Terkekang Sebab Ini Akhir

1014 Kata
“Den Raka harus kelihatan rapi pokoknya ….” Oknum penanggung jawab acara, sebut saja, Mr. Hang, soalnya kata Tuan kurang ‘global’, tengah sibuk menata apapun yang dianggapnya akan menganggu. Perhatikan. Ia bahkan cerewet sekali.                    “Enggak-enggak jangan jas. Terlalu kelihatan, Den, kalau Aden ini emang begitu ingin membahagiaakan dia.” “Ya, tapi, kan emang iya,” jawab Raka, sang customer, begitu polosnya. Jari ‘no-no’ pun menghadang. “Bukan nggak professional, Den.” Tuan Hang memejamkan mata. Sungguh, astaga sekali kepala Adennya ini. “Tapi, bukankah kita perlu meletakkan sesuatu pada tempatnya?” “Wah, bagaimana kalau kita undang dia saja, Den?” “Itu juga aku tahu, Mr, bahwa yang berlebihan tetap saja tak direkomendasikan dan jelas nggak baik. Namun, aku ingin … untuk seenggaknya kelihatan istimewa.” Tuan Hang yang tadi sebenarnya sedang coba mencari trend mode fashion terbaru, justru terpaku pada kontak yang terkait doi HP Raka berkat ada yang tertulis. ‘Show your feelings! And pick me!’ ‘Jasa Pakcomblang Terpercaya Kampus’ ‘Event Love-energizer Match Maker Aldo’  Raka yang lagi santai di single sofa, langsung lompat dan mengambil ponselnya dari tangan Tuan Hang, sembari meletakkannya secepat mungkin ke saku celananya. Mata melotot itu pun ia simpan dalam-dalam. Enggak. Dia enggak boleh sama sekali kelihatan mencurigakan. Tidak boleh. “Aldo siapa itu, Den? Apa dia … jodoh Non Asha?” “Jodoh darimana?” Raka menaikkan volume tanpa sengaja. Tak terima. “Jodoh itu, sependek pengetahuan saya, pasti menikah Mr. Hang, nggak ada jodoh yang cuma gandengan.” Mr. Hang pun mengangguk ngerti saja. Padahal dalam hati, Raka dag dig dug setengah mati. Tidak. Tidak boleh Tuan Hang tahu jika Aldo itu sebenarnya tidak se-elit, se-rupawam, se-emejing, yang dibayangkan. Dia justru, kenyataannya, merelakan dirinya jadi lelaki panggilan. Ah, itu julukan yang buruk sekali tapi itu justru gelar terkenalnya. Berkat, ‘Sekali ada yang calling, besoknya, ia aakan menjelma menjadi sosok pakcomblang sangat rupawqan yang rela melakukan segalamya agar cinta seseorang tidak tertolak.’ Dan, kalau kamu nbertanya kenapa Raka susah belain Aldo yang justru emang seenggak ada akhlak itu kepadanya, jawabannya adalah … Raka sudah cukup puyeng dengan berbagai masalah yang datang kepadanya. Untuk menjelaskan hal sesepele Aldo, apalagi nanti respon Mr. Hang akan memepertanyakan bagaimana bisa Rakja tak tegas, itu akan membagi fokus cowok itu. Tentu. Nanti yang ada, hawa yang mana ia tengah syahdu dan happy, justru, berubah begitu saja jadi buas karena pengennnnnn baaangggeeetttt ngebabat Aldo sialan itu. Lalu, untuk membubarkan pikiran-pikiran nggak guna tersebut, Raka pun mengeluarkan mandat. “Ya, pel, ya. Tata lagi lebih baik. Terus, ini juga. Apa ini? Oh, buahnya annti letakkan saja di meja amkan, ya? Kasih pengharum.. Semuanya harus rapi, bersih, wangi, dan nyaman.” Lalu, menoleh ke Mr. Hang. “Apa aku juga perlu panggil anak buah arsitekturku juga, ya, Mr. Hang? Agaknya itu akan jadi hal bagus. Lalu, bagaimana menurut Mr.?” Tuan Hang yang diminta pendapat, jadi bingung. “Buat apa, Den?” “Ya, supaya dekorasi rumah ini … bisa lebih luar biasa dari sebelumnya. Kita harus menyajikan tema yang lebih kuat dari ini. Meski temanya sudah bagus, sih, modern, namun, apa Asha nggak bosan? Tidakkah lebih baik kita coba gaya baru? Jamaica gitu missal? Ah, tida …” Raka nyerocos gitu aja sampai memegangi kepala, mendadak pening. “Victoria jauh lebih disarankan. Astaga … mengapa aku jsutru mendapat inspirasi tersebut berkat film vampire?” Dan, ya, itu hanya bisa membuat Mr. Hang membatin pasrah, “Tadi, dia yang melarangku melakukan hal-hal yang keterlaluan berlebihannya. Namun, nyatanya, dirinyalah, yang justru memikrikan hal-hal berlebihan nggak perlu. Sebenarnya siapa di sana yang pantas disematkan gelar ‘kampungan dan heboh person’?” Dia pun hanya bisa geleng-geleg kepala nggak ngerti lagi. “Apa, Tuan Hang?” “Ah, tidak. Ayo, kita coba menu sarapan sesuai untuk nanti saat Non Asha dan Bu Gran, Den.” “Ah, baiklah.” Semua rona-rona bahasa yang mendentumkan keindahan itu, jelas nggak cukup. Apalagi untuk menggambarkan betapa Raka menganggap bahwa ini sangat begitu penting bagi keberlangsungan dirinya dan hiduypnya. Ini nggak cuma soal perginya Asha dan pilihan terbaiknya. Namun, ini juga perihal, akhirnya, rindu dia … tersampaikan. Sepinya akhirnya mendapatkan rumah yang layak, yakni, kini hinggap kepada pemiliknya. “Makasih, Tuan Hang.” Raka merangkul bahu lelaki paruih baya tersebut. “Apanya, Den? Dan, kenapa panggil Tuan? Bukannya kita sepakat mau pakai Mister saja?” Tentu, itu kontan saja membuat senyumnya menyempil. Karena, Den Raka … tampak betul-betul aneh hari ini. “Terimakasih sudah membantuku untuk …” “Enggak apa-apa, Den. Sejujurnya, Tuan Hang juga … sangat kesepian saat Non Asha memilih hal itu. Tapi apa boleh buat, Den? Bagaimanapun, itu keputusannya. Dan, bisa kita adalah dengan menghormatinya.” Dan, ya … kamu nggak akan pernah bisa mengandangkan seseorang begitu saja, dlama kungkungan mau dan sekeddar untukmu. Itu … tak akan pernah bisa. ‘Aku menantimu, Asha,’ gumam terkahir Raka dalam hatinya. Pupus. Namun, menyebar. Hangat. ***          “Ada apa dengan ini semua?” Bukannya berbinar, mata Asha justru menjelajah ke setiap sudut meja makan yang penuh berkat begitu banyaknya lauk yang tersajikan. Namun, Raka dan Tuan Hang, nampak santai saja dengan begitu lihai dan selownya mengetuk-ngetuk garpu serta sendok yang seolah bersiap sangat … manisnya, seakan segera ingin menyantap semuanya. “Wait, apa hanya aku di sini yang bingung?” Kompak, bersaa Bu Gran, mereka menjawab, “Yaps.” Tentu saja. Kan, memang, pas Bu Gran memutuskan datang ke rumah Maharani hingga menggandeng Asha untuk datang kemari, semuanya rencana dari hasil rapat ketiganya. Mungkin, inilah reward untuk semuanya. Yang sayangnya, itu justru melahirkan satu kalimat nggak keduga yang reflex teralir keluar berkat respon tersebut, Asha mengatakan, “Jadi, kalian berpesta pora, bahagia, tenang, dan .. luar biasa merasa indahnya tanpa adanya aku?” Kontan saja, mata mereka membulat dan wajah mereka mendongak begitu saja menatap Asha. Bahkan garpu dan sendok bahkan terjatuh dari genggaman. “Tidak, tidak, tidak begitu Asha.” Alamak. Ini gawat! Asha kini bahkan mengantupkan mulutnya. Momen ini ... wah sekalii ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN