Hadirku, Lesap, Normal

1183 Kata
Enggak ada yang perubahan drastis malam itu, kecuali, Asha menceritakan bagaimana awal mula dirinya dan Raka bisa jadi begitu setelah Bu Gran tidur dan dirinya menuntaskan vidcall baik secara personal, yang mana hanya dia saja dan Draco yang berbincang privaat, juga, secara public, yang mana, Draco ia kenalkan dan dia akrabkan bersama Maharani pun bareng Bu Gran. Hingga, Maharani yang mendapatkan semua informasi itu, hanya berkomentar, “Wah … Jadi teman kamu yang punya masalah ini dan itu, sebenarnya hanya alibi bahwa sebenarnya kamu, tuh, menutupi kalau masalah ini officialnya sejatinya dari kamu?” Lihat, cewek itu bahkan ngangguk-ngangguk songong era gitu. Oke. Asha di sini cuma bisa mengangguk pasrah. “Iya, Mah.” Kini, Maharani tersenyum. “Enggak papa, Sha. Satu hal yang paling aku syukuri itu sebenarnya satu.” “Apa? Betapa kandasnya aku?” “Enggak lah.” Lihat Maharani kini mode Yaya. Menoyornya gitu aja. “Serius, ya, aku pikir kamu nggak akan bisa noyor orang kayak gitu.” “Dih. Emang kamu pikir aku malaikat super baik hati gitu?” “Enggak.” Asha menggeleng. “Di mataku, kamu lebih kayak … bidadari. Rumahnya di bumi cuma jadi sambilan. Aslinya, kampung halaman kamu di surga atas sana. Di sini sayang banget, hanya numpang.” “Ngayal!” Tangan Maharani nggak nyampe buat ngegepuk Asha yang mulai somplak. “Ya, gimana, kamu nampak super beruntung gitu.” “Cih.” Di sofa warna peach itu, Maharani menerawang ke kaca jendela. “Sha, semua orang, terlepas siapapun itu, udah punya porsi keberuntungan itu sendiri. Tuh, lihat, meski kamu sama Draco pernah terlibat perseteruan yang kamu ceritain, terus  siapa tadi namanya? Thayana, yang juga ternyata pernah sikut-sikutan sama kamu, tapi coba lihat sekarang, buka mata, apa yang terjadi saat ini antara kalian semua kalau bukan … saling percaya?” Lalu, Maharani pun menepuk bahu Asha. “Dengar, Sha. Ini udah lebih cukup untuk menunjukkan bahwa kamu, emang ditakdirkan untuk selalu ketemu sama orang-orang hebat terlepas apapun itu masalahnya. Kamus eolah dikasih kebahagiaan lewat mereka.” “Ish, ngeramal!” “Nggak sopan, ya, lo!” Maharani melotot. Jelas, nggak terima gitu aja sama responan Asha yang ngajak dia tubir. “Lah, tadi baru aja make aku kamu?” Dan, saat Asha kabur ke kamar mandi menghindari konfrontasi lebih lanjut yang mungkin saja jauh lebih ekstrem  tersebut dengan Maharani, satu celetukkan Maharani mendadak menggema di telinganya. “Awas, ya! Kamu bisa camkan omonganku! Kalau nanti di Life Corp nggak ada yang bikin kamu senang, awas aja!” Dan, Asha ngebunder saat itu. “Ya, okeilaaahahh … Kalo bisa juga diatur, aku mau nanti aku deketnya sama CEO-nya aja sekalian! Biar aku kesulitan cap cip cup dan bakal aku banggain depan kamu!” “Pake ‘lo’ kita!” “Ah, iya, riset.” Lalu, mereka mengucapkannya barengan, “Lo!” Yang malam itu juga, sebetulnya sehanagt yang bisa kamu bayangkan. Waktu ngobrol sama Draco di balkon rumah, ia sedang membiarkan Maharani agar lebih leluasa mengenal Bu Gran, yang kata Maharani, Ibu Gran itu sangat menyenangkan, Draco juga sempat bilang, “Sha … Detik ini pun, kadang aku juga selalu mikir. Apakah keputusanku benar? Lalu, apakah dewasa itu selalu memaklumi tuntutan? Apakah diri kita ini selalu tahan dengan yang namanya tekanan? Semuanya selalu nggak mudah, Sha. Terutama waktu aku tahu, saasaran terbaik untuk meletakkan dendamku adalah ke kamu.” Itu … sama sekali kayak Asha, Drac. Saat ini, dia di ambang itu. Pusing-pusing yang membelitnya hingga kini, begitu menyiksanya. Sampai-sampai ia nyeri dan gatal merajam punggung sampai rasanya nggak ngerti lagi alias mau banget, deh, kalau mati. Tapi, bagaimana mungkin aia bisa? Berkat, yang ia tahu, satu semanagtnya, yang jika versi Draco itu dendam, versi Asha hal positif seperti ‘cinta’? Asha pun bimbang. Dia pun mengemukakan pertanyaan yang tanpa jawaban dan hanya waktu saja yang bisa mengeliminasi maknanya, dengan, “Drac, aku takut aku ketipu kayak kamu. Aku khawatir ini hanya jadi arah yang salah sama halnya kamu ke kamu yang kahirnya ngerti klau bukanlah aku yang seharusnya kamu letakkan perasaan benci tersebut?” “Sha, tapi nggak pernah ada yang salah dari jatuh.” “Tapi, kalau orang yang punya akal sehat dan dia normal seperti pada umumnya, dia akan mundur, Drac …” “Lalu, Sha? Lalu bagaimana dnegan Thayanaa? Apakah lantas kemundurannya yang meski ngerti Malvin telah beristri dan mengkhianatinya, meski ia masih menyimpan serpihan-serpihan di dadanya berkat nggak bisa melupakannya, namun, mengulang dari awal jelas nggak rasional, apa itu juga se-akal sehatnya orang lain?” Lalu, Draco mengembuskan napas kasar. Mungkin juga, tengah mengusap wajahnya. Berkat saat ini, mereka telepon saja. Tidak ada tatap muka. “Sha, siapa, sih, yang mentukan normal itu sendiri?  Apalagi jika itu tambangannya dengan hati?” Yap. Draco benar. Enggak akan ada yang bisa mengatur hati, sebab bagi dirinya, hatilah yang memiliki ketentuan masing-masing itu sendiri, soal normalam. Asha sadar betul soal itu. Dan, emang, selayaknya perkataan Draco tadi. Ia hanya sedang, memikirkan kemana ia bermigrasi sembari … berteduh sejenak. “Terus, keadaan Raka gimana, Bu?” Itu pertanyaan yang terlontar begiotu saja saat mereka lagi main bersama. Meski Bu Gran sudah tua, dia nggak akan ada masalah jika diajak main permaian apalikasi ringan semacam … Ludo. Itu adalah aplikasi favorit di kampus Asha kalau lagi gabut berjamaah. Jangan salah, Author pun juga. Hehe, maap, curcol. “Wuuuuhhh …” Maharani menyikut lengan gadis itu. “Cieee … meski jauh, aku tetap mengkhawatirkanmu, ayeee …” “Issshhhhhh ….” Serius, ya, Enggak Aldo, enggak Yaya, sekarang, tambah lagi satu personil Timses, Maharani. Entar nambah lagi Ulfrad malah. Hadeeehhh … bisa kacau semuanya. Namun, Bu Gran dengan tenangnya hanya tersenyum. “Non Asha begitu ingin tahu?” “IYA!” Bukan Asha itu. Tapi, Maharani, dengan nge-gasnya. “Hehe.” Asha tersipu dengan maluinya. Yaiyalah, bisa-bisanya, punya teman, kok, aib semua. “Enggak suah dengerin dia, Bu. Emang kadang suka gitu. Ngegasnya enggak nyelo.” “Enggak papa, Non asha.” Bu Gran tampak memaklumi. “Den Raka baik-baik saja. Meski, ya, Den Raka nggak sebaik itu. Gimana kalau besok pagi, Non ikut Bu Gran aja pulang ke rumah sebentar?” DEG. “Tapi, kan, ada Mamanya … eh, maaf, Nyonya Besar?” “Enggak, Non. Anggap saja sebagai ucapan selamat karena Non besok bakal di interview dan buat selamat tinggal dari kita semua. Kan, selama ini, kita tinggal bareng-bareng. Ibu juga sudah menyaksikan pertumbuhan Non sejak dulu bareng Tuan Hang. Yang juga bahkan, Non asha dan Den Raka saling berbagai pemikiran yang sama. Meski terkadang, tergantung dari pola pikir kalian, jelas, isinya pasti beda.” Itu menenangkan sekali. Kata selamat tinggal memang sebegitunya menyedihkan. Bahkan, bagi sebagian orang, itu adalah kalimat petaka yang nfgak seharudsnya dilayangkan kepada orang-orang paling tersayang. Namun, di seberang sana, saat Bu Gran mengabarkan pada Rakaka, cxowok tampanm itu, menyeru bahagia. “YASHHHHH!!!!!!” Hingga loncatan itu tanbpa sadar membuatnya jhilamng akal juga sampai-sampai memeluk Tuan Hang. “Ah, Den …” OKe. Mereka ajdi canggung. Itu adalah kesempatan, untuk dapat memprbaiki yang sudah rusak, antara dirinya dan Asha. Bisa, pasti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN