Kado

1077 Kata
“Iya. Beli semua kesedihan Kakak, aku, kita, semuanya, juga sebagai hari penyambutan di mana Bu Gran akhirnya udah pulang dan ini jadi hari bahagiamu.” Raka mesem dengan santainya. “Jadi, ceritanya, ini kado dari kamu?” “Ashiaaaappp …” Aaha pun bergaya hormat ala pemimpin upacara ke inspektur upacara itu sendiri. Yang alhasil, dibalas Raka dengan mengelus rambut gadis itu yang sebenarnys duah sangat tampak berantakan. “Ayo …”                                                    Itu benar-benar menjadi momen nggak terlupan yang memang mudah untuk terabadikan di kepala Asha, seumur-umur bersama Raka. Setiap perjalanan yang mana momen special dimana bisa dirinya dan Raka yang jatuh hati dan terjebak pada satu keistimewaan bisa happy berdua, jujur, itulah yang lamat-lamat ingin Asha pribadi ambil pelajarannya. Karena, takut, harapannya, perasaannya, nggak akan begitu saja direstui semesta karena bgaimanapun, mereka dari awal cuma sekedar, ‘aku tolong kamu, sisanya, bebasku mau ke mana dan bareng sma siapa.’ Menyakitkan emang.. Tapi, hidup selalu mengasihi kita tentang pelajaran, ‘seringlah untuk tahu diri’. So, di tengah perjalanan menuju destinasi selanjutnya, Asha sempat nyeletuk, “Kak, pasti Kakak nanya, kan, bagaimana pelajaran yang bisa kuambil saat kita bersama?” Raka mengangkat satu alis saja. “Oh, ya? Kamu udah memutuskan mengambilnilai moral dari setiap perjhalanan hidup kamu? Termasuk yang kamu ambil dariku?” Asha mengangguk sekali, mantap. “Kakak mau tahu.” Raka melakukan gesture yang sama, tapi versi yang lebih nggak terdeteksi keinginannya. Yaps, versi sanagt cool. “Kalau sama Kak Raka, aku berasa bahwa aku ahrus terus-terusan nyiapin diri aku buat ‘mandiri’.” “Mandiri?” Raka jelas heran. “Iya, mandiri.” “Kenapa?” Dia meregangkan alis di dahi. “Bukannya aku selama ini fasilitasin banyak hal sama kamu, Sha?” “Itu derma, Kak, bukan investasi.” “Itu investasi asal kamu tahu, Sha.” Raka memasukkan tangannya di saku celana. Maklum, mereka ini lagi di mode menikmati panas Jakarta dengan bercerita dan tuker pikiran. Jadi, jangan heran, kalau jam segitu, mau-maunya aja panas-panasan. “Emang kamu pikir diri kamu itu masuk ke golongan fakir miskin?” “Iya, enggak juga.” Asha menggeleng. “Justru, ya, manusia itu, makhluk paling kaya, hampir ujung kepala sampe ujung kakinya, nggak pernaha da yang kurang, ramai sekali. Untuk contoh aja, tuh, coba aja, tes soal keajaiaban DNA. Kamu bakal nge-wow sendiri sama apa yang terkandung di dalam manusia itu sendiri.” “Itulah yang aku rasain juga. Kepada sesama sosok yang mana kita semua pun dari asalnya nggak pernah ditakdirin buat sendirian, untuk kamu, yang keluar dari kodrat, yakni, dipaksa sendirian, dengan, kehilangan siapapun yang jadi tanggung jawabmu, ya, udah, anggap aja aku investasiin semua ilmu yang mungkin selama ini terlalu gendut di aku.” “Dengan ngajarin aku, mengkritisi aku, membangun mentalku, memeperbaiki yang pernah rusak di aku?” “Tentu,” tandas Raka. “Supaya, seenggaknya, kepada kamu, yang udah potensial, mirip seperti prinsip-prinsip investasi itu sendiri, yang mana, aku hanya boleh buang uang kepada yang memang kelihatanannya menjanjikan, ya, aku kasih aja ke kamu.” Asha malah tertawa. “Itu antara terpaksa dan nggak niat saking nggak adanya pilihan, ya …” Lalu, meletakkan tangannya di bahu. Ala ngambek cewek di drama Korea, kelihatan cute. “Makanya, kalau mau ngapa-ngapain itu, riset dulu.Contoh saking pengennnya investasi ke orang-orang nggak punya amsa depan, cari yang paling potensial, makin miskin …” “Makin nggak tahu diri.” “Ih …” Asha menoyor lengannya. “Aku nggak bilang miskin akhlak, miskin intelek, loh, ya.” “Jelasin spesifik makanya.” Raka balik mengusap hidung cewek itu penuh keusialan. “dan, Sha, aku nggak perlu ngelakuin itu semua.” “Loh, kenapa?” “Kan, aku duah milih kamu, ya, bagiku, kalau udah keiisinkamu, ya, cukup.” DEG. “Cukup aku aja?” Raka ngangguk sekali. “Iya.” Serius, bahkan, detik ini pun semburat yang mengembus naik makin-makin saja menegaskan kata baper yanjg ikutan kebawa ke kepalanya. Astaga, Raka, entah bagaimana, kamu bisa jadi amat manis begitu. Lanjutlah lagi, mereka melangkahkan kaki. Kali itu, ke pameran paling sederhana yang bertempat jauh sekali dari rumah Raka yang letakknya di atas bataran sungai. tRamai sekali wahana jalanan dan orang-orang yang datang. Hingga, Asha sendiri merasa, bahwa dirinya sedang disirkusi oleh akuarium kehidupan soal berbagai macam identitas, lataar belakang manusia, berkumpul dan berpoesta pora malam itu, tak perduli usai dan sitem terkait identitas orang itu, namun, membaur bersama. Yang bahagia, pun, menikmati tanpa sikut yang selama ini memenuhi timeline kita, di social media. Sebuah perbedaan yang menyatukan serta keberagaman yang penuh toleransi yang amat membahagiakan. “Rame, ya.” Raka malah mendecih. Kini, berduanay beridir di tengah-tanagh lalu lalang orang sibuk berniaga dan sikusi pribadi bareng orang kepercayaan mereka, soal apa yang mau mereka beli sekarang juga. “Sha, bukan tempat umum kalo nggak ramai.” “Jadi, apa Kakak mau gandeng tanganku?” DEG. “Buat apa?” “Bukan tempat umum namanya kalau nggak banyak resiko kejahatan di dalamnya.” “Dih …” Raka malah senyum. “Bilang aja, nggak punya gandengan, dan, ya, karena nggak ada pilihan lain selain calon gandengan sekompeten kakaknya, jadi, kakaknya aja yang dijadiin pelampiasan serta tameng membahagiakannya.” “Ish …” Itu desisan yang agaknya cukup berbahaya. “Pegal, nih, ayo.” “Iya, ayo.” Serius, ini sih, emang kalo nggak diteliti dengan secanggihnya, nggak ada yang tahu kalau mereka sebenernya kakak adik, berkat, ya, umur mereka nggak terpaut jauh. Beberapa juga, saat kondisi lagi sepi, yang, contoh banget, nih, Raka, kan, lagi pasti pengen, dong, beli cemilan, kayak bakso, cilok, sempolan, atau yang lain sebagainya, otomatis, Asha sendirian, kadang juga seeerrriiiingggg bangeeeeeet digodainnya. Sampai dengan posesifnya, dia marah, “Kamu jangan sampe kegenitan, ya!” “Kok, malah, aku yang disalahin.” “Kamu lupa gimana agresifnya kamu sam Aldo yang bikin dia sampe … ah, udahlah.” Lihat, pipinya membeku dlaam malu yang menyimpul. Yang namun, meski itu sejatinya dalah yang paling ditutupi Raka, tetap saja, hal terkait ekspresi dan gesture itu, nggak bisa dibohongi. “Peaaceee …” Yaps, mereka kini ambil gambar di photo box kualitas rakjel yang sempit dan low budget karena harganya super banting hingga 90%, apalagi, di sini cuma difasilitasi kipas angin serta dangdut yang alunannya terlalu menggebu. Alias, bikin telinga puyeng dengernya. “Ih, enggak telingaku kelihatan kegedean, Kak …” “Lah?” Raka keheranan. “Emangnya siapa yang mau lihat hasilnya?” “Aldo,” jawab Asha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN