Thayana tertawa. “Kamu jangan melucu, Raka. Kamu sudah dari awal kalah jauh dengan lawakan Aldo.”
Ishhh … nama itu, Raka ingin seklai mendesis emosi. Tapi, kesedihananya lebih menumpuk mendominasi. Walhasil, amarahnya dipending. “Terus, gimana, dong?”
“Ya, itu masalah temanmu, nggak ada urusannya sma aku.”
“Issshhhh .. Thayana.”
“Lihat, kamu bahkan seperti anak ekcil …” Thayana sungguh nggak habis pikir. Raka mengaduh pilu. “Tapi, jujur, Rak, ini akan sangat sulit. Apalagi temanmu, si A, sampai ditampar, itu horror sekali.”
DEG.
“Emang … apa artinya sebuah penamparan bagi seorang wanita?”
“Ya, aku membencimu, sangat, sampai aku tak tahan untuk nggak memukulmu sebab, hadirmu sanagt menggangguku. Aku muak dengann kenangan yang jsutru ebrsemi antara kita.”
“Tapi, kan, si A nggak bermaksud …” Raka menyelakan ‘pembelaan’.
“Ya, tapi, di mata si B, itu sangat fatal!” Thayana menggemakaan kesimpulan. “Kami, perempuan, juga nggak suka dikhianati dan dibohongi. Kami emang mangsa. Tapi, untuk dijerat serta dipermainkan, kami pun juga akan melayangkan perlawanan.”
Iya, Raka sadar. Dia sudah keterlaluan.
Meski, ya, itu di luar kendalinya.
Namun, apapun itu, jika sudah berkaitan dengan ‘efek’ maka, nggak ada ada yang bisa disepelekan. Terutama jika menyangkut hati seseroang.,
Dan, demi apapun, Raka nggak bia.
“Terus, gimana caranya temenku bisa nembus kesalahannya ke temennya itu?”
Dan, selalu saja begitu.
Saat kita ditimpa hujan yang sangat deras, petir dan badai menggempur hingga membuat kita jatuh sampai butuh penyangga untuk bangkit lagi, seketika, biasanya, akan hadir seseorang yang menyediakan sepatu lalu mengikatkan talinya untuk kita, sembari memastikan, ‘jangan sampai terjatuh.’
Begitulah hadirnya Thayana untuk Raka.
Dia akan datang, sebagai sahabat yang saling mengerti, dan membantu Raka, yang sejatinya, saat itu ia bahkan sudah tahu, kalau A adalah Raka, B adalah Asha, meski ia tutup mulut, akan Thayana fasilitasi titik temu, agar kelar permasalahn yang sebenarnya nggak perlu.
“Mudah saja, Raka, caranya. Asal kamu gigih untuk bisa mencapai garis finish atau saat timbal balik itu memboomerang, kembali padamu.”
Itulah system cara alam raya.
Saat kamu serius membantunya, ia akan pulang lagi padamu, dengan balasan yang meski kecil tapi, itu tepat datang, ke arahmu.
Timbal balik nggak pernah untuk nggak seserius itu.
****
Pagi pun datang.
Dengan atmosfer yang berbeda, Asha menggeliat dari kasur lalu bangkit begitu melihat sahabatnya itu, Maharani, yang justru sudah rapi sembari mengusap wajahnya dengan handuk, yang mudah saja bisa kita tebak, abis cuci muka dan melakukan skin care routine, tiap pagi.
Asha pun basa-basi, kaget sebetulnya. “Ya ampun, Mah … udah jam 7 pagi? Kok, lo nggak bangunin gue?”
Yaiyalah, nggak ada tata karma banget, udah numpang, bangun kesiangan, yang ahrusnya bantuin pekerjaan rumah dari tempat tersebut justru malah enak-enakkkan tidur-tiduran. Kan, nggak banget.
Dan, Maharani malahan ketawa. “Ya, ampun, Sha …” Wajahnya senyum cantik aja gitu. “Santai aja, kali, anggep aja kayak rumah sendiri.”
“Maunya gitu, Mah …” Asha jadi ikutan nyengir. Serius, mendapat hal seperti itu, memang privgekleges yang berarti, namun, ia juga harus jaga image dengan banyak-banyak tahu diri. “Sorry, ya.”
“It’s okay. Toh semalem juga, kan, lo pasti capek banget. Belum juga nenangin diri lo dari Raka, masalah rumah lo, terus energy lo justru dirusuhin sama Ulfrad semalem.”
“Itu, mah, bukan ngabisin energi tapi charger habis-habisan energy,” elak Asha.
Ya, bayangin aja, hampir semalaman, meski d**a dan hatinya remuk redam, dia dapat takdir dijejelin banyak banget nmakanan dari Ulfrad yang sebenernya buat pacarnya.
Walhasil, Asha yang catatannya sebagai temen atau saksi nyata saat itu, buat ngeramein bahkan menjelma jadi nyamuk yang enak buat jadi bahan ledekan, seru banget, tuh, buat bisa, trivia.
“Haha, bisa aja.” Maharani keep smile. Senyumnya serius, cantik pake banget … “Yaudah, Sha, lo makan aja dulu.”
Asha langsung berbinar. “Lo masak pagi-pagi juga?”
“Itu tentu bukan rutinitas ektrem buat gadis, kan?”
“Uhhhh … thank you so much,” ungkap Asha tulus, bahkan, tangannya melebar, kemudian, keduanya terus memeluk. Hepilah itu berdua. “Entar gue yang cuci piring.”
Namun, mengingatkannya apda Bu Gran, cewek cantik yang udah punya pawang itu, malah menyentil dahinya. “Enggak bisa. Lo di sini tamu, nggak usah ngapa-ngapain. Nyantai aja sepuas lo ..”
“Eh, tapi, kan?”
“Please, Sha, gue sama lo transaksi dari awal itu jadi tmenan , bukan saling nyusahin saat temennya yang kebetulan juga udah susah.”
Fix, Maharani ini, emang pantas masuk ke squad dia.
“Lo ada rencana nggak ‘out’ gitu dari circle pertemanan Qenny?”
Terus, dia ngelempar bantal yang ada di ranjang. “Enggak gue ridhoin lo jadi PHO.”
“Ya elah …” Asha ngakak. “Sejak kapan gue ebrbakat jadi pengrusak hubungan orang?”
Jadinya, pagi-pagi itu, ributlah mereka.
***
Hidup jadi benalu bareng Maharani, itu, bak keberuntungan yang tiba-tiba aja, menghampirimu.
Dia baik, kayak princess, cute, luar biasa, sempurna, squadnya bareng sultan kampus, sebut saja queen-nya, bernama Qenny.
Yang Asha tahu berkat hasil kesimpulan observasi uraian Yaya seputar image kampusnya, orang-orang yang deket sama Qenny, pasti kaum yang ‘berada’-nya banget. Kating yang mampu lebih ‘konglomerat’ dari Qenny’s Squad adalah … Raka squad.
Versi … tak tersentuh.
Raka hanya terlalu undergrownd di kalangan anak kampus.
Beda banget di rumah yang cerewet apalagi segala hal yang menyangkut Asha.
Berisik, penuh teori, dan nggak bisa digugat.
Hingga saat itu, pas dia ngampus, yang kebetulan jam apel sama dosen diadain di luar, sepanjang jalan Asha naik grab car, dia sontak aja kebayang hal-hal yang sungguh, deh, nggak epic banget buat dibayangin.
Kayak contoh, ada tukang dagang bendera plastik pas tujuh belasan yang juga dagangin mainan anak semacam kapal api dari kaleng s**u bekas. Itu ngingetin Asha sebelum sang Mama Raka dating ke sana. Mereka sempet have fun and quality time bareng, buat beli miniatur kincir anginnya.
“Kayak dandelion, ya.”
Asha bermonolog. Layaknya anak kecil.
Jadi, mereka berdua, tuh lagi duduk berdua, jongkok, sambil mandangin satu sama lain.
Raka sendiri, sih, jangan ditanya, dia lagi tertaik sama botol gede yang dalemnya ada kayu antik kapal gitu. Terus sama keong dan rumah-rumahan dari busa.
Yap, meski dagangnya di jalanan, tapi, percayalah, toko tersebut cukup membaca kebutuhan pasar.
Dia lumayan ngerti kalau kejutan itu selalu menghiasi hidupnya.
Termasuk customer yang tertaik buat sekedar ngunjungin dia aja.
Kan, dia, nggak bisa nge-set, nanti tiba-tiba yang nongol umur bocah doang.
No.
Makanya, dia siapin alternative wahana lain buat bikin orang dewasa, pun, beli juga.
“Kak, beli, yuk.”
“Apanya?” Raka nanya malas. Maklum, lagi merhatiin gantungan kunci juga.
“Kamu.”
DEG.
Raka langsung noleh. “Aku?”