Dan, sebagai perayaan sekaligus tanda ucapan selamat, berkumpulah Maharani, Asha, Ulfrad, Aldo, Yaya, di salah satu kedai mie ayam bakso super terkenal itu. Di pinggir jalan memang.
Namun, berkat Draco, sang juru Mastro Chef yang menyarankan, akhirnya, Asha, dan kawan-kawan pun minggat untuk mencobanya.
“Benran, coiii, enaaakkk …”
Asha senyum. “Iya,kan? Ini juga first time, sih, sebenernya gue nyobain.” Asha ketawa. Matanya hilang begitu saja berkat eye smile yang terbit dari dirinya.
“Wah, Yang.” Ulfrad memegang tangan pacarnya tersebut, Maharani. “Entar kapan-kapan kita di sini aja, ya, kalo nge-date.”
Yaya langsung protes, “Woi, high class dikit dong! Masa nge-datenya di pedagangan ginian. Restoran gitu. Taau nggak … rumah makan super elit yang di Kemang.”
Aldo menyahut, “Iya, nih. Kecuali lo pacarannya sama Yaya. Ajak, tuh, ke Ragunan. Biar sekalian ber-safari ria sama Nenek Buyutnya.”
Kompak, semua tertawa. Paham betul jika maksud Aldo tersebut adalah … orang utan.Dan, Asha kini justru menjitak kepala Ulfrad. Kebetulan, Asha disampingnya. “Lo jangan berani-beraninya, ya, ngapel di sini. Gue nggak mau jadi nyamuk di kontrakan gue sendiri.”
“Yaelaaahhh, Sha,” ujar Ulfrad. “Lagian lo kenapa, sih, Sha, nggak milih bobo di butik lo aja yang sekalian, tuh, 24 jam khatam pengeluaran berapa, pemasukan berapa, ngaco berapa, dan kenapa coba lo lebih milih tinggal di kontrakan, ya, yang meski ber-AC, sih, tapi, hei, lo founder sekaigus pemilik olshop Nayana Store!” Tangannya menyanjung penuh tepuk tangan.
Maharani ikut menatapnya dalam. “Iya, itu juga yang gue bingungin. Apa ini semua karena lo gengsi sama Raka?”
“Hhuusshhh, mulutnya,” ingat Aldo. “Asha itu, cuma nggak mau ngerepotin gue yang notabenennya adalah pacar sejatinya.”
“Prreeettt ….” Semua orang kompak melenguh.
Hingga, Asha ikutan tertwa.
“Kalian ini …” kiprahnya. “Ada-ada aja.”
Lalu, dia memutuskan untuk menjelaskan, “Yang ada, tuh, ya, gue cuman memutuskan buat menerapkan gaya hidup yang emang selayaknya.”
“Jadi miskin gitu, Sha?” Maharani nanya.
Asha pun menggeleng sebagai jawaban. “Bukan. Tapi, merasa cukup.”
Semuanya pun berseru. Tidak menyangka Asha akhirnya akan menunjukkan taringnya dengan memperlihatkan kedewasaan pemikirannya seperti itu.
Asha, sejak dulu, emmang dikenal Yaya dan Aldo sebagai sosok sederhana yang ceria namun pemalu.
Dia cenderung menyukai segalanya yang terkait hal-hal baik. Makanya, saat ngobrol pun, meski mereka sering bertengkar dan berselisih paham,selalu diwarnai saling mengerti dengan semakin mendalami karaktersatu sama lain seputar … pendapat.
‘Aku bersyukur punya kalian,’ sebut Asha dalam hatinya. Lamat-lamat ia berharap kepada Yang Maha Kuasa agar mampunyaya bisa membawa mereka pada kekekalan hubungan ini.
Pasti, tentunya, itu sangat … menyenangkan.
Pasti.
Dan, usai semua hura-hura itu terjadi, yang setalian juga dengan deklarasi bahwa besok, Asha, Aldo, dan yang lainnya bakal berangkat bersama, Asha pun segera menaiki tangga kontrakannya untuk segera membaringkan badan.
Hari ini, yang apdahal diwarnai bahagia serta tawa yang menggunung berkat wawancaraya berjalan lancar, ia mulai merasa pegal begitu finishnya sudah diraih.
Ia hanya … heran saja mengapa bisa?
Mengapa fenomena di mana saat kita menghadapi satu kondisi yang kita sukai, kita cenderung akan tak kehabisan energi?
Jadi, rela gitu aja menghadapi dan berpartisipasi pada semuanya.
Seolah-olah, emang, ya, nggak enakkan itu, bahkan udah jadi kayak semacam adat istiadat dalam diri kita.
Namun, Asha tersenyum.
Bukankah itu artinya, emang dari sejak dahulunya, semenjak bumi ini tercipta dari big bang atau teori sejenisnya, kita emang dianugerahi bawaan jika kita hanya ditakdirkan menjadi orang baik?
Asha pun senyum. Sungguh, betapa bahagianya.
“Mending aku telepon Kak Raka.”
Beebrapa saat kemudian, nggak ada jawaban.
“Ah, mungkin aja dia lagi sibuk.” Asha berusaha positive thinking.
Dia kemudian mengambil alternative hiburan lain yang masih satu jalan dengan, untuk membayar kekepoannya terhadap yamg tersayangnya itu, alias, Raka dengan ngecek reels i********: @raka.nugraha.
Di sana isinya kalau bukan hasil pemotertan bergai arsitektur manis kayak perumahan di London, atau perkotaan Jepang yang warna-warni, hasil ide menghiasi gedung-gedung tua Belanda, maka, sisanya adalah …
“Wah, ada fotoku juga?”
Iya.
Ada gambar Asha, tapi dari belakang. Dan, itu terupgrade hingga tahun-tahun selanjutnya.
Hanya beda pose.
Kayak yang saat Asha berusia 18 tahun, wajahnya menghadap ke kiri tampak tengah duduk di teras sembari minum kopi Arabica.
Lalu, saat Asha pertama kali masuk perkuliahan, posenya sedang mendongak dan tertawa lepas menghadap langit. Paling menakjubkannya adlah … gaun bermodel koral laut yang dipakainya. Sungguh, amat pas dipakai tubuhnya.
Mengingatkannya pada perkataan Raka yang dulu sering ia minta menjadi penilai soal pakaian apa yang patut dipakainya, ia sempat bilang, “Cantik.”
Asha pun mengerti. “Oh, rupanya ini maksudnya …”
Sekejap setelahnya, gadis itu tertawa. Ia sungguh tak mengerti mengapa dirinya bsia jadi begini. Astaga … kini, bahkan, ia megangi kepalanya sendiri. Sungguh tak habis pikir.
Dan, setelahnya, Asha pun mengetikkan pesan pada Raka yang bunyinya, ‘Kak, aku keterima di Life Corp, berkat pas di balkon itu, Kakak ngajrin aku teknik HRD dan wawancaranya, amaksih, ya, Kak.’
Berpusatlah sebuah kalimat yang bunyinya, “Cinta?” Asha mengulangi.
Sungguh, aneh sekali untuk mereka berdua membahas hal, ya, yang meski sebenarnya, sih, amat normal untuk dibicarakan saat ini.
Namun, hanya saja, canggung aja gitu, loh. Apalagi, Asha ini kan emang ada rasa lebih sama yang mengajukan pertanyaan.
“Iya, cinta,” beo Raka. Lalu, melihat adiknya itu hanya mengerjap-ngerjapkan kelopak mata nggak ngerti maksud arah pembicaraan ini kemana, Raka jadi menambahkan. Dan, ya, jangan lupakan tanganya yang menyangga dahi berkat keberatan dengan tingkah Asha saat ini, “Aku nggak ngerti kenapa kamu masih bodoh kayak gini.”
Asha pun membeludak, “Apa?” Tangannya bahkan siaga di pinggang. Mirip satpam menemukan maling. Skala … hati-hati.
Raka pun tertawa. “Enggak-enggak bercanda,” koreksinya. “Nah, balik ke topic, coba, deh, kamu inget-inget, saat kamu ditanya soal ‘apa, sih, pertama kali yng terbersit di kepalamu saat oranglain menanyakan cinta kepada kamu?’”
Asha pun mode mikir. Bibirnya manyun, matanya membola ke atas, bingung, cari jawaban. “Cinta, ya … sesuatu yang meriak.”
“Meriak?” Raka mengulang, menverifikasi.
“Iya.” Asha mengangguk. “Kayak air di sudut air sungai. Meriak, meluas, terdepan, mendebur. Kayak air.”
“Itu, sih, sensasinya. Coba jelasin lebih spesifik. Bagaimana rasanya, gimana awal mula mengapa bisa terjadi cinta, dan kok bisa?”
“Euhhhmmm …” Asha mencoba menautkan otak cerdasnya itu, ke segala jawaban paling menjerumus kepada dirinya, meski, ya, kalau saja ia punya keberanian lebih, Asha ingin sekali, menunjukkan bahwa justru, bersama laki-laki itulah cintanya nggak cuma sekedar membola, tapi, juga membabi buta. Semacam tsunami yang terkendali.
Lalu, Asha menjawabnya dengan bermonolog, “Cinta itu, mirip seperti kayak aku, yang akhirnya, menemukan kebahagiaan saat aku berusaha memukul mundur jemu. Kayak dulu.”