Yang kotan saja, membuat lautan api dalam diri Raka terisi sampai ke ubun-ubunnya.
Serius, ia nggak abis pikir.
Apa di balik sosok Aldo yang absurd dan nggak banget itu, ia juga punya cara kepercayaan yang buruk dengan … meminta Asha untuk selalu melapor dalam siapapun yang nantinya diperkenankan jalan dengan diri gadis itu.
Langsung, direbut ponselnya. “Ihhh, balikkin …”
Eh, malah diangkat tinggi-tinggi.
Raka ngetik. ‘Kita putus!’
Dan, itu, menjadikan Yaya dan Aldo, ngakak sekebon. Mereka kayak sampe sakit perut gitu, sebqab, nggak lepas-lepas itu tanagn mereka megangin perut sambil kebahak-bahak nista. “Sumpah, Sha,” komentar Aldo. “Itu …lawak banget.”
Iya, bagi dia.
Meski, ya, balik lagi, apapun yang berkenang, suka bikin kita ketawa sendiri.
Apalagi di momen-momen yang bergandungan di masa itu.
Mereka bahkan jalan ke tukang nyewa sepeda hias, main-main sebentar kayak anak kecil, ledek-ledekkan, rebut, sampe … kejar-kejaran. Sempet juga karokean rakyat pake lagu Wakuncar. Terus, iutan juga lomba lempar gelang yang lucunya di suporterin-in sama Ibu-Ibu sekitaran sana. Udah berlagak ada lomba atletik ternama yang jagoan kita lah yang harus bisa nggak bisa mengharumkan nama bangsa.
“Sha, udah, nyampe.”
Begitu Asha terbangun dari mipinya.
Yang padahal tadi niatnya sepanjang jalan itu adalah dengan membayangkan hal-hal yang mampu menenangkan hatinya, rupanya, Asha sampai nggak sadar ia justru ke bawa ke alam nggak sadar. Ternyata … ketiduran.
Sampe, Maharani, nepuk-nepuk bahunya, karena, cewek itu juga berjaga mewanti-wanti kedatangan Asha sebab jam mereka berangkat, samaan. Tempat tinggal juga barengan. Makanya, ia was-was. Khawatir Asha kenapa-napa.
“Owh, Maharani, kok, lo nungguin gue? Kenapa nggak ngelas dulu?”
Maharani ketawa.
Wajahnya yang emang udah dari sononya cantik, kini, makin luar biasa manis, berkat dia menutup mulutnya sembari tersnyum ceria.
“Gue, harus mastiin tamu gue nggak masalah, dong, Sha.”
Asha mengulum senyyum kecil, memeluk Maharani yang selanjutnya, berlengganglah mereka ke gedung kampus.
Namun, saat perjsalanan, di taman, Asha menemukan Raka, telah berdiri di hadapannya.
Tatapann cowok itu seolah menyiratkan bahwa ia tak tahu harus mengatakaan apa meski tanpa ia memberitahukan sesuatu, apa yang akan ia lakukan, justru lebih penting.
Terngianglah mandat dari sahabatnya, Thayana yang bergema-gema, mengatakan ….
‘Raka, keras-kerasnya batu, bakal luluh juga kalau terus ditetesi air. Sama halnya sama ketulusan. Kalau teman kamu memang tulus ingin mendapatkan atau seenggaknya meluruskan yang telah salah sama perempuan itu, ya, jangan menyerahlah.’
‘Berusahalah. Temanmu, hanya perlu kuat terhadap apapun yang akan ia hadapi. Keebaikan serta keteguhan, dengan niat murni, nggak akan sesat untuk mengantongi sesuatunya, Rak.’
“Apa kabar, Sha?” Raka bertanya. Oh, arah matanya. Seketika memindai tanpa diminta memastikan apakahg gadis itu baik-baik saja.
Maharani yang langsung peka bahwa ada batas yang nggak boleh dipenuhi keberadaannya, ia pun basa-basi, “Sha, gue duluan, ya, perginya.”
“Eh, Mah, tungguin …” Namun, untuk benar-benar mengikuti Maharani, itu sungguh nggak mudah, sebab, Raka, dengan begitu saja, mencekal tangannya. “Kak …” Asha mlirih.
“Enggak, aku nggak akan maksa kamu.” Raka tampak menggigit bibir. Matanya terus menerus menunduk yang sesekali kelihatan ingin beranjak dari gaduh yang nggak mau menyepi dari hatinya. “Aku ngekhawatirin kamu, Sha.”
Lalu, Asha meluruhkan tangan Raka yang menggenggam lengan yang, menjatuhkannya, lembut, serta perlahan. “Seperti yang Kakak lihat, aku baik-baik aja.”
Raka mengangguk. “Syukurlah …”
“Ya udah …” Asha pun mengeratkan tas mini yang menyampir di bahunya. Kemudian, beranjak begitu saja dari Raka yang ada di sana.
Namun, baru beberapa langkah, ada satu perkataan yang mampu memusingkan arah lurus Asha yang hanya fokus ke depan, berubah jadi, penuh atensi ke arajh Raka. Laki-laki itu mengatakan, “Tapi, masalahnya, aku merindukanmu, Sha.”
DEG.
“Aku khawatir kamu membenciku. Atas hal yang nggak aku duga.”
Jawabannya, Raka …
Asha sama sekali tidak membencimu.
Tidak pernah sedetikpun jikalau ia mampu.
Ia sudah menyayangimu.
Tapi, Asha jujur nggak tahu apakah ini hanya reward semata berkat Raka yang baik dan telah berderma padanya, atau memang percintaan murni yang apa adanya?
Asha menunduk sedikit;. Air mata ingin sekali jatuh. Tapi, semuanya ditahan. Tanpa menoleh sedikitpun, karena Asha nggak mau Raka melihatnya menangis dan cengeng begitu saja seperti anak kecil, Asha Cuma bilang, “Nggak papa, Kak. Udah waktunya pula kita ahrus pisah. Kakak sama yang emang amsaa depan Kakak. Aku pun dengan penataan masa depanku.”
“Tapi, Sha, aku mau …”
“Enggak perlu, Kak,” tegas Asha. “Nanti, ya, beri aku waktu.”
Nanti, Rak …
Asha akan datang begitu semua perasaannya netral untukmu.
Memang benar.
Untuk kata pasti yang bisa kita temui, kita perklu menuju versi baru diri kita dengan memebranikan diri, mencoba hal yang abru.
Namun, itu menyisahkan sedikit pilu di hati Raka, yang meki itum ia tetap tersentil bahagia, bisa melihat agdis itu … baik-baik saja.
‘Demi Tuhan, Sha, akan aku pastikan kamu dari jauh, agar kamu tetap tidak apa-apa,’ batin Raka.
***
Bu Gran kini sibuk mengelap cangkirny, tanpa menyadari, Raka telah ahdir di tengah-tengah mereka. Yap, ada Tuan Hang juga yang membantu Bu Gran menangani amsakan. Ini berkat Tuan Hang merequest menu makanan terbaru yang enak, pudding cokelat berlava santan kental. Makanya, ia harus mau merusuhi Bu Gran dengan ikut direpoti.
Yang … justru, salah kaprahnya, menghailkan benih-benih opini. Dilontarkan begitu saja.
“Sebenarnya, Ibu ingin sekali mengatuhi keadaaan Non Asha, meski, ya, Ibu tahu Non Asha apsti akan baik-baik sja, karena, suruhannya Den Raka telah melacak Non yang tidur di rumah sepupu sahabatnya Non Yaya, Maharani, tapi, Tuan Hang …”
“Euhm?” Maklum, Tuan Hang sedang dokus memotong gula merah. Mengirisnya tips dan kecil-kecil. Maklum, menu untuk setiap ahrisnya, selalu sangat banyak.
“Ck, kamu mendengarku atau tidak?”
“Aku mendengarkan, Bu.” Itu sebuah pemaparan yang dilangsunbgkan dengan langsung fokus kepada yang minta tanggung jawab.
Raka senyum. Cewek emang gitu, ya. Mereka selalu ingin diperhatiakn begitu saja. Padahal, kondisi seringkali nggak memungkinkan untuk memusatkan semua atensi pada mereka. “Tapi, Ibu kan, tidak mungkin untuk datang ke sana, menjenguk, memebri masakan Ibu untuk Non Asha, Karenna Ibu juga bukan siapa-siapa, emski Ibu menyayanginya.”
“astaga …” Bu Gran menganga. “Bagaimana mungkin, Tuan Hang bisa selengkap itu?”
“Tidak tahu.” Tuan Hang terkekeh. “Tapui, Ibu memang benar. Aku juga sangat merindukan keributan yang terjalin di keluarga ini. Sudah terasa seperti atmosfer yang benar-benar melingkup dan jadi ciri khas kami. Namun, ya, apa boleh buat, kalau iu sudah menjadin keputusan mutlak Non Asha, maka, ya, bia kita, Cuma mendukungnya.”
“Apa kamu tidak ada saran untuk emmbawanya kembali?”
“Apa? Aku?” Tuan Hang menunjuk dirinya sendiri. “Tidak, tida. Akan sangat aneh jika orangtua seperti aku, memberikan masukan seaneh ini.
“Tidak apa-apa. Berikan saja.” Raka tiba-tiba muncul di sana, tengh ke kulkas mengambil air mineral di botol ukuran sedang. Meminumnya. “Pasti akan aku ikuti.”
Lalu, Tuan Hang dan Bu Gran, bersitatap.
Rupanya, di antara mereka bertigalah, mereka sempat lupa, Den Raka, lebih … kesepian serta kehilangan.