What Do You Think About This?

1213 Kata
“Apa?” Kali ini, kaget maksimal. “Iya! Aku! Yang begitu mencintai segala kesempitan sebelum akhirnya mengantarkanku pada syukur lalu lapang selebar-lebarnya!” DEG. Asha ini … benar-benar sungguh keterlaluan. Dia kadang-kadang bisa menjadi makhluk paling dewasa sedunia, yang nanti juga, menjelma pula menjadi … makhluk bernama cewek ngajak ribut yang nggak pernah berhenti buat mengkritik dirinya. Yang di maat Asha sendiri, selalu aja, ada …. salahnya. Lalu, Raka merangkulnya. “Terus, apa yang kamu ketahui soal … cinta, Sha?” DEG. *** “Cinta itu … nggak pernah saya sangka. Seperti saat saya melihat tulisan besar Life Corp di setiap papan iklan. Baik di jalan, taman kota, atau berbagai  tempat vital lainnya,” jelasnya, begitu menukik dan tepat sasaran. “Saya.” Menunjuk dirinya sendiri, sepenuh hati. “Langsung jatuh cinta dengan program-program yang terkait di dalamnya. Seperti aplikasi pemindai wajah untuk CCTV bedanya versi lebih membaharukan dan canggih, aplikasi membantu tuna netra, dan yang lain sebagainya.” “Saya juga sangat menantikan proyek kemudi otomatis yang akan dilancarkan Life Corp dalam rangka partisipasinya untuk membangun Smart City Meikarta Maret tahun depan.” Lalu, para orang-orang hebat yang duduk di depan Asha sekarang, menepuk tangan mereka. Mereka sungguh terlihat bahgia dengan berjalannya wawancara yang rupanya … berakhir cukup baik. “Baiklah, Nona Asha Nayana, mulai besok, apa Anda sudah bisa bekerja?” Mata Asha pun melebar. “Ya?” Lalu, mereka bersitatap. “Apa kamu … memiliki masalah pendengaran?” Yang tentu saja, didramatisir Asha dengan meminta mereka mendekatkan wajah juga. Seolah-olah menganggap ini sungguh masalah besar dan rasanya … fatal. Bahkan, lihat, wajah mereka pun … nampaknya sangat … tegang berkat ikutan juga. Yang kemudian, Asha pun berbisik. “Saya sungguh nggak tahu harus mulai ini darimana.” Mereka tercekat. “Tapi, setahu saya, saat seseorang hahagia dan nggak nyangka … dia akan kehilangan beeberpa afungsi tubuhnya. Seperti …” Dan, lalu, Asha berteriak, “Seperti gimana harus ngucapin terimakasih.” Lalu, percayalah, orang-orang senior yang ahli di bidangnya tersebut, justru membuat lingkaran dengan Asha, yang malahan, bak anak kecil, saling berangkulan sembari memutar . Ini mirip seperti seorang pedangang, tengah memutar hingga membalik donat kentang yang digorengnya. Namun, video itu justru menjadi viral berkat staff wanita yang ada di sana, membagikannya ke social media. Hanya sampai jadi trending topic, tidak sampai … isu dan semacamnya. Yang uniknya, itu memantik perhatian dari dua Founder ternama, di bidang teknologi yang sama juga, namun, bekerja sama. Kenalkan. Seorang playboy, diggy boy, lover boy, catch the girl heart’s boy. Dia nggak mau dipanggil ‘man’ meski sudah punya anak dua berkat wajahnya yang teduh dan rupawan itu, mari berjabat tangan, founder Exlite, Hazel. “Duda, lo, mah, Duda.” “Isshhh …” Kini, Hazel mendesis. “Mana ada duda di usia muda begini?” Jelas, harga dirinya terjabik begitu dsaja. “Aku hanya … terlalu berpengalaman dengan … lebih cepat.” Dan, Leon menggeleng. Apanya coba yang berpengalaman dari seorang Hazel kecuali track record wanitanya yang sangat … ambburadul itu? Aiuhhh … dia bahkan ogah kalau harus diajakin berburu meski bayarannya investasi atau suntikan dana, dinaikkan hingga 1000%. Dan, ya, inilah sohib setia sang Mas Playboy, sebut saja Mas Leon. Cowok setipe Raka, mirip-mirip, sih, emang. Yang bedanya, tegas dan konkret dalam urusan apapun. Dingin. Namun, selalu punya 101 macam cara, untuk mematahkan kalimat orang. Kecuali, ya, kepada yang nggak berguna macam sahabatnya ini. Yoi, siapa lagi kalau bukan si-galau-pembuat-masalah Tuan Hazel. “Keluar dari ruanganku.” Yaps. Kadang emang suka begini. Kalau di minggu pagi, seorang makhluk yang harusnya jadi paling sibuk di dunia malah mengacaukannya begini. Yang tentu, mendapat dampratan dari sahabatnya. “Apa perusahaan layaknya kertas gorengan di matamu?” Diabaikan. Tertawa. Sebab tengah berkencan dengan ponselnya. Oke. Kita hanya perlu mendongak karena kita pun juga tahu konten macam apa yang membuat manusia semacam Hazel teralih begini. Yaps, tentu saja. Wanita. “Apa kamu juga ingin karyawanmu mengabaikan deadline yang kamu tetapkan pada mereka?” Semakin pula … tertawa. “Baiklaaahh …” Tak dihiraukan. Leon pun memutusan untuk mengambil ponselnya sambil menelepon. “Oh, Jennifer, tolong kamu kabari karyawan perempuan di divisi 78, divisi 90, divisi 4, divisi ..” Dan, belum pula selesai ngomong, Hazel kemudian angkat bicara. “Hei, buat apa kamu ngehubungi para dedek-dedek maniesku?” Tentu, sebagai idol yang menangkap buaya lepas kandang, dia harus memeprtahankan mangsanya. Lalu, Leon cuma mengangkat satu alis. Tak memperdulikannya., “Bilang sama mereka kalau Haz----“ Dan, ssrreeeettttt … Hazel berhasil mengambil alih telepon tersebut sembari berkata. “Ktakan, bahwa, ya … aku sangat … bahagia.” Langsung saja , kerutan kening, menyapanya. “Auhhh …” Lihat, Hazel menampilkan wajah memprihatinkan yang mungkin ekspresi itu, emang ditujukan kepada … sahabtnya. “Kamu bahkan nggak ngerti sedikit pun soal bahagia dan cinta.” “Cih,” decih Leon. “Apanya yang bisa dibanggakan kalau bahagia tanpa uang pun juga bahagia tanpa mapan?” “Hei, brroooo,” kata Hazel berusaha menyadarkan Leon. “Ketika kamu sudah jatuh cinta pada sosok gadis yang mampu memutar dan menjungkir balik duniamu, percaya, deh, kamu bakal memusatkan dirimu sendiri sama dia.” “Tapi, kamu, yang jsutru sering dilanda jatuh cinta, justru, mengamalkan semua amanat dari setiap kisah cintamu dengan giveaway perasaan?” cibir Leon. “Kamu bisa lihat, cek aja. Ada berapa coba perempuan yang terjerat dalam jebakan give away playboy program-mu itu?” Nah, bukannya merasa bersalah, Hazel justru memajang wajah tersanjung. “Itulah yang tak bisa aku kendalikan.” Leon bertanya, “Apanya?” “Pesonaku. Apalagi?” Oke. Seseorang tolong panggilkan ambulan untuk mengevaluasi petinggi Life Corp itu agar tetap  baik-baik saja nyawa serta keselamatannya. “Aku tak percaya punya teman seperti ini.” Leon bahkan memgangi keningnya. Mengusap wajah kesal karena nggak ngerti lagi kudu ngelontarin apaan sama cowok paling nggak bisa dibantah, yaitu, sahabatnya sendiri itu. “Oh, ayolah. “ Meski berengsek, Hazel tetap khatam cara memijat bahu. Kini, cowok itu berbakti. “Ini berkat kamu yang selalu tegang berkat selalu saja terlalu menghabiskan waktumu di meja kerja.” “Terus, kamu mau apa?” Itu pertanyaan yang jelas sekali sudah lelah dengan berbagai pola tingkah yang dilakukan sahabatnya. “Nah, itu baru bagus.” Hazel mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Wajahnya sumringah. Apalagi, saat ia menujukkan apa yang ingin ia beritahukan pada sahabatnya tersebut. Rupanya, video. “Apa ini?” tanya Leon bingung. “Apalagi? Kamu.” “Dari … perusahaanku?” “Tentu saja,” jawab Hazel mengangkat kedua bahunya serempak.   Leon pun mengangguk setuju. Dari latar, ia sungguh amat mengenali di tempat mana itu. Tepatnya, kandang para HRD menangani tenaga kerja baru. “Lihat, dari video itu, bahkan viral begitu mudahnya di dunia maya berkat energinya yang sangat positif. Tak bsia kubayangakn dia jadi salah satu karakter karyawanmu. Akan sangat luar biasa sekali, dong, hidupmu, Leon.” Sayang, itu justru membuat rahang Leon mengetat. “Aku hanya tak suka … seseorang yang nggak …” Dia menatap tajam sahabtanya. “Yang nggak pintar.” Dan, itulah, batasnya. Batas di mana maklum dan kualifikasi, yang harus dipatuhi siapapun yang bersamanya. Serta, berkat Hazel udah ngerti betul tabiat Leon, dia pun mengatakan, sembari mengelus pundak sahabatnya, “Aku tahu. Sudah.” Namun, keburukan justru bermula semuanya … dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN