Kami Berdebat

1240 Kata
Usai agenda ngerusuh dan makan-makan itu selesai, Asha menyempatkan diri untuk pergi ke balkon kamarnya dulu. Dia rindu sekali dengan pemandangan sekarang yang ditatapnya begitu jauh. Kini, rumah-rumah lain, tengah sibuk pada konstruksi mereka masing-masing. “Ternyata dunia emang secepat itu berubah, ya. Enggak stuck di satu tempat aja.” Asha bahkan meletakkan tangannya di pijakan tangan yang ada di sana. Fokus memperhatikan orang-orang yang bekerja. Namun, rupanya, menonton semua kesibukan itu, justru membuat dirinya semakin gugup dan makin mengembangkan nervous yang telah menjajah dirinya semenjak tadi pagi. Bahkan, sebelum makan besar tadi. “Ah, aku interviewnya bakal gimana? Aku harus .. siapin kata yang kayak apa? Nanti kalau mereka sangat mengintimidasi gimana?” Lalu, tamu tak diundang malah mendekat. Balas menyeletuk., “Apanya?” Asha menoleh. Raka? “Yang nggak bisa kamu kendalikan?”                                       Suara Raka yang berat, namun, cukup merdu untuk diderngar, hingga merasuk ke telinganya, cukup untuk membuat Asha sekedar saja, dalam sejenak, terpana begitu saja saat ia melihatnya. Laki-laki itu, jujur, tak pernah sedikitpun kehilangan pesona bahkan usai kali terakhir mereka berjumpa. Asha jadi ingat sesuatu. Yang itu, menjadikan dirinya menunduk malu. Hingga Raka menyentak dengan kalimat selembut tepung terigu, bertanya, “Kenapa?” Sungguh, itu manis sekali. Sweety doo banget style-nya. Serius. Jika saja momen di mana dirinya tengah menampar Raka tak singgah di kepala, mampir begitu saja tanpa minta persetujuan tayang, mungkin, Asha kali ini, akan meledeknya. “Hei, kok, diem?” Tentu saja Raka bingung. Ini seperti bukan Asha yang dikenalnya. “Ada apa?” Lihat. Kini, bahkan tangan Asha dicekal untuk supaya wajah cantik gadis itu, berbalik menghadapnya. Namun, melihat Asha yang menggigit bibir malu-malu bimbang begitu, Raka jadi gemas sendiri. Alhasil, ledekkan yang seharusunya hanyut dari bibirnya, yang refleks teralir keluar justru … “Kamu … cantik.” Asha mendongak. “Kalau begini.” DEG. Di jarak sedekat itu, yang mana, mungkin sekepalan tangan tak perlu untuk mengukur mereka berkat membungkuknya Raka sudah cukup menunjukkan betapa bahwa ia begitu intens menatap Adiknya itu, sudah cukup, memberitahu, jika dirinya, teramat sangat … jatuh hati pada pesonanya. Raka kemudian, dengan senyum yang masih menyembul, dia cuma mengacak rambut Asha, yang kemudian, dirinya melenggang pergi, ke tempat yang lebih pantas ia kunjungi, kantor gitu misalnya. Namun, baru beberapa langkah kakinya berpijak, Asha telah lebih dulu menarik belakang jas yang tengah dipakai Raka. Membuat diri Rajka kontan saja membatu dan seperti kehilangan kendali untuk meneruskan jalan lagi. Dia baru ingat … tak seharusnya atdi dirinya begitu. Mengelus puncak kepala Asha yang kini justru menghadirkan benih-benih ‘yang-tak-ia-mengerti’ bagaimana bisa datangnya, hanya karena menaruh perhatian pada gadis itu. ‘Rak … dia cuma … adek kesayangan lo, oke? Itu saja perasaan yang tertinggal. Istimewa? Please, itu bukan inovasi eksplor hati yang direkomendasikan,’ batin Raka pada dirinya sendiri. “Aku … maaf,” ucap Asha lepas begitu saja. Yang langsung saja, membuat kelopak Raka terbuka sempurna. Sampai, cowok itu terkejut setengah mati usai mendengarnya. “Apa?” Dia memandaang kiri dan kanan balkon yang emang sebenarnya dari dulu juga sepi dan hanya ada dirinya serta Asha di sana. Takut-takut, jika kegilaan Asha ini, nantinya, disaksikan oleh banyak orang. Jadi, anggap saja, ini adalah gladi bersih kegilaan. Ah, enggak Raka, kamu ngaco. Siapa juga orang yang ingin menggila jika untuk ‘gila’ saja harus latihan dulu? Tidak. Ini lebih tepatnya, membantu menyaring hal yang enggak seharusnya terekspos dalam diri Asha. Bahasa bagusnya, ‘memenjarakan aib pada tempatnya.’ Oke. Tanpa sadaar, pergelutan batin itu, menjadikan Raka mengangguk singkat sendiri. Jangan anggap laki-laki itu tak waras. Dia hanya … pemutus yang baik. Hehe. “Sha …” Raka mendekat. Mulai memelankan suara. Serius, cowok itu, harus memastikan dengan dekat barangkali ada yang salah dengan dirinya atau justru dari cewek itu sendiri. “Kenapa kamu minta maaf?” Yaiyalah, salah juga enggak, kok. Begitulah persepsi dan kesimpulan yang Raka pegang. Kan, jadi bingung. Dan, Asha menggeleng. “Enggak, Kak.” Dia melebarkan senyum. “Aku betul-betul serius minta maaf,” cercanya, terbata. “Sebab, ya, saat itu, aku terlalu gegabah sampai menampar pipi Kakak gitu aja. Terakhir aku lihat, merah banget. Apakah … sekarang sudah baik-baik aja?” DEG. Dan, tepat saat tangan itu berjalan menujunya, yang mana, Raka pun cukup terkejut sebab bagaimana bisa tangan itu berjalan, sedangkan memang nggak ada yang perlu dipastikan lewat sentuhan? Bahkan untuk kategori sedikit pun? Maka, alhasil, Raka, dengan sangat nggak pekanya, atau justru, itu peka tingkat super dewa, dia malahan meletakkan tangan Asha itu ke dahi cewek itu sendiri. Bertumpukkan dengan tangannya. “Justru …,” katanya, ingin memulai sesuatu  yang lebih panjang dan luar biasa. “Aku seharusnya yang nanya. Apa tangisan kamu mereda hari itu dengan seperti kamu yang saat dulu terpuruk, Bu Gran selalu sedia bahu sebab kamu nggak mau cerita sama Kakak yang waktu itu kamu ‘canggung’?” DEG. “Kak Raka …” Asha kehilangan kata. Tak disangka sedikit pun olehnya, jika Raka, yang super sibuk itu, justru … ingat semuanya. “Tapi, bagaimana bsia?” Raka malah tersenyum. “Sha, sudah kubilang berkali-kali, kamu itu … orang yang penting bagi hidupku terlepas apapun kamu. Aku sungguh nggak perduli. Yang aku tahu, kamu dan aku sdah terikat satu kediaman yang sama. Yang mana, ya, aku menjagamu. Cuma itu. Makanya, kalau kamus sudah termasuk dalam daftar yang ‘milikku’, itu artinya, cukup aku saja yang tahu, yang lain tidak peru.” “Tapi kenapa?” tanay Asha. “Bukannya itu terkesan kalau Kak Raka menyembunyikanku dan oranglain akan mengira hal yang aneh pasal diriku, kak?” Kini, giliran Raka yang tertawa lepas. “Bukan aku nggak perduli mereka, Sha. Tapi, kamu udah special’s slot, at least different buat aku.” “Ihhh …” Kontan saja, tepukkan melayang ke bahu cowok itu. “Apaaan, sih?” Selanjutnya, mereka ribu tiada henti. Mulai mendebatkan mengapa akhir-akhir ini banyak orang yang workaholic yang padahal … itu sama sekali nggak perlu dilakukan keras-keras hingga hidup-mati. “Karena mereka butuh uang,” alasan Raka yang super realistis. “Tapi, apa mereka harus mengorbankan semua waktu mereka yang berharga hanya demi itu?” “Uang juga penting kali, Sha. Lalu, gimana? Okenya, tuh, menurutmu manusia itu harus apa? Diam diri ngarep hujan duit gitu? Enggak, kan?” Mereka berdebat keras begitu saja. “Itu terlalu banyak harapan dan mimpi yang bahkan … masa depan pun ngeri dengerin itu semua.” “Apa?” Lalu, Asha menggeplak kursi kayu jati bundar yang tersedia. “Apa kita nggak perlu jadi manusia saja?  Atau memang tidak ada orang yang mampu? Sekalipun ada yang mau, merka tdiak akan bisa berhasil, gitu? Uang emang perlu, Kak Raka, tapi, kita bahkan mati nggak bawa uang!” “Tapi uang segalanya, Sha. Untuk mengantarkan mati dengan level alayak, seseorang, harus …kebanyakan uang.” Lalu, Asha membalikkan wajahnya enggan menatap Raka. Seolah bermusuhan. Dia kelihatan kesal sekali berkat menggembungkan mulut yang dilanjutkan melipat kedua tangan depan d**a. “Auwwwwhh … Menyeramkan sekali memang berbicara dengan makhluk nggak punya hati seperti dia!” Raka pun berseru, “Eh, Sha, kita ini pebisnis, ya. Tugas kita ngomongin itu, ya, hal yang realistis, bukan hal penuh ngimpi ngawur kayak gini. Semua orang bakal mati kelaparan kalau harus denger apapun yang tadi kamu tanyain. Dan, nggak ada yang bakal hidup kayak gitu. Cuma di kepalamu.” “Ada!” “Siapa?” Raka meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Aku!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN