lebih baik aku pergi. Dan, memang, dari awal, aku juga bukan siapa-siapa yang nggak tahu diri.’ Astaga, Asha … Tidakkah ia tahu dan sadar betapa tahu dirinya dia? Yang terus meningkatkan bisnis Raka, bahkan menggandakan uang yang Raka gunakan untuk membantunya dengan banyak berbisnis, tumbuh pula menjadi mahasiswi mandiri. Jadi, apalagi yang harus didustakan dari gadis itu? Kalau kenyataannya, semua yang bahkan terkait tentangnya, tidak pernah ada yang salah? Dia luar biasa indah dan sahaja dengan apaapun yang dimilikinya, asal dia tahu. “Sha, aku udah bicarain sama Mamaku. Dari dulu banget, bahkan, saat awal-awal kamu bergabung dengan keluarga Nugraha. Tapi, apa kamu lupa, dulu, Mamaku sempat terlibat masalah dengan Papa begitu aku masih kecil? Yang itu mengahruskan sang mamaku yang depresi, dilarikan ke rumah sakit bahkan luar negeri agar totalitas kesembuhannya bisa tercapai?” Raka pun menelan ludahnya. “Demi Langit-Bumi, Sha, aku sama sekali tidak pernah ada niatan bikin kamu sakit kayak gini di akhir yang bahkan aku sendiri nggak salah sedikit pun. Ini semua---” Asha memotongnya, “Ini semua karena Mamanya Kak Raka, sekali melihatku, dengan latar belakang ‘kotor’ yang tersemat di belakangku, yang permanen menjadi milikku, menjadikan dia kembali sakit lagi, apa Kakak tahu?” Rahang Asha menegang. “Aku adalah lambing dari kerusakan, kehancuran, kejelekkan, tragedy, keenggakberuntungan, kemalangan, dan petaka, kalo Kakak lupa!” “Kenapa kamu jadi menjelekkan diri kamu kayak gini, sih, Sha?!” Raka menjerti, mengacak rambut, nggak tahan. “Kakak yang harusnya sadar aku nggak pernah sebaiknya ditakdirkan ada di dunia ini! Jangankan menumpang, lahir saja nggak boleh!” “Asha!” Raka memekik. Memegang bahu gadis itu. “Harus gimana aku kasih tahu kamu kalo aku nggak pernah izinin kamu ngomong kayak gitu?!” “Lepas!” Dan, pemberontakan kali itu, tidak berhasil manis, karena, Raka telah lebih dulu menciumnya yang membuat gadis itu tertahan dalam kejut serta sedihnya. Kenapa justru di situasi semacam ini, dirinya malah dihadapkan satu hal menyebalkan soal dirinya dan Raka yang akhrinya justru berada dalam hal … luar biasa? Entah ini kabar baik atau justru kabar buruk. Sebab Asha pun … nggak tahu. Kekeliruaannya ini di sisi lain membuat diri gadis itu melompat girang dan melambung karena takjub, yang di sisi juga, ia terhimpit satu perasaan perih, sebab … ‘Tidak, Kak, Raka, lagi-lagi, kamu begini.’ Bukan sekali dua kali Raka terus membuatnya menggebu berkat munculnya kunang-kunang harapan di setiap kali pertemuan. Dubu-debu debaran sepanjang kali mereka harus bersama. Itu membuat Asha pening. Menjadikannya tumbang dalam perasaan yang seharusnya ai berantas. Masa, dia yang jelas dsudah ahli menyembunyikan perasaan, bahkan dalam kurun waktu tak lama yang terus diisi dengan tes percobaan dari mulai yang nggak normal dari sampai yang ke … dirinya nyatanya illegal, nggak masuk akal, dong, kalau lantas dirinya harus serendah itu meng-okei-in apapun keinginan Raka? No, no, no. “Lepas.” “Sha …” Raka mencoba mengeluarkan sepatah kata. “Kita udah selesai.” Kali itu, Asha nggak main-main. Sebab, saat Raka berani-beraninya mendekati, Asha dengan cepat pula, langsung aja, melantangkan suara dengan berteriak agar ada yang menghampiri. Jeratan Raka ia tangani dengan pertahanan. Pertahanan yang penuh deg-degan sebenarnya. *** Sudah malam banget sebenernya untuk ngobrol, apalagi Asha kini di rumah temennya. Maharani, pacranya Ulfrad yang dulu sering abnget berantemnya. Si Maharani ini sebetulnya anak SMK Tata Boga yang justru kuliahnya nyasar ke bagian Hukum. Beda sama pacarnya. Yang dulu ambil SMA IPS, makin-makin, tuh, ngejar Manajemen. Ulfrad juga ahli Matematika, sih. Enggak heran. Dan, urusan status mereka itu gimana? Sebenernya, ini semua berkat Yaya yang mempertemukan mereka. Kadang, kan, suka gitu, yegak? Saat kita punya temen, yang klop abis, deeeeekkkkeeeettt banget. Kita pun ikut-ikutan kedekatan juga smaa squad rombongan keluarganya yang sampe kita sendiri pun bingung, kok, bisa? Nah, Maharani ini, sepupu jauh Yaya. “Shaaaa, ayo makan, dulu.” Doi punya kontrakan yang cukup bagus di sana. Asha sendiri memutuskan nggak mau nginep di butik karena Raka pasti dengan sangat cepat akan mencarinya lagi dan itu aseli … sangat menggganggu. Walhasil, Asha, dengan segala sumpah serapah yang ia miliki, ia pun memantapkan strategi, dengan, ya, ini, numpang dulu sama Mbak Maharani. Meski, ya, timingnya nggak banget. “Jadi, sebenarnya, lo, tuh, sama Aldo ada dag-dig-dug-ser, nggak, sih?” Itu Ulfrad. Dateng-dateng mejengin martabak manis rasa keju full tanpa kacang yang dibarengi s**u kental manis. Favorit Asha. Cuman karena nanyanya gitu, yang ma;lah bikin Asha makin keinget sama curut nyebelin cintanya yakni Mas ‘Raka’, asha pun misuh dalam hati aja, dia bilang, “Kenapa? Lo mau gue makcomblangin sama dia?” “Hush! Sembarangan!” Bibirnya manyun, mungkin 9 cm ada lah … “Lo, kan, tahu, gue sama Maharani Yayang Sentosa.” “Terus …” Asha ngelipat tangan depan d**a. Sebenarnya, tadi itu, dia baru aja riweuh pasal rambutnya yang basah berkat adegan India gagal sama Mas Raka tadi. Lagi diisolasi pake ahnduk buat dikeringin. “Lo ngapain minta nomor Qenny? Pake panggilan mesra ‘beeeiibbhh’ lagi?” Maharani yang lagi mau ngehidangin martabak jadi nyaut, “Apa?” Dia mampir. Tangannya siaga di pinggul. “Jadi, kamu, selama ini, ada main sama Qenny, iya?” Ulfrad langsung mega-megap minta ampun. “Yang, enggak, yang, seriusan, yang, asli, yang, percaya, deh, sama aku, yang …” Mungkin, inilah bahayanya, kenapa kamu lebih baik janagn mengusik macan lagi kegatelan berkat baru aja dibikin sakit hati kayak Asha begini. Bisa-bisa, kamulah yang justru jadi rkat nggak nafsu makan juga buat Asha melarikan diri ke pelampiasaannya, yakni, pergi warung seafood, waktu sama Asha dahulu, huuhhhhh …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN