Advice From Asha Nayana

1098 Kata
Ya, bagaimana Asha bisa percaya? Pasalnya, ujung meja hingga ujung meja lagi, tersaji berbagai macanm makanan serbaguna yang kyakanya lebih pantas diasajikan saat hari raya. Lihat saja. Ada opor sapi, ketupat, lontong, rendang, dan, wah … manisan gula jawa beragam macam buah kesukaannya dan pasukan jambu biji di tempat khusus dengan total sangat banyak, yang nampaknya sangat ‘porsi keterlaluan’ untuk sarapan? Wah, ini gila. Berarti, selama dirinya minggat, mereka seisi rumah, fokus untuk menggedutkan perut masing-masing sebagai tanda … SENTOSA? Asha ketawa nggak percaya. Entah ini perlu dibahagia karena berat badan mereka pasti naik, jadi, kalau datang musim pancarloba mereka nggak perlu khawatir bakal ditimpa angin kencang lalu terbang begitu saja? Oke. Agaknya, itu terlalu kejam. Namun, itu hal yang cukup masuk akal dan jadikan intermezzo saja. Hahaha. “Oke, kalian betul-betul makan dengan baik.. Oke, aku mengerti sekarang.” Asha bahkan melipatkan tangannya di depan d**a. Dia … sungguh nggak percaya bahwa pemandangan seperti inilah yang akan ia temukan. “Tidak begitu, Sha,” sangkal Raka. “Justru, begitu Bu Gran mengatakan, kamu mau datang, kami bahkan sangat kebingungan kami harus melakukan apa dan harus gimana, Sha.” ‘Sampai, aku sendiri berniat menyewa tiam arsitektur perusahaan untuk mengganti kursimu ke kursi yang lebih canggih. Macam, bisa diputar 360 derajat,’ bisik Raka dalam hati. Oke, itu konyol. Karena, itu akan bisa membuat Asha yang ceroboh, justru muter-muter dan belibet dengan dirinya sendiri. Atau, bahkan, sempat terbersit di kepala Raka untuk membeli meja deskers saja yang biasa dipakai para programmer perusahaan. Nah, itu lebih ngaco lagi. Mana mungkin, ada orang yang ingin makan, lantas membutuhkan meja naik-turun seperti itu hanya untuk menyantapnya? Itu … akan sangat merepotkan. Asha yang ceroboh itu, bisa saja tanpa sengaja memencet tombolnya hingga menjadikan makanan dan minuman itu lebih tinggi darinya. Bisa-bisa Tuan Hang akan pening seraga-jiwa hanyaa untuk mencari tangga yang biasa dipakai martia arts untuk membangun rumah untuk mengambil makanan Asha tersebut. Raka menggeleng. Itu semua … tak bagus. Hiperbola. “Tapi, hei, kenapa harus bingung?” Mulut Asha menjeblak terbuka. Tentu, baginya, ini sangat tidak bisa masuk di akal. Kayaknya bagusan kalau saat ini, Raka berstatus amnesia saja. Tapi, no, gengs, kita nggak boleh mendoakan hal buruk seperti itu. No, no, no. “Aku bahkan udah sering datang ke sini. Aku penghuni di sini. Kenapa harus repot-repot diberi hal-hal lain yang .,.. terlalu superior yang istimewa semacam ini?” ‘Itu bikin aku mau nangis, tahu, asal kalian semua paham dan mengerti basaha kepalaku. Itu pun, percayalah, juga bikin diriku berharap lagi dan makin sulit untuk diriku benar-benar minggat dari tempat ini. Aku … sangat tidak ingin egois. Namun, membahagiakan sekali saat yang kita mau, lantas menjadi milik kita. Sampai kita puas meski manusia tak diciptakan untuk itu,’ batinnya. “Hanya … sebagai terimakasih. Sekaligus pembukaan dan awal mula kesedihan yang nanti akan meradangi hari-hari kami.” Raka kini menagangkat wajahnya. Menatap Asha begitu intens dari seberang. Maklum, mereka duduknya berhadapan. “Karena, setelah ini, rumah ini, Sha, nggak akan sama lagi kalau nggak ada kamunya.” Enggak ada lagi yang akan menganggu Raka untuk riuh di balkon saat malam-malam yang harusnya dipakai buat tidur dan isi energy. Enggak ada lagi pula yang sibuk mengacaunya saat tengah melukis. Pun, enggak ada lagi yang akan tubir hanya untuk menentukkan siapa yang pantas membantu Tuan Hang. Semuanya … bermetamorfosis terlalu cepat. Itu dirangkum sebagai … kehilangan. Yang mana, siapapun pernah merasakannya. Dirinya, Draco, Thayana, Asha, Malvin, dan yang lainnya. Hanya berbeda di jalan cerita dan konteksnya. Namun, sama-sama, berusaha untuk terus berdampingan dengan itu. Pasti. Manusia pasti begitu. Raka percaya. “Jadi, biarin, Sha, buat hari ini aja, jadi kenangan paling … seenggaknya bisa difoto. Jadi, begitu, kami rindu kamu, kami bakal mandangin kamu di foto itu nanti.” Meski setiap harinya, setiap jamnya, Raka sudah rindu. DEG. “Apaan, sih?” Asha jadi ketawa. “Emangnya aku udah tiada apa? Pake acara selamat tinggal gitu?” lalu, Asha, dengan renyahnya, mendeburkan bahagia. “Kak, aku cuma beda jarak aja antara Kakak, Bu Gran, Tuan Hang. Meski kita nggak sama-sama lagi, itu, bukan berarti, kita nggak akan pernah ketemu lagi.” “Dan, jangan salahin siapapun, apalagi apapun, sebagai faktor kalau aku hilang dari sini, lantas, ytempat ini jadi sepi. Aku … cuman, ya, emang udah saatnya buat aku lebih mandiri. Mungkin, karena semesta terlalu berbaik hati sama aku. Makanya, aku dikirimin fasilitas lebih keren, yang mana, aku jadi punya alsan lebih berat buat aku angkat kaki. Bukan karena aku nggak sayang, aku syaang abnget malah. Sama Kak Raka yang tiap hari ngomel …” Raka menjentikkan jari ke hidung mancungnya. Membuang muka. Yang entah itu malu, entah itu menggigit bibir. “Bu Gran yang manis banget, mempesona aku juag, abntuin aku segalanya …” Bu Gran tersenyum dengan dua alis menaut. Sedu. “Juga sama Tuan Hang yang selalu sabar sama aku dan Kak Raka …” Tuan Hang pun tos sama Asha. “Tapi …” Raka kemudian angkat bicara. “Apa kamu nggak ada niatan untuk .. ke sini? Kamu mau … ngerepotin Maharani terus? Bukannya lebih bagus kamu di sini aja, Sha? Sama aku, sama Bu Gran, sama Tuan Hang?” “Kak …” Asha memanggil dengan begitu lembutnya. “Euhm?” Raka masih tak menatapnya. “Aku emang nginep sama dia beberapa ahri lalu. Toh, juga, karena aku masih shock sama dunia ceritaku yang tiba-toba keroaller coasters, aku pun, mutusin buat ketemu dulu sama yang sebaya sama aku, yang sepemikiran sama aku, buat bunuh hal-hal yang nggak penting di kepalaku.” “Tapi, kenapa nggak Yaya?” Asha ketawa. “Yaya itu sahabatku, Kak Raka. Dia duah dari awal ngerti, jelas, dan ngerasain semua yang aku alamin. Udah ngerti. Jadi, kalau aku baper, dia ikut baper. Cuman, kan, kalo sama orang baru, dia juga belum tentu ngerasain semuanya. Jadi, aku jauh lebih tahu bagaimana jika ‘hal yang terjadi sama aku’ menjadi satu kesatuan yang universal, lalu, lantas, dilaksanakan ekpada setiap orang?” Bu Gran dengan teduhnya mendengarkan Asha. Dia tampak bahagia dengan semua penjelasan Asha yang nggak ada yang nggak masuk akal. “Itu artinya kamu egois,” komentar raka lalu menyuapi mulutnya sendiri dengan potongan ayam. “Ihhh …” Asha mulai menjitak kepala cowok itu dengan sendok. “Itu namanya review, read, and critics, ya. Maap. Ini sama aja kayak aku aplikasi terus ada yang bagi-bagi testimony.” “Apa? JAdi, udah sama siapa aja kamu di unboxing?” Tuh, kan, salah lagi Asha ngomongnya. Au, ah, ketemu malah ribut. Capek. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN