Stop

1050 Kata
Betul!                  Sial! Itu adalah kata yang paling menggambarkan seorang Raka yang dengan nggak ada akhlaknya mengganggu tantanan keseimbanagan yang selama ini gadis itu bangun, yaps, dia adalah Ireska. Sementara Raka, acuh tak acuh saja. Berkat, mengenal tabiat Ireska semenjak dahulu mereka ketemu, yang nggak pernah, tuh, sekalipun, pertemuan mereka berdua berjalan baik, selalu dihiasin dengan Ireska, yang … ‘Pa, pokoknya aku nggak mau tahu, ya, Justin Bieber lagi konser di Jakarta.’ ‘Heh, anak miskin kayak lo, nggak guna buat terus-terusan ngedektin Tuan Pangeran Hadrey yang super kece itu. Lepas sini, kacamata lo.’ ‘Apaan, sih, Freak belagu banget lo belain temen lo! Emang lo siapa? Satu teleponan dari bokap gue, bisa ngeluarin lo gitu aja dari sekolah papan atas dan elit ini. Lo itu … sama sekali nggak pernah pantas hidup. Lo … nggak tertahankan.’ Iya. Ireska hanya jelita di luarnya saja. Dalamnya, teramat busuk. Totalnya special malah. Betul-betul sosok jenis nyata di mana frase ternama berbunyi, ‘Egois adalah manifestai dari perilaku, mau apapun harus dituruti tanpa tahu dan lebih sering menghiraukan jikalah oranglain jauh lebih membutuhkan.’ Ialah Ireska. Namun, sejujurnya, dari yang paling berkesan itu adalah, ketika Raka menyuguhkan hidangan kalimat, “Asha Nayana.” Lalu, menatapnya dengan penuh fokus, dan dahi mengerut peringatan. “Kalau kamu sekali saja berani-beraninya meletakkan dia dalam cangkir penghalangmu yang harus kamu hancurkan demi mendapatkan apa yang juga belum tentu milikmu. Dengarkan sebaik mungkin soal itu, ya, Ireska, aku nggak akan tinggal diam dan tingkahmu tidak akan pernah aku biarkan begitu saja.” Yang setelahnya, sontak saja, membuat Ireska pergi begitu saja, berkat tidak tahan. Dia cuma bisa membias dalam menggerutu. Persetan pula dengan Mama Raka yang pasti takut banget kalau dunia ini bisa kiamat gitu aja. Sebab Raka yang menolak nggak mau sama Ireska, cewek terakhir paling kompeten pilihan Mama yang dijodohkan oleh sang Mama untuk Raka. Lalu, diharapkan dilanjut dalam urusan pernikahan. Sekarang, Ireska, yang tiba-tiba nge-drama, ngerasa dirinyalah seolah-olah makhluk paling malang bin tersakiti di bumi, lebay banget gara-gara gitu doang, merajuk akan minta nginep di hotel aja, nggak mau di rumah Raka yang berasa kastil dengan singgasana gelar ‘sang calon permaisuri’. Namun, tentu tidak semulus itu, sang Mama Raka selaku penganggung jawab pertemuan dua insan paling serba-keren di dunia ini, langsung mengelus pundak cewek yang sebetulnya lebih cocok jadi model itu, menarik tangannya. Kini, mereka berdua berada di meja dekat pintu terbuka ruang tamu. Yap, menuju jalan masuk ke dalam. Tempat vital. “Nak, kan, Tante udah janji sama Mama kamu, bakal selamat sentosa jagain kamunya,” bujuk Mama Raka. Menggenggam lengan gadis itu sembari mengernyih sendu. “Apa kata Mama kamu yang udah nitipin kamu sama Tante kalau begini ceritanya, sayang?” Raka yang Cuma menyesap kopi, melonggarkan alis, bergumam, ‘Mama salah banget. Yang benar adalah … apa kata hati kamu? Kamu, kan, udah nggak perduli juga sama Tante, mau ngejadiin Raka calon tunangan berkat perjodohan sebab track record jodoh down semua, up-nya nggak ada makanya ngejadiin Raka opsi terakhir, ayo, dong, Tante jual anak Tante yang juga nggak laku meski katanya lagi mau ngandelin insting berburu meski mangsanya nggak dan entah siapa.’ Serius, Raka sekarang pengen banget ketawa, mungkin, dia menjadi satu yang paling … ekstrem istimewanya, sampai-sampai, ada juga, ya, ternyata, cowok yang … jual diri. “Ah, takdir yang menyebalkan …” Dan, dengan perasaaan membuncah yang melambung tinggi, Raka pun angkat bicara, “Yaudah, ya, kalau pergi, hati-hati.” Tangannya menda-da, meski mukanya nggak menampakkkan ekspresi. Sungguh dingin. Mirip seperti manajer senior yang harus memberi salam kepergian kepada perusahaan rintisan. “Fighting.” Itu kepalan tangan semangat, yang paling … “AKU PERGI!” … tak pernah diharapkan. *** “Nah …” Asap mengepul berkat suhu hangat bubur Manado tersajikan di mangkuk gambar ayam jago milik Maharani. Bu Gran kemudian menghidangkan lauk-lauk segar yang tadi dimasaknya dengan dua perempuan cantik itu. Wajah-wajah sesegar kincir angin yang begitu ditiup, yang mana, mendeburkan suasana sedemikian tenang dan bertalu, membuat bu Gran, makin, melebarkan senyum. Serius. Di mata Bu Gran, keduanya cantik sekali. “Kalian seharusnya nggak perlu repot-repot membantu Ibu untuk memanaskan lagi urusan ini. Apalagi, kalian tadi sudah makan.” Sontak saja, ujaran balasannya, adalah tertawa. “Kami ini …” Asha menjelaskan. “Mudah sekali untuk lapar lagi, Bu. Apalagi jika yang masak Ibu. Seperti Kak Raka bilang, Ibu adalah chef bintang lima yang eksklusif diterima di rumah kelaurga Den Raka si pangeran kesayangan Ibu itu.” Lalu, usainya, Draco menyahut, dia ada di layar ponsel sekarang, tadi, sepanjang perjalanan, yang menuju ke rumah Maharani, emang Draco sempatkan, untuk, berkencan dengan sang Ibu. “Eiyyy, Asha, apa kamu nggak merasa kasihan barangkali Bu Gran selama ini justru memiliki unek-unek tersendiri terkait Raka? Sama sepertimu yang suka kesal kalau Raka sudah bikin ulah dengan nama masa depan pake acara posesif gitu ke kamu?” “Jangan kompor!” Asha memperingati. Maharani kaget, “Posesif? Seorang Kakak?” Asha mendesis penuh namun mengantupkan mulutnya. ‘Ah, ya … Maharani ini, dia belum tahu system di rumah keluarga Raka yang terkait langsung dengan dirinya.’ Tapi, berkat ia butuh pelampiasan untuk seenggaknya ada yang bisa disalahan, Asha pun melontarkan ekspresi selanjutnya kepada Draco, yang jika ekpresinya diterjemahkan, ‘Kamu, ya, sungguh, nggak bisa dipercaya, ember sekali layaknya Aldo tengah ngegosip sama anak kampus dan cewek-cewek.’  Sayang, ide itu sama sekali nggak bagus. Buktinya kini, Draco, malah ketawa. “Sha, ayolah, kenapa pula harus kamu rahasiakan keistimewaanmu kepada orang lain?” “Keistimewaan? Apa?” Maharani masih setia sebagai kaleng yang minta diisi. “Hei, kenapa kamu mengabaikanku, Asha?” “Ah …” Asha menapikan poni yang bertengger di dahinya. Berlagak malu-malu. “Itu, sama sekali bukan fakta yang enak didengar.” Namun, saat ia berusaaha untuk membalas hal yang lain, ingin coba bertanya kepada Draco dan meletakkan cowok itu ke satu spot percakapan baru, terdapat satu notifikasi yang dia nggak duga. Tertulis … Dari LIFE CORP, mengetikkan sebuah panggilan untuknya. ‘Walk In Interview’ Asha pun membulatkan matanya, tak sadar, jika panggilan video call belum terputus dari sana. “Wahhhhhhh ….” Draco terkejut, “Ada apa? Ada apa?” Dan itu, dipenuhi lagi dengan aksi peluk saling peluk yang Asha lancarkan kepada Maharani dan juga Bu Gran. Bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN