Life Corp

1069 Kata
“Yo, bro …” Aldo udah siap-siap tos. Jam ngampus udah kelar. Lanjutlah mereka betiga yang super gabut ini, ngaco time ke Ruang Rasa, outlet makanan haha-hihi milik teman mereka, seangkatan, namun, memilih terjun ke bisnis makanan. Yaps, agenda mereka hari ini, yakni, nobar film Hujan Bulan Juni di lapak yang salah bareng tukang jaga outlet. Ini disarankan untuk kamu yang mau pergi tapi dengan kualitas maksimal serta minim budget. Namun, sedihnya, nggak ada tuh, yang mau membalas tangan Aldo yang sudah sangat sukarelawan itu, untuk dijabat tanganin. Asha, yang dating duluan diekori Yaya, memilih langsung duduk aja di aksru kayu jati khas Yogya itu. Tak mengindahkan Aldo yang begitu sumringahnya, menyambut mereka. “Hei …” Tentu aja, protes. “Lo emang lagi bad dan red day, ya, tapi, kalau mau ngelampiasin, ya, jangan ke gue, dong. Sayang, cowok eksklusif premium unlimited edition gini, lo sia-siain gitu aja.” Entah itu kalimat penyeru atau justru kalimat penyqadaran, namun, yang lebih bisa Asha pahami adalah itu … “Lo nggak usah nyebar-nyebar kalimat kepedean!” “Nawhy, dah?” “Nawhy, no way yang ada lo, mah!” Yaya mencela. “Dih, kayak lo … uwu aja.” Maunya, sih, nggak. Tapi, kalau harus nunjukkin ke lo pesona gue, mending ngfgak usah, wahai, budaya cap kapak.” “Wah … sembarangan, nih.” Lihat, mereka piting-pitingan. Main satu sama lain, bahkan ampai panco berdua. Mungkin kalo yang nggak kenal, npasti bisa ngira pasangan. “Udah kayak kuda nil sama kucing lo berdua.” “Bwahahaha,” Aldo ngakaka. “Jauh amat, tuh, perbedaan, kuda nil-kucing.” Dia sekarang ngerusuh lagi dengan ngegetok kepala Yaya yang steril tersebut. “Pasti, dia ini, kan, si kuda nilnya. Ngamuk mulu kerjaannya, entar bawqa-bawa hal-hal yang nyeremin bin ngeselin, terus, ngetawain. Iya, kan, bener, kan?” Astaga. Asha kini cuma bisa ketawa aja. Jadi inget dia pas malam itu baru aja sakit hati sama apa yang ahrus dihadapi tersangkut ‘Raka’, Aldo dengan mencecar banyak pertanyaan lewat chat, telepon, hingga SMS, untuk memastikan kahwatir Asha nggak ada kuota, bilang dengan ketar-ketir … ‘Sha, gue punya temen cewek yang bisa bantu lo, serius, jangan di rumah Yaya dulu, ada ponakannya yang masih kecil. Bukannya entar lo tambah rileks, bisa-bisa lo mau nyabut uban di kepala lo yang tiba-tiba muncul gitu aja saking tercekiknya lo sama kenyataan bahwa keluarga Yya emang sebegitu saking ramenya.’ Yang ternyata, temennya itu cowok, paling ganteng seangkatan, suruh serumah, Yaya jadi ngamuk dan mencecarnya dengan pasal-pasal gossip yang anti bisa menyerangnya. Yakali, Asha digosipin aneh-aneh cuman gara-gara numpang tidur doang. ‘Nggak-nggak, nggak setuju gue kalo lo ngikutin otak pakcomblang Aldo. Semenjak dia nyambi dulu ngedeketin lo sama Draco, jadi makin telaten dia menipu daya orang-orang yang lagi membidik orang tersaayang dengan berusaha dibikin ikutan jatuh cinta. Sampe pas Raka khawatir banget, tuh, pas lo nggak ada, kan, ketemu Aldo, kan, di warung es krim, lagi beli marimas.’ Asha yang saat itu baru nyampe di rumah Maharani, yang berkat, sebelum percakapan ini, Yaya mengakomodasi dan menyarankan Asha untuk pergi ke sana aja. Yaya bahkan kerepotan untuk membooking kamar dari Ndoro Maharani biar Asha bisa ‘masa tenang’ dulu di sana, sembari mengeringin rambut pake hair dryer, kaget, ‘Marimas di toko ice cream?’ ‘Hooh,’ Oke, dari kecepatan nge-gas, Yaya juga nampaknya tampak nggak main-main kesalnya. ‘Gaje banget, kan?’ ‘Serius, malu-maluin banget emang si Aldo.’ Ketawa, Asha nutup mulutnya yang terbuka lebar. ‘Merusak citra baik bangsa aja.’ ‘Jangankan bangsa, seluruh umat cowok yanga ada di dunia di amah, saking parahnya. Sekalian juga, mencoreng Hak Asasi Manusia karena nggak pernah berhenti-berhenti nya bikin kita nggak pernah ketinggalan emosi kalau duah samping dia. Kan, kesannya, kita biadab banget.’ ‘Oke, jadinya testimony Aldo, ganti.’ ‘Maap, ganti.’ Itu cara Yaya menurut, yang kompakan aja, tuh, mereka berdua narik napas cantik untuk menjaga tabiat. ‘Terus, si Raka nanya, emang Asha nggak papa? Tahu nggak lo Aldo jawab apa?’ ‘Apa emang?” ‘Lo tenang aja, Bang, Yaya, tuh, pawang dari segala kejahatan, lihat aja, ada cowok nyakitin, siap sedia dia ngamuk di depan siapapun cowok itu, buat ngelindungin si Asha, jadi, Bang, lo nggak perlu khawatir, sekalipun khawatir, kekhawatiran lo itu … nggak guna. Kita bisa percayaain semuanya sam Asha.’ Asha seketika menggebu, ‘Ada-ada aja, ya, si Aldo, ngatain lo giotu amat. Ini sama aja kayak, kalo missal orang nyuruh lo nyalain gas elpiji, tanpa mengerti, kalo lo kenapa-napa, meledak gitu, missal, emang lo nggak kecelakaan juga?’ ‘Nah, itu dia. Kesel, kan,lo!’ Tapi, serius. Di balik semua itu, di balik semua canda tawa itu, tersimpan cenndawam-cenmdawan peluh yang nggak bisa Asha utarakan perihal betapa gadis itu maat menyayangi teman-temannya. Betapa ia tak ingin persahabatan mereka seketika saat nanti mereka menemukan jalan hidup lain, alur baru, orang baru, yang memisahkan mereka dalam lingkup ‘pernikahan’, Asha tak ingin persahabtan ini pupus begitu saja. Asha pun, tanpa tiba-tiba, memeluk mereka dari belakang, merangkulnya, “Thanks, ya, Ya, Do, lo semua udah abntuin gue.” Tapi, balasna mereka, “Aw, kecekek, kecekek,” jerit Yaya. “Musnahin tangan lo sebelum leher gue yang ciamik ini, bye bye …” “Iya, Sha., copot, nggak, copot, nggak …” Issshhh … dasar banget emang. Ketika mereka terbiasa saling menerima kekurangan satu sama lain, untuk sekali aja, dijadiin romantic, seketika mereka kayak alergi. Kenapa sih? Kan, padahal, nggak ada salahnya, nggak ada dosanya. Dasar emang. Mungkin inilah yang disebut, persahabatan tulus. Bukan bahagia yang dituju, namun, sebuah kepengertian dan kepemahaman satu sama lain ayng ingin diraih. “Ya, udah, ya, Sha, gue sama Aldo, kerja dulu.” Jadi, abis mewahana dengan main dan hepi-hepi, kini, Asha selesai mengantarkan mereka berdua, sebenernya nggak nganter juga, sih, tapi, lebih tepatnya, sekalain jalan buat ke rumahnya Maharani. By the way, mereka naik busway. Jadi, sekalian pula, tuh, cuci mata memandangi gedung dan fasilitas bergengsi Ibu Kota tercinta kita, Jakarta. “Oh, ini …” Itu perusahaan yang sangat bear. Berteknologi tinggi. Berisi panel-panel sutrya yang ramah lingkungan dan mampu menerjemahkan energy panas matahari menjadi listrik yang dialirkaj ke seluruh gedung. Begitu melihatnya, cukup untuk membuatmu menganga. Sebab, dekorasi yang terkandung di sana, nggak cuma keren, tapi, juga ramah lingkungan dan go green. “Jadi, ini berbasis di teknologi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN