“Serius nggak mau cerita sama aku, Rak?”
Berkat jeda sejenak, Thayana yang notabenennya adalah temen masa kecil yang sayang banget sama kelakuannya Raka, jadi super sayang dan peka banget sama apa yang lagi dihadapi sama cowok usia 21, tapi penuh ego malu kayak gitu.
“Ayolah, kamu kayak mau ngaku sama siapa aja.”
Thayana terkekeh.
Serius, apa, sih, yang bikin cowok itu membisu sampai-sampai kaku begitu?
“It’s not Raka style.” Thayana geleng-geleng.
“Kok, kamu ajdi asal judge gitu, sih, Thay?” Raka menyeloroh.
Maksudnya, sebentar dulu. Dia harus mikirin jenis pembicaraan apa yang nggak akan membuatnya membantu dan pantas ditertawai berkat kelakuannya yang aneh dan menggebu.
Apalagi, kan, dia nggak pernah, tuh, bahas cewek.
Sama mantan cewek yang dia pernah nggak sengaja nembak lagi?
Namun, apa boleh buat. Thayana adalah sahabatnya. Dan, cewek, adalah makhluk paling peka, yang pernah diturunkan Tuhan Semesta Raya ke dunia yang sepi dan penuh ngeselin ini.
Akhirnya, Raka pun Cuma bisa narik napas panjang, ngebiarin Thayana ngakak di ujung seberang sana.
“Jelas, sebab, Raka yang seumur-umur dikenal sama seorang Thayana, selalu tidak ada masalah untuk hanya sekedar ngasih tahu cerita. Apalagi mengenai pekerjaan dan deadline yang selalu diwarna aksi SKS anak didik buah kamu. Kamu selalu uring-uringan soal itu. Tapi, kenapa hari ini, kamu kelihatan aneh banget, sih, Rak? Ada apa? Apa yang bikin kamu malah jadi bekicot yang lambat banget cuma buat jalanin lidah?”
Thayana menggeleng lagi, sekali. “Kamu ini, ada-ada aja.”
Serius.
Thayana nggak pernah mampu buat meledek sahabatnya itu, apalagi meletakkannya ke sumur paling gemebyar bernama ‘nista’.
Thayana itu, selalu siap sedia untuk membantu.
Enggak ada waktu lah istilahnya untuk seorang Thayana justru ngegodain temennya yang lagi kesusahan bahkan soal cinta pun.
Ya, meski lucu.
Akhirnya, dengan melapangkan hati seluas hutan sss, Raka pun memberanikan diri, buka suara.
“Jadi, gini, Thay …” Raka mengulum bibir ke vdalam. Sungguh, agak ‘beton’ buat ngungkapinnya. “Aku, tuh, nggak ngerti, deh, gimana aku bisa ngasih saran buat temenku.”
Thayana tersentak. “Hah? Temen?” Lalu menggulirkan matanya ke atas. “Emang kamu punya temen selain squad-nya Asha?”
Langsung, memejamkan mata. “Punya, ada, banyak, sempat, pernah, bareng, jalan.”
“Wihhh …. Lengkap sekali.” Thanya terkekeh.
Soalnya, Raka ini, meski dia ini luar biasa, dia selalu agak bermasalah untuk benar-benar dekat dengan oranglain.
Selain pun ‘iya’, itu hanya sebatas temen ngampus atau paling sedikit, temen yang sukanya nongkrong gabung pas Raka lagi sendirian. Hobi memenuhi kursi panjang untuk menggaduhinya.
Gimana, ya, mendeksripsikannya?
Meski kamu tahu bahwa ada sosok bernama Raka yamg lebih sering bertemean dengan sepi daripada ramai, tetap saja, kehadirannya untukmu, selalu mengikatmu, untuk sekedar menjadi sosok orang, yang bisa mendekatinya.
Raka tidak menarik, memang.
Dia hanya … memikat.
Dan, bisa membuat oranglain penasaran begitu saja saat kamu hendak mendekatinya.
“Yaudah, lanjut-lanjut …” perintah Thayana.
Lalu, Raka bilang, “Jadi, ada temenku, Thay, namanya si A dan si B. Si A ini cowok, si B ini cewek. Mereka deket banget. Satu lingkup. Si cowok ini selalu berpikiran, apapun yang ia lakukan, harus banget yang terbaik demi cewek itu, karena, ya, itu murni, keinginannya.”
“Terus, kenapa dia harus bertanggung jawab dengan baik nggaknya cewek itu?” Thayana ;langsung mencecarnya dengan pertanayaan yang bahkan curhatannya itu belum selesai.
Raka pun menarik bibirnya, menggigit kecil. “Ya, karena, dia ini, ya, mereka dekat. Ada satu peristiwa yang akhirnya membuat mereka benar-benar sanagat … apa, ya? Bergandengan, ya, bergandengan.”
“Oke.” Thayana mengangguk. “Lanjutin, Rak.”
“Nah, tapi, nggak semua hal yang kita mau ebrjalan mulus, kan? Sama halnya dengan si A ini. Selama ini berusaha memberikan yang terbaik …”
“Are he’s controlled her’s want at all?”
“No …” Raka langsung ngegas. “Dia ngasih kebebasan memilih, hanya saja, setiap opsi yang diutarakan, si A cenderung ngasih yang lebih pantas dari itu.”
“Lalu, si B setuju?”
“Ya.”
“Mereka dekat sekali.”
“Begitulah …” Raka mengangkat bahu. Begitu jeda sejenak terjadi antara mereka, Raka kontan tancap gas untuk langsung melanjutkan, “Sampe akhirnya, si B muak. Si B pernah ngasih tahu dia nggak suka dengan system itu, meski, sudah lama sekali mereka menerapkannya bersama.”
“Pasti si A melakukan hal yang di luar batas dari apa yang jadi ketentuan maklum B, makanya dia protes.”
Bingo!
Seketika Raka terlempar saat awal-awal ia dan Asha bersekutu pasal hadirnya Aldo yang tiba-tiba merusuhi kehidupan mereka berdua yang seolah menjadi gencatan awal mula Asha ajdi sangat membangkang dengan dirinya.
Dengan alis menyela dahi yang naik sedemikian senti, mengusir peniong, Raka melanjutkan, “Itulah yang menyebabkan si A, untuk mencoba membahagiakan si B dengan versi terbaiknya B. Meski, dengan kualifikasi yang enggak boleh tercoreng dari sisi A itu sendiri. Atau, minimalnya, dia harus minimal sekali, bis amembuat B bermanfaat.”
Thayna kini malah menggelegarkan tawqanya. “Ada apa dengan si A?”
DEG.
“Maksumu, Thay?”
IOke, ini konotasinya bisa negative, bisa juga positif.
Raka jadi deg-degan.
“Kenapa dia ahrus sangat perduli kepada si B?”
“Kan, aku udah bilang, mereka satu lingkup, mereka dekatm, ada satu peristiwa yang menjadiakn mereka ‘bergandengan’.”
“Lantas, apa peristiwa itu juga menjadikan hati mereka pula bergandengan?”
DEG.
Ada beberapa panah yang menukik ke hati Raka.
“KAmu ajngan sembaranagn, ya, Thay. Enggak mungkin si A jatuh ci nta sama B. Itu sangat tidak direkomendasikan!”
“Lihat! Kamu bahkan yang menggebu.”
Iya, juga. “Kan, aku temennya!”
“Tapi, teman amacm apa yang jsutru menentang jiak temaannya sungguh bermasalah dengan urusan perasaan bersama si B?” Tahyaan menarik napas. “Apa jangan-jangan si B ini …. Buruanmu?”
“Itu lebih-lebih tidak mungkin.”
“Welll, jangan bilang, Rak, kamu masih bucin padaku.”
Lalu, keduanya tertawa.
Hari itu, seumpama rintik hujan yang menyapu lenyapkan pasir di bebatuan, begotu pulalah perasaan Raka ayng anehnya, akhir-akhir ini nggak pernah alagi ada wujudnya.
Enggak ngerti, deh, kok, bisa.
Hingga, saat itu, Raka menceritakan lebih lanjutnya tanpa perlu panajng lebar lagi dengan Tahayana.
Dia memberitahukan, bahwa, keputusan A untuk melakukan itu, memang sudah disinyalir dengan baik, namun, si B justru ‘sakit’ berkat apa yang ditujujan oleh si A, sungguh, menjepit dadanya. Ditambah lagi, ada satu pertahan, yang dikira si B adalah rahasia, kebohongan ebsar menyangkut kebersamaan mereka, makin memperkeruh mereka berdua.
“Lalu, mereka sekarang menjauh?” Thyana memaparkan pertanayaan.
Raka menggeleng. “Lebih tepatnya, mereka sedang di masa ‘karantina mandiri’.”