Lucky

1096 Kata
Sudah malam, rebahan nggak oke, mau makan terlanjur kenyang, mau ngerusuhin Maharani nggak bisa, tapi, matanya, terlalu baik-baik saja untuk diajak langsung pindah ke alam bernama mimpi. Itulah yang dirasakan dua orang beda tempat, ya, Asha dan Raka. “Coba aja kalau aku di rumah Kak Raka, mungkin, sekarang, aku lagi ributin dia buat bikin aku pudding. Terus …” Romantis namun tanpa diketahui, Raka di seberang sana, menyahut, menyambut sambungan menjadi kalimat berjejeran saling mengekor dengan kalimat manis juga. “Asha nggak akan menyerah. Dia mulai ngambil karton-karton dan pensil khusus buat bikin design gedung, yang digambar baju-baju yang seolah dialah yang punya dan pencipta brandnya. Giliran mau diambil …” “Sambil Kak Raka bilang, ‘Sha, udah malem, harus bobo, nggak baik begini terus, kamu amsa mau jadi zombie maat hitam? Jelek tahu. Udah, ah, turun. Ayo …’” Yang saat itu juga, mereka membalikkan badan yang tadinya dalam kondisi tengkurep, pasrah gitu aja, sembari mengatakan, “Astaga … aku jadi merindukannya.” Selama di rumah itu, Asha nggak pernah segan buat menganggap bahwa Raka memang boneka yang sepuas dia mainkan. Bednya, ya, boneka ini versi yang nyaman diajak konyol serta dialah yang datang sendiri, dia manusia, nggak kayak guntingan kuku yang ngilang gitu aja pas kita perlu. Dicari nggak ketemu. Namun, penuh pertanyaan sama persis saat ia berusaha mencarinya. “Yaudah, aku mau telepon aja,” ujar Raka dan Asha yang lagi-lagi tekad itu dikibarkan secara barengan dan tanpa sengaja. Mereka berdua bahkan kompakan seolah sudah berkolusi bersama, untuk saling menghubungi satu sama lain. Sungguh, keajaiban. Asha yang meletakkan bantal ke pahanya, kontan menarik napas, mempersiapkan diri dengan sedikit merilekskan otot-ototnya yang tegang. “Oke … Jangn gugup.” Raka membeo, “anggap aja ini kayak awal kali kamu dan Asha ketemu, mungkin kaku, mungkin canggung, tapi nggak lebih dan nggak bukan, kalian mulai menegrti, memahami, menyeru, serta saling baik sedemikian kenal.” Dan, untuk tahap itu, butuh permulaan. Keduanya pun menelepon. TUUUTTT …. TUUUTTTTT …. Maaf. Nomor yang anda tuju, sedang sibuk. Dua kali. Maaf. Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Tiga kali. Maaf. Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Dan, pada akhirnya, “Sha?” Itu panggilan seseorang, ada di depan pintu, menyapa dengan suara paling lembut saat Isya berkumandang, ia adalah … “Bu Gran?” *** Berkat keduanya sama-sama berbakat urusan saling menyibukkan diri satu sama lain, meski sebenarnya pun, konspirasi niat serta mau mereka kompak menyuarakan, untuk, berjuang, mendapatkan hati sembari menyerukan damai yang ingin sekali ditancapkan ke momen salah ini, rupanya semesta lebih menyetujui hal lain. Sama halnya Asha yang tiba-tiba kedatangan tamu special yang telah lama bersamanya, yakni, Bu Gran, yang sudah ia anggap bak Ibunya sendiri tersebut, telah datang, kini, Ireska dengan high class dan pakaian ala barat, yang kental, akan keseksian serta kemolekkan tubuhnya. Tentu, menggoda sekali untuk dilakukan.  “Raka …” Ireska Thea Khiel mendekatinya. Gigi kelinci yang manis milik gadis itu, memandang dengan intens Raka yang kayaknya galau banget di halaman belakang. Pelu diketahui, tempat itu, terdapat pula fasilitas duduk sembari nyaman menikmati ikan hias. Bergerak, memencar, tenang, menciptakan gelembung-gelembung lewat mulutnya. Gesit. “Well, entah apa yang bikin kamu sangat tertaik buat kencan sama ikan-ikan, dibanding ngobrol sama aku, Raka Nugraha …” Raka senyum, “Dan, kamu juga sangat ‘entah aneh sekali bagaimana bisa’ lebih tertarik merusuhiku hingga kamu lupa, malam adalah waktu terbaik untuk skin care-an, serta …” Ireska mengantupkan bibir. “Mencerahkan wajah, selayaknya hal yang kamu sering lakukan dulu saat makan malam antar keluarga.” Ireska semerbak, guncah di bibirnya, “Kamu lucu sekali.” Tertawa, yang, ya … tentu saja, waktu itu, bahkan dengan alasan ada brand make up favoritnya, dipakai dan di brand ambassadorin aktris Hollywood favoritnya, itu membuat Ireska, lebih memilih, membatalkan apapun yang tersangkut paut dengan dirinya. Raka, sang partner Papnya saat itu yang konon katanya terkenal karena kejeniusan dan sekaligus pula kecermelangan karirnya. Belum lagi, berbagai gelar-gelar nama baik yang bertenggeran untuknya. sekalipun. “Oh, ayolaahhhh …” Lihat, kini, tanpa diminta, tanpa mandaat, tanpa permukaan basa-basi, Ireska asal saja merangkul lengan Raka dan menggandengnya dengan begitu mesrahnya. Entah ini so sweet, atau, ya, nggak tahu juga apa ini pelecehan. Eh, tapi, kebanyakan, ini lebih pantas dimasukkan ke kategori : ekslusif, sebab, ‘beruntung banget, amlem-malem, dapet rejeki dari cewek cantik, rekomen, dan, tersayang lagi.’ Namun, sekali lagi, akrena Raka adalah cowok yang penuh dengan gelar ‘punya ahrga diri’, apapun yang dilakkukan Ireska, sama sekali nggak bisa meluluhkan dirinya. “Lepas, Ir …” “Hei …” Itu nada membujuk, meski, yang akan dia katakan selanjutnya adalah … sebuah sentuhan lembut, bak bunga mekar begitu saja di jalanan untuk siapapun yang lewat. “Jangan bilang, kamu bahkan menyimpan dendam hanya akrena kejadian sekian tahun lalu itu.” Terkekeh, setelahnya. “Astaga, kamu pasti golongan darah A. benar, bukan?” Kini, Raka mendecah nggak percaya. “Itu cuma di ekspetasi kamu aja, Ireska. Dengar, bahkan, ada sekian ratus juta orang yang juga pendendam dan mereka juga bisa begitu karena, ya, itu dikonfirmasikan sebagai naluriah mereka yang katanya dulu ‘tersakiti’. Namun, hanya saja, cumannya, nih …” Mereka berdua pun bersitatap. “Bukannya dendam hanya akan memperburuk keadaan yang dari awal sudah keruh? Hanya karena setelah kamu mengaktivasi oranglain itu pantas mendapat apa yang ia tujukan dengan niat tak baik-baik saja, meski di kronolgi atau benang marahnya, jelas, mereka pantas?” Lalu, khas seperti seorang guru tengah menangkjap basah hal yang nggak seharusnya terekspos dari sisi gelap siswanya, ia menjerat dengan tatapan mata agak ‘bermasalah’, yakni, tajam. Sembari, mengecilkan volume suara, Raka kemudian bilang, “Catat, Ireksa. Mandat yang diresmikan, dalam kondisi hati terburuk, cenderung membuat kamu … tampak menyedihkan, sebab, rasanya … kamu telah ter;lanjur, melaknsanakan hal yang sia-sia dan berguru pada nafsumu saja.” Lalu, Ireska menyipit curiga. “Aku nggak tahu apa ini jenis cara kamu buat kamu ngejelasin sebagaimana kamu secara murni karakter yang terkait dirimu atau … sebagai teguran berkat kedatanganku, justru membuat gadis kamu itu, bye dan kehilangan?” Raka mengepalkan tangan. Namun, ia tetap saja santai dengan memutuskan menyender saja apda bangku yang ada di sana. Ingat, mereka berdua juga bukan anak kecil lagi. Dan, hal yang berbau bertambahnya umur serta kedewasaan akan semakin menuntut kita agar lebih memahami pertahanan emosi dan sikap. “Oh, tentu …” Raka mengurai lengkungan mata penuh sambutnya. Menahan kepoala dengfan satu tanagn, menyenderkan siku khas orang lagi santai. “Tentu hanya kepada orang-orang peka, maksud itu betul-betul teralamatkan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN