Namun, sementara itu, Raka membanting setirnya.
Ia nggak bisa berpikir jernih begitu mobilnya kini terpakir sempurna di kastil hasil jerih payahnya yang sebenarnya juga ada bantuan komisi pengetahuan dan manajemen yang dulu diiinvestorin sama Papanya Ireska.
Ya, cewek yang tadi di awal itu ngeselin dan bikin kita bertanya-tanya, kenapa pula harus muncul sejenis dia yang baru aja kita semua bernapas lega berkat didepaknya Thayana-Draco dari kisah hidup pelik Raka-Asha?
Tapi, kenyataannya suka gitu. Hidup selalu gitu, suka ngaco urusan bercanda.
Termasuk, mampirnya hubungan baru yang nggak kita duga.
Raka yang dulu Cuma sebatas haha-hihi sama tim professional Papanya Ireska yang sering ia temui dna jabat tangan saat berada di laur negeri, kini, anaknya muncul di hadapannya dengan status apa?
“Pokoknya, Mama sudah meresmikan kamu buat dijodohin sama Ireska.”
Itu adalah kalimat yang nggak sekali dua kali Raka dengar dari Mamanya. Yang tentunya, hanya versi ter-upgrade pasal orangnya.
Alias … tiap sang mama ngucapin kata itu, selalu aja, keganti-ganti si ceweknya.
Dan, Raka cuma milih maju aja. Malam itu. Dalam kondisi kuyup, Mamanya ternyata udah nungguin dia di ruang tamu dengan melipat dua tangan depan d**a. Agak obsesif yang menuntut sebetulnya.
Namun, ya, gimana lagi?
Perempuan yang ada di hadapan Raka inia adalah amkhluk yang melahirkannya. Yang memebsarkannya. Yang jatuh bangun dengannya. Yang percaya atas mimpi-mimpinya. Yang nggak lelah ngelus dadanya waktu Raka algi kesal dan sedih dengan tingkah setanj yang ahdir di lingkup keluarganya.
Yap.
Siapa lagi kalau bukan Papa berengsek itu?
“Ma,” kata Raka, suaranya terbuka dengan sayu. “Tapi, bagaimana aku bisa setuju sama pilihan Mama, kalau Mama berani-berani menyingkirkan orang yang bisa menganntikan Mama selama ini di sisiku, buat menemaniku, selama ini?”
Sang Mama bangkit.
Oke, jangan bayangkan bagaimana tatapan etajam silet itu menusuk hingga ke kulit. Itu sungguh menyeramkan.
Namun, jelas, nggaka da yang lebih serius daripada sebuah kecewanya seorang Ibu yang selama ini bersamamu.
“Apa? Berharga?” Mendecih. “Apa yang sudah ia persembahkan sama kamu, sih, astagaaaaa …” Mamanya menepuk jidat. Tampak sangat tak ahbis pikir. “apa ia begitu menawannya untukmu sampai akmu rela memebrikan segalanya demi dia? Apa dia murahan makanya kamu atkut tak menemukan sejenis ia lagi?”
“Cukup, ya, Ma.” Tandanya, Raka nggak amu ikutan kebawa emosi. Kepalanya sudah terlanjur pening smaa celotahan Mama soal Asha yang nggak ada benernya. “Mama nggak kenal sedikitpun Asha itu gimana!”
“Bagaimana Mama bisa setuju dengan untuk mengenalnya, kalau dari kamu saja, yang jelas seluruh pengaruh itu bersumber dengan sebenar-benarnya sama kamu, justru ia … membuat kamu ajdi bangkang begini?”
Adu pelototan. Tapi, Raka membuang muka.
Jujur.
Paling tak mampu dan lemah ia jika harus begini.
Sebab, tingkat tertinggi respect seorang laki-laki itu, ada pada Mamanya, sekalinya mereka menyakiti sang Mama, hancur dengan telak pula segela menara seputar kehormatan laki-laki itu sendiri.
Otomatis.
Raka juga yang ber-image lelaki yang baik, dia pun sebisa mungkin untuk mengatur napas agar seenggaknya bisa tak terpancing sedikitpun soal Mamanya.
“Tapi, Ma.” Oh, lihatlah napasnya, kehabisan memburu yang akhirnya datar tapi rahang menegas. “Kita nggak akan pernah tahu, perubahan macam apa yang sangat positif yang sampai begitu orang itu torehkan, dan, saat semesta mengambil ia dari kita, kita lantas nggak tahu lagi harus bilang apa.”
DEG.
Sang Mama mendadak terbersit wajah almarhum suaminya, sang Papa dari Raka.
“Tapi, aklau ia hanya ajdi benalu untukmu, menorehkan hal yang sejak dulu kita berusaha perangi untuk sembuh, maka, Mama akan jadi guntingnya. Akan Mama potong ancaman-ancaman yang nggak seharusnya terbersit seperti dulu, yang antara kita, cukup kita aja yang sakit. Enggak Mama izinkan kamu dekat dengannya. Enggak!”
Itu dibalas lagi dengan Raka, sebuah hal yang cukup bikin kepala Mamanya menggema. “Namun, bagaimana, Ma, jika sejatinya, perempuan yang selama ini mampu menutupi dengan sempurna segala kualifikasiku pada penilaian telak kepada seorang wanita … atau, mudahnya, ialah jodohku?”
Telinga sang Mama jelas langsung ter-mercusuar, berdiri. “Kamu mendambakan hal itu?” Jelas, itu tanda perang, kalau Mama ini, enggak restu!
“Nggak, Ma.” Raka menggeleng, menunduk.
“Baguslah kalau gitu.” Lalu, sang mama menggerutu. “Kamu akan sangat mendekatkan Mama dengan ajal kalau sampai hal sehina itu terjadi.”
“Tapi, leboh tepatnya …” Raka bangkit dari tundukannya. “Akan aku pastikan gadis itu akan dengan mudahnya lebih terpengaruh sama aku. Akan buat dia begitu tunduk atas aku. Akan aku kasih tahu, bahwqa dalam background sehancur apapun seseorang, jika dia bertemu dengan roang yang bisa memotivasi dia menjadi sosok baik, lalu, ia juga punya keinginan untuk itu, sangat nggak mungkin untuknya mematahkan ekspetasi semacam itu, Ma.”
“Rakaaa ….”
Sang Mama berteriak.
Namun, malam itu, Raka lebih memilih untuk berendam di air shower hangat yang membaahi seluruh tubuhnya hingga kepalanya yang tadinya dingin, tak tahan dengan semuanya, perlahan menghangat dengan suhu normal kembali. Sungguh.
Tak pernah ia duga bahwa hasilnya akan ajdi begini.
Tak pernah pula ai sangka, jika, peluang bahwa suatu ahri nanti Ireska, yang emmang menawan untuk ukuran seorang gadis, justru akan dimenangkan olehnya.
Hingga …
Tit … Tit …
Ponselnya bergetar.
Yang mana, layarnya sendiri, menancapkan nama Thayana, yang tumbenan juga, berkesempatan, meneleponnya.
Langsung, Raka angkat.
“Hei …” Suara sumringah yang tanpa nada sumbang itu, menyapanya.
“Hei …” Raka respon kalem doang. Maklum. Baru selesai mandi ganteng abis ujan-ujanan, dia minum STMJ buatan Ibu Gran yang tadi sempet kasih komentar empatif, ‘Yang sabar, ya, Den, emang Aden, tuh, lagi sering banget diuji. Sampe Mamanya aden mutusin buat nginep di sini karena takut Aden ngejar Non Asha lagi. Ihhhh … Padahal Ibu udah jelasin selengkap-lengkapnya sama Nyonya.’
Raka menahan napas. “Ada apa, Thay?”
Thayana malah ketawa.
“Hei, bukannya aku yang harusnya nanya gitu? Kamu, nih, yang kenapa? Lemes amat perasaan kepala tim rebut yang hobinya ngasih deadline saat deket banget sama hari H.”
Raka ketawa.
Antara …
Thayana ini ‘tahu aja’.
Sama satu lagi, pasal kenapa dia bisa diem aja.
Nggak mungkin, dong, kalo Raka tiba-tiba curhat colongan yang bilang, ‘Thay, kasihanilah aku, simpati sedikit, aku habis ditampar Asha.’
Pasti, deh.
Cewek itu yang ada bakal menyumpah serapah dia.
Yang selanjutnya, bakal ngamukin dia. Sembari penuh gebyar, ‘Apa? Kamu jahatin dia gimana, sih, Rak? Nggak mungkin tahu cewek asal ngegeplak pipi cowok kalo makhluk bernama cowok itu nggak cari masalah! Ini pasti karena kamu mengekang dia, ya? Pasti ini juga sebab kamu bawel banget, ya! Iya, kan? Ngaku, ngaku.’
Oke.
Inilah alasannya kenapa supporter cewek lebih banyak dari supporter cowok yang nggak bisa gitu aja dukung pas lagi galau-galaunya.