“Iya.” Yaya pun menjelaskan, “Jadi, emang misinya, kita produksi teknologi-teknologi canggih, ramah lingkungan, dan memproduksinya ke seluruh dunia. Lumayan keren, sih, apalagi buat sekelas Indonesia yang justru jagonya di SDA dibanging SDM-nya.”
“Dan, ya, ini juga ngejawab banget buat nampung anak-anak yang nggak Cuma emang terlahir jago di mesin, kan, sayang, tuh, mereka punya aakat tapi nggak ada yang nampung. Makanya, di perusahaan inim, tuh, Sha, banyak inovasi dan penuh robot-robot baru, meski, ya, yang lo bisa lihat juga, ada human balloon yang d**a-dada.”
“Okey, beib, lo udah kayak Pak Udon promosi soal perusahanan ini ke anak magang.” Aldo mengomentari. Kompak saja, mereka langsung mengenakan tanda pengenal ke leher mereka.
Yang lalu setelahnya, Yaya menggempur bahu cowokitu. Mulailah lagi, kejar-kejaran.
“Enggak bisa gue bayangin, Ya, kalo lo satu divisi sama Aldo.” Asha geleng-geleng.
Terus, Yaya bales geleng juga, yang sebenernya adalah bentuk rasa syukur berkat ucapan Asha jelas 100% ada benarnya. “Iya, emang. Untungnya enggak. Bisa lo bayangin kalo, tuh, curut, dibarengin sama gue. Kalo salah, abis itu rabutnya.”
Asha pun menutup wajahnya. Astaga, Tom Jerry ini. Sungguh sangat … tidak bisa bertengkar sekali saja.
“Ya, udah, gue duluan, ya.”
“Sama, Sha, gue duluan.”
Dan, seperti adat pamit pada umumnya, asha yang mau disalimin dengan tangannya abkal digetok ke jidat sahabat anehnya itu, asha lebih dulu mengatakan, “Gue juga duluan, ya, mau ngelamar.”
“Huwaaaatttt? Pebisnis olshop mau ngelamar, Sha?” Aldo udah ‘wah’.
“Ih, lo capek banget entar, Mpos kalo lo pulang-pulng nggak melek lagi.”
“Ih, Yaya, doanya.”
“Maap.” Yaya mingkem. “Tapi, gue nggak mau sohib gue jadi tekor dam over worked begini.” Yah, tapi, malah kumad.
Asha pun senyum, rangkul mereka lagi, “Enggak apap. Kapan lagi ye, kan, nugas di perusahaan besar kalau rejekinya di terima.”
Dan, pada dasarmya, melupakan itu, selalu ‘memaklumi’ kesibukan-kesibukan baru.
Asha mungkin setelah ini akan menemuakn versi ‘normal’-nya yang baru, yang nggak lagi bucin berat sama Raka.
Yang nggak pusing lagi sekalipun dlamam kuliah maupun spersoalan Raka yang nggak kunjung cinta dia.
But, it’s okay.
Di tempat-tempat baru, akan ia temukan sosok-sosok baik yang abru, mutu-mutu yang bersemu, yang nantinya akan memabwanya mampir pada … satu detik pertama di mana dia akan jatuh cinta lagi, dengan jenis cerita …
“YANG BARU!!!”
Mereka bertiga selfie sambil … berseru.
Itu kenangan yang nggak akan pernah dilupakan.
***
“Hei, Asha …”
Maharani menyapanya dari wastafel. Sebenarnya emang kejauhan, sih, apalagi untuk ukuran cewek yang baru pulang di sore hari, abis kerja di olshop, dan menangani perbelanjaan. Namun, tadi, usai Asha merapikan kamar tamu rumah Mahrani, dia langsung mau cuci tanagn sembari diam-diam mau ngehidangin makanan.
Btw, dia sebelum balik, mampir dulu beli makanan sedaaaappp buat dicicipin berdua.
“baru aja mau bantuin lo, lo udah stand by di sini aja,” ucap Asha. Lalu, berbisik, “Jangan rajin-rajin, nanti Ulfrad makin sayang.”
Eh, dibilang gitu, semburat merah menjajah pipi. “Apaan, sih. Udah, deh.”
“Acieee cieee emang apa, sih, bagusnya Ulfrad?”
Harusnya itu pertanyaaan yang patut kita protes.
Tuh, harusnya itu diajukan buat Asha sendiri, ‘Emang apa, sih, bagusnya Raka, sampe kamu klepek-klepek gitu aja sampe nggak move on, move on?’
“Itu namanya cinta, Sha.” Maharani mode bijak. “Siapapun yang udah kejerat, udah bakal lupa lagi sama apa yang ia telah jatuh hati. Udah nggak bakal objektif, subjektif mulu bawaannya. Mau dia ngeselin, mau dia hancur, mau dia tukang bikin ngamuk, karena kita cinta, ya, semua itu cuma factor pkus, yang nantinya bisa kita maafin.’”
“Iyain, deh, yang bucin.”
Padahal, Asha sendiri, menyimpan quote itu diam-diam dalam nyinyir persi kayak kamu.
Iya, kamu, yang berlagak alergi padahal aslinya sangat butuh itu setengah mati.
Hehe, canda.
Bahaya sekali memang saat kita udah empati, simpati, dan memutuskan lebur dalaam lebam yang sebenernya nggak punya jalan keluar buat sekedar kita ungsiin akal sehat kita.
Namun, saat menjalaninya, rasanya, ya, kayak … enak aja gitu.
I am happy, I’m in love., I got my hurt but I enjoyed because I love him, padahal dia love her-nya ke ayng lain.
But it’s okay to not be okay.
Cinta mengajarkan kita, bahwa seolah, untuk nggak apa-apa emang harus memaklumi keenggak apa-apaan baik itu momen, status, kenyebelinan, kondisi, bahkan emosi yang terekandung di dalamnya.
“Ish, lihat aja, ya. Kalo kamu nanti jatuh cinta, kupastiin kamu bakal kayak aku juga.”
“Kalo akuudah tenggelam terus dianya nggak mau sama aku.”
“Ya, kamu bikin peka lah.” Terus, Maharani merangkulnya. “Sha, nih, gue biskikin sesuatu, mungkin, emang stigma di masyarakat uyang berbvalut satu fakta bahwa cewek emang identik sama ‘malu’, ya, alangkah bagusnya, kalo cewek itu diem aja, padahal, hakl ita juag loh buat ngeekspresiin diri buat minimal banget gas ke hal yang kayak, ‘hei, boy, gue suka lo, loh.’”
“Iya, kah, Mah?”
“Hoh.”
“Kalo dia masih nggak peka gimana?”
“Kok nggak peka, sih?” Terus, bersitatap sama Asha. “Oke, mungkin lo yang nggak ngegas.”
“Nggak, gue bahkan punya timses buat nyeruin gue sama dia.”
“Hahaha, tapi, kan, yang lebih deket sama dia dan yang merhatiin dia diam-diam lo, kenapa nggak coba lo manifestasiin semua jalan pikir lo yang kesimpulannya itu merujuk ke dia?”
Asha ajdi bingung. “Maksudnya?”
“Sha, terkadang, feeling dari orang yang emang pertama kali naro hati, itu kadang lebih trust it dari semuanya.”
“Kalo yang naro hati itu nggak peka? Lebih peka sahabtnya.”
“Just belive!” Dia menekankan “Jadi, ngapain harus bengong coba lo sekarang gue tanya?”
“Nggak pede.”
“Hei, kalo salah, kan, ada timses. Apalagi, sih, yang harus lo khawatirin, semuanya sudah ketata rapi, cepat, dan sempurna buat lo.”
“Masalahnya, hubungan aku sama dia lagi nggak baik.”
“Ya, udah.” Maharani terkekeh. “Yang bisa disalahin waktu nggak baik siapa? Apa jangan-jangan, justru kepala kamulah yang bikin mereka nggak baik?”
“Ih, kok, gitu …” Asha protes.
“Tanpa kita sadar, Sha, keputusan kitalah yang justru memperkeruh semuanya. Coba koreksi lagi, apa yang udah bikin lo ajdi menajuh sama dia. Apa yang sebetulnya menciptakan dinding segede tembok china antara lo sama dia. Sha, mari kita salahkan kita dulu, mari kita hakimi diri kita dulu, baru, setelahnya, kita cek, jika ia salah, kitalah yang menanggung apa yang harus kita ‘bijakkin’ ke dia.”
Tandas dari Maharani emang nggak sepekik Yaya. Tapi, itu cukup untuk melempar Asha pada usulan babak baru, yang mana, dia hanya perlu memulai semuanya. Asha senyum.
Maharani benar.
Enggak ngerti, deh, kenapa ia justru sangat seberuntung ini bahkan dalam situasi tertentu.
“Thanks, Maha,” ucap Asha pada akhirnya.
Lalu, Maharani dengan unyu, memeluk puncak kepala Asha, “Youre welcome, baby, semoga lucky ...”
“Nyampur, ulang!”
“Ih! Dasar! B.Inggris, kan, emang cuma buat plus!”
“Tapi sama yang plus aja nggak diseriusin apalagi sama yang sejati?”
“Astaga …” Maharani kini nepuk jidatnya sendiri.
Lalu, saling ketawa.
Hangat.